Pesona Kaka Ipar
Sela berstatus sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak kembar yang berusia lima tahun. Suaminya pekerja kantoran dengan jabatan sebagai manajer di salah satu perusahaan properti yang ada di kota metropolitan.
Sehari-hari Sela hanya berdiam di rumah mengurus kedua buah hatinya dengan bantuan adik semata wayangnya—Seli. Seli memang sering menghabiskan waktunya di rumah Sela hanya untuk bermain dengan bocah kembar anak kakaknya itu.
Sela dan Seli terlahir kembar. Seli baru saja satu tahun yang lalu sah menjadi seorang istri lantaran selama ini masih fokus mengejar karier di perusahaan tempat suami kakaknya bekerja. Ia memutuskan untuk berhenti bekerja karena sudah beberapa bulan menikah dia belum juga hamil. Akhirnya Seli meminta izin suaminya untuk istirahat di rumah berharap kabar bahagia itu segera tiba.
Sembari menunggu, Seli kerap kali menerima orderan membuat kue kotak yang tidak terlalu rutin setiap hari. Walaupun dia pamit kepada sang suami untuk istirahat di rumah, tetapi seperti itulah kebanyakan seorang istri tidak akan bisa berdiam diri sepenuhnya di rumah. Harus ada kesibukan yang membuatnya merasa nyaman di rumah.
Ivan—suami Seli bekerja sebagai pemilik sebuah toko material dan bahan-bahan bangunan yang sekarang sudah ada beberapa cabang besar yang dibuka di beberapa kota sekitarnya.
“Kak, dedek kembar hari ini ikut aku, ya. Aku dan Mas Irvan mau ajak mereka main di wahana permainan anak-anak yang baru buka.” Seli terlihat setengah memohon kepada sang kakak agar diizinkan untuk membawa anak-anak kecil itu. Walaupun terlahir berbeda beberapa menit saja tapi Seli lebih nyaman memanggil Sela dengan sebutan kakak.
“Ya, udah. Bawa aja. Lagian hari ini aku ada arisan sama teman-teman sosialitaku di luar.” Setelah mendengar kata-kata Sela, Seli pun bergegas menghubungi Irvan untuk menjemputnya ke rumah Sela.
Tak lama berselang, Irvan—suami Seli tiba di rumah saat istrinya sedang mempersiapkan pakaian si kembar di kamarnya bagian atas.
“Siang, Kak.” Sapa Irvan kepada Sela yang tengah duduk memainkan ponselnya.
“O, Irvan. Siang, Van. Mau jemput Seli?” tanyanya kepada suami adiknya itu.
“Iya, Kak. Sekalian mau ajak si kembar main keluar.”
“Iya, enggak apa-apa. Lagian aku juga ada kerjaan sedikit. Untung ada kalian yang bantu jagain si kembar.”
“Iya, Kak. Enggak apa-apa. Lagian aku dan Seli belum punya anak. Jadi puas-puasin dulu main sama si kembar.” Irvan tersenyum kepada Sela.
“Andai aja Mas Rudi bisa meluangkan waktunya untuk kami, kayak kamu sekarang, Van.” Sela sedikit menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya.
“Tapi Mas Rudi, kan cari uang untuk Kak Sela dan anak-anak juga.”
“Iya, t-tapi....” tiba-tiba sendok teh yang di atas meja tersenggol oleh tangan Sela hingga jatuh ke bawah meja. Secepat kilat Irvan meraih sendok itu begitu juga dengan Sela yang tak sengaja menyentuh punggung tangan Irvan hingga mata mereka saling terpaut.
Pesona Sela sebagai perempuan yang sudah memiliki dua anak masih saja menarik perhatian para lelaki tidak terkecuali Irvan—suami dari adiknya sendiri.
Mata Sela seolah memberikan pancaran kenyamanan yang menggoda dengan baju yang sedikit terbuka dari kancing atasnya. Sangat berbeda dengan Seli yang memilih mengenakan hijab panjang dan menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Mereka seperti terhanyut dengan perasaan masing-masing. Irvan tampak begitu terpukau dengan leher jenjang Sela yang begitu mulus.
“Kami udah siap, Om Irvan.” Tiba-tiba teriakan dua bocah kembar itu memecah lamunan antara mereka.
Mereka tersentak hingga berpura-pura menyibukkan diri masing-masing.
“Wah, jagoan om udah pada rapi, ganteng dan haruuum,” ucap Irvan sembari mencium pipi kedua bocah laki-laki itu.
“Mas, kamu udah sampai?” tanya Seli menuruni anak tangga kemudian mendekati suaminya lalu mengecup punggung tangan lelaki itu.
“Iya, baru aja.” Irvan menatap istrinya penuh cinta. Sela memandang Irvan dengan tatapan kagum karena tutur katanya yang begitu menghangatkan.
“Kak, kami langsung berangkat, ya!” ucap Seli berpamitan kepada sang kakak lalu meminta si kembar untuk mencium tangan ibunya.
“Sana, pamitan dulu sama Mama!” ucapan Seli langsung membius dua bocah itu hingga mereka terlihat sangat manut kepada Seli dan berlari mencium punggung tangan lalu mencium kedua pipi ibunya.
“Kak, a-aku bawak anak-anak dulu, ya!” ucap Irvan kepada Sela yang terlihat sedikit sungkan setelah kejadian tadi.
“I-iya,” jawab Sela. Irvan berlalu menyusul istrinya yang sudah berjalan terlebih dahulu dengan si kembar.
“Mengapa dadaku terasa berdebar melihat Irvan hari ini?” ucap Sela sembari menyentuh dadanya dan tersenyum.
**
Tak seperti biasanya, Irvan lebih memilih menjadi tukang foto untuk istrinya dan dua bocah kembar itu. Jika biasanya ia lebih aktif mengajak bermain anak-anak itu, kali ini ia hanya duduk sembari mengamati apa yang mereka lakukan dengan bermain bersama Seli.
Irvan terlihat melamun, sesekali ia mengambil foto untuk ke dua bocah itu. Ia tersenyum sambil melamun.
“Mas, sini!” teriak Seli memanggil suaminya yang tengah duduk di bawah pohon. Irvan hanya tersenyum sembari menggeleng.
Melihat reaksi yang ditunjukkan suaminya, Seli lantas mendekati Irvan dan bertanya
“Kamu kenapa, Mas? Sakit?” tanya Seli dengan menempelkan punggung tangan pada kening Irvan, kemudian berkata, “ Enggak panas.”
“Aku jadi tukang foto aja, ya, hari ini. Sambilan balas chat dari grup kantor.” Irvan membuat alasan yang sedikit masuk akal agar istrinya tidak terlalu banyak menuntut hari ini.
“Ya, Udah, aku nemenin anak-anak, ya.” Seli tersenyum kemudian berjalan mendekati dua kembar yang tengah asyik bermain ayunan.
“Mereka lucu, ya, Kak?” caption pesan yang Irvan kirim kepada Sela dengan sebuah foto si kembar.
Dengan cepat Sela membuka ponselnya. Matanya terbelalak setelah melihat nama Irvan yang mengisi daftar chat yang ada di ponselnya. Seketika wajahnya memerah dengan jantung yang berdebar kencang. Seperti sedang menunggu sebuah undian, pesan dari Irvan sekarang menjadi sesuatu yang paling ditunggu-tunggu oleh Sela. Seakan-akan status Irvan sebagai adik iparnya tak pernah terbaca lagi di otak sela.
Dengan cepat Sela mengirim balasan dan mengirim emoticon Love berwarna merah sebanyak lima buah.
Seketika Irvan langsung melihat balasan tersebut, tanpa disadarinya ia langsung tersenyum dengan wajah yang bersemu bak anak mudah yang sedang jatuh cinta.
Terlihat sekali binar bahagia di mata Irvan. Ia seperti sudah melupakan ada Seli yang berstatus sebagai istrinya yang sedang bermain dengan anak-anak perempuan yang sedang ia pikirkan.
“Sela, mengapa kau begitu menggoda?” ucap Irvan pelan sembari membayangkan kejadian tadi.