Kesempatan

899 Kata
Sepulang dari bermain di wahana permainan anak, Irvan terlihat antusias ingin mengantar anak-anaknya Sela ke rumah. Dia terlihat tak sabar ingin cepat-cepat sampai di rumah Sela dan bertemu dengan kakak iparnya itu. “Halo, ya, ya, oke! Baik, Buk. Terima kasih.” Seli menutup telepon yang baru saja diterimanya. “Siapa, Sayang?” tanya Irvan kepada istrinya. “Ibu Mira, dia mau pesan kue kotak untuk lusa. Berarti aku harus langsung ke pasar nih. Sayang, aku bisa minta tolong enggak?” tanya Seli setengah memohon kepada suaminya. “Minta tolong apa? Tanya Irvan masih fokus menyetir. “Aku minta tolong kamu antar aku ke pasar. Terus kamu antar anak-anak pulang, udah tuh, kamu jemput aku ke pasar lagi. Kira-kira kamu repot enggak, Sayang?” tanya Seli sembari menaikkan alisnya karena takut suaminya keberatan dibuat sibuk seperti itu. “Oke!” jawab Irvan tanpa menoleh ke arah istrinya. Tapi kalau keberatan enggak usah kok, Sayang. Aku cancel aja pesanan kuenya.” “Eh, jangan dong. Kamu enggak usah sungkan begitu, Sayang. Aku senang kok antar anak-anak. Ya udah, aku antar kamu ke pasar dulu, ya. Udah itu aku antar anak-anak pulang.” “Serius, Sayang?” tanya Seli tak percaya, karena selama ini Seli tidak pernah menuntut terlalu banyak kepada suaminya. Karena sadar akan kekurangan yang dia miliki. Apa lagi sampai merepotkan suaminya. “Iya, apa sih yang enggak buat istriku tercinta.” Rayuan Irvan berhasil membuat Seli tersenyum lebar hingga meraih tangan Irvan dan mengecupnya. Setelah mengantar sang istri ke pasar. Irvan langsung bertolak ke rumahnya Sela untuk mengantar anak-anak. Mendengar deru mesin mobilnya Irvan. Sela bergegas keluar rumah dan mendekati mobil tersebut. “Anak-anak mana, Van?” tanya Sela terlihat mengembangkan senyuman menyambut kedatangan Irvan. “Ada, Kak. Di belakang. Tapi semuanya tidur. Kecapean mungkin.” Irvan membalas tatapan Sela dengan senyuman termanisnya. “Ya, udah. Kamu bawak ke kamar mereka bisa?” tanya Sela dengan mata yang masih menatap nakal ke arah Irvan. “B-boleh, Kak.” Irvan bergegas mengangkat salah satu anak kemudian Sela melakukan hal yang sama. Mereka menggendong kedua bocah itu menuju kamar yang ada di atas. Setelah merebahkan kedua bocah itu di tempat tidur. Irvan dan Sela tak lantas keluar kamar. Mereka terlihat berpandang-pandangan tersipu malu. Ada kata yang tak bisa diungkapkan. Ada rasa ingin tapi jelas terlarang. “Eh, kalau begitu, aku pulang dulu, ya, Kak,” ucap Irvan langsung beranjak dari tempat tidur. “Van,” ucap Sela tiba-tiba menarik tangan Irvan yang hendak keluar kamar. Seketika Irvan menoleh dan membalikkan tubuhnya. Terlihat wajah Sela yang mendongak dengan posisi masih duduk di atas ranjang. Getar-getar asmara itu begitu cepat bersemi. Hanya karena kejadian pagi tadi mereka terlihat sedang memupuk rasa itu. Irvan dan sela tak bisa berkata-kata, hanya berbicara melalui hati ke hati tentang perasaan yang tengah memaksa mereka untuk merawatnya. Terlihat wajah malu-malu Sela yang sedang bersemu. Sela yang memang sengaja memoles bibirnya dengan lipstik berwarna terang, membuat bibir sensualnya semakin memikat. Sementara baju kemeja yang ia sengaja biarkan dua kancing dari atas terbuka. Jantung Irvan semakin tak menentu. Wajah terasa panas, desiran darah terasa mengalir begitu deras. Hingga Irvan memberanikan diri untuk mendekati Sela yang tengah duduk sambil menunggu kedatangan Irvan untuk menyambut rasa yang terpendam. Kini, Irvan dan Sela sedang duduk bersebelahan, mata semakin terpaut hingga tangan saling menggenggam. Wajah Sela semakin bersemu, nafas yang keluar melalui hidung terasa panas. Setan apa yang membuat Irvan memberanikan diri memberikan kecupan pada punggung tangan Sela yang terlihat sangat putih dan mulus. Seketika Sela tersenyum, merasa bahwa rasanya dibalas dengan sangat baik oleh Irvan. “Kamu begitu cantik dan menggoda,” ucap Irvan sembari menatap manik hitam pada Sela. “Van, bolehkah ...,” kata-kata Sela terhenti setelah mendengar dering ponsel yang ada di saku celana Irvan. “Ah,” keluh Irvan dibalas tawa kecil dari Sela. Seketika Irvan meraih ponselnya dan menerima panggilan tersebut dengan berusaha mengatur nafas. “Halo, ya, Sayang?”  “Sayang. Aku udah selesai belanjanya. Kamu bisa jemput sekarang? Sepertinya mau hujan,” ucap Seli dari seberang. “Ya, Sayang aku OTW sekarang, ya. Daaah!” Irvan mengakhiri panggilan telepon dari Seli. Waktu bersamaan, terdengar suara klakson mobil suaminya Sela yang baru saja tiba di depan. “Mas Rudi!” ucap Sela dengan ekspresi sangat terkejut. Terlihat Irvan dan Sela kelabakan. Namun, berusaha tenang dan berjalan keluar bersamaan. “Van, udah lama?” tanya Rudi setelah bertemu dengan Irvan yang berpura-pura hendak berpamitan dengan Sela. “Baru, Kak. Habis ajak anak-anak main ke wahana permainan. Tadi mereka tidur di mobil jadi digendong masuk ke kamarnya.” “O, gitu. Makasih banyak, ya, Van. Seli mana?” tanya Rudi karena tak melihat Seli di samping Irvan. “Seli lagi di pasar, beli bahan-bahan untuk pesanan. Ini mau langsung jemput Seli.”  “O, gitu. Oke! Oke! Hati-hati, ya, Van!” ucap Rudi sembari menepuk pundak Irvan. “Ya, sudah. Kalau begitu aku pamit dulu, ya, Kak.” Irvan berlalu tanpa menoleh ke arah Sela. Setelah memasuki mobil. Terlihat Irvan sedang menatap wajah Sela yang diam-diam melemparkan senyuman kepada adik iparnya itu. Rudi menggandeng istrinya memasuki rumah sembari mengecup wajah istrinya yang terlihat begitu berseri-seri. “Kamu kayanya happy banget. Menang arisan berlian?” goda Rudi sembari melirik nakal ke arah Sela. “Apaan sih, Mas.” Sela menyandarkan kepala di pundaknya Rudi sembari berjalan menuju kamar. ** “Sayang, maaf lama menunggu. Tadi Kak mengobrol sama Kak Rudi. Jadi kebablasan. Lupa kalau istriku yang cantik jelita ini sudah menunggu.” Irvan mencubit hidung mancung Seli hingga Seli pun tersipu malu tanpa berkata. “Kak Sela ada di rumah waktu Mas antar si kembar?” tanya Seli membuka obrolan saat dalam perjalanan. “Ada. Makanya lama tadi karena Kak Sela buatin kopi. Jadi lama deh mengobrolnya.” Dusta Irvan tanpa dicurigai oleh sang istri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN