Irvan mengelap keringat di dahi yang mulai menuruni pelipisnya. Ia terlihat begitu gugup menjawab pertanyaan sang istri.
**
Setibanya di rumah. Tepat pukul sepuluh malam. Saat Seli sedang mempersiapkan kue-kue untuk dimasukkan ke dalam beberapa kotak kue yang sudah disiapkan. Irvan terlihat sedang menemani istrinya sembari memainkan ponsel dengan sesekali tersenyum lebar.
“Mas, seneng banget,” goda Seli melirik ke arah suaminya dengan tangan masih mengerjakan yang lain.
“Iya, nih lagi chat di grup kantor,” sahut Irvan tanpa menoleh ke arah Seli.
Seli yang pun menggelengkan kepala sembari tersenyum dan mengabaikan suaminya menikmati chat dengan teman-temannya.
Setelah selesai tepat pukul dua belas malam. Seli memasuki kamar. Seperti biasa, setiap kali Seli ingin tidur ia selalu menjadikan lengan Irvan sebagai bantalnya agar ia bisa terlekap hingga pagi.
“Mas,” ucap Seli.
“Kamu tidur duluan aja, ya, Sayang. Aku masih ada yang mau dibahas di grup.” Irvan ingin meninggalkan Seli sendiri.
Tiba-tiba tangan Seli menarik tangan Irvan dan mengambil ponsel milik suaminya itu lalu meletakkannya di atas nakas.
“Mas,” ucap Seli pelan. Melihat raut wajah sang istri yang sedikit tidak menyukai sikapnya, Irvan lantas berusaha membuat istrinya itu kembali tersenyum.
“Apa, Sayang?” tanya Irvan.
“Masa kamu enggak tahu sih, mauku apa?” Seli mencoba membuat Irvan mengingat-ingat.
“Sayang, maaf, aku lagi capek banget, besok malam aja, ya!” tolak Irvan saat Seli mengajaknya melakukan hubungan suami istri.
“Biasanya aku yang bilang begitu. Kok sekarang malah kamu sih, Mas?” tanya Seli dengan sedikit senyuman yang ia sunggingkan.
“Iya, Sayang. Tadi habis gendong si kembar pinggangku jadi sakit.” Irvan berkilah.
“Janji, ya, besok malam!” ucap Seli. Dan disambut anggukan kecil oleh Irvan.
Setelah Seli terlihat pulas. Irvan kembali meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Ia kembali mengetik pesan dan mengirimnya kepada Sela.
“Selamat tidur, Sela!” disertai dengan emotikon Love. Kemudian pesan tersebut langsung ia hapus agar tak ketahuan oleh Seli.
Irvan memeluk istrinya dan terlelap hingga pagi.
**
“Sayang, lusa ada reuni teman-teman SMA dulu. Kamu mau ikut enggak?” tanya Seli kepada Irvan sembari menunjukkan pesan grup yang dikirim oleh teman-teman SMA-nya.
“Mmm ... liat nanti deh, ya. Karena aku ada kerjaan sedikit di toko,” ucap Irvan sembari memasukkan roti ke dalam mulutnya.
“Ya udah aku berangkat kerja dulu, ya, Sayang,” Irvan mendaratkan bibirnya di pucuk kepala sang istri dan berlalu meninggalkannya.
Setelah sampai di tempat kerja. Irvan dikejutkan dengan panggilan telepon dari Sela.
“Hai, kamu lagi sibuk?” tanya Sela memulai percakapan.
“Iya, sibuk. Sibuk mikirin kamu,” sahut Irvan membuat Sela tersengar tertawa kecil.
“Ah, kamu bisa aja. O, ya, Van. Lusa ada acara reuni teman-teman SMA dulu. Nah, disuruh bawak keluarga, kamu tahu sendiri kan kalau Mas Rudi sibuk di kantor apa lagi berkumpul dengan teman-temanku, Mas Rudi paati enggak akan mau kuajak pergi dia enggak suka keramaian.”
“Iya, tadi Seli juga udah bilang. Terus?”
“Terus, kamu ikut enggak?” tanya Sela.
“Mmm ... sebenarnya ...,”
“Kamu ikut, ya. Please!” suara Sela terdengar memohon hingga membuat Irvan langsung mengembangkan senyuman yang lebar.
“Kenapa? Kangen?” pancing Irvan.
“Hm.” Sela berdeham.
“Ya udah, kamu ajak kembar juga, ya. Biar Seli yang jagain. Aku mau pinjam mamanya dulu nanti.” Irvan berucap sembari menatap langit-langit toko kemudian memejamkan matanya membayangkan pertemuannya dengan Sela nanti.
“Iya, sampai jumpa!” tutup Sela.
Irvan terlihat begitu bahagia. Wajahnya berseri-seri. Ia terlihat tidak sabar ingin bertemu dengan hari itu.
**
“Sayang, gimana, jadi kamu pergi reuninya?” tanya Irvan kepada Seli setelah jam makan malam di rumah.
“Sebenarnya aku ingin pergi, Mas. Apa lagi Kak Sela bilang dia pergi bersama si kembar. Takut enggak ada yang jagain mereka nanti. Aku berharap kamu juga mau ikut pergi, biar ada yang jagain si kembar,” ucap Seli sedang merayu Irvan.
“Ya sudah deh kalau kamu maksa. Aku juga enggak mau membiarkan istriku yang cantik ini kewalahan menjaga si kembar.” Irvan mencolek hidung mancung Seli.
“Serius, Sayang? Makasih banyak, ya. Kamu baik banget sih?” Seli memeluk suaminya lalu mengecup pucuk kepala Irvan sambil berbisik di telinga Irvan.
“Aku bersyukur Tuhan kirimkan malaikat seperti kamu, Sayang. Aku mencintaimu.”
Irvan menelan ludah saat mendengar kata-kata itu. Terlintas wajah Sela dan penyesalannya kepada sang istri yang sudah ia khianati.
Maafkan aku, Sayang! Batin Irvan lalu membalas mengecup pipi sang istri.
**
“Sayang, udah selesai belum?” teriak Irvan dari ruang tamu karena menunggu Seli yang masih berdandan di dalam kamar.
“Bentar lagi, Sayang!” sahut Seli.
Irvan meraih ponselnya lalu mengetik pesan untuk Sela.
“I’m coming!” disertai dengan emotikon memeluk. Pesan pun langsung dibaca oleh Sela. Namun, tak kunjung mendapatkan balasan.
Berkali-kali Irvan menatap layar ponselnya berharap ada pesan dari Sela yang masuk. Karena jika pesan tersebut sudah diterimanya maka akan segera ia hapus agar tak ketahuan oleh Seli.
“Balas dong!” gumam Irvan dengan waswas.
“Mas, ayo!” ucap Seli tiba-tiba keluar dari kamar.
“Oke!” sahut Irvan dengan memasukkan ponsel ke saku celana miliknya.
**
Sesampainya di tempat reuni, Seli langsung menyapa semua teman-temannya yang setelah sekian lama tidak pernah bertemu. Mereka bercengkerama, setelah memperkenalkan Irvan—suaminya kepada teman-temannya.
“Kenalin, ini suamiku,” ucap Seli sambil memeluk suaminya.
Satu per satu teman istrinya menyalami Irvan kemudian lanjut mengobrol.
“Eh iya, Sel, kembaran kamu mana? Jadi datang, kan?” tanya salah seorang teman.
“Insya Allah, jadi. Mungkin lagi di jalan karena dia sama anak kembarnya, jadi agak repot.” Mereka kembali tertawa sembari bernostalgia dengan teman-temannya yang lain.
Irvan terlihat gelisah menunggu kedatangan Sela yang belum juga menampakkan batang hidung.
“Eh, itu, Sela!” ucap salah seorang membuat Irvan tak henti-hentinya memandang Sela dengan penampilan yang begitu seksi.
Sela mengenakan gaun ketat berwarna hitam dengan belahan pinggir sekitar lima belas senti di atas lutut. Tubuhnya tang putih mulus membuat warna tersebut kelihatan kontras sekali.
“Sorry, terlambat,” ucap Sela menatap semuanya yang sedang berkumpul. Lalu berhenti di depan Irvan.
Segera Irvan mengetik pesan untuk Sela secara diam-diam.
“Oh, kamu begitu seksi,” pesan terkirim dan langsung dibaca oleh Sela dengan berjarak sekitar satu meter itu.