64 Ivana memandangi wajah-wajah gusar keluarga Hatim yang tengah berkumpul di ruang tunggu, yang berada di depan ruang operasi. Ayah dan Ibu mertuanya tampak sangat gelisah, demikian pula dengan Zayan, suaminya itu berulang kali mengubah posisi duduk, kentara sekali bila pria itu tengah gundah. "Bro," ucap Malik dari kursi di bagian ujung kanan. "Nggak ada stok darahnya di mana-mana," lanjut pria bertubuh tinggi besar itu sambil menggeleng pelan. "Nggak ada?" tanya Zayan memastikan. Wajahnya bertambah muram ketika melihat Malik mengangguk-angguk lemah. Isak tangis Bu Laksmi kembali terdengar. Perempuan tua itu menyandarkan kepala di pundak sang suami yang tampak berusaha untuk tetap tenang, meskipun matanya pun sudah berkaca-kaca. "Apa perlu kita umumkan di grup perusahaan? Mungkin

