#1
Langit yang semula biru berubah kelabu. Pemuda yang tengah menyusuri hutan itu menghentikan langkahnya. Dari pakaian yang dikenakan, dengan mudah ia bisa dikenali sebagai seorang bangsawan. Tubuh tegapnya dibalut baju berbahan kain sutera berwarna biru.
Seorang pemuda yang berjalan di belakangnya turut berhenti. Baju yang ia kenakan menunjukkan jika ia adalah golongan orang biasa. Dan, posisinya yang selalu berjalan di belakang, mempertegas jika kedudukannya adalah seorang pelayan pribadi dari bangsawan muda yang berjalan di depannya. Ia menirukan gerakan sang tuan yang berdiri menatap langit yang mulai diselimuti mendung.
"Doryeonnim, kenapa kita berhenti di sini?" tanya si pelayan usai sejenak mengamati langit.
"Hah..." Bangsawan muda mendesah dan menurunkan kepalanya yang mendongak, "Sepertinya akan turun hujan dan kita baru saja memasuki hutan. Aku rasa kita akan terjebak hujan di tengah hutan," imbuhnya seraya mengamati sekitar. Di sekelilingnya hanya ada pepohonan.
"Menghentikan langkah seperti ini hanya membuang waktu. Jika kita berjalan dengan cepat, kita pasti bisa segera tiba di desa," desak si pelayan.
"Aigo! Apa kau tidak melihat tandanya? Langit sudah bersiap-siap. Walau kita berlari sekencang yang kita bisa, kita akan tetap kehujanan di dalam hutan ini." Sang bangsawan muda menggelengkan kepala.
Si pelayan terus mengoceh mengutarakan pendapatnya, sedang sang bangsawan muda mengabaikan sambil terus mengamati sekitar. Ia berharap bisa menemukan pondok yang bisa digunakan untuk berteduh. Ketika mengedarkan pandangan, ia menangkap sesosok perempuan dengan keranjang bambu di punggungnya sedang berjalan terburu-buru. Senyum lebar terkembang di wajahnya dan tanpa pikir panjang ia mengejar perempuan itu.
"Agasshi!" Bangsawan muda memanggil seraya berlari kecil mendekati perempuan yang menggendong keranjang bambu di punggungnya.
Perempuan muda menghentikan langkah dan mengamati pemuda yang berlari kecil ke arahnya, diikuti pemuda yang berlari sambil mengomel di belakangnya. Saat kedua pemuda asing itu berhenti tak jauh di depannya, ia pun sedikit menundukkan kepala, tanda memberi salam.
Bangsawan muda itu berhenti tak jauh dari perempuan muda yang berhasil ia kejar. Ia berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. "Annyeong hasimnikka," Bangsawan muda menyapa dengan sopan setelah napasnya kembali teratur.
Lagi-lagi perempuan muda hanya sedikit menundukkan kepala sebagai jawaban.
Bangsawan muda berdeham. "Tenang saja. Aku bukan orang jahat."
"Anda ingin menumpang berteduh?" Perempuan muda tiba-tiba bersuara membuat bangsawan muda dan pengawal pribadinya ternganga.
"Bagaimana bisa..." Gumam sang bangsawan muda hampir tak bersuara.
"Ikuti saya. Hujan akan turun sebentar lagi. Sepertinya akan ada badai." Perempuan muda kembali berjalan dengan terburu-buru.
Sang bangsawan muda dan pengawal pribadinya segera mengikuti langkah si perempuan muda yang tiba-tiba muncul di tengah hutan.
"Doryeonnim," bisik si pelayan di tengah-tengah perjalanan. "Kenapa Doryeonnim tiba-tiba mengikutinya?"
"Memangnya kenapa?" Sang bangsawan muda turut berbisik.
"Dia tiba-tiba muncul di tengah hutan, bagaimana kalau dia itu siluman? Dia langsung bisa menebak isi hati Doryeonnim. Bukankah itu aneh?"
Sang bangsawan muda menyincingkan senyum. "Hanya dengan menatap langit, dia bisa tahu apa yang kita mau."
"Itu secara logika tapi--"
"Tenang saja. Saya bukan siluman," sahut perempuan muda yang berjalan di depan keduanya. Membuat si pelayan langsung mengatupkan mulutnya yang terbuka.
"Anda pernah dengar tentang Hanggu? Saya tinggal di sana," perempuan muda menlanjutkan.
"Hanggu?" Gumam sang bangsawan muda sambil memiringkan kepala.
"Lalu kenapa kau langsung setuju membawa kami bersamamu sedang kami ini orang asing?" Si pelayan menyela.
"Anda membawa energi positif."
"Energi positif? Kau... kau bisa merasakannya? Hal seperti itu?"
"Iya."
"Siapa kau sebenarnya?!"
Perempuan muda itu menghentikan langkahnya, membuat sang bangsawan dan pelayan pribadinya turut menghentikan langkah. Si pelayan berubah was-was dan siaga.
"Saya seorang mudang," perempuan muda itu mengubah posisi tubuhnya, setengah menghadap kepada dua pemuda asing yang membuntutinya sejak beberapa menit yang lalu.
"Mud-mudang??" Si pelayan terbata. Kaget karena bertemu dengan seorang dukun muda di tengah hutan.
"Kita sudah sampai." Ujar perempuan muda, mengabaikan pertanyaan si pelayan yang syok. Gerimis turun menyela ketiganya.
"Mari! Sudah gerimis dan sepertinya badai akan segera datang." Perempuan muda itu kembali berjalan menaiki jalan menanjak.
Bangsawan muda dan pelayan pribadinya kembali mengekor. Keduanya dibuat takjub ketika melihat bangunan di depannya. Beberapa bangunan berdiri rapi di sebuah area yang cukup luas. Bukan bangunan rumah milik rakyat jelata, tapi bangunan khas rumah bangsawan.
Perempuan muda yang mengaku sebagai mudang memimpin keduanya memasuki area itu. "Inilah Hanggu. Tempat saya tinggal," ia kembali bicara.
"Woa! Bagaimana bisa di dalam hutan yang lebat ada komplek mewah seperti ini?" Si pelayan menggeleng-gelengkan kepala takjub.
"Hae Won, kau kah itu?" Suara seorang perempuan menyita perhatian ketiganya.
Perempuan muda, bangsawan muda dan pelayan kompak mengalihkan pandangan ke sumber suara. Seorang perempuan muda berdiri tak jauh dari mereka. Tangan kanannya membawa payung. Tubuhnya terbalut hanbok perpaduan chima (bagian bawahok) berwarna jingga dan jeogori (bagian atas) berwarna kuning. Sang pemuda bangsawan terkesima menatap gadis cantik yang membawa payung itu. Ia menatap gadis itu penuh kekaguman. Dan, entah sadar atau tidak, ia pun tersenyum.
***
Benar yang dikatakan gadis mudang, hari ini tak hanya turun hujan tapi badai. Pemuda bangsawan merasa beruntung telah mengikuti kata hatinya untuk mengejar gadis yang tiba-tiba muncul di tengah hutan itu. Kini ia tak hanya mendapatkan tempat berteduh, tapi juga merasa aman.
Siang itu langit memuntahkan hujan badai sepuasnya. Sore menjelang malam barulah reda. Pemuda bangsawan dan pelayan pribadinya bertahan di pendopo Hanggu hingga hujan reda.
"Akhirnya reda juga," pemuda bangsawan menggeliat. Ia tersenyum menatap langit. "Sudah cukup ujiannya. Kita harus segera tiba di desa!"
"Haedochi pasti setia menunggu Anda." Suara yang menyebutkan nama sebuah desa itu mengejutkannya. Ia segera menoleh dan mendapati seorang laki-laki yang seumuran dengan ayahnya telah berdiri dekat di belakangnya.
Laki-laki itu ditemani seorang pemuda yang kira-kira seumuran dengannya. Tidak, sepertinya lebih tua darinya. Pemuda bangsawan segera membungkuk sopan bersamaan dengan pelayan pribadinya.
"Maaf baru menyapa Anda sekarang. Hujan badai baru saja reda dan kami baru kembali," lanjut pria tua itu dengan sopan.
"Anda??" Tanya pemuda bangsawan.
"Saya Jung Jin Ho. Pemilik Hanggu."
"Oh, Anda pemilik tempat ini? Senang bertemu dengan Anda," pemuda bangsawan itu membungkukkan badan dalam-dalam. "Saya Seo Sang Jun. Saya sangat berterima kasih, karena telah diberi tempat untuk berteduh."
"Seo Sang Jun calon hakim baru untuk wilayah Haedochi?" Jin Ho tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Oh! Anda tahu tentang saya?"
"Ok Hae Won tidak mungkin membawa orang sembarangan."
"Ok Hae Won? Oh! Nona Mudang itu?"
Jin Ho tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala. "Menginaplah. Sebaiknya esok pagi saja melanjutkan perjalanan. Walau tak terlalu jauh, cukup berbahaya jika melakukan perjalanan saat gelap. Kami telah menyiapkan kamar."
Sang Jun tersenyum dan mengangguk setuju. Kemudian tatapannya tertuju pada dua gadis yang sedang berjalan mendekat. Salah satunya telah ia kenali sebagai mudang muda yang bernama Ok Hae Won. Gadis lainnya adalah gadis yang mengenakan hanbok perpaduan chima jingga dan jeogori kuning yang telah membuatnya terpana ketika ia pertama kali melihatnya.
Jin Ho mengikuti arah pandangan Sang Jun. Ia tersenyum melihat bagaimana ekspresi Sang Jun. "Ok Hae Won dan Jung Ae Ri. Mereka adalah kedua putri saya," ucapnya yang turut menatap kepada dua gadis.
"Iya?" Sang Jun tersadar dari lamunan. "Ah..." ia tersipu malu menyadari Jin Ho tengah memperhatikan tingkah lakunya.
***
Seluruh penghuni Hanggu makan malam bersama di pendopo utama. Sang Jun dan pelayan pribadinya diundang untuk turut makan malam bersama.
Hidangan tertata di atas sebuah meja panjang. Jin Ho duduk paling ujung. Ae Ri duduk di samping kirinya bersebelahan dengan Hae Won. Di samping kanannya duduk seorang pemuda yang sejak awal Sang Jun bertemu dengan Jin Ho selalu mengawal pria tua itu. Ia duduk di samping pemuda itu dan di samping kirinya duduk si pelayan. Sisanya ada lima orang pemuda lainnya yang duduk di samping kiri Hae Won dan juga di samping kiri pelayan pribadinya.
Jin Ho tersenyum menatap hidangan juga orang-orang yang duduk mengitari meja.
"Maaf jika ini membuat Anda tak nyaman, tapi beginilah cara makan di Hanggu. Dengan begini saya bisa memastikan semua anak-anak saya makan dengan baik," Jin Ho meminta maaf kepada Sang Jun karena memintanya turut bergabung makan malam dengan cara Hanggu.
"Ini menyenangkan. Jadi semua yang tinggal di sini adalah anak Anda?" Sang Jun tak merasa keberatan harus makan malam dengan cara Hanggu. Ia pun melontarkan pertanyaan yang berkecamuk di benaknya tentang kenapa Jin Ho menyebut semua pemuda dan pemudi yang duduk di sana sebagai anaknya.
"Iya. Semua yang ada di sini adalah anak saya"
"Oh!" Sang Jun mengangguk paham sambil kemudian melirik Ae Ri. Tatapannya terhenti pada pemuda yang duduk di samping Jin Ho, yang sedang lurus menatapnya. Ia pun tersenyum kikuk pada pemuda itu.
"Ayo kita makan. Oya, saya juga minta maaf karena kami tidak menyediakan daging. Kami semua di sini vegetarian. Anda tak mengapa dengan hal ini?" lagi-lagi Jin Ho meminta maaf.
"Jangan terus meminta maaf. Semua ini terlihat sangat lezat. Saya berterima kasih untuk semua hidangan malam ini."
"Hahaha. Saya jamin Anda tak akan kecewa. Ae Ri dan Hae Won adalah koki terbaik kami." Jin Ho membanggakan kedua putrinya.
"Benarkah?" Sang Jun kembali menatap Ae Ri yang tersenyum tersipu.
"Ayo! Ayo! Nikmati hidangannya selagi panas." Jin Ho mempersilahkan.
Makan malam pun dimulai.
Sang Jun membaur bersama seluruh penghuni Hanggu. Ia merasa nyaman dan hangat. Ia akui masakan Ae Ri dan Hae Won sangat lezat. Bahkan ia sempat melontarkan pujiannya atas kemahiran Ae Ri dan Hae Won secara lisan.
***
"Aish! Kau mengaku sebagai mudang lagi?" Tanya Ae Ri ketika Hae Won selesai menceritakan bagaimana ia bertemu Sang Jun di hutan. "Bagaimana kau tahu jika dia adalah calon hakim yang baru untuk Haedochi?" imbuhnya penasaran.
"Eonni, semua bisa ditebak. Mendung menggantung gelap di langit ketika tuan muda itu tiba-tiba muncul dan kemudian mengejarku. Aku sempat memperhatikannya dari balik semak-semak, dan tentu saja aku mendengar obrolan mereka," tutur Hae Won.
"Lalu tentang dia adalah calon hakim baru?"
"Dari pakaiannya terlihat jika ia bukan orang biasa dan sejak hakim sebelumnya diturunkan dari jabatannya, belum pernah ada orang asing yang datang ke sini. Tentang itu aku hanya menebak. Lagi pula pohon-pohon berbisik jika aku harus menolong mereka."
"Ok Hae Won, kadang-kadang kau membuatku berpikir bahwa kau ini benar-benar seorang mudang."
"Aku tak pandai berkelahi, jadi aku harus pandai-pandai menggunakan otakku. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi ketika kita masuk ke dalam hutan, kan?"
"Kau benar. Aku harus belajar banyak darimu."
"Aku pun harus belajar banyak dari Eonni."
Kedua gadis itu tersenyum bersama, lalu kembali melanjutkan tugas mereka untuk mencuci perabotan setelah makan malam usai.
***