Lima tahun berumah tangga dengan mas Guntur membuat aku tidak percaya kalau hari ini dia telah mengkhianati ku dengan menghamili wanita lain dan menikahinya tanpa izin dariku.
"Mas sangat mencintai kamu sayang saat ini dan selamanya, bagaimanapun keadaan kamu mas tidak akan pernah meninggalkan kamu." Janji mas Guntur masih terngiang di telingaku, tapi nyatanya itu adalah janji palsu.
Cukup sudah! Cerai adalah jalan terbaik, aku tidak perlu meratapi mas Guntur, jika mas Guntur memilih menikah daripada sabar menunggu, aku lebih memilih cerai dari pada di sakiti.
"Syala!" Suara jeritan ibu mertua terdengar lantang saat memasuki rumah melalui pintu samping, saat ini aku sibuk berkemas di dalam kamar, memasukan barang-barang berhargaku kedalam tas, rencananya aku akan pulang kerumah Lana saudara angkatku.
"Syala! Dimana kamu!' Jeritnya sekali lagi membuat aku penasaran.
"Ada apa Bu?" Aku keluar dari kamar menemuinya, tidak ada wajah ramah ku seperti dulu saat berbicara dengannya, aku pasang wajah masam dan jutek menggambarkan kemarahan yang belum usai di dalam diri ini, aku tau mas Guntur menikahi wanita itu pasti ibu mertuaku inilah yang menjadi dalang utama nya.
Ibu menyambar jilbabku hingga terbuka.
"Kamu, gara-gara kamu Syala!" telunjuk ibu mertuaku mengarah pada wajahku, matanya melotot dan rahangnya mengeras, terlihat saat ini pasti dia sedang marah besar.
"Apa-apaan Ibu menarik jilbabku." Aku berusaha memasang kembali jilbab yang telah jatuh kelantai ke kepalaku, tanpa aku sadar ibu sudah berdiri tepat di depanku dan mencekik leherku.
"Lepas Bu!" Aku berusaha memberontak.
"Seharusnya kamu yang mati, bukan cucuku, seharusnya kamu yang di cabut nyawanya, wanita tidak berguna!"
What? Apa maksudnya ini? Cucunya Mati?
Aku tertegun sejenak, meskipun tangan ibu mertuaku masih di leherku dan mengguncang tubuhku sambil menangis pilu.
"Kamu penyebabnya Syala, kamu membunuh kedua cucuku!" Bentak ibu kuat memenuhi gendang telinga, lalu tangannya mengerat pada leherku membuat aku sulit bernafas.
Aku berusaha melepaskan diri dengan mendorong ibu kebelakang, berhasil! ibu terduduk di lantai dan aku pun tersandar pada dinding.
"Jangan membuat fitnah Bu, aku bahkan tidak menyentuh perempuan pelakor itu, bagaimana mungkin aku membunuh anaknya!" Aku berteriak tidak kalah lantang dengan suara ibu.
Enak saja memfitnah menantu yang di khianati oleh anaknya, cucunya yang mati kenapa aku yang di kambing hitamkan? Tidak benar bukan?
"Kamu memang tidak menyentuhnya Syala! Tapi selama hamil dia setress karena mikirin kamu, dia sampai kurang tidur dan mengalami rendah darah dan kandungannya lemah, itu yang menyebabkan kasih pendarahan hebat dan bayinya lahir dalam usia kandungan tujuh bulan, pikir pakai otak." Jarak kami sekitar satu meter berhadapan di depan meja makan, mata ibu kian berkilat karena aku tidak menerima tuduhan darinya.
"Haha." Aku tertawa sumbang mendengar ucapan ibu, tidak sadarkah dia dengan apa yang baru saja di ucapkannya? "Lalu itu salahku? Aku bahkan baru pertama kali bertemu dengan wanita itu hari ini, lalu kalau dia memikirkan ku sampai setress, sampai kurang tidur dan kurang darah itu juga salahku, ibu waras?" Ucapan pedas ku keluarkan, biar saja, biar sekalian durhaka sama mertua.
"Kamu." Ibu ingin menggapai ku lagi tapi aku menghindar.
"Sudahlah Bu, terima saja kalau calon cucu Ibu sudah mati, kenapa harus menyalahkan ku, mungkin saja ini karma buat kalian yang mencoba menyakiti seorang istri yang baik dan penurut tapi diam-diam di khianati."
"Tutup mulutmu Syala!" Bentak ibu keras.
"Mbak Syala kok bicara begitu? Keluarga ini sedang berduka kok Mbak tega bicara begitu?" Firli, adik iparku satu-satunya masuk dari arah pintu, lalu membantu ibu berdiri.
Lah, anak bau kencur ini kenapa dia juga ikutan menyalahkan ku?
"Kamu tau apa Firli? Kamu tidak merasakan apa yang mbak rasakan saat ini, kamu tidak mengerti bagaimana rasanya di khianati."
"Mbak harusnya sadar diri, disini Mbak yang salah, kenapa Mbak Syala tidak kunjung hamil sementara sudah lama menikah, kami di sini merindukan kehadiran seorang bayi, ibu rindu menimang cucu, mas Guntur juga ingin menimang anak seperti teman-temannya yang lain, teman ku aja yang baru nikah sudah hamil." ucap Firli yang kembali menyalahkan ku.
Aku mengurut d**a berkali-kali, hebatnya mereka menentang takdir Allah secara tidak langsung dengan menyalahkan ku, bukankah soal kelahiran, kematian, nasib, itu semua telah ditetapkan sebelumnya dalam suatu garis takdir manusia dan tidak ada yang bisa menebak dan tidak diketahui oleh siapapun, kecuali Allah SWT, itulah yang disebut dengan takdir Mubram, lalu di mana letak kesalahanku?
"Sudahlah Bu, ngapain kita ngurusin dia, mending kita kerumah sakit untuk melihat pemakaman kembar, biarkan wanita yang tidak punya hati nurani ini merenungi kesalahannya." Firli berucap terdengar bijak, bagi orang yang tidak mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya.
Ibu tampak menghalau air matanya yang membasahi pipinya.
"Kalian yang tidak punya hati nurani." Jawabku sekenanya.
"Saya akan laporkan ini semua pada Guntur, kamu akan di ceraikan Syala, kamu akan menjadi janda, jangan harap kamu akan mendapatkan suami karena kamu mandul, mana ada laki-laki yang mau dengan wanita sepertimu." ucap ibu mertua dalam tangisannya.
Aku nyengir kuda.
"Silahkan Bu, silahkan adukan sana pada mas Guntur, saya memang sedang menunggu di ceraikan, lebih cepat lebih baik, lagi pula saya tidak sudi punya suami pengkhianat." ucapku tidak kalah sengitnya dengan ibu mertua, terserah dia mau dalam keadaan berduka aku tidak peduli, sudah terlanjur benci dan sakit hati.
"Sudah mandul belagu pula, cih!" Firli berdesis mengejekku.
Aku hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Firli, dia sama sekali tidak sadar bahwa biaya kuliahnya aku yang menanggung, kredit motornya sesekali aku yang bayar karena ibu beralasan tiada duit melulu, mas Guntur yang merupakan seorang PNS di sebuah lembaga pemerintah memang memiliki gaji yang cukup menjanjikan, karena tunjangan cukup besar karena bertugas di ibu kota namun tetap saja tidak akan mencukupi gaya hidup ibu yang berfoya-foya oleh ibu dan adiknya, belum lagi di tambah kredit mobil dan sekarang lebih ruwet lagi, mas Guntur menambah istri lagi satu, sepandai-pandainya wanita mengatur keuangan kalau tidak punya penghasilan sendiri aku pasti sudah melakukan gali lobang tutup lobang, beruntung aku mempunyai penghasilan tambahan sebagai seorang penulis, sehingga sangat membantu sekali membiayai keluarga ini.
Baiklah, sepertinya keluarga ini memang tidak membutuhkanku lagi, tidak masalah! Aku sangat ingin mas Guntur sangat marah padaku lalu menceraikan ku.
Perkara mudah!
"Kamu benar-benar tidak tau diri Syala, sudah bagus anak saya menampung perempuan mandul dan tidak bekerja seperti mu, tapi kamu tidak tau diri, lihat saja nanti, setelah bercerai dengan Guntur kamu akan jadi gelandangan." Hina ibu mertuaku, lalu dia dan Firli pergi.
Sayangnya aku sama sekali tidak tersinggung, aku malah memberikan senyuman sinis pada ibu mertuaku.
"Silahkan Bu, aku senang ibu melakukan itu!' pekik ku lantang mengiringi kepergian ibu.