Rumah berantakan sekali, dari ruang tamu hingga dapur, biasanya aku akan membersihkan rumah ini, namun hari ini aku tidak melakukannya, biar saja berantakan.
Ditambah lagi dapur berserakan dengan potongan sayuran dan daging, sedikitpun aku tidak ingin membersihkannya, terserah! Aku memang sedang mengundang kemarahan pemilik rumah ini, ibu mertua.
Rasanya waktu berlalu begitu lambat
Tin tin tin.
Bunyi klakson mobil mas Guntur memasuki halaman rumah ini, aku yang sedang berbaring menyingkap sedikit gorden, kulihat ibu dan mas Guntur yang pulang.
Ini yang ku tunggu-tunggu, tidak sabar rasanya mendengar kata talak dari mas Guntur dan segera di usir dari rumah ini.
"Syala!" Ibu menjerit menggedor pintu depan.
Heran, padahal tidak di kunci, tinggal putar handle pintu lalu masuk, tidak perlu juga pakai acara jerit-jerit.
"Syala, buka pintunya!' Ibu kembali menggedor dengan kuat sampai pintu itu bergetar.
"Bu, jangan menjerit, malu di dengar tetangga, lagipula pintunya tidak di kunci kok." Samar-samar ku dengar mas Guntur berbicara pada ibunya.
"Kamu ini gimana sih Gun! Kalau gak jerit istri kamu itu mana dengar, budeg, ponsel aja yang di lihatnya, ibu khawatir kalau dia selingkuh." ucap ibu pelan, namun masih bisa ku dengar karena kamar aku dan mas Guntur tepat di sebelah pintu utama, tepatnya bersebelahan dengan ruang tamu.
Fitnah apa lagi ini?
Semakin lama mulut ibu mertuaku semakin tidak terkontrol, dia terus berusaha mencari kesalahan ku.
"Panggil istrimu cepat, kita bicara di sini!" Perintah ibu pada mas Guntur, sepertinya mereka sudah berada di ruang tamu.
Aku jadi penasaran, apa yang ingin mereka bicarakan padaku?
Mas Guntur masuk kedalam pintu tanpa mengetuk maupun mengucap salam seperti biasanya, rambutnya kusut dan matanya sembab serta wajahnya pun kusam, terlihat sekali dia sedang di rundung duka.
Mata kami beradu di dalam cermin meja riasku, aku tidak menyambutnya seperti biasa , pura-pura tidak tau dan melanjutkan rutinitas malamku yaitu skincare.
"Syala, ayo kita bicara!" ucapnya tanpa ekspresi.
Ini yang kutunggu.
Dia kembali keluar dari kamar, mungkin menungguku di ruang tamu, aku bergegas untuk menyusulnya, begitu tidak sabar aku ingin mendengar apa yang ingin mereka bicarakan padaku.
Mata ibu hampir tercabut saat melihat aku keluar dari kamar, ya aku keluar dengan wajah yang fresh, lipstik dan alis tetap on pada wajah ku yang glowing karena baru-baru ini aku menemukan skincare yang pas di kulitku.
"Kamu gak ada sedih-sedih nya dengan apa yang baru saja menimpa keluarga ini?' ucapan ibu seperti sambaran petir di musim hujan, berdentum-dentum memekakkan telinga.
"Lah? Emangnya ibu mau aku berekspresi seperti apa?" Jawabku pura-pura bodoh.
Aku sengaja beradegan seperti ini, bukan karena aku ingin berbahagia di atas penderitaan orang lain, perlu di ketahui bahwa aku juga menderita di sini, aku juga tersakiti di sini, kalau ku turut kan perasaan ini mungkin aku sudah menangis sejadi-jadinya, ya saat ini aku berperang dengan perasaan sendiri, mengutamakan logika di bandingkan perasaan.
"Dasar tidak punya empati kamu, suami kamu ini sedang sedih karena anaknya tidak selamat, kamu kok seperti bahagia banget?" ucap ibu mengundang provokasi, ingin aku jawab iya, tentu saja aku bahagia, aku juga ingin tertawa puas karena karma telah di bayar tunai, tapi aku terlalu sadis jika di ucapkan sekarang.
"Aku turut berduka ya Mas, semoga itu buat tabungan kamu untuk menjemput kamu dan Neneknya ke surga." ucapku lantang tanpa ada embel-embel ekspresi sedih.
"Lho, lho kurang ajar kamu ya, kamu nyumpahin kami mati?' Ibu mertua langsung murka mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulutku.
Aku mengerutkan alis, apa sih maunya mertua cerewet ku ini, aku sudah bersikap seperti yang dia inginkan, masih saja salah, heran!
"Siapa yang nyumpahin ibu, aku kan cuma berdo'a buat kebaikan mas Guntur dan ibu, kok saya jadi salah?" Tangan ku bersedekap pada d**a, aku tidak ingin terbawa emosi, santai, masih banyak kondisi lain yang akan menguras emosi dan perasaan.
"Diam!" Mas Guntur berteriak, matanya merah menyalakan amarah, ini pertama kalinya aku melihat laki-laki ku marah, selama lima tahun berumah tangga ini kali pertama aku melihat dia dalam mode marah.
Hening sesaat, aku menunggu apa yang ingin di ucapkan oleh mas Guntur.
"Syala, masuk kamar!" Perintah mas Guntur tanpa menoleh padaku, dia menunduk.
"Lho Gun, kok gak jadi ngomong yang kita bicarakan di rumah sakit tadi pada Syala?" Ibu tampak kecewa.
"Bu, kita baru saja kehilangan harapan, tolong jangan membuat pikiranku tambah kacau." Mas Guntur terlihat frustasi.
"Lah, kamu ini gimana sih, tidak tegas sama istri sendiri." Ibu mertua mendesak mas Guntur.
"Bu-"
"Mas, talak aku malam ini, dan usir aku dari rumah ini, aku ingin kita bercerai malam ini juga!" Aku memotong ucapan mas Guntur, menunggunya mengucapkan kata talak membuatku tidak sabar, aku ingin segera lepas dari keluarga ini.
Mas Guntur dan ibu melotot memandangiku, mereka seakan terkejut dengan apa yang baru saja ku ucapkan.
"Cepat Mas! Cepat ucapkan?" Aku semakin menantang.
"Siapa yang ingin menceraikan kamu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengucapkan kata talak untukmu Syala, jangan mimpi kamu!" Mas Guntur kembali berteriak.
Aku terkesiap mendengar jawaban itu, ini di luar ekspektasi, harusnya mas Guntur marah padaku lalu mengusirku, sesuai dengan apa yang di rencanakan ibu mertuaku.
"Buat apa Mas! Buat apa wanita seperti diriku, wanita tidak berguna!" Aku berseru dengan lantang, tidak lupa aku melirik pada ibu mertua, ingin melihat ekspresinya seperti apa.
"Aku tidak bisa memberikanmu anak dan aku tidak bekerja, sekarang kamu juga sudah punya istri baru buat apa lagi aku, buang aku mas!" Ku tunjuk wajah mas Guntur dengan tangan Gemetar, ini pertengkaran kedua setelah pagi tadi selama kami berumah tangga. Sekuat tenaga aku menahan air mata , sekuat-kuatnya wanita kalau sudah bertengkar dengan suami pasti air mata akan mengiringi, wanita akan menjadikan air mata sebagai senjata sedangkan aku menyembunyikan air mata karena menurutku itu adalah kelemahan.
Mas Guntur berlutut sambil memegang erat tanganku "Tidak Sya, aku tidak akan melakukan itu, apapun kondisi kamu aku tetap akan mencintai kamu, aku mohon jangan ucapkan kata seperti itu lagi Sya." Air matanya yang tumpah mengiringi ucapannya yang dusta.
"Tolong, jangan buat Mas kehilangan untuk yang kedua kali, Mas baru saja kehilangan anak kembar, Mas tidak mau kehilangan kamu, tolong Syala." Tangannya gemetar menggenggam tanganku, air matanya hangat menitik pada punggung tanganku.
Ingin rasanya prihatin, ikut sedih dan menangis menggulung-gulung, tapi kenyataannya disini aku tidak boleh terbawa perasaan, aku juga korban, aku di khianati oleh dia, bagaimana mungkin aku bisa ikut menangis dan meratap terhadap buah hasil dari pengkhianatan mas Guntur.
Aku menarik tanganku lalu berdiri dan menjauh dari mas Guntur "Jangan egois Mas! Kamu sudah berkhianat dan aku minta ceraikan aku Mas Guntur!" Pekikku membabi buta, kesabaran ku sudah habis.
"Sudahlah Gun, ceraikan saja wanita ini, bikin repot, sekarang ada Kasih yang harus kamu urusi, dia sedang berkabung karena anaknya tidak selamat, Kasih lebih membutuhkan bujukan dan rayuan kamu, bukan wanita ini."
"Betul kata ibu kamu Mas, ceraikan aku!"
Mas Guntur menggelengkan kepalanya, aku tau dia mencintaiku, dia tidak akan menceraikan ku, ini akan membuatnya tersiksa.
Tanggung saja akibat dari kelemahanmu mas!