4. Pertengkaran

1008 Kata
"Tolong pikirkan dulu Sya, tidak ingatkah bagaimana hubungan pernikahan kita ini, tidak bisakah kita melalui ujian ini bersama? Mas mohon kamu kuat menjalani salah satu ujian rumah tangga kita." Permohonan mas Guntur membuat aku terkesima, tidak sadarkah dia berucap apa baru saja, ujian rumah tangga? "Ck, ujian Mas? Apa aku tidak salah dengar? Kamu suruh aku kuat untuk menjalaninya? Lalu bagaimana dengan kamu? Kita di uji lima tahun berumah tangga lalu Allah belum menghadirkan anak kamu langsung menikah wanita lain diam-diam lalu kamu memintaku untuk kuat menghadapi ujian yang kamu buat? Aku tidak bisa Mas!" Aku menghempaskan tangan mas Guntur yang menggenggam bahuku. "Sya please, jangan begini, kita sama-sama punya kekurangan bukan? Kita sama-sama punya kesalahan? Tolong jangan di perbesar." ucap mas Guntur penuh iba, tapi aku sedikitpun tidak akan terhanyut. Apa maksudnya kekurangan dan kesalahan? "Maksud kamu?" ucapnya kurang jelas, biar aku minta penjelasan. "Alah, itu aja tidak tau, kamu itu sudah terbukti mandul Syala, masih saja ngotot mintak cerai." Ibu yang menjawab. "Diam Ibu, jangan memperkeruh suasana!" Mas Guntur membentak ibunya tepat di depanku. UPS! Ingin tertawa melihat ekspresi ibu tapi lagi mode serius, di bentak anak di depan menantu pastinya malu sampai ke ubun-ubun. "Gun! Kamu bentak Ibu demi membela dia?" Ibu langsung bangun dari sofa dengan wajah yang garang, melotot pada mas Guntur dengan wajah tegang sedangkan telunjuknya mengarah padaku. Marvelous! Aku bersorak dalam hati, sepertinya percikan pertengkaran antara ibu dan anak yang selama ini tidak pernah terjadi akhirnya tercetus, dan penyebabnya adalah aku. Selama ini mas Guntur selalu bertutur kata lembut pada ibunya, tidak pernah ku dengar mas Guntur meninggikan suara, jika ibu memarahiku tidak pernah mas Guntur membela, dia akan menenangkan ku setelah kami hanya tinggal berdua di kamar, aku di minta sabar dan memaklumi ibunya, akupun menurut apa yang di ucapkan oleh mas Guntur paling aku melampiaskan dengan tangisan, tapi sekarang sudah berbeda. "Bu, keluargaku kacau karena ibu, ibu yang membujuk ku untuk menikah lagi, dan lihat sekarang? Syala minta cerai dan anak ku tidak selamat, apa yang ku dapatkan!" "Guntur! Kamu benar-benar menyalahkan ibu? Buka mata kamu lebar-lebar Guntur, dia sumber masalah dalam hidup kita, kenapa ibu yang di salahkan? Ibu meminta kamu menikah karena ibu hanya ingin membuktikan kalau kamu subur dan dia mandul, sekarang terbukti, hanya satu kali kamu melakukannya pada Kasih dan kamu bisa menghamilinya dengan bayi kembar, hanya karena tidak beruntung saja bayi itu tidak selamat, itupun gara-gara dia bukan?' Tuh benarkan dugaanku, ibu yang meminta mas Guntur menikah lagi demi membuat aku tersudutkan, demi nama baik anaknya, demi membuktikan kalau akulah yang salah, padahal dokter sekalipun tidak pernah mengatakan kalau aku tidak subur apa lagi memvonis ku mandul. "Sudahlah Mas, dengarkan saja kata Ibu mu, aku juga sudah rela kalau kamu kawin lagi, tapi ceraikan aku, kalau kamu tidak mau mengabulkan aku yang akan menggugat kamu di pengadilan." Aku menekan mas Guntur, untuk menciptakan kekacauan di dalam hatinya. Aku tau, mas Guntur menyayangiku dan mencintaiku, dia tidak akan mau melepaskan ku dengan mudahnya, tiga tahun menjalin asmara, lima tahun aku menjalani rumah tangga membuatku cukup percaya diri kalau mas Guntur benar-benar meratukan aku dalam hidupnya, hanya saja campur tangan ibu mas Guntur terlalu jauh dalam keluarga kecil kami, sehingga menimbulkan kekacauan sebesar ini. "Jangan cengeng kamu Gun!" "Ibu yang mendidik aku menjadi seperti ini." Mas Guntur terus adu mulut dengan ibu. "Guntur!" Ibu menjerit lantang menyebut nama mas Guntur. "Ibu mau apa? Aku menceraikan Syala? Tidak akan Bu, tidak akan pernah!" Urat-urat pada leher mas Guntur menegang, ku perkirakan sebesar jari kelingkingku, mas Guntur terlihat emosi sekali, sungguh aku tidak percaya mas Guntur berani menentang kata ibu, andaikan dari dulu mas Guntur seperti ini pasti aku sangat tersanjung, tapi sayang, saat ini hatiku sudah terluka. "Terserah kamu." Ibu mertua nampak putus asa bertengkar dengan anaknya, dia meninggalkan mas Guntur untuk masuk kedalam. "Syala, Mas minta maaf, tolong jangan minta perceraian, Mas sungguh mencintai kamu, Mas akan melakukan apapun asalkan jangan cerai." Dengan berlinang air mata mas Guntur berlutut di hadapanku, ah! ingin rasanya tersentuh tapi sudah terlanjur sakit hati, cinta di dalam hati masih berbunga-bunga tapi aku harus mengedepankan logika, laki-laki yang sedang berlutut ini hanya sekedar merasa bersalah, tidak perlu terbawa perasaan. Oke, kita dengarkan maunya dia apa. "Baiklah Mas, sekarang maunya kamu bagaimana?" tanyaku dengan tangan bersedekap pada d**a. "Kita tetap bersama, seperti dulu lagi." Mas Guntur menghapus air matanya. "Lalu, wanita itu?" Mas Guntur tidak menjawab, mulutnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu tapi mas Guntur kembali mengatup mulutnya, aku tau dia pasti bingung ingin menjawab apa. "Mas, lalu wanita itu mau kamu kemana kan? Dia baru saja melahirkan dan anaknya tidak selamat, apa mas mau menjatuhkan talak padanya?" Sekali lagi ku tekan mas Guntur. Aku ingin melihat pilihan apa yang di ambil oleh mas Guntur dalam keadaan seperti ini, apakah dia akan menceraikan ku dan memilih Kasih, atau menceraikan Kasih dan memilihku. "Syala, Mas mohon jangan memberikan pilihan yang sulit, saat ini Mas sedang berduka." ucap mas Guntur pasrah. "Seharusnya sejak awal kamu siap Mas, akan ada pilihan sulit setelah memutuskan sesuatu, ini adalah akibat dari perbuatanmu sendiri Mas." Ku tinggalkan mas Guntur sendiri lalu masuk kedalam kamar, saat ini percuma saja bertengkar, karena tidak akan ada yang akan mengalah. Aku memilih tidur, hari ini cukup melelahkan untuk di lalui, tapi tidak mengapa, aku akan berusaha untuk tetap kuat, aku akan berusaha untuk tetap stabil dan tidak terpengaruh dengan keadaan, tujuanku saat ini hanya satu, yaitu bercerai. Azan subuh membangunkan ku, saat ingin duduk ternyata ada tangan besar yang melingkar di perut, tangan yang sama setiap malam sebagai alas tidurku, biasanya kalau sudah seperti ini aku merasakan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia, tapi hari ini perasaan itu dalam sekejap sudah sirna Aku ingin melepaskan pelukan erat itu. "Begini saja." Mas Guntur semakin mengeratkan tangannya. "Anggap saja ini pelukan terakhir." Aku pasrah karena tidak ingin berdebat di subuh hari. "Jangan ucapkan kata itu, aku akan menceraikan dia demi kamu Sya." Mas Guntur mencium tengkukku dari belakang membuat aku bergidik. Pembohong! Laki-laki pembohong, dikiranya aku akan percaya dengan ucapannya, aku tidak bodoh mas!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN