5. Perjanjian.

1069 Kata
"Syala!" Suara ibu mertua menggelegar memenuhi rumah kala memanggilku, saat ini aku sedang berada di dalam kamar menyelesaikan bab baru di dalam cerita romantis ku yang berjudul cinta di ujung pernikahan. Jika dulu aku akan sangat takut dengan panggilan ibu tidak dengan sekarang, aku malah mengambil earphone dan ku pasangkan ke telinga agar panggilan tidak terdengar lagi, lalu ku lanjutkan aktivitas ku. Beberapa saat kemudian mas Guntur menarik earphone yang tersumbat di telinga dan aku kaget, aku langsung menekan power of ponselku takut ketahuan kalau aku sedang menulis. "Kamu sengaja pakai earphone biar ibu tidak dengan memanggil kamu?" tanya mas Guntur sambil menatap wajahku, dari raut wajahnya terlihat kalau dia kesal. "Syala, buka pintunya, ibu mau bicara!" terdengar dari luar ibu menggedor pintu kamar kami. "Aku sibuk Mas." ucapku singkat dan sedikitpun tidak ada niatku untuk membuka pintu, aku kembali menghidupkan ponselku, dengan gerakan cepat aku menutup platform menulis dan membuka aplikasi f*******:. "Sya, Mas mohon jangan begini." Mas Guntur. putus asa. "Begini gimana Mas?" Aku pura-pura tidak mengerti dengan apa maksud dari mas Guntur. "Ah!" Mas Guntur menyugar rambutnya dengan acak lalu turun dari tempat tidur, ku iringi kepergiannya dengan senyuman penuh kemenangan. "Ada apa Bu, pagi-pagi sudah berisik?" tanya mas Guntur sambil membuka pintu kamar. "Mana istri yang kamu bela mati-matian itu?' Aku tidak bisa melihat ibu di belakang tubuh mas Guntur, tapi dapat ku pastikan ibu pasti sedang marah sekali. "Hm, Syala lagi sibuk Bu, tolong jangan di ganggu dulu." Ah! Benarkah itu mas Guntur, dia meminta ibu jangan menggangguku, luar biasa, ini pertama kalinya mas Guntur meminta ibu jangan menggangguku. "Kamu kenapa sih Gun, emangnya sibuk apa istri kamu itu, paling juga main ponsel." "Bu, tolonglah jangan ganggu kami sementara waktu dulu." Ih mas Guntur, ada apa dengan dia sampai berani sekali menentang ibu. "Guntur! Keterlaluan kamu, sebaiknya kamu cepat mandi dan jenguk istri kamu di rumah sakit, enak saja berdua-duaan di rumah dengan istri tua yang mandul dan tega membiarkan istri muda yang masih berselimut duka menanggung sedih sendirian dirumah sakit karena baru saja kehilangan bayi kembarnya." Nyes! Begitulah kira-kira rasanya ucapan ibu menusuk kedalam hati, rasanya sakit sekali. Tas yang sudah ku siapkan di sudut ruangan yang berisi barang-barang berharga milikku segera kuraih, aku menenteng tas itu berniat untuk pergi meninggalkan rumah ini. "Mas." Aku menyentuh bahu laki-laki yang telah menjadi imamku selama lima tahun ini. Mas Guntur menoleh, dia membelalakkan mata saat melihatku menenteng tas. "Mau kemana sayang?" Mas Guntur langsung panik melihatku. "Mau kemana kamu Syala?' Pertanyaan serupa hampir bersamaan keluar dari mulut mertuaku. "Mas, aku mau pulang." ucapku singkat, aku berharap setelah ini tidak ada drama lagi. "Jangan." ucap mas Guntur. "Tidak boleh." ucap ibu hampir bersamaan. Ah! Mereka ini seperti orang yang tidak sadar diri, menyakiti lalu tidak membiarkan pergi. "Kenapa aku tidak boleh pulang?' Tentu saja aku sangat penasaran dengan alasan mereka, hati kecilku masih berharap mereka menahan ku karena menyayangiku tapi logikaku menolak, mereka pasti punya alasan yang menguntungkan mereka dan merugikan diriku. "Sya, tadi malam kita sudah bahas ini kan? Kok masih mau pergi? Mas sudah berjanji untuk menceraikan-" "Siapa yang ingin kamu ceraikan Guntur?" tanya ibu tajam bagaikan silet, memutuskan kalimat yang di ucapkan oleh mas Guntur. "Tidak ada yang bercerai di rumah ini, baik kamu dan kasih ataupun kamu dan Syala, kalian akan tetap bersama selamanya." ucap ibu mertua menyerupai ultimatum, entah mengapa ibu mertuaku ini bersikap plin-plan tadi malam dia ngotot agar mas Guntur menjatuhkan talak, tapi pagi ini dia seperti lupa dengan ucapannya tadi malam. "Tidak! Aku ingin tetap bercerai dan aku sudah menyiapkan pengacara terbaik, jadi tidak ada yang bisa menghalangi perceraian ini." ucapku lantang dan percaya diri, padahal aku sedang berbohong, tidak ada pengacara, itu hanya sebuah ancaman untuk memberikan sensasi debaran jantung pada mas Guntur dan ibu mertua. Aku tau mas Guntur sangat mencintaiku, hanya karena kelemahannya dia menikah lagi, tentu saja karena hasutan ibunya, dan ibu, aku tau dia tidak akan membiarkanku pergi, selama ini dia hanya menggertak saja karena ibu masih menganggap aku menantu yang lemah, padahal aku tau dia sangat membutuhkan pembantu gratis seperti aku untuk mengurus rumah seperti yang selama ini aku lakukan. "Minta apapun untuk mengubah keputusan kamu Sya." Rayu mas Guntur. Ini yang ku tunggu, sebuah penawaran sebagai pintu untuk membalaskan dendam. "Kamu tidak menyesal?" "Jangan drama bisa, tinggal ngomong kamu minta apa? Minta belikan gelang? Kalung? Cincin? Minta semuanya." ucap mertuaku pogah, aku tersenyum miring menanggapi ucapan mertuaku yang seolah anak nya bergelimang harta benda, padahal, selama ini kebutuhan di keluarga ini aku yang menutupinya. Iya sih mas Guntur PNS, tapi gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami, bukan kebutuhan, lebih tepatnya gaya hidup ibu dan adiknya yang elit tapi ekonomi sulit. "Aku mau tetap di sini, di rumah ini menjadi istri dan menantu, tapi aku tidak mau melakukan pekerjaan seperti dulu lagi, dan aku juga tidak mau lagi membantu kamu menutupi segala keperluan rumah tangga ini, terutama cicilan motor adik kamu, dan cicilan mobil yang kamu pakai serta yang lainnya." Aku memandang mas Guntur dan Ibu secara bergantian, terlihat kalau mas Guntur menelan salivanya sedangkan ibu melotot sempurna, persis seperti orang yang sedang sekaratul maut. "Kenapa Bu kaget? Kaget mendengar saya juga ikut membantu anak ibu ini memenuhi kebutuhan rumah tangga? Gak nyangka kan kalau saya menantu yang tidak berguna ini sudah lama sekali membantu perekonomian keluarga?' Kesempatan ini ku gunakan mengebom ibu mertua ku, yang selama ini dia hanya mampu menghinaku dan meremehkan ku, Aku diam bukan karena aku tidak ingin membalas, hanya saja waktu itu mas Guntur begitu sempurna, sampai aku tidak sanggup untuk menyakiti keluarganya, tapi hari ini aku tidak lagi mempunyai mas Guntur yang sempurna, pengkhianatan nya sudah merusak segala rasa hormat di dalam hati ini. "Gu-Guntur! Benarkah apa yang di ucapkan istrimu ini?' Ibu mertuaku tergagap. Mungkin dia syok, menantu yang tidak pernah di sukainya kali ini benar-benar berani, dan pastinya ibu mertua ku tidak pernah menyangka jika aku juga ikut andil dalam perekonomian keluarga ini. "Jawab Mas!" Aku ikut menekan mas Guntur. "Benar Bu, selama ini Syala yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga ini, gajiku mana cukup, apa lagi sampai harus kredit mobil dan motor secara bersamaan, belum lagi arisan ibu dan kebutuhan rumah ini." Mas Guntur menjawab pelan. Satu pukulan telak, orang yang selama ini membanggakan anaknya sampai kelangit lapisan ketujuh kini bagaikan manusia tanpa nyawa saat mengetahui fakta bahwa menantu yang selalu di hina dan di remehkan ternyata selama ini yang membantu perekonomian keluarga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN