6. Berbalik

1155 Kata
"Sekarang katakan, apa perlu ibu memanggil saya?" Pelan tapi pasti, sepagi ini ibu menggedor pintu kamarku, aku harus tau apa alasannya. "Rumah berantakan sekali, di dapur seperti kapal pecah, daging busuk dan sayuran berserakan di lantai, kenapa kamu tidak membersihkan rumah?' Pelan sekali ibu mertuaku bicara, aku hampir tidak mendengarnya. Ah! Kemana kesombongan ibu mertuaku, lenyap kah sudah karakter itu? Secepat itu, hanya mengetahui aku yang membantu perekonomian keluarga ini kata-kata tajamnya langsung lenyap. "Apakah ibu memintaku membersihkan semua itu?" Ibu mengangguk "I-iya." Tapi mas Guntur menggeleng. "Suruh saja Firli yang membersihkan Bu." ucap Mas Guntur. Ini yang ku inginkan selama ini, ketegasan mas Guntur pada adik dan ibunya agar tidak mengandalkan ku soal pekerjaan rumah, tapi tindakan tegas itu sudah terlambat, aku sudah di khianati. "Tapi Firli sedang menemani Kasih, istri kamu Gun, kamu hilang ingatan?" Ibu tidak terima dengan ucapan mas Guntur, dia berbicara pelan namun mimik wajahnya marah yang tertahan, aku tau, ibu tidak bisa menerima apa yang terjadi. "Ibu saja yang membersihkan, sekali-kali Bu, aku tidak ingin memenuhi syarat yang di ajukan oleh Syala, aku tidak mau bercerai dengannya Bu." Mas Guntur terus menekan ibu, aku suka sekali berada di posisi ini, sudah lama sekali aku mendamba untuk di bela oleh suami, tapi selama itu pula suami memintaku untuk sabar menghadapi ibu dan adiknya, kini tiba saatnya dia membela namun aku sudah tidak mencintainya lagi, menurutku pembelaan yang di lakukannya hanyalah untuk menutupi kesalahan yang di lakukannya. "Tapi ibu mana bisa melakukan itu semua Guntur, selama inikan dia yang melakukannya, ibu tidak bisa pokoknya tidak bisa." Ibu menolak keras. Mas Guntur menghembuskan nafasnya dengan kasar, aku tau pasti dia sedang di posisi sulit saat ini, meminta ibu melakukan sesuatu yang tidak ingin di lakukannya adalah sesuatu yang mustahil. "Oke Mas, bagaimana Syarat dariku, apa kamu bisa menerimanya?' Biar ku tambah kepala mas Guntur pusing. Siapa suruh menambah pusing kepala, sudah punya istri yang baik dan penurut tapi lebih memilih menikahi wanita lain hanya ingin membuktikan bahwa dirinya tidak mandul, wanita mana yang tidak sakit hati, di khianati dengan menyakitkan seperti itu. Atas pertanyaan ku mas Guntur mengangguk setuju. "Untuk syarat yang kedua aku tidak ingin lagi mengatur perekonomian di dalam keluarga ini, semuanya ku kembalikan pada kamu Mas." "Maksud kamu?"Mas Guntur pura-pura bloon. "Aku tidak mau mengatur keuangan kamu, kamu bisa menyerahkan semua gaji kamu pada Ibu atau pada istri muda kamu Mas!" Ucapku tenang. Lucu kan aku? Tapi aku bukan sedang melawak, di luar sana hampir sembilan puluh sembilan persen istri ingin menguasai gaji suami tapi berbanding terbalik dengan diriku, tau kenapa? Karena gaji suamiku tidak pernah cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarga ini, biarkan saja istri kedua atau ibu mas Guntur yang mengatur gaji mas Guntur yang tinggal berapa ratus ribu itu. Wajah ibu terlihat sumringah mendengar ucapanku, mungkin dikiranya gaji anaknya banyak sekali, atau ibu mertua ku menganggap aku wanita bodoh, biarkan saja toh sebentar lagi dia akan tau bagaimana sebenarnya kondisi keuangan keluarga ini. "Tapi Sya, kamu istri yang tua, kamu berhak untuk mengatur keuangan keluarga kita." Terdengar manis bukan? Tapi aku mendengarnya jijik, muak dan benci bercampur menjadi satu. "Sudah lima tahun Mas aku mengatur uang kamu, ini giliran istri baru kamu." "Sudahlah Gun, sepertinya istri kamu istri tua yang baik, turutin ajalah." Ibu mertua terlihat senang hati sampai dirinya menganggap aku baik, padahal dia tidak tau kalau aku tidak sebaik itu. "Baiklah, kedua persyaratan kamu aku sanggupi Sya, tapi kamu berjanji tidak akan pernah mengucapkan kata cerai lagi, Mas mencintai kamu Syala, sungguh sangat mencintai, Mas takut kehilangan kamu Sya." Mas Guntur memelukku erat. "Tentu saja Mas." Tentu saja aku bohong, aku tidak mau di madu, meskipun lima tahun berumah tangga belum bisa melahirkan seorang anak aku tetap tidak rela di madu, ilmuku belum sampai pada tahap untuk ikhlas di madu, biarlah bercerai daripada harus menanggung luka setiap hari. Setelah ada waktu senggang nanti aku akan mencari pengacara terbaik, kemudian aku akan menggugat mas Guntur. Saat ini aku ingin bermain-main dulu di dalam keluarga ini. "Mas mandi dulu ya, Mas mau menjemput Kasih, sepertinya dia sudah boleh pulang hari ini, kamu mau ikut?" Penawaran luar biasa dari mas Guntur, dia seolah yakin dan percaya kalau aku benar-benar telah menerima pengkhianatan nya, dia juga terlihat bahagia sekali seolah baru saja memenangkan peperangan, mungkin mas Guntur akanengira bahwa kehidupannya akan baik-baik saja setelah ini, Haha, jangan harap mas! "Aku mau Mas." "Lho, ibu bagaimana?' Ibu mertuaku langsung kalang kabut. "Ibu di rumah saja, bersihkan rumah terutama dapur, sepulangnya Kasih dari rumah sakit pasti banyak para tetangga yang ingin menjenguk menantu baru ibu itu, iya kan Mas?" Dengan senyum penuh kepalsuan ku tatap wajah ibu setelah berbicara demikian. "Sya-" "Kenapa Mas? Emang benarkan, pasti para tetangga banyak yang penasaran dengan istri baru kamu itu, secara kan kamu menikah diam-diam, pasti banyak yang penasaran dengan menantu baru ibu." Aku memutus ucapan mas Guntur. "Ya sudah, kalian cepat pergi, pasti Kasih sudah lama sekali menunggu kamu Guntur." Akhirnya ibu memiliki keputusan yang bijak, ya aku tau, sebenarnya itu bukan keputusan yang terbaik untuknya, ibu hanya terpaksa karena khawatir jika tetangga datang lebih dulu dan aku yang menyambut mereka, kebayangkan apa yang aku ceritakan pada para tetangga, lebih baik aku yang pergi dan ibu menyambut para tetangga di rumah. Kira-kira sebusuk itulah pikiran ibu mertuaku. "Bu, jangan lupa sekalian belanja dapur karena semua bahan dapur habis termasuk sayur, cabe dan bawang dan jangan lupa masak untuk makan siang kita." Entah ini perintah atau sekedar mengingatkan saja pada ibu, aku hanya sekedar mencontoh seperti yang ibu lakukan padaku selama lima tahun ini padaku. "Kamu anggap ibu pembantu?" Ibu langsung naik darah. "Ya terserah ibu, aku cuma mengingatkan saja, barangkali ibu lupa." "Bu ayo." Mas Guntur menarik tangan ibu keluar dari kamar menuju kedapur, mereka sepertinya ingin berbicara empat mata. Seperti yang di lakukan oleh mas Guntur padaku selama ini, ketika aku protes mengeluhkan pekerjaan rumah yang di berikan ibu di depan mas Guntur dia selalu menyeret ku masuk kedalam kamar, lalu berbicara pelan di sana. "Sya, Mas mohon kamu jangan membantah apa yang ibu perintahkan pada kamu ya, ibu itu orang tua, kamu harus ngerti bagaimana perasaannya." ucap mas Guntur, dan selalu seperti itu, aku selalu di minta untuk sabar, ikhlas, rela dan berbakti pada orang tuanya, bukan aku tidak ikhlas, kadang aku juga merasa ini tidak adil, ibu yang tidak terlalu tua bersenang-senang menonton telivisi atau menggosip dengan tetangga, sedangkan aku di biarkan sendiri mengurus suaminya yang struk berat, membersihkan tubuhnya sampai mencuci beraknya, memberinya makan hingga menemaninya berjemur. Firli adik iparku yang kerjaannya cuma ngecat kuku dan scroll t****k sama sekali tidak bisa di minta untuk mengurus rumah, bahkan pakaian dalamnya aku yang mencuci, ketika aku mengeluhkan itu pada mas Guntur dia selalu berkata lembut padaku, "Firli itu sibuk sayang, dia kuliah, kita harus mengerti dengan kondisinya." ucap mas Guntur sambil memelukku. Tapi kali ini semua sabar dan ikhlas itu telah berakhir, aku telah menemukan celah untuk memberontak sebagai seorang istri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN