POV Guntur
"Kenapa senyum Sya?" Aku mendapatkan Syala tersenyum sendiri, saat ini kami sedang berada di perjalanan kerumah sakit.
Entah apa yang di pikirkan oleh Syala, aku merasakan wanita yang duduk di sampingku ini telah berubah, dia bukan lagi Syala yang ku kenal, istri yang penurut pada suami. Syala telah berubah dalam waktu yang singkat.
Syala mengubah ekspresi nya menjadi datar lalu menoleh padaku. "Aku sedang mengkhayalkan kalau aku hamil, pasti kita akan bahagia dan tentunya hal seperti ini tidak akan terjadi."
Aku terkesiap dengan jawaban Syala, apakah dia mulai lagi menyinggungku soal pernikahan kedua ku yang tanpa seizinnya. Ah! Aku memang salah, seharusnya aku minta maaf berkali-kali.
"Maafkan Mas, sebenarnya Mas juga tidak menginginkan seperti ini akhirnya, Mas tidak pernah menyangka jika Kasih akan hamil hanya dengan sekali sentuhan." Memberikan pengertian pada wanita yang terlanjur sakit hati sangat sulit sekali, tapi aku akan tetap berusaha.
"Ya, aku yang kamu sentuh berkali-kali tidak kunjung hamil, dan akulah yang mandul, bukankah begitu Mas? Lalu kenapa masih menahan ku, seharusnya kamu menceraikan ku." Tuh kan, bukannya mengerti dengan kondisiku Syala bahkan tersinggung dengan ucapanku, serba salah.
"Tolonglah Sya, ini juga bukan keinginan Mas, ibu yang memaksa, kamu tau mana bisa aku menolak ibu, kamu juga pasti tau hati aku hanya untuk kamu Syala, meskipun aku menikahi Kasih itu hanya karena terpaksa." Harus pandai menyusun kata-kata, agar wanita yang sedang marah ini tenang dan menerima apa yang telah terjadi.
Hening, Syala tidak menjawab apapun ucapanku, aku tidak tau apakah benar dia menerima kondisi ini atau bahkan dia menolak, diamnya seorang wanita sangat sulit di artikan.
Beberapa saat kami terperangkap dalam kebisuan membuat aku semakin kaku dan tidak nyaman, dan akhirnya kami sampai di parkiran rumah sakit.
Aku telah membuka seat belt sedangkan Syala diam saja, dia duduk mematung menatap lurus kedepan, entah apa yang di lihatnya saat ini.
"Sya kita sudah sampai." ucapku pelan dan selembut mungkin.
"Aku tau Mas!" ucapnya ketus dan tajam.
Aku menelan Saliva, serba salah, biasanya kami akan beradegan mesra, tapi kali ini aku seperti tidak mengenal Syala, dia bak air yang tenang, namun kedalamannya tidak bisa di ukur.
"Maksudku kamu mau tetap di sini atau ikut Mas masuk kedalam?" tanyaku lebih hati-hati lagi, mudah-mudahan tidak ada kalimatku yang menyinggungnya.
"Kamu mau aku tetap di sini? Kamu takut kalau aku bertemu sama istri muda kamu Mas?"
"Bu-bukan, maksudku cuma bertanya Sya, kamu jangan tersinggung." Beginilah kalau sudah berhadapan dengan wanita, susah-susah gampang.
Akhirnya kami keluar, menyusuri koridor rumah sakit tanpa banyak bicara, ada rasa menyesal membawa Syala ke sini, tapi yang namanya sudah terlanjur ya sudahlah, hadapi saja.
"Mbak Kasih tidak perlu khawatir, sebentar lagi pasti Mas Guntur menceraikan istri tuanya." ucap Firli di dalam ruangan, kami bisa mendengarnya karena kami sudah berdiri di depan ruangan, tepatnya di daun pintu, ucapan Firli otomatis dapat kami dengar.
Aku dan Syala adu pandangan, tenggorokanku langsung tercekat.
"Itu kalau aku berhasil melahirkan anak, sekarang anakku sudah mati, Mas Guntur pasti memilih wanita itu daripada aku, Hiks hiks hiks." Terdengar suara Kasih menangis sedu sedan, suaranya serak, dapat aku pastikan dia pasti menangis semalaman.
Pintu langsung ku dorong agar pembicaraan mereka tidak berlanjut, aku tidak mau Syala terlalu banyak mendengar.
"Assalamu'alaikum." Aku masuk di ikuti oleh Syala.
""Wa'alaikum salam." Firli dan Kasih menjawab bersamaan, mata mereka kemudian mengarah kepada kami.
"Mas Guntur, Lho kok ...." Firli langsung terkejut melihat aku dan Syala yang datang.
"Hai Kasih, maaf aku tidak menemani kamu di sini." Aku berjalan mendekati ranjang, ingin segera menyapa kasih dan memberikannya ciuman di dahi, tapi lenganku di sambar oleh Syala, dia menggandengku.
Ah! Apa maksudnya ini? Apa sekarang Syala mulai memanas-manasi Kasih? Kenapa tiba-tiba dia yang cuek dan jutek selama perjalanan tadi berubah menjadi manis sekali di depan Kasih, ini sudah nyata kalau Syala punya rencana untuk membuat Kasih cemburu, lalu Kasih akan marah-marah padaku.
Kasih memandang kami bergantian, layaknya pasangan suami istri yang bahagia aku bergandengan dengan Syala menuju ranjang Kasih, ingin menolak gandengan Syala tapi aku takut Syala meminta cerai dariku, atau diam-diam menyewa pengacara lalu menggugat ku di pengadilan.
"Iya, maaf ya Kasih, mas Guntur harus menemani aku tidur, karena aku tidak bisa tidur tanpa dia." Syala menyenderkan kepalanya pada lenganku, aku sampai menarik napas dalam-dalam berada di dalam kondisi seperti ini, pasti setelah ini aku akan mati-matian menenangkan Kasih yang tantrum karena melihat kemesraan ku dengan Syala langsung di depan mata.
"Bagaimana kabarmu Kasih, aku turut berduka atas nasib yang menimpa kamu dan bayi kembar kamu." ucap Syala meluncur begitu saja dari mulutnya.
Kasih tidak menjawab, mulutnya seolah terkunci rapat, bukannya berbicara dia memiringkan tubuhnya menghadap pada Firli, seolah tidak Sudi melihat kedatangan kami, sedangkan Syala senyum tertahan, seolah sedang meraih kemenangan.
"Mbak, tolong jangan berbicara, Mbak Kasih sedang berduka." Firli yang menjawab, terlihat sekali wajah tidak suka terhadap kedatang aku dan Syala kemari.
"Kenapa Mas membawa dia datang kemari, Mbak Kasih sedang berduka Mas, tapi seenaknya kalian datang memamerkan kemesraan."
"Firli, kami kok begitu bicara sama kami? kami datang kesini dengan niat yang baik kok, kami mau menjemput kalian, so apa salahnya? Oh soal kemesraan, kamu jangan lupa Firli, aku dan Mas kamu adalah pasangan suami istri yang sah secara agama maupun negara, jauh sebelum Mbak Kasih mu ini menjadi istri kedua yang di nikahi Mas mu secara siri, jadi tidak ada salahnya kami mesra, toh hubungan aku dan mas kamu memang se harmonis ini dari dulu." Syala yang berbicara lancar menanggapi semua ucapan Firli, tidak ada sedikitpun yang di tutupinya. Penekan setiap katanya seolah memberikan penguatan bahwa dia adalah wanita yang kuat.
Dia bukan Syala yang dulu lagi, Syala yang diam dan menurut segala perintah, tidak pernah berbicara tinggi kepadaku, kepada ibu dan Firli, kini Syala telah berubah, dia berbanding terbalik dari sifat aslinya, aku tidak percaya ini!
Aku kira Syala akan tetap menjadi wanita penurut dan mudah di kendalikan, aku salah, dia menjadi sangat berani membantah, bahkan dia berani meminta cerai padahal jelas sudah terbukti kalau dia tidak bisa hamil.
"Sudah, kamu tenang ya Sya, mungkin Firli ini salah paham." Aku mencoba menengahi, berusaha tidak memperkeruh suasana.
Entah bagaimana kelanjutan dari rumah tangga ku ini, baru sehari aku sudah bingung mau menghadapi dua istri, ini semua gara-gara ibu, andai ibu tidak memintaku menikah lagi mungkin aku tidak di hadapkan dengan kondisi seperti ini.
Ah! Pusing.