Prolog
Di bawah langit biru yang dipadukan dengan gumpalan awan berwarna putih, beberapa orang berkumpul di depan mading untuk melihat hasil pengumuman penerimaan murid baru.
Seorang gadis menjinjitkan kakinya, berusaha untuk melihat nama yang berada dibagian atas. "Aduh, nggak kelihatan lagi," ocehnya.
"Nama lo siapa?" tanya seorang pria yang berada di samping gadis itu.
"Aruna."
Pria itu mengeluarkan ponselnya, lalu memfoto nama yang berada di bagian atas.
"Nih," ucapnya seraya menunjukkan hasil foto tersebut pada Aruna.
Kedua mata Aruna membulat saat melihat namanya berada di urutan dua teratas. "Yess! Diterima!" ucapnya senang.
"Makasih ya," ucap Aruna pada pria itu.
Pria itu langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan pergi tanpa merespon ucapan Aruna terlebih dulu.
"Biarin aja deh nggak disahutin, yang penting udah bilang makasih," ucap Aruna.
°°°°°
Hari ini adalah hari pertama ospek di SMA Garuda. Di bawah terik matahari yang menyengat, para murid berkumpul di lapangan seraya mendengarkan pengarahan yang diberikan oleh para senior.
"Kak, panas," keluh salah satu murid baru.
"Lebay! Baru kayak gini aja udah ngeluh! Kakak dulu lebih parah dari kalian," sahut Dewa, salah satu senior pembimbing.
Seorang murid baru bernama Angkasa tersenyum simpul. "Lebih parah? Dulu kakak emang diospek dimana? Neraka?" ucapnya.
"Maksud lo apa ngomong begitu?!" ucap Dewa dengan sedikit nada tinggi.
Dewa. Kakak kelas ganteng yang selalu jadi rebutan cewek-cewek.
"Santai dong, gue kan cuma nanya aja," ucap Angkasa.
Angkasa. Cowok ganteng yang kalau dilihat dari wajahnya nggak ada kepeduliannya sama sekali. Tipe badboy yang banyak diincer sama cewek-cewek.
"Pertanyaan lo nggak guna," sahut salah satu senior lain.
Terik matahari yang semakin menusuk membuat kepala Aruna terasa berat. Ia mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Dengan sigap, seseorang yang berada tidak jauh dari Aruna langsung menahan tubuh Aruna agar tidak terjatuh.
Sontak Aruna terkejut dan melihat ke orang tersebut. Wajah orang tersebut mirip dengan pria yang Aruna temui saat melihat pengumuman di mading beberapa hari lalu, yang tak lain adalah Angkasa.
Angkasa tak memedulikan Aruna yang terus menatapnya. Ia menggendong tubuh Aruna dan keluar dari barisan.
"Wey! Mau kemana lo?" teriak Dewa.
Angkasa menghentikan langkahnya. "Lo nggak lihat? Dia hampir pingsan gini dan lo masih nanya mau kemana? Mikir!"
Para murid yang berada di lapangan nampak takjub dengan Angkasa. Pria itu berani melontarkan kata-kata seperti itu kepada seniornya.
"Berani banget dia," bisik salah satu murid.
"Sialan tuh anak baru!" oceh Dewa.
°°°°°
Angkasa terus menggendong Aruna hingga tiba di UKS.
"Makasih ya," ucap Aruna.
"Hm."
Aruna melihat nametag yang berada di seragam pria itu. "Nama lo Angkasa?" tanyanya.
"Hm."
"Sekali lagi makasih ya, lo udah dua kali nolongin gue," ucap Aruna gugup.
"Hm."
Angkasa menghela napas, ia merutuki dirinya sendiri dalam hati. Ia tidak menyangka akan peduli pada orang lain.
Angkasa mengambil botol air mineral yang masih tersegel di UKS dan memberikannya pada Aruna. "Nih minum, biar nggak dehidrasi."
"Lain kali kalau mulai pusing tuh lebih baik bilang ke senior, biar nggak kayak tadi," ucap Angkasa.
"Ngerepotin!" tambah Angkasa.
"Maaf ya ngerepotin," ucap Aruna merasa tidak enak.
"Lo udah baik-baik aja kan?" tanya Angkasa.
Aruna mengangguk.
"Yaudah, gue balik ke barisan lagi ya. Lo disini aja," ucap Angkasa datar.
"Gue ikut."
"Lo mau ngerepotin gue lagi? Kalau lo pusing nanti gue harus gendong lo lagi kesini?"
Aruna terdiam.
"Udah lo disini aja."
"Iya, iya."
°°°°°
Dari pagi hingga siang hari para murid yang dijemur di lapangan kini merasakan jam istirahat. Banyak dari mereka yang menghabiskan waktunya di kantin dan belakang sekolah. Ada yang makan, bergosip, bahkan tidur.
Aruna yang membawa dua minuman kaleng tersenyum, saat melihat Angkasa yang tengah duduk sendirian di kursi panjang yang berada di koridor sekolah.
"Buat lo," ucap Aruna ketika berada di dekat Angkasa.
Angkasa mengambil minuman tersebut tanpa mengucap satu kata pun pada Aruna.
"Boleh duduk disini?"
"Hm."
Aruna ikut duduk di samping Angkasa. Senyum di bibirnya tidak memudar sedikitpun.
Angkasa meneguk minuman itu hingga habis, lalu melemparkan kalengnya ke tempat sampah.
"Haus banget ya?"
"Hm."
Aruna mendesis pelan, kalau ia tidak mengingat kebaikan Angkasa, mungkin ia lebih memilih menjauhi pria itu.
"Heh anak baru!" ucap seorang gadis berambut hitam keunguan dengan keras.
Maureen. Kakak kelas hits yang merasa paling cantik di sekolah. Hobinya ngelabrak orang dan cari cowok ganteng di sekolah.
Angkasa dan Aruna pun menoleh. "Saya kak?" tanya Aruna.
"Yaiyalah! Sini!"
Aruna pun menghampiri gadis berambut hitam keunguan tersebut.
"Ada apa ya kak?" tanya Aruna dengan lembut.
"Lo kan anak baru nih, gue punya tugas buat lo," ucap Maureen.
"Apa kak?" tanya Aruna polos.
"Sepatu gue kotor, bersihin dong," suruh Maureen.
Aruna terdiam. Ia mencerna ucapan kakak kelasnya itu. Bagaimana mungkin ia harus membersihkan sepatu kakak kelasnya? Apa itu termasuk dari bagian ospek?
"Emang termasuk dari bagian ospek ya kak?" tanya Aruna.
"Lo nggak usah bacot! Cepat bersihin!"
"T- tapi kak.."
"Cepat bersihin!"
Aruna menarik napasnya panjang, ia harus menuruti kemauan kakak kelasnya itu, daripada ia membuat masalah dihari pertamanya bersekolah di SMA Garuda.
Aruna berjongkok seraya ingin membersihkan sepatu Maureen, tapi seseorang mencegah Aruna untuk melakukan hal bodoh itu. "Jangan bego jadi orang!"
Angkasa menarik tangan Aruna, membuat gadis itu berada di belakang tubuhnya.
"Kakak kelas yang terhormat, sepatu lo kotor itu bukan bagian dari ospek, jadi lo nggak usah bikin kerjaan yang diluar ospek. Paham?" ucap Angkasa dingin.
Aruna meneguk ludahnya. Ia benar-benar takjub dengan Angkasa yang sangat berani melawan kakak kelas yang melakukan senioritas.
"Untung lo ganteng ya, jadi kelakuan lo masih bisa gue maafin," ucap Maureen.
"Mana handphone lo? Sini," pinta Maureen.
Angkasa mengernyitkan keningnya.
"Gue mau masukin nomor gue di handphone lo, jadi lo nggak perlu minta nomor gue ke orang lain nanti," ucap Maureen tanpa malu.
Angkasa tersenyum miring. "Nomor yang ada di handphone gue cuma buat orang-orang penting aja, jadi sorry gue nggak bisa masukin nomor lo di handphone gue."
Maureen terkekeh pelan. "Nggak usah sok jual mahal, dulu banyak banget yang awalnya kayak lo, lama-lama ngejar gue," ucap Maureen bangga.
"Gue kasihan kak sama cowok-cowok yang ngejar lo, kesambet apaan ya bisa ngelakuin hal bodoh kayak gitu?" ucap Angkasa.
Aruna yang berada di belakang Angkasa spontan memukul tubuh pria itu. "Lo nggak boleh ngomong kayak gitu," bisik Aruna.
"Lo nggak usah sok jadi pahlawan ya!" ucap Maureen pada Aruna.
"Ma- maaf kak," ucap Aruna.
"Lo nggak boleh terlalu baik, apalagi sama model manusia kayak nih orang," ucap Angkasa.
Angkasa menggenggam tangan Aruna dengan erat. "Ayo, gue antar lo ke kelas."
Aruna menundukkan kepalanya seraya memberi hormat pada Maureen. "Duluan ya kak."
Angkasa dan Aruna pun berjalan meninggalkan Maureen yang masih berada di koridor sekolah.
"Untung ganteng, jadi masih bisa gue ajak bicara baik-baik!"