Chapter 1

886 Kata
Para murid mulai berhamburan meninggalkan sekolah. Jam di pergelangan tangan Aruna menunjukkan pukul tiga lebih lima menit. Aruna nampak melihat ke layar ponselnya terus menerus. Tin! Seseorang membunyikan klaksonnya, membuat Aruna melihat ke orang tersebut. "Nunggu jemputan?" tanya Angkasa seraya membuka helmnya. "Iya, lagi nunggu ojek online tapi belum dapat," jawab Aruna. Angkasa melihat langit yang mulai berwarna kelabu. "Ayo gue antar pulang." Kedua mata Aruna membulat. "Hah? Lo serius mau ngantar gue pulang?" tanya Aruna memastikan bahwa pendengarannya tidak salah dan masih berfungsi dengan semestinya. "Mendung, takutnya kalau kelamaan lo nunggu disini nanti kehujanan," jelas Angkasa. Aruna tersenyum. "Nih cowok benar-benar nggak bisa ditebak, kadang baik, kadang jutek," ucap Aruna dalam hati. "Ayo, mau ngga?" Aruna tersadar, lalu mengangguk dengan semangat. "Mau, mau." Aruna langsung menaiki motor Angkasa. Tak berselang lama, hujan pun turun dengan sangat deras. Membuat Angkasa menghentikan motornya dan memilih berteduh di halte bersama Aruna. Angkasa dan Aruna duduk di bangku halte. Angkasa lalu mengeluarkan rokok dari dalam sakunya. "Lo ngerokok?" tanya Aruna. "Hm." Aruna pun bergeser, berusaha memberi jarak pada Angkasa. "Kenapa?" tanya Angkasa dingin. "Gue nggak suka asap rokok," jawab Aruna jujur. Angkasa menghela napas, ia mengurungkan niatnya untuk menghisap rokok tersebut, ia lebih memilih untuk kembali memasukkan rokok tersebut ke dalam sakunya. "Sini, gue nggak jadi ngerokok." Kedua sudut bibir Aruna terangkat, lalu kembali mendekati Angkasa. "Kenapa nggak jadi ngerokok?" pancing Aruna. "Lo nggak suka," jawab Angkasa. "Handphone lo mana? Pinjem dong," pinta Aruna. "Buat apa?" "Cepat sini, pinjam." Angkasa menurut, ia mengeluarkan handphone dan memberikannya pada Aruna. "Passwordnya apa?" tanya Aruna. "Alya." Untuk beberapa detik Aruna mematung, hingga kembali membuka suara. "Nama pacar lo?" "Mama gue." Aruna tersenyum, membalikkan handphone tersebut pada Angkasa. "Gue udah masukin nomor gue ke handphone lo." Timbul kerutan-kerutan kecil di kening Angkasa. "Lo mau jadi kayak si rambut ungu?" "Ih, siapa tau aja lo butuh gue nanti, jadi lo bisa hubungin gue, gue siap dua puluh empat jam kalau lo butuh bantuan," ucap Aruna seraya menyeringai. Angkasa menggelengkan kepalanya, Angkasa tidak habis dengan Aruna, harusnya yang berkata seperti adalah Angkasa, mengingat sudah beberapakali Angkasa yang membantu Aruna. Angkasa melihat hujan yang mulai mereda. "Ayo pulang," ucap Angkasa seraya menggenggam tangan Aruna. Aruna tersenyum saat melihat Angkasa menggenggam tangannya. °°°°° Motor yang dikendarai Angkasa dan Aruna akhirnya sampai di depan rumah Aruna. "Makasih ya," ucap Aruna. "Hm." "Cuma hm? Nggak mau bilang apa gitu?" "Apa?" "Oke nggak usah," ucap Aruna. Tanpa berkata-kata lagi pada Aruna, Angkasa kembali menyalakan mesin motornya dan meninggalkan Aruna. Aruna masuk ke dalam rumah dengan senyum yang mengembang di bibir tipisnya. "Selamat datang di rumah anak mama yang cantik," ucap seorang wanita paruh baya bernama Bu Bintan. Aruna pun menghampiri sang Mama yang tengah duduk santai di ruang tamu. "Assalamualaikum Mama," ucap Aruna seraya menyalami sang Mama. "Walaikumsalam sayang. Gimana hari pertamanya di SMA?" tanya Bu Bintan seraya mengelus rambut putrinya itu dengan lembut. "Seniornya tuh ngeselin banget Ma, untung aja ada cowok yang nolongin Aruna terus," cerita Aruna. Bu Bintan pun tersenyum saat mendengar cerita Aruna. "Dengar cerita kamu, mama bisa bayangin, pasti yang nolongin kamu itu orangnya ganteng?" goda Bu Bintan. Aruna tersenyum malu-malu. "Beneran ganteng?" tanya Bu Bintan. "Banget, Ma," jawab Aruna. "Namanya siapa?" tanya Bu Bintan penasaran. "Angkasa. Lucu kan namanya, Ma?" "Aruna nggak boleh ketemu Angkasa terus deh kayaknya, Ma," tambah Aruna sembari menyeruput secangkir teh yang berada di dekatnya. "Kenapa emangnya?" "Aruna takut kalau nanti ketemu terus sama Angkasa, Aruna bisa suka sama dia," jawab Aruna. Bu Bintan tersenyum. "Diusia remaja seperti kamu ini wajar kalau kamu tertarik dengan lawan jenis," ucap Bu Bintan dengan lembut. "Mama nggak ngelarang Aruna suka Angkasa?" tanya Aruna. Bu Bintan menggelengkan kepalanya. "Makasih mama, Aruna sayang banget sama mama." Aruna memeluk sang mama dengan sangat erat. "Mama juga sayang banget sama Aruna." Bu Bintan membalas pelukan Aruna dengan hangat. °°°°° Aruna memandingi pohon kaktus kecil yang berada di atas meja belajarnya. Perlahan kedua sudut bibirnya terangkat. "Angkasa, nama yang lucu," ucap Aruna seraya terkekeh pelan. "Kira-kira Angkasa udah punya pacar belum ya? Tapi mana mungkin cowok kayak Angkasa masih jomlo, nggak mungkin banget sih," oceh Aruna sendiri. "Kaktus, menurut lo, Angkasa punya pacar nggak?" tanya Aruna pada kaktus kecil yang berada di depannya saat ini. Beberapa detik kemudian Aruna tersadar, "Kok gue jadi kayak orang gila ngomong sama kaktus?" Aruna bangkit, lalu melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia terbayang-bayang pertemuannya dengan Angkasa saat pertama kali bahkan saat Angkasa menggendongnya ke UKS. "Cerita masa SMA gue bisa se-uwu orang-orang nggak ya? °°°°° Angkasa masuk ke dalam rumah dengan santai, tak memberikan salam pada seorang wanita yang tengah duduk di sofa yang dari tadi menunggu kedatangannya. "Gimana hari pertamanya di sekolah baru?" tanya Tante Sinta. "Nggak usah sok peduli!" "Mama cuma ingin tau hari pertama kamu aja," ucap Tante Sinta dengan lembut. Angkasa menghentikan langkahnya, "Stop nyebut mama! Tante itu bukan mama aku!" "Mau sampai kapan kamu seperti ini terus Angkasa? Mama sangat sayang sama kamu," ucap Tante Sinta dengan mata yang berkaca-kaca Angkasa tidak mempedulikan ucapan Tante Sinta, ia kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Angkasa membuang tasnya ke sembarang arah, lalu berbaring di atas tempat tidurnya. Ia sangat membenci kejadian seperti tadi, karena sebenarnya ia tidak ingin mengeluarkan kata kasar kepada Tante Sinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN