Chapter 2

988 Kata
Murid baru nampak sibuk mencari ruang kelas mereka masing-masing, tak terkecuali Aruna, ia berkeliling lantai dua untuk memeriksa satu per satu daftar nama yang ditempel disetiap pintu kelas. Saat Aruna dengan melihat satu per satu nama tersebut, tiba-tiba seseorang menarik tangan Aruna, membuat gadis itu sedikit terkejut. "Nama lo ada di kelas X IPA III." Belum sempat Aruna mengucapkan satu kata pun, Angkasa langsung menarik tangan gadis itu. Angkasa terus menarik tangan Aruna sampai di depan kelas X IPA III. Angkasa menunjukkan nama Aruna yang tertera di daftar nama kelas X IPA III. "Kita satu kelas?" tanya Aruna ketika melihat nama Angkasa berada tepat di atas namanya. "Hm." Kedua sudut bibir Aruna mengembang. "Mau duduk sama gue nggak?" tanya Aruna sedikit hati-hati. "Hm." Angkasa dan Aruna pun masuk ke dalam kelas. Beberapa pasang mata yang berada di kelas melihat mereka dengan lekat. Angkasa berjalan ke bagian ke belakang, lalu memilih kursi yang berada di belakang. "Duduk di belakang?" tanya Aruna. "Kenapa? Keberatan?" tanya Angkasa dingin. "Ng- nggak kok." Angkasa menarik salah satu kursi, lalu mempersilahkan Aruna untuk duduk. "Sini duduk," suruhnya. Aruna terdiam sejenak, kedua sorot matanya melihat Angkasa dengan lekat. Aruna tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya, apalagi dengan seorang laki-laki. "Kenapa lo ngelihatin gue? Takjub?" tanya Angkasa masih dengan nada datarnya. Aruna mendesis pelan. "Ish, geer banget lo!" "Kalian pacaran?" tanya Leo, salah satu murid di kelas X Ipa III. "Kalau iya kenapa? Kalau nggak kenapa?" tanya Angkasa sedikit ketus. Raut wajah Leo berubah, ia terlihat kesal dengan nada bicara Angkasa. "Ng- nggak, kita nggak pacaran," ucap Aruna. Leo sepertinya sudah tidak tertarik dengan jawaban apapun yang diberikan. Ia memutar posisi duduknya kembali, tidak merespon apapun jawaban dari Aruna. Aruna memukul Angkasa pelan. Aruna kesal melihat sikap Angkasa yang enggan untuk beradaptasi dengan orang lain. "Ish, nggak boleh gitu, nanti lo nggak punya teman," ucap Aruna. "Nggak peduli. Punya temen tuh cuma nyusahin doang," sahut Angkasa. "Seterah lo!" Aruna memilih mengalah, ia tidak ingin berdebat dengan Angkasa, mengingat Angkasa adalah teman pertamanya di sekolah ini. "Selamat pagi," ucap para senior yang masuk ke dalam kelas X IPA III. "Pagi kak," sahut murid kelas X IPA III kompak, terkecuali Angkasa. "Hari ini adalah hari kedua ospek. Jadi spesial hari ini gue akan kasih game buat kalian," ucap Dewa. "Wih, seru nih." "Nah gitu dong, jangan kerjaan terus." "Gue punya pertanyaan buat kalian, setiap yang bisa jawab akan ada hadiahnya," jelas Dewa. "Siap kak." "Kenapa Tayo warnanya biru?" tanya Dewa. "Di cat kak." "Suka-suka editornya lah kak mau diwarnain apaan." "Karena kalau kuning namanya Tayi, kak," jawab seorang siswa laki-laki yang berada di sisi kanan Aruna. Dewa bertepuk tangan dengan keras. "Jawaban bagus. Selamat kamu benar." "Karena kamu menang, hadiah kamu saya kasih ke cewek yang duduk di seberang kamu," ucap Dewa. "Kok di kasih ke dia kak?" tanya siswa laki-laki itu. "Sini kamu," ucap Dewa pada Aruna. "Saya kak?" tanya Aruna ragu. "Iya kamu." Aruna pun berjalan menghampiri sang kakak kelas tersebut, beberapa dari mereka sedikit tertawa. Aruna merasakan perasaannya yang mulai tidak enak, pasti hadiah yang dimaksud Dewa bukanlah benar-benar hadiah. "Karena teman kamu menjawab benar, jadi kamu dapat hadiah," ucap Dewa. "Sebagai hadiahnya, lo harus lari keliling lapangan lima belas kali," ucap Maureen. Kedua mata Aruna membulat, begitupun dengan Angkasa yang sedari tadi hanya terdiam. "Hah? Saya lari keliling lapangan kak?" "Lo tuli? Nggak dengar?" bentak Maureen. "Sa- saya nggak bisa kak," lirih Aruna. "Nggak usah manja jadi cewek!" ucap Maureen dengan nada tinggi. "Sa- saya benar-benar nggak bisa kak," ucap Aruna. Angkasa bangkit, berjalan menghampiri Aruna yang dikelilingi oleh para kakak seniornya. "Biar gue aja," ucap Angkasa. Dewa tersenyum miring. "Pahlawan kita," ucapnya sinis. "Gue nggak nyuruh lo gantiin dia!" ucap Maureen. "Lo emang nggak nyuruh, tapi gue yang mau," sahut Angkasa dingin. Beberapa mata yang berada di kelas melihat Angkasa lekat. "Lo nggak usah sok jadi jagoan ya," ucap salah satu kakak kelas. "Gue nggak suka lo maksa dia!" bentak Angkasa. Seketika para kakak kelas tersebut terdiam. Angkasa membuka seragamnya, dan memberikannya pada Aruna. Menyisakan kaos hitam dan celana abu-abu yang ia pakai. Angkasa pun keluar kelas dan mulai berlari mengelilingi lapangan. "Lo boleh duduk," ucap Dewa. Aruna mengangguk, lalu berjalan ke kursinya. °°°°° Waktu menunjukkan pukul 09.00, bertanda waktu istirahat tiba. Angkasa masuk ke dalam kelas. Telihat wajah tampan Angkasa yang dipenuhi keringat. Angkasa mengambil air mineral yang berada di atas meja Aruna, lalu meminumnya. Kedua mata Aruna terbelalak saat melihat Angkasa menghabiskan minumnya. "Kok diminum sih?" tanyanya. "Haus." "Ta- tapi kan itu bekas gue." "Ya terus kenapa? Lo bervirus? atau punya penyakit menular?" tanya Angkasa. "Ya- ya nggak sih." "Kenalin, Alaska." Seorang siswa menghampiri Aruna dan Angkasa. "Angkasa." "Aruna." "Gue akuin lo berani ngelawan Dewa," ucap Alaska dingin. Althar. Cowok idaman cewek-cewek, memiliki sifat yang nggak jauh beda kayak Angkasa. "Gue menyebutnya tampan dan berani," ucap seorang siswi bernama Lula yang berada tidak jauh dari Alaska. Lula. Cewek yang mukanya kalem banget, tapi kalau ngomong cerewetnya nggak ada obat. Jangan lupa juga, Lula good looking. Aruna memberikan seragam Angkasa yang sudah ia lipat rapi pada pemiliknya. "Harusnya lo nggak usah belain gue tadi," ucap Aruna. "Terus gue biarin aja lo lari keliling lapangan lima belas kali?" tanya Angkasa dingin. "Gue nggak mau lo berurusan sama kak Dewa," jawab Aruna. "Kalem! Kalau Dewa ngajak ribut ya tinggal ribut aja," ucap Angkasa santai. "Ku kira cupu, ternyata suhu," sahut Lula menunjukkan dua ibu jarinya pada Angkasa. "Bacot banget!" Althar menutup mulut Lula yang sedari tadi terus mengoceh. "Kalau lo diajak ribut sama Dewa, bilang gue, gue siap bantu lo," ucap seorang siswa yang berada di tengah pintu. Alzer. Spesies cowok yang nggak beda jauh kayak Angkasa dan Althar. Ganteng? Jangan ditanya, udah mutlak. Kedua sudut bibir Lula mengembang, "Ya ampun kelas ini sarang cogan," ucapnya. Althar mendesis pelan seraya melihat gadis yang berada disampingnya dengan tajam. "Nyamber terus kayak bensin!" ucapnya. "Biarin," sahut Lula seraya menjulurkan lidahnya pada Althar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN