Kondisi ibunda Bayu tampak sangat lemah, tidak makan sejak semalam membuatnya sulit menggerakkan anggota tubuh lantaran otot-otot yang melemas. Meski begitu, rintihan masih jelas terdengar dari bibirnya yang tampak sedikit pecah-pecah. Ia tidak berhenti menyebut nama Hafsah meski matanya, tidak terbuka sempurna.
Melihat sang ibu yang terus memanggil-manggil kakaknya, Bayu pun segera menghampiri lalu duduk seraya mengusapi wajah senja yang basah dengan air mata itu. Mata kecokelatan pemuda dua puluh empat tahun itu, melirik ke arah perut ibunya yang sudah tampak seperti bola basket. Entah seperti apa rasa sakit yang ibunya derita, melihat penampakan urat-urat membiru di kulit perut sang ibu yang seolah-olah ingin koyak sebentar lagi.
"Ibu yang tenang, ya! Mbak Hafsah sudah aku telepon dan dia akan ke sini setelah selesai mengajar," bisik Bayu ke telinga sang ibu.
Tidak ada respons lain yang Bayu terima dari ibunya selain rintihan yang sama seperti sebelumnya. Bayu menghela napas berat. Iya yakin, ibunya pasti ingin semua anak berkumpul dalam kondisi seperti ini.
Pukul 14.45. Dua petugas medis datang dengan membawa tensimeter dan pispot stensil. Mereka melakukan serangkaian observasi dengan mengecek tekanan darah, membenarkan selang infus, dan mengganti kantong urine yang sudah hampir penuh.
"Tensi darah pasien alhamdulillah normal. Bapak dan ibu boleh bersiap-siap karena satu jam lagi pasien akan dibawa ke ruang operasi," ucap salah satu petugas yang mengalungi stetoskop.
Bayu dan Haya merasa sedikit lega. Hasil pemeriksaan ternyata menunjukkan perkembangan kondisi ibu mereka yang sebelumnya sudah sangat memperihatinkan.
Setelah selesai melakukan tugas pada ibunda Bayu, dua petugas medis itu pun beralih ke pasien sebelah tirai yang juga sedang dirawat karena penyakit asma. Baru saja dua pemuda berseragam putih itu berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar seperti suara ledakan yang entah asalnya dari mana.
"Suara apa itu?" Salah satu petugas bertanya pada Bayu sembari hidungnya mengendus-endus.
"Astaga. Bau sekali ini. Baunya seperti bangkai yang sudah busuk," ujar salah satu keluarga pasien yang juga tinggal dalam ruangan kelas dua tersebut.
Seisi ruangan sontak menutup hidung rapat-rapat. Mereka merasa aneh satu sama lain. Setelah suara ledakan itu terdengar, tiba-tiba saja tercium bau bangkai yang begitu menyengat.
"Mas, ibunya tolong dilihat! Sepertinya suara dan bau
tadi berasal dari sana." Seorang wanita yang sedang menemani suaminya di ruangan itu, terus menunjuk-nunjuk ke arah Bayu.
Mendengar perkataan wanita tersebut, Bayu sontak menoleh dan langsung terkejut saat melihat perut ibunya sudah rata, tak lagi besar seperti sebelumnya. Namun, Bayu menjadi sangat khawatir, ketika melihat selimut dan kasur yang dipakai sang ibu telah penuh dengan cairan hitam yang berbau busuk.
***
Hafsah duduk di sisi kemudi angkutan kota yang membawanya dari rumah menuju wilayah kecamatan bagian timur. Sambil menggenggam ponsel, mata wanita itu terus menjelajah ke setiap sudut jalan yang ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan berlalu lalang.
"Rumah Sakit Setyo Budi masih lama, Bang?" tanyanya pada sang sopir. Maklum saja, ini merupakan kali pertama wanita itu pergi ke sana.
Wajah putih tanpa make-up itu mengeluarkan keringat sebesar biji jagung. Tampaknya, Hafsah sudah tak sabar ingin cepat-cepat sampai ke tempat tujuan demi bertemu dengan ibunya.
"Udah deket, Bu. Lewatin lampu merah sekali lagi. Kalau gak macet gini, sih, biasanya lima menit juga sampe." Lelaki bertubuh gempal itu menjawab dengan intonasi sedikit tinggi.
Hafsah tak kaget lagi. Memang sudah menjadi ciri khas bagi para sopir angkot berbicara dengan logat seperti itu. Mereka gemar mengobrol dengan suara lantang meskipun jarak lawan bicara hanya dibatasi gagang perseneling.
Hafsah menghela napas berat. Ditatapnya berkali-kali layar ponsel yang tak kunjung bergetar. Sudah enam belas panggilan ia layangkan, tetapi Bayu, adik laki-lakinya, belum juga menjawab.
Deru knalpot truk tanah di depan angkot yang Hafsah naiki, menyamarkan penglihatan karena semburan asap hitam yang dikeluarkannya. Suara bising klakson yang saling bersambut dari satu kendaraan ke kendaraan lain, semakin menambah kesan semrawut wajah ibu kota di sore yang cerah ini.
Rasa khawatir makin menghantam diri wanita berkerudung merah itu, kala pesan yang ia kirim ke Mbak Haya, kakak perempuannya, hanya dibalas kiriman foto yang menunjukkan potret sang ibunda sedang terbaring lemah dengan memakai alat bantu pernapasan.
Sore ini, sekitar pukul 16.30, ibunda Hafsah rencananya akan menjalankan operasi untuk membuang tumor yang bersemayam di perutnya.
Situasi ini terbilang cukup mengejutkan, mengingat belum ada satu minggu ayah Hafsah menderita penyakit yang sama dan akhirnya meninggal dunia sebelum sempat dokter melakukan pembedahan.
Miris, kedua orang tua Hafsah tiba-tiba ditimpa penyakit yang sama dan dalam kurun waktu singkat. Entah apa penyebabnya. Padahal sebelumnya, mereka tidak pernah mengeluh apa pun perihal kesehatan. Entah memang dua orang tua itu merasa tubuh mereka segar bugar, atau sengaja merahasiakan penyakit dari anak-anak mereka selama ini.
Sempat larut dalam lamunan, membuat wanita berseragam ASN itu tak sadar angkot yang ditumpanginya sudah berhenti di depan Rumah Sakit Setyo Budi.
"Udah sampe, Bu."
Suara berintonasi tinggi dari si pengemudi, membuat Hafsah sedikit tersentak dan buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia pun segera turun setelah mengulur selembar uang kertas yang sudah lusuh untuk membayar ongkos jalan.
Langkah Hafsah sedikit tergesa-gesa melewati pintu kaca tempered yang langsung menghubungkannya ke bagian pendaftaran. Tak sulit baginya memasuki lorong menuju kamar rawat inap sebab kedatangannya sore itu bertepatan dengan jam besuk.
Entak kaki wanita bertubuh semampai itu tampak begitu mantap meniti satu persatu anak tangga, seolah-olah sedang diburu waktu agar tidak sampai terlambat bertemu ke sang ibunda. Ruang Melati III adalah bidikan pertama ketika ia sampai di lantai tiga. Tanpa mengulur waktu, Hafsah pun segera memasuki ruangan itu dengan wajah lesu.
Pemandangan yang wanita itu tangkap saat hendak memasuki ruangan itu, membuatnya refleks berhenti di ambang pintu. Haya dan Bayu yang menyadari kedatangannya, sontak menoleh bersamaan. Mata Bayu kembali berkaca-kaca. Dua kakak beradik itu langsung menghambur, menyambut saudaranya dengan tangisan pilu.
"Ibu udah gak ada, Mbak." pekik pemuda dua puluh empat tahun itu sambil memeluk kakaknya.
Di hadapan mereka, Haya, terus mengelus bahu kedua adiknya secara bergantian. Separuh kerudungnya sudah basah, tetapi tangisnya masih belum kunjung reda.
Di antara kedua saudaranya, Hafsah masih betah bergeming dengan tatapan lurus ke tubuh yang sudah tertutupi kain putih di atas ranjang pasien. Matanya yang terhalang lensa kaca itu memerah dan terasa panas. Bibir merah mudanya ikut bergetar, seperti ada ribuan kata yang tidak mampu ia utarakan.
Tangan Hafsah perlahan bergerak, berusaha menepis rengkuhan adiknya hingga berhasil menciptakan jarak. Dengan wajah sedikit ragu, Hafsah melangkah maju, memangkas jarak antara dirinya dengan tubuh sang ibu hingga tersisa hitungan jengkal.
"Ibu!" ucapnya lirihsambil menyibak kain putih demi bisa melihat wajah sang ibunda untuk yang terakhir kali.
Tangan kanan Hafsah menggenggam erat tangan pucat sang ibu yang telah bertumpu di atas perut. Sementara tangan satunya, mengusap-usap lembut kelopak mata penuh kerut yang masih belum sepenuhnya tertutup. Satu kali, dua kali, hingga lima kali usapan, mata sang ibunda pun berhasil terpejam.
Luruh sudah air mata Hafsah. Tubuhnya jatuh ke lantai dengan separuh kesadaran. Hafsah tidak bisa berdiri, seperti ada yang menarik otot-ototnya hingga ia tak mampu menopang tubuh sendiri.
Di tengah upaya kedua saudaranya memberi penjelasan, Hafsah justru sibuk mengutuk diri. Andai saja bisa datang lebih cepat, pasti ia masih sempat bertemu dengan ibunya untuk terakhir kali.
Kini, harapan itu seperti terpangkas oleh waktu. Harusnya Hafsah tidak perlu mengikuti rapat kelas sampai sore hari agar bisa lekas menjenguk ibunya ke rumah sakit. Kalau sudah begini, sesal pun tidak akan menuai arti.
"Bu, kita pulang, yuk, Bu! Ibu kemarin bilang mau pulang, kan! Sekarang, Ibu bisa pulang ke rumah sama kami!" Suara Hafsah bergetar ketika mengucapkan kalimat itu. Ia teringat permintaan terakhir ibunya semalam, beliau ingin sekali segera pulang karena tidak ingin merasa bosan berhari-hari menginap di rumah sakit.
Seperti sebuah mesin waktu yang berulang-ulang diputar, kematian sang ibunda sama persis dengan apa yang dialami ayah mereka. Baru hendak menjalankan operasi, tetapi Yang Maha Kuasa sudah lebih dulu memanggil keduanya pergi.
Waktu yang sama dan dengan cara yang sama, membuat ketiga orang yang sedang ditempa duka itu sempat memikirkan tentang penyakit aneh yang mungkin dialami oleh kedua orang tua mereka. Bayu yang sama sekali tidak mengerti akan hal itu,terus saja bertanya-tanya. Apa ini hanya sebuah kebetulan, atau memang ada sesuatu yang janggal yang berhubungan dengan ilmu hitam.
Akan tetapi, duka yang mendalam serta luka kehilangan yang belum sembuh benar, memaksa Bayu dan dua saudaranya memilih berserah tanpa mau menambah duka.
***
Lafaz tahlil terus menggema di malam pertama sekaligus malam ketujuh meninggalnya almarhum dan almarhumah orang tua Bayu. Berbagai jenis kue dan bingkisan makanan sudah dipersiapkan untuk diberikan kepada para jemaah yang datang.
Beberapa tetangga yang turut membantu, masih berkumpul di dalam rumah untuk membereskan sisa-sisa makanan. Mereka ada yang datang secara suka rela, ada pula yang memang dibayar sebagai juru masak.
Hafsah terlihat sibuk menyusun nasi kotak di dekat pintu agar mempermudah Bayu mengambilnya setelah pengajian selesai. Sementara Haya, tampak sedang menyusun barang-barang milik mendiang untuk nanti dihibahkan ke orang-orang yang membutuhkan.
Setelah acara selesai dan para tetangga satu persatu kembali ke rumah masing-masing, suasana rumah menjadi begitu sepi dan sunyi. Tanpa kehadiran kedua orang tua, atmosfer di sana terasa begitu berbeda. Rumah seolah-olah seperti tak berpenghuni, padahal ada lima orang yang masih tinggal di dalamnya.
Sementara ini, Haya dan suaminya memutuskan untuk menginap sampai satu bulan untuk menemani Hafsah dan putrinya yang memang tinggal berdua saja di rumah besar itu. Tidak dengan Bayu yang tetap memilih kembali ke Jakarta setelah pengajian malam ketiga.
Hafsah adalah satu-satunya anak yang masih menempati rumah tersebut meskipun sudah menikah. Sementara dua saudaranya, sudah memiliki tempat tinggal masing-masing dan hanya sesekali berkunjung ketika hari libur.
Haya tinggal di kampung suaminya yang hanya berjarak 2 KM dari rumah orang tuanya. Sementara Bayu, pemuda yang pernah menjadi preman pasar itu memutuskan mengambil kredit rumah setelah diangkat menjadi karyawan tetap di salah satu perusahaan manufaktur di Jakarta. Bayu memang masih lajang, tetapi ia berkeinginan untuk memiliki rumah sebelum menikah.
Jamil—suami Hafsah, bekerja sebagai operator alat berat yang sering dipindahtugaskan ke luar kota. Ia hanya bisa pulang kalau pekerjaan proyek telah selesai. Biasanya tiga bulan sekali lelaki itu baru bisa kembali, mengobati rindunya pada anak dan istri.
Ruang keluarga seluas 24 meter persegi itu begitu sunyi tanpa nyala TV. Denting jam dinding yang jarum pendeknya menunjukkan angka sebelas, berhasil mengalahkan suara binatang malam yang saling bersahutan. Waktu yang cukup larut bagi Bayu dan kakak-kakaknya yang masih sibuk mengepaki barang-barang yang berserakan di lantai.
Gemericik air dari arah kamar mandi samar-samar terdengar. Tidak aneh bagi mereka karena keran yang rusak, belum sempat diperbaiki. Embusan angin malam yang menerobos dari sela ventilasi, semakin membuat tengkuk ketiga orang itu bergidik ngeri.
"Mas Beno kapan pulang, Mbak?" tanya Hafsah, berusaha memecah hening.
"Mbak gak tau. Masmu gak bilang mau pulang kapan." Haya menyahut sepintas, kemudian kembali sibuk menata pakaian.
Setelah tahlilan, Mas Beno—suami Haya, pamit pergi karena ada urusan mendadak. Tinggalah istrinya bersama dua adik iparnya yang sibuk merapikan rumah.
Selama belasan tahun Bayu menempati rumah tersebut, baru kali ini ia merasakan keheningan yang lebih dari sekadar hening. Sembari menyusun buku-buku milik almarhum bapaknya, matanya berkelana ke setiap sudut rumah seperti mengawasi sesuatu.
"Kamu kenapa, dari tadi gelisah gitu?" tanya Haya tanpa mengangkat wajahnya. Rupanya wanita itu menyadari gelagat sang adik yang terlihat seperti orang kebingungan.
"Enggak, Mbak. Sepi banget malam ini, gak ada Ibu sama Bapak." Bayu menjawab dengan suara parau. Sekuat tenaga ia menahan sesak agar tidak lagi ada air mata yang tumpah.
"Kamu jangan seperti itu, Bapak sama Ibu sudah tenang. Kamu juga harus ikhlas dan sabar."
Bayu mengangguk sembari menyeka mata. Keduanya pun kembali bergelut dengan sisa pekerjaan dengan saling bisu.
Beberapa menit berlalu penuh keheningan. Beberapa perabotan sudah terbungkus rapi dan siap untuk dihibahkan.
Khi khi khi!
Hafsah dan Haya kompak menghentikan gerak. Keduanya sama-sama memasang telinga setelah sempat mendengar suara seperti orang tertawa.
Khi khi khi khi!
Dua wanita itu sontak saling tatap dengan raut wajah yang tak bisa diungkapkan. Tawa itu makin lama makin terdengar nyaring, seolah-olah sumbernya tepat berada di atas genteng rumah mereka.
"Mbak denger juga?" Hafsah sedikit gemetaran sembari menggamit lengan kakaknya.
Haya tidak menjawab, ia hanya meletakkan satu telunjuk ke depan bibir sebagai isyarat agar adiknya tidak melanjutkan pertanyaan.
Sementara itu, tawa cekikikan makin terdengar mengerikan. Suaranya berpindah-pindah tempat dan sesekali hilang terbawa angin. Hafsah dan kakaknya mematung di tengah ruangan, berharap si pemilik tawa lekas pergi dan tidak menggangu mereka lagi.
Setelah sempat beberapa menit diterkam ketakutan, keduanya pun kembali bisa bernapas lega karena suara menyeramkan itu tak lagi terdengar.
"Udah pergi kayaknya." Bayu berdiri dengan tatapan lurus ke arah langit-langit.
Hafsah masih tidak bergerak dari kursi. Ini baru pertama kalinya ia mendengar tawa yang melengking seperti tawa kuntilanak yang pernah ia saksikan di televisi. Kejadian itu semakin membuatnya takut untuk tinggal sendiri, saat saudara-saudaranya nanti telah pulang ke rumah masing-masing.
"Lala sudah tidur?" Suara Mbak Haya sontak membuat adiknya yang sedang melamun itu terkejut.
"Su-sudah, Mbak," jawab Hafsah dengan yakin.
"Tapi ... barusan Mbak denger kaya ada suara orang ngobrol di kamar Lala."
Mendengar hal itu, membuat Hafsah kembali memasang telinga kuat-kuat.
Ternyata benar. Dari arah kamar putrinya, Hafsah mendengar suara seperti ada orang yang sedang mengobrol. Jarak kamar Lala yang memang berada dekat dari ruang keluarga, mempermudah gelombang suara merambat dari dalam sampai ke telinga mereka.
Detik itu juga Hafsah beranjak cepat menuju kamar putrinya sementara Bayu dan Haya, tetap melanjutkan kegiatan mereka di ruangan TV Ketika ia membuka pintu, matanya sontak membeliak saat mendapati sang putri sedang berjoget di atas tempat tidur sembari tertawa.
"Lala, turun!" serunya. Namun, bocah enam tahun itu tak mengindahkan, malah asyik bernyanyi riang.
Hafsah lantas naik ke atas tempat tidur dan langsung menarik putrinya ke dalam pelukan. "Kamu gak boleh nyanyi malam-malam, kamu harus tidur, Nak!"
"Aku gak mau tidur. Aku masih mau bercanda sama Nenek." Lala terus berontak, tidak mau dipeluk oleh ibunya.
Hafsah menelan ludah. Ia tahu putrinya begitu dekat dengan neneknya. Akan tetapi, tidak baik bila anak sekecil itu terus-terusan dibohongi dan diberitahu kalau kakek dan neneknya sedang pergi ke rumah saudara, padahal mereka sudah tiada.
"Lala gak boleh ngomong gitu, Sayang! Kakek sama Nenek sudah meninggal dunia. Mereka sudah tenang di sisi Allah. Lala di rumah, harus terus doain Kakek sama Nenek, ya!" Hafsah berusaha membuat putrinya mengerti.
"Gak mau, aku mau sama Nenek. Aku mau main sama Nenek." Bocah perempuan itu masih saja merajuk sampai berguling-guling di kasur.
"Nenek udah gak ada, Nak. Nenek udah gak ada." Hafsah mulai hilang kekuatan. Rasa-rasanya luka itu kembali menganga menyaksikan anaknya yang masih belum menerima kenyataan.
"Ada. Nenek ada di sini. Lala lihat!"
Mendengar ucapan bocah kecil itu, jantung Hafsah seolah-olah berhenti berdetak sepersekian detik.
"Kamu lihat Nenek?" Seperti hilang kesadaran, Hafsah bertanya pada anaknya.
"Iya."
"Di mana?"
"Itu, di belakang Ibu.