Hafsah masih terjaga dengan mata yang tak lepas memperhatikan ke arah jendela. Gorden putih bermotif shaby itu sesekali bergerak melambai-lambai. Sekelebat bayangan kian terlihat, seperti ada sosok yang sedang bergelantungan di atas pohon padahal itu hanyalah ranting yang bergerak tertiup angin.
Di samping Hafsah, Lala telah tertidur pulas dengan kepala yang menindih lengan kanannya. Entah sudah pukul berapa saat itu. Setelah berusaha keras menenangkan putrinya, Hafsah belum sedetik pun memejamkan mata. Ia masih khawatir dengan Lala, takut bila bocah itu tiba-tiba terbangun dan kembali menangis sambil menunjuk-nunjuk ke arah jendela seperti tadi.
Wanita yang masih mengenakan gamis hitam dan kerudung bergo dua layer itu terus saja mengamati putrinya. Dua kali kecupan ia daratkan di pipi sang putri ternyata, tetapi tidak menimbulkan respons sama sekali. Setelah yakin putrinya benar-benar sudah pulas, Hafsah pun menggeliat, mencoba untuk melepaskan diri.
Dengan penuh kehati-hatian, Hafsah mengangkat kepala bocah enam tahun itu seraya menarik lengan kanannya. Lala sempat menggeliat sesaat, kemudian kembali pulas memunggungi sang ibu.
Hafsah yang tampak masih gelisah, segera beranjak mengambil ponsel di saku gamisnya. Ponsel itu sudah beberapa kali bergetar dan tak ia hiraukan lantaran takut putrinya terbangun.
Satu usapan pada layar, langsung memunculkan notifikasi pesan masuk yang berasal dari kontak yang Hafsah tulis dengan nama 'Mas Jamil'.
Saat Lala mengamuk, Hafsah sempat berusaha menelepon suaminya untuk meminta pertolongan. Hafsah ingin Mas Jamil mendoakan Lala agar bocah itu tidak lagi mendapatkan gangguan dari makhluk halus. Meskipun jarak mereka jauh, doa akan tetap mampu menembus jarak dan waktu menurut wanita usia kepala tiga itu.
Sayangnya, Mas Jamil sama sekali tidak menjawab panggilan saat itu. Hafsah yang sangat ketakutan, hanya pasrah dan tetap mengabarkan suaminya lewat pesan singkat.
Hafsah meminta bantuan Haya untuk mengetik apa yang ingin ia beritahukan kepada Mas Jamil. Sebab, kedua tangannya sudah kewalahan memegangi Lala yang terus saja menangis meronta-ronta.
Pesan yang Hafsah kirimkan tadi, kini mendapat balasan. Hafsah pun membacanya dengan begitu antusias. Ia berharap mendapatkan sesuatu yang mampu membuat hatinya jauh lebih tenang.
[Bismillah, kamu yang kuat ya, Dek! Buang jauh-jauh pikiran negatifmu. Kalau kamu semakin berpikiran yang aneh-aneh, apalagi ketakutan terus menerus, mereka akan punya peluang besar untuk mengganggu. Bisa jadi yang tadinya tidak ada, malah jadi betah dan usil menampakkan diri]
[Kamu harus terus berpikir positif, ya, Dek! Ini demi Lala, demi keluarga kita juga. Ingat pesan Mas, Setan itu penuh dengan tipu daya. Mereka akan semakin senang bila kita percaya bahwa orang yang telah meninggal dunia bisa kembali dalam wujud arwah, apalagi jika kita sampai membuat semacam sesajen, itu salah, Dek]
Hafsah menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kasar. Ia matikan kembali layar ponsel tanpa membalas pesan suaminya lagi.
Muncul rasa bimbang pada diri Hafsah setelah membaca pesan itu. Bukan karena ia tidak setuju, Hafsah justru merasa apa yang dikatakan suaminya sangatlah benar. Sebagai orang yang berpendidikan, ia pun paham dengan apa yang putrinya alami serta merta karena gangguan jin atau setan, bukan karena kembalinya ruh sang ibu yang sudah meninggal dunia. Hal itu sama sekali tidak benar.
Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh kakaknya itu sangat bertolak belakang dengan kepercayaannya. Mbak Haya sulit sekali dinasihati. Haya yang pada saat itu ikut menyaksikan langsung bagaimana Lala teriak-teriak memanggil neneknya, langsung saja pergi ke dapur. Wanita itu membuat beberapa minuman berupa teh, kopi, dan air putih, lalu menaruhnya di sudut kamar Lala.
Tak hanya itu, Haya juga terlihat menggerakkan mulutnya seperti berkomat-kamkit sembari menaburi kembang tujuh rupa ke sisi-sisi ruangan.
Hafsah sempat ingin menghentikan kakaknya, tetapi nihil. Haya malah menjawab bahwa apa yang ia lakukan adalah bentuk upaya agar arwah ibu mereka tidak mengganggu Lala.
Saat itu Hafsah hanya pasrah sambil terus melafalkan doa-doa. Bacaan-bacaan ayat suci Al Qur'an terus ia lafalkan sambil berserah diri kepada Sang Maha Kuasa. Setelah beberapa surat ia bacakan dengan suara pelan, Lala pun kembali tenang dan lekas tertidur pulas di pangkuannya.
Hafsah tahu betul tabiat kakaknya yang masih sangat mempercayai budaya orang terdahulu dan sulit sekali diberitahu.
Tak heran memang. Mbak Haya masih suka melakukan ritual sesajen, tak lain karena minimnya ilmu agama yang ia peroleh. Haya yang sudah putus sekolah sejak usianya sebelas tahun, langsung bekerja keras di ladang membantu bapak dan ibunya. Haya tak punya cukup waktu datang ke majelis untuk menuntut ilmu. Terlebih lagi, ia juga menikah dengan laki-laki yang ilmu agamanya tak lebih tinggi darinya.
mas Beno adalah seorang pengangguran ketika bertemu dengan Mbak Haya. Pendidikannya pun hanya sampai kelas 2 SMP. Atas bantuan dan ladang pekerjaan yang diberikan oleh ibu mertuanya saja, Beno memiliki penghasilan yang lumayan sampai sekarang.
Dalam dekapan bimbang, Hafsah menatap sebuah nampan berisi empat gelas kopi yang kakaknya letakkan di sudut tembok dekat lemari. Tak hanya itu, bau kemenyan yang terbakar semakin menguar menusuk hidungnya. Hafsah menoleh pada anak semata wayangnya lagu, ia takut putrinya batuk-batuk karena terganggu dengan aroma serbuk coklat yang menyengat itu.
Hafsah turun dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju nampan untuk mematikan bara. Dengan gemetar, Hafsah mencelupkan kemenyan berbentuk kerucut ke dalam kopi yang sudah dingin. Setelah itu, Hafsah berjalan menuju ruang tamu. Ia mengambil sapu dan pengeruk sampah untuk membersihkan sisa-sisa bunga yang berserakan di lantai kamar anaknya.
Ketika melakukan hal itu, Hafsah tidak henti-henti mengucap kalimat tahlil di dalam hati. Hatinya berusaha untuk menjaga akidah dengan memantapkan diri agar tetap meminta hanya kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa.
Selesai sudah Hafsah merapikan semuanya, nampan sajen pun sudah ia singkirkan dengan membuang isinya ke wastafel.
Kondisi rumah sudah sangat sepi dan gelap. Bayu dan Haya pasti tsudha pulas di kamar masing-masing. Setelah selesai menaruh nampan di dapur, Hafsah kembali naik ke tempat tidur, memeluk putrinya yang sudah lelap seraya memejamkan mata.
***
Hafsah berada di tengah-tengah ruangan yang sedikit gelap dan berasap. Ada setitik cahaya yang terbias dari lampu-lampu minyak yang menempel di tembok di sisi kiri dan kanannya. Cahaya tersebut tidak terlalu benderang, tetapi mampu memperlihatkan segala sesuatu di sepanjang lorong hadapannya.
Kosong, ruangan itu benar-benar kosong. Hanya lantai berdebu yang tampak sejauh mata memandang. Dinding putih yang mengelilingi ruangan, tampak begitu kusam dan dipenuhi bercak kehijauan.
Hafsah melangkah dengan bertelanjang kaki. Ia seperti merasakan kerikil-kerikil tajam menempel di telapak kakinya, padahal di bawah, tidak ada apa-apa sama sekali.
Meksi sakit, Hafsah tetap melanjutkan langkah tanpa tahu akan ke mana. Hingga tiba di ujung ruangan, ia melihat ada dua ekor ayam hitam terkurung di dalam kurungan ayam dan terus berkokok.
Di antara dua ayam tersebut, tampak siluet hitam di balik tirai yang bergerak-gerak. Walaupun gelap, Hafsah tetap mudah menebak kalau sesuatu berwarna hitam itu adalah sesosok laki-laki.
Hafsah menghentikan langkah seraya menyipitkan mata. Dari jarak yang cukup jauh, ia mampu melihat apa yang dilakukan seseorang di ujung sana.
Ayam yang semula berada di dalam kurungan, diambil oleh laki-laki itu kemudian diangkat tinggi-tinggi. Lelaki berpakaian serba hitam itu kemudian membelah perut ayam tersebut hingga seluruh isinya terburai berceceran. Hewan itu sempat berkokok dan menggelepar di lantai, sebelum akhirnya lemas dan tidak lagi bergerak sama sekali.
Hal yang sama akan orang itu lakukan pada ayam satunya. Namun, baru saja sosok laki-laki itu menghunus pisau, ia sudah menyadari terlebih dulu kehadiran seseorang dan langsung menatap Hafsah dengan dua bola mata yang hampir keluar dari kelopaknya.
Hafsah yang ketakutan, memilih lari menjauhi sosok itu. Akan tetapi, langkahnya seperti tak bisa cepat. Ia hanya mampu berjalan perlahan seperti gerakan slow motion di film-film action. Sementara di belakangnya, sosok itu terus berlari hingga jarak mereka semakin terpangkas.
Hafsah berusaha berteriak sekuat tenaga, tetapi mulutnya yang menganga tidak juga menghasilkan suara. Hafsah seolah-olah bisu. Hatinya terus mengucapkan kalimat tayyibah tetapi suaranya hanya tercekat sampai kerongkongan saja.
Hafsah tak bisa lagi menghindar. Sosok hitam itu telah berhasil meraih tangannya dan langsung menancapkan pisau tepat ke ubun-ubun hingga darah segar muncrat mengaliri tubuh Hafsah yang mengejang hebat.
***
"Astaghfirullah!" Hafsah terbangun.
Bunga tidur yang baru saja ia alami sungguh membuatnya takut setengah mati. Mata Hafsah langsung memindai ke sekeliling. Sejurus kemudian, ia tersadar bahwa tubuhnya masih terduduk di atas tempat tidur putrinya.
Kalimat istigfar terus ia ucapkan sambil mengelap keringat di wajah. Begitu menyeramkan mimpi yang ia alami hingga terasa seperti nyata.
Di tengah ketakutan, tiba-tiba ia teringat akan sang putri. Hafsah pun segera menoleh ke kanan untuk memastikan Lala masih pulas memeluk gulingnya.
"La, Lala? Kamu di mana, Nak?"
Hafsah terkejut. ternyata Lala sudah tidak ada di tempat tidurnya.