"Bayu, Mbak Haya, tolong aku! Lala gak ada di kamarnya." Hafsah berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar dua saudaranya secara bergantian. Ia begitu ketakutan saat mendapati Lala sudah tak ada di sampingnya.
Lala yang sempat mengamuk dan terus berhalusinasi, membuat Hafsah ketakutan. Ia khawatir putrinya pergi sendiri mengikuti sosok yang putrinya kira sebagai sang nenek.
Posisi kamar Bayu dan Mbak Haya saling berhadapan. Jarak keduanya pun hanya dibatasi lorong panjang sebagai akses menuju dapur dengan lebar kurang lebih satu setengah meter. Hafsah berjalan bolak-balik di antara kamar mereka. Kepalanya mulai pening, memikirkan hal-hal yang bisa saja terjadi pada putrinya jika tidak segera ditemukan.
Dua sampai tiga kali ketukan, wanita yang sudah tampak pucat itu tak juga menuai respons. Pikirannya sudah kacau. Iya takut makhluk yang menyerupai arwah ibunya kembali datang dan mengganggu Lala. Tanpa berpikir lama, ia pun segera memutar daun pintu kamar kakaknya. Beruntung, pintu tersebut tidak dikunci dan Hafsah bisa segera masuk menemui Haya.
Ketika pintu terbuka, Hafsah tidak menemukan siapa pun di dalam. Bantal dan guling juga tampak tersusun rapi seperti belum ada yang meniduri. Kondisi lampu kamar yang menyala, menguatkan dugaan Hafsah bahwa kakaknya belum sama sekali memasuki kamar sejak meninggalkannya bersama Lala.
"Mbak, Mbak Haya. Mbak di mana?" Hafsah terus memanggil-manggil kakaknya, berharap si pemilik nama mendengar teriakannya di mana pun ia berada. Namun nihil, Mbak Haya tak kunjung datang, Hafsah segera keluar dan beralih menuju kamar Bayu.
Entah ke mana perginya Mbak Haya. Hafsah tidak punya waktu untuk mencarinya juga. Yang terbersit dalam pikirannya saat itu hanyalah keselamatan Lala. Menurutnya, sang kakak sudah cukup dewasa dan bisa menjaga diri. Sementara Lala, bocah kecil itu masih sangat lemah dan belum mengerti apa-apa.
"Bay, Bayu! Bukan pintunya, Bay! Tolongin Mbak!" Hafsah memanggil-manggil adiknya seraya memutar daun pintu. Namun, pintu kamar Bayu ternyata terkunci dan Hafsah tetap tak kunjung mendapat jawaban dari dalam.
Argh!
Bayu pun sepertinya tidak ada di kamar. Sebab biasanya, pemuda itu tidak pernah mengunci pintu kamar saat berada di dalam. Sementara kalau ia ke luar, pintu kamar akan langsung ia kunci. Bau adalah tipikal pemuda yang tertutup. Ia tidak memperbolehkan ada siapa pun masuk ke ruangan pribadinya itu.
Hafsah mulai kehabisan akal. Diremasnya kepala kuat-kuat hingga jilbab yang ia pakai menjadi kusut tak keruan. Tubuh Hafsah berangsur-angsur luruh hingga bokongnya menyentuh lantai. Kepalanya dibentur-bentur pelan ke dinding. Tangis pun pecah. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Di tengah keresahan yang mendalam, tiba-tiba Hafsah mendengar suara Lala memanggil-manggilnya dari dapur. Sontak wanita itu bangkit dan lari menuju dapur. Meskipun samar, ia sangat yakin suara putrinya berasal dari sana.
"La, Lala, kamu di mana, Nak?" teriaknya sambil mengedarkan pandangan.
Hafsah langsung mengecek ke beberapa tempat sesampainya di dapur. Ia melongok ke kolong meja makan, ke samping rak, juga ke sudut dekat pintu yang tertutup lemari perabotan. Akan tetapi, Lala tak kunjung ditemukan. Bibir Hafsah mulai gemetaran. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada putrinya.
“La, Lala. Kamu di mana, Nak?” Hafsah memanggil putrinya lagi. Namun, hanya keheningan yang ia dapat.
Dapur rumah itu cukup luas, memiliki ukuran lebar 6 meter serta panjang 7,5 meter, terbilang cukup besar jika dibandingkan dengan dapur-dapur pada umumnya. Cukup melelahkan bagi Hafsah berkeliling mengitari ruangan tersebut demi mencari putrinya. Semua celah yang bisa dijadikan tempat persembunyian telah ia periksa. Namun, keberadaan Lala masih belum juga bisa diterka.
"Ibu ...."
Teriakan memilukan itu kembali membuat Hafsah tercengang. Wanita itu sontak diam untuk memastikan dari mana asal suara tersebut.
"Ibu ...."
Suara Lala terdengar semakin kencang. Hafsah menoleh cepat ke arah pintu kamar mandi. Ia sangat yakin suara putrinya berasal dari sana.
"Astagfirullah, Lala!" Hafsah lari terburu-buru, mengingat di dalam kamar mandi ada sumur gali yang dibiarkan terbuka.
Hafsah dan keluarganya memang tidak menggunakan sumur pompa. Mereka masih mengambil air secara manual dengan menggunakan katrol sebagai alat penarik tali yang dikaitkan pada roda di atasnya. Salah satu ujung tali diikatkan pada ember kecil, sedangkan tali yang menjuntai, berfungsi untuk menaik-turunkan ember ke dalam sumur.
Lala tidak pernah diperbolehkan bermain sendirian di sana. Jika ingin mandi atau buang hajat pun, bocah enam tahun itu harus ditemani oleh ibunya. Tengah malam itu, tiba-tiba Hafsah mendengar teriakan Lala dari kamar mandi, membuatnya semakin takut dan berpikiran macam-macam. Bagaimana bisa Lala berada di sana?
"Lala!" pekik wanita itu sesampainya di kamar mandi. Matanya terbelalak ketika melihat putrinya sudah berdiri di tepi sumur dengan mata yang terus menatap ke bawah.
Hafsah menelan ludah. Melihat posisi kaki putrinya yang begitu dengan dengan bibir sumur, membuat jantungnya berdegup kencang seperti hendak melompat ke luar.
"Jangan bergerak, Nak! Ibu akan ke situ," cegahnya. Hafsah begitu takut putrinya terpeleset dan jatuh. Kondisi pembatas sumur penuh sekali dengan lumut, itu menyebabkan pijakannya sangat licin terlebih bila terkena air. Siapa yang bergerak sedikit saja di atasnya, kemungkinan besar akan terpeleset dan jatuh ke dalam sumur.
Hafsah melangkah cepat menuju kamar mandi. Namun, baru saja Hafsah hendak meraih putrinya, Lala sudah lebih dulu jatuh ke dalam sumur. Bunyi air beriak semakin membuat hatinya berteriak. Bayangan putrinya tenggelam langsung berputar-putar di dalam pikirannya.
"Lala ...." Hafsah berteriak sekencang-kencangnya. Ia lantas mencondongkan wajah ke lubang sumur demi bisa melihat anaknya. Namun, hanya riak air yang bisa tertangkap mata. Tubuh Lala, sudah tenggelam semakin dalam sebelum sempat ia melihatnya.
Hafsah gelagapan. Tak ada orang di rumah berarti tidak ada yang dapat ia mintai pertolongan. Hafsah berkali-kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya panik dengan sorot mata yang terus berkeliling mencari benda apa pun yang bisa ia gunakan untuk menolong putrinya.
Tepat di samping pintu, ia melihat seutas tali yang lumayan panjang. Ide gila pun muncul dalam pikirannya. Tanpa menunggu lama, Hafsah lekas mengambil benda itu lalu melancarkan aksinya. Tali tersebut diikatkannya ke perut. Sementara ujung tali yang lain, ia ikat pada tiang dapur yang menurutnya cukup kuat menahan beban tubuhnya dan juga anaknya.
Tali sudah terikat kuat. Hafsah terus memantapkan hati untuk masuk ke dalam sumur demi menolong putrinya. Seperti tanpa berpikir panjang ia melakukan hal itu. Otaknya sudah buntu, ia tak mampu memikirkan cara lain agar tidak sampai membahayakan nyawanya sendiri.
Hafsah menarik napas dalam-dalam. Ia sempat memindai seisi ruangan untuk memastikan apa yang sudah direncanakannya berjalan dengan aman. Ia tidak berpikir sedikit pun bagaimana kalau ia gagal. Jangankan untuk bisa menyelamatkan putrinya, nyawanya sendiri pun tidak akan tertolong jika sampai terjebak di dalam sumur dengan kedalaman 4 meter itu.
Hafsah berusaha keras menelan saliva ketika hendak melangkah. Meski begitu, tidak ada keraguan yang tersirat di wajahnya. Ia tetap berjalan menuju sumur, meskipun langkahnya sempat terhenti kala tali yang sudah terulur membuatnya tersandung.
Sementara di dalam kamar mandi, lubang sumur yang menganga seperti tak sabar menunggunya mendekat. Suara guncangan air dari dalam sumur, seolah-olah tak sabar menyambut Hafsah agar lekas menceburkan diri dan tenggelam bersama anaknya.
"Bertahanlah, Sayang. Ibu akan menolongmu," ucap Hafsah sambil kakinya naik ke pembatas sumur.