Halusinasi

1753 Kata
"Jika jiwa sedang dirundung duka, tetaplah berpegang teguh terhadap ketentuan yang maha kuasa. Tubuh boleh lelah dan pikiran boleh bercabang. Tapi, jangan sampai hati nurani ikut meradang, sehingga mudah bagi mereka mengambil alih alam bawah sadar kita." *** Hafsah menyeret sebelah kakinya. Lebam kebiruan tampak begitu kentara pada pelipis matanya yang membengkak. Benturan keras di lantai sepertinya tak menimbulkan rasa sakit yang berarti, nyatanya Hafsah tetap melanjutkan langkah, berjalan tanpa gentar sambil terus memegangi tali agar tidak tersandung untuk yang kedua kali. Sementara sebelah kakinya sudah menapak pada bibir sumur, mata Hafsah masih tak beralih dan terus mengamati pantulan wajahnya di air. Embusan napas kasar keluar dari mulutnya. Hafsah memantapkan niat untuk terjun ke dalam sumur, kemudian memejamkan mata. Ia sudah benar-benar siap mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan putrinya. Baru saja Hafsah hendak menceburkan diri, suara tak asing kembali terdengar dari arah pintu kamar mandi. "Ibu, aku haus." Tiba-tiba suara Lala muncul lagi yang membuat Hafsah mengerutkan kening tak percaya. Demi untuk meyakinkan hatinya, Hafsah lantas menoleh cepat. Ia berharap segera menangkap bayang si pemilik suara. Sosok mungil berambut ikal panjang di belakangnya, sontak membuat Hafsah tersentak. Di ambang pintu, Lala terlihat sedang berdiri memeluk boneka beruang kesayangannya sembari mengucek-ngucek mata. Gadis kecil itu seperti baru bangun dari tidurnya, dan berjalan ke kamar mandi karena mencari ibunya yang tak kunjung ia temui. "Lala!" pekik Hafsah seraya membalikkan badan. Hafsah begitu terkejut dan sedikit tak percaya melihat putrinya berada di sana. "Kalau Lala ada di situ, lalu yang jatuh tadi, siapa?" Wanita bergamis hitam itu itu menatap anaknya nanar. Ia menggeleng-gelengkan kepala sejenak, kemudian melongok kembali ke dalam sumur yang airnya sudah tampak tenang tak beriak seperti sebelumnya. Sosok Lala yang ia lihat jatuh ke dalam sumur, ternyata bukanlah Lala yang sesungguhnya. Pikiran Hafsah telah dimanipulasi oleh sosok gaib sehingga ia berhalusinasi sampai separah itu. Hafsah yang baru menyadari bahwa semua yang ia lihat barusan adalah halusinasi, segera mundur secara perlahan agar tak sampai terpeleset lumut hijau di sekeliling kakinya. Nahas, baru saja Hafsah hendak menghampiri putrinya, kaki wanita itu sudah tergelincir lebih dulu dan ia pun jatuh ke dalam sumur. "Ibu ...!" Lala berteriak sangat kencang. Suaranya yang melengking, berhasil membuat Bayu dan Haya keluar dari kamar. "Ada apa, La? Kenapa kamu ke sini malam-malam?" Bayu meraih tubuh keponakannya, gegas merengkuh bocah itu ke dalam pelukan. "I-ibu, Om!" Lala tampak gemetaran. Telunjuknya terus menunjuk ke arah sumur. Haya yang kebingungan, segera mengambil tali yang tergeletak tepat di samping kakinya. Tali itu terurai panjang menuju bibir sumur dan tampak bergerak-gerak seperti ada yang menariknya dari dalam. "Ibu, kenapa Ibu?" tekan Bayu sekali lagi. Ia begitu khawatir melihat keponakannya menangis histeris dan tidak mau berhenti. "Ibu, Om. Ibu jatuh ke sumur." Tangis Lala semakin menjadi-jadi. Seisi rumah dibuat kebingungan dengan suara tangisnya. "Bayu. Tali ini bergerak-gerak terus. Apa jangan-jangan ...." Bayu dan Haya saling menatap dengan penuh tanda tanya. Melihat pergerakan aneh dari tali itu, Bayu dan Haya sontak menghambur menuju sumur. Air sumur yang bergoyang-goyang, menguatkan dugaan mereka kalau Hafsah benar-benar tenggelam di dalam sana. Bayu yang ketakutan, langsung berlari ke luar dapur. Selang beberapa detik kemudian, ia kembali dengan membawa senter yang biasa digunakan almarhum ayahnya untuk keperluan ronda. Senter baterai itu langsung pemuda itu nyalakan, kemudian ia menyuluhkannya ke dalam sumur demi bisa mengankap pantulan bayangan sang kakak jika benar ada di dalam. Ketika lampu senter disuluhkan ke dalam, benar saja, tubuh Hafsah terlihat sedang berenang-renang di kedalaman 2 meter. Hafsah yang tidak bisa berenang, terlihat sangat susah payah ingin mencapai permukaan. Bayu terkejut dan refleks berteriak memanggil Hafsah. Bayu dan Haya, kedua kakak beradik itu sontak saling tatap dengan wajah tegang. Tidak mau berlarut-larut menanggapi pikiran buruk, Bayu dan Haya pun segera menarik tali dengan sekuat tenaga hingga kepala Bayu berteriak, meminta kakaknya berpegangan pada tali. Meski gelagapan, Hafsah bersyukur masih bisa merespons dan mengikuti instruksi adiknya. Tak sampai satu menit, tubuh Hafsah akhirnya berhasil ditarik ke atas. Lala yang belum berhenti menangis, segera berlari memeluk ibunya yang basah kuyup. Melihat kakaknya masih sangat syok, Bayu pun berusaha menenangkan kakaknya dengan memberinya air putih dan menyuruh sang kakak untuk beristigfar. Beberapa menit berlalu mereka lalui dengan diam dan memberi kesempatan Hafsah untuk meredam rasa takutnya. Setelah merasa kondisi sang kakak sudah mulai membaik, Bayu pun lantas melayangkan pertanyaan yang sudah sejak tadi ia pendam. "Mbak kenapa bisa kecebur, sih?" Bayu menyangga kepala kakaknya, pemuda itu terlihat begitu khawatir melihat wajah sang kakak yang pucat pasi. "La-Lala hilang tadi, Bayu. Mba cari-cari di mana-mana gak ketemu. Mbak teriak-teriak minta tolong pun, kalian gak ada yang keluar. Kalian pergi ke mana?" Hafsah menjelaskan dengan tubuh gemetar kedinginan. Tangan kanannya terus menggenggam tangan Lala kuat. "Lala hilang? Ini orangnya!" Mbak Haya menggeleng-geleng pelan. "Mbak gak dengar suara kamu sama sekali. Mbak ada di kamar, kok, gak ke mana-mana," sambungnya sambil mengelus-elus rambut keponakan yang sedang berada di pangkuannya. "Iya, Mba. Aku juga gak dengar Mbak Hafsah teriak, padahal aku masih main ponsel di kamar, belum tidur." Bayu menimpali dengan wajah yakin. Mendengar penjelasan kedua saudaranya itu, Hafsah hanya bisa tertunduk kebingungan. Ia masih sangat yakin bahwa yang dialaminya tadi adalah benar-benar sesuatu hal yang yataa. Namun aneh, seisi rumah sama sekali tidak mempercayainya. Mereka hanya berpikir Hafsah terlalu panik sampai mengira anaknya tercebur ke dalam sumur. Tak ingin terlalu lama hanyut dalam pikiran negatif, Hafsah mencoba menepis prasangka buruk dan berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang telah ia alami tak lain adalah sekadar halusinasi. Hafsah merasa ia sedang sangat kelelahan dan banyak pikiran. Hal itu yang membuatnya hilang kendali sampai membayangkan sesuatu yang bukan-bukan. *** Tahlil malam kedua. Seperti biasa, beberapa tetangga berkumpul sampai sekitar jam 21.00 malam. Para wanita di ruang tamu tampak sibuk mengisi kotak berkat. Dibantu oleh kakaknya, Bayu membawa satu persatu bungkusan yang telah diisi beras, kopi, gula, dan kotak nasi ke dekat pintu agar mempermudah mereka mendistribusikannya ke para undangan yang hadir. Lantunan ayat suci Al-Qur'an masih menggema dari para jemaah di teras rumah. Orang-orang yang berada di dalam semakin bergerak cepat agar bingkisan bisa selesai tepat pada waktunya. Tak pantas rasanya jika acara pengajian telah selesai, tetapi bingkisan masih belum dikeluarkan oleh tuan rumah, bisa keburu bosan para jemaah menunggunya. Sementara yang lain tengah sibuk mengisi kotak, salah satu tetangga yang dikenal tukang gosip, memberanikan diri bertanya pada Haya. "Hay, adekmu mana?" tanya seorang wanita berbadan tambun yang sedang sibuk mengelap buah-buahan. "Bayu? Tuh!" telunjuk Haya mengarah pada adik bungsunya yang sedang duduk di dekat pintu. "Bukan, yang satunya," sambungnya lagi. "Hafsah? Dia lagi ngelonin anaknya di kamar." Haya menjawab singkat. "Enak bener, ya, saudara-saudaranya sibuk di luar, dia malah enak-enak tidur di kamar." Wanita itu makin berani bersuara, apalagi ditambah sikap keingintahuan dari para tetangga yang lainnya. "Iya, nih. Kasihan Teh Haya dari tadi capek sendiri," celetuk ibu muda di sebelahnya. "Masih sore, kok, udah ngerem di kamar. Pas lagi ada acara pula, gak ada pikirannya sama sekali,” sambung yang lain. Suara-suara sumbang dari para tetangga itu makin terdengar menjerumuskan. Haya yang awalnya tidak mengindahkan, jadi ikut-ikutan terbawa perasaan dan sedikit kesal dengan sang adik yang hanya berdiam di kamar sejak tadi. "Biar saja lah, Ibu-ibu. Saya sudah biasa apa-apa sendiri. Dari dulu, kan, memang saya terus yang diandalkan sama kedua orang tua saya. Kalau Hafsah, dia dari dulu sibuk sekolah, kuliah, dan mengajar. Jadi tidak ada waktu banyak untuk mengurus rumah." Haya berucap tanpa mendongakkan kepala. Ia sampai tak menyadari objek pembicaraannya ternyata sudah hadir di hadapan dan telah bergabung bersama ibu-ibu yang lain. "Maaf, saya lagi kurang sehat, jadi gak bisa bantu-bantu," potong Hafsah yang langsung membuat lidah-lidah yang pintar mengecap itu mendadak kelu, diam seribu bahasa. Termasuk pula Haya. Tanpa memedulikan gelagat yang lain, Hafsah segera mengambil tempat lalu duduk di antara mereka yang sejak tadi membicarakannya. Hening tiba-tiba menyeruak setelah Hafsah datang. Tak ada lagi obrolan ramai seperti yang Hafsah dengar ketika ia datang. Orang-orang hanya sibuk mengelap buah dan menyusun kotak nasi tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi. Sejak Hafsah tiba sampai tahlil selesai, hanya kebisuan yang tampak menghiasi wajah-wajah para tetangganya. Tak ada lagi suara saling cibir, tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang sengaja dilayangkan untuk memicu perdebatan. Semuanya diam. Mulut mereka telah terkunci oleh rasa tak enak hati karena ulah mereka sendiri. *** Semua kerabat dan tetangga dekat sudah kembali ke rumah masing-masing. Tinggal Hafsah berserta dua saudaranya yang masih terjaga sambil menikmati teh hangat di cangkir yang disediakan Hanya di atas meja. Bayu yang esok hari akan kembali ke Jakarta, sengaja mengumpulkan kakak-kakaknya untuk membicarakan hal yang intens. Pemuda itu hanya mengumpulkan dua saudara kandungnya. Sementara Mas Beno, suami kakak sulungnya, diminta untuk menunggu di kamar. Hafsah dan Mbak Haya duduk bersebelahan. Sejak selesai tahlil, mereka belum mengobrol sama sekali. Haya benar-benar merasa tak enak karena keluhannya ternyata didengar oleh sang adik. Sementara Hafsah, ia tak habis pikir kakaknya bisa berbicara seperti itu di depan orang banyak, padahal Haya tahu sendiri bagaimana keadaan Hafsah yang sebenarnya. "Aku minta maaf nyuruh kalian kumpul malam-malam begini." Bayu mulai membuka percakapan. "Mbak gak masalah. Yang penting Lala udah pulas di kamarnya," Hafsah menyahut sembari menyesap teh yang masih sedikit mengepul. "Kamu mau ngomong apa memangnya sampai nyuruh Mas Beno buat nunggu di kamar? Mbak jadi gak enak, Bayu. Mas Beno, kan, suami Mbak. Dia juga keluarga kita," sela Haya dengan raut wajah tertekuk disertai bibir yang mengerucut. "Maaf, Mbak! Tapi yang Bayu mau bicarakan ini adalah sesuatu yang riskan banget, yang cuma bisa dibahas sama anggota keluarga inti aja. Aku, Mbak Haya, Mbak Hafsah, juga Lala kalau bisa," imbuh pemuda bermanik cokelat itu sambil menyodorkan beberapa map yang sebelumnya ia keluarkan dari dalam koper. "Gak usah, lah. Lala masih kecil. Mana ngerti dia." Haya melirik ke arah adik perempuannya, sinis. "Iya, Bay. Sudah, kamu lanjut aja mau ngomong apa. Mbak gak akan bisa ngobrol sama kalian lagi kalau Lala keburu bangun." Hafsah mulai menekan adiknya agar segera mempercepat membahas ke persoalan inti. Bayu mengangguk. Pemuda itu pun segera membuka tali merah yang mengikat tumpukan map di atas meja di hadapannya. "Ini, aku mau ngomongin masalah ini." Bayu mengangkat salah satu map berwarna hijau. "Ini adalah surat wasiat almarhum Bapak. Di dalam sini, juga dituliskan perihal harta warisan. Malam ini, kita akan tuntaskan semua karena aku sudah tidak punya banyak waktu lagi tinggal bersama kalian," tukas Bayu, membuat dua saudaranya menatapnya dengan sorot tak percaya. Hafsah dan Haya. Wajah mereka kompak berubah rona. Membicarakan warisan di tengah suasana duka sangatlah tidak mengenakkan bagi mereka. Tanah kuburan Bapak dan Ibu mereka masih belum kering benar, tetapi salah satu anak, sudah tak sabar ingin membicarakan persoalan warisan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN