Sosok Menyerupai Suami Hafsah

1376 Kata
Hafsah dan Haya masih enggan buka suara meskipun sang adik begitu menggebu-gebu membacakan wasiat mendiang orang tua mereka. Isi dalam wasiat itu mengatakan, bahwa seluruh harta warisan akan dibagi secara adil untuk ketiga ahli waris dengan bagian terhadap anak laki-laki dua kali lipat lebih besar dari anak perempuan. Sementara itu, tiga bersaudara itu harus menyelesaikan hutang piutang kedua orang tua mereka terlebih dahulu yang masih tersisa sekitar 20% dari jumlah harta warisan dan aset-aset peninggalan yang almarhum dan almarhumah tinggalkan.. Begitu lantang Bayu membacakan kata demi kata yang terkandung di dalam surat wasiat agar tak ada satu pun yang terlewat. Kalimat terakhir yang tertera dalam surat itu pun dibacakannya begitu rinci. Di sana tertulis, bahwa rumah peninggalan orang tua mereka tidak boleh dijual dan diperuntukkan untuk Hafsah beserta anak dan suaminya. Keputusan itu sontak membuat Hafsah terkejut. Pasalnya, ia sudah berniat untuk berhenti mengajar dan ikut suaminya pindah ke luar kota. Kalau ia harus terus-terusan menempati rumah peninggalan orang tuanya itu, bagaimana ia bisa ikut pindah dengan suaminya? Tak hanya Hafsah, Haya pun merasa sedikit keberatan karena hanya mendapatkan jatah tanah dan ruko dua lantai yang juga menjadi salah satu usaha milik orang tua mereka dekat pasar. Luas tanah di sana tidak kurang dari 300 meter persegi dengan ukuran bangunan sekitar 50 meter, sangat tidak setara dengan luas tanah dan rumah yang akan diwariskan kepada adik-adiknya. Bayu mencoba menjelaskan kepada sang kakak bahwa mungkin tujuan Bapak memberikan itu adalah agar Haya dan suaminya punya usaha tetap. Sebab selama ini, Beno hanya menjadi buruh tani serabutan di ladang yang penghasilannya tidak menentu karena tergantung pada iklim dan ketersediaan air. Jika Haya dan Beno menjalani usaha agen beras yang memiliki omset yang lumayan besar, kehidupan mereka pasti akan lebih terjamin dari sekarang. Bangunan ruko yang merupakan agen beras itu sudah sangat maju dan bisa menopang perekonomian Haya ke depan. Memang nilai jualnya tidak seberapa, tetapi kalau Haya dan suaminya bisa menjalankan usaha itu dengan baik, mereka akan mendapat nilai keuntungan berkali-kali lipat dibanding dua saudaranya. Entah mengerti atau tidak, tetapi Haya tidak merespons sedikit pun penjelasan adik bungsunya. Wanita itu malah melempar pandangan ke arah lain dengan memasang wajah malas. Sama seperti sang kakak, Hafsah pun tampak bergeming seraya menekuk wajah. Hafsah malas mengeluarkan argumen bukan karena ia tidak senang dengan hasil pembagian, tetapi karena surat wasiat yang menyatakan mendiang ayah dan ibunya ingin ia tetap tinggal. Sementara Hafsah sendiri sedang berjuang untuk bisa hidup bersama-sama dengan suaminya tanpa harus saling berjauhan setiap hari. Sungguh, tinggal berpisah dengan orang yang dijadikan tambatan hati adalah hal yang sangat melelahkan. Hafsah lelah terpasung rindu yang acap kali mengganggu tidurnya di tiap-tiap malam syahdu. Hafsah juga ingin seperti wanita lain, yang bisa berkumpul dan bersenda gurau bersama suaminya setiap waktu. Hafsah ingin bisa meluapkan segala keluh kesah pada sang pemilik rindu agar hari-hari yang ia jalani tak terasa begitu berat. Selama ini, Hafsah hanya diam seribu bahasa tiap kali rindu itu bergejolak dalam d**a. Tidak ada yang bisa wanita itu perbuat selain mendengarkan suara suaminya lewat telepon demi mengobati sedikit keinginannya untuk bertemu. Hal itu selalu ia lakukan setiap hari dan tidak dapat dipungkiri bahwa hatinya tersiksa berkali-kali. Tanpa memedulikan gelagat dua saudaranya, Bayu lantas menutup map dan mengikatnya kembali seperti semula. Pemuda itu hanya ingin mendiskusikan hal tersebut selama ia masih berada di rumah orang tuanya. Sebab menurutnya, saling mengetahui hak-hak satu sama lain akan meminimalisir perdebatan, meskipun akan ada saja tindakan protes yang mungkin akan diajukan oleh siapa pun yang keberatan nantinya. Menurut Bayu, semakin cepat persoalan pembagian harta warisan itu dibahas, maka akan semakin kecil pula tingkat keributan. Tho, orang tua mereka sudah benar-benar memikirkan apa-apa yang baik untuk ketiga anaknya. Bayu rasa, keputusan kedua orang tuanya sudah cukup adil dan ia pun tidak merasa keberatan sama sekali. "Aku cuma mau bahas tentang ini saja, aku gak ada maksud ingin mendahului kalian, kakak-kakakku. Tho, kita bisa saling tau dan saling memahami sekarang. Jadi untuk kedepannya, aku harap gak ada di antara kita yang mempermasalahkan warisan ini karena kita sudah membahasnya." Bayu mengakhiri ucapan dengan mengulurkan tangan, meminta kedua kakaknya untuk berjabat tangan. Hafsah menatap adiknya lekat-lekat. Disambutnya tangan sang adik meski masih belum terukir kebahagiaan pada wajah tirusnya. Sementara itu, Haya yang masih tak mau bertatap muka, menggamit tangan adiknya tanpa menoleh. Bayu berdeham, tetapi Haya tetap tidak mau meresponsnya atau bahkan sekadar menatap wajah sang adik. Tanpa memedulikan gelagat dua orang di hadapannya, Bayu segera beranjak menyimpan berkas-berkas kembali ke dalam lemari kamarnya. Tugasnya untuk menyampaikan amanat sudah selesai. Diterima atau tidak oleh dua saudaranya, itu sudah bukan urusannya lagi. Malam semakin larut, lagi-lagi Hafsah merasakan aura tidak nyaman di kamar putrinya. Ia meminta Bayu untuk tetap di rumah karena takut peristiwa kemarin malam akan kembali terulang. Bayu yang sebelumnya hendak pergi berkumpul bersama teman-temannya pun , memilih menggunakan permintaan Hafsah lantaran tak ingin kejadian semalam kembali terulang. Di dalam kamar sang putri, Hafsah tampak sibuk dengan benda pipih lima inci di tangannya. Hafsah dan suaminya sedang saling membalas pesan dengan topik pembahasan persoalan warisan. Tak lupa pula wanita itu mengeluhkan apa yang sedang dia rasakan malam ini. Mendengar berbagai keluhan yang istrinya keluarkan, Mas Jamil hanya bisa mengingatkan sang istri untuk tetap melantunkan doa agar segala kerisauan hati hilang segera. "Mas, aku kangen!" ucap Hafsah pada suaminya ketika mereka memutuskan untuk bicara lewat telepon. "Sama, Mas juga kangen banget sama kamu, sama Lala juga. Kalian baik-baik, ya, di sana! Minggu depan insyaallah aku pulang." Jamil terdengar begitu merindukan dua orang tersayang yang saat ini sedang berada jauh darinya. "Yang benar, Mas? Bukannya, masih satu bulan lagi kerajaanmu selesai?" Hafsah menanggapinya dengan nada tak percaya. "Enggak, Dek. Kebetulan suplai bahan baku lagi mengalami keterlambatan sampai satu bulan ke depan, jadi Mas hanya kerja ngabisin sisa bahan saja, abis itu Mas bisa pulang." Jamil kembali menerangkan dengan begitu antusias. Tak bisa dibayangkan bahagianya Hafsah mendengar hal itu. Ia yang sudah sepuluh minggu ditinggal suaminya, merasa seperti daun keladi yang baru ditimpa gerimis selama berbulan-bulan. Rindunya kini bersambut sudah. Ia sudah tak sabar menunggu momen-momen indah menyambut kepulangan suaminya satu minggu lagi. Panggilan sudah berakhir beberapa menit yang lalu, tetapi suara sang suami masih tertinggal di hati Hafsah. Hafsah yang tadinya merasa waswas, mendadak tersipu malu membayangkan hal-hal indah sebelum akhirnya terlelap dalam binar tawa. Deru angin semakin menyingsing. Gelap mencekam di sekitar rumah dengan luas bangunan lebih dari 200 m² itu semakin menambah kesan seram. Dua orang di dalam rumah tersebut meninggal dengan cara yang menurut orang-orang sekitar sangat tidak wajar. Bahkan, setelah kematian pun, teror-teror terus berdatangan dan menyambangi keluarga Bayu setiap harinya. Pagar bambu yang membatasi halaman rumah dengan tanah warga, sedikit bergerak akibat embusan angin yang terlampau kencang. Suara lonceng mainan Lala yang tergantung di dekat pintu, terus berbunyi seperti menandakan akan datangnya seseorang. Dari pintu pagar, tampak seorang pria berjaket hitam dengan celana jeans panjang berwarna senada, melangkah pelan sembari menyeret koper besar. Ia melangkah mantap menuju pintu rumah orang tua Bayu, kemudian mengetuknya dua kali tanpa menyuarakan salam . Hening menyergap, tak ada siapa pun yang bangun untuk membukakan pintu. Seluruh penghuni di dalam rumah sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Tidak mendapat respons, Pria itu pun kembali melayangkan ketukan untuk kedua kalinya dengan suara lebih keras. Hafsah membuka mata. Ia tiba-tiba merasa seperti mendengar ada suara ketukan dari luar. Tanpa berpikir lama dan tanpa melihat jam terlebih dahulu, wanita itu pun bangun dan turun dari ranjang. Baru saja ia melangkah keluar kamar, suara ketukan itu kembali merambat ke telinganya. "Si-siapa yang datang malam-malam gini?" Hafsah menghentikan gerak. Ia mulai ragu dan urung membukakan pintu. "Dek, ini Mas, Dek!" Suara dari balik pintu sontak membuang prasangka buruk wanita itu melebur menjadi bunga-bunga rindu yang berhamburan di relung hatinya. Hafsah yang kegirangan, gegas berjalan menuju ruang tamu dengan binar tawa yang tidak bisa ia sembunyikan. Dinyalakannya lampu-lampu utama agar beberapa ruangan tampak terang, tak lagi gelap mencekam. Ketukan dan suara pria di balik pintu sudah berhenti, tetapi Hafsah masih menggebu-gebu untuk segera menyambut sang tambatan hati. "Mas Jamil!" Hafsah langsung memeluk sosok tampan di hadapan setelah pintu ia buka. Pria itu pun langsung membalas pelukan sembari melempar seringai. Mata pria yang dianggap Mas Jamil itu menyala merah. Wajahnya tampak penuh nafsu yang menggebu-gebu seolah-olah tidak sabar ingin segera menghabiskan malam bersama wanita dalam pelukannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN