Terkena Guna-guna

1262 Kata
Dinginnya malam mulai merambat masuk melalui pintu utama yang sempat terbuka. Di dalam kamarnya, Bayu merasakan panggilan alam yang memaksanya harus segera terjaga di tengah rasa kantuk yang teramat sangat. Dengan susah payah pemuda itu merenggangkan kelopak mata yang rapat, lalu berjalan sempoyongan membawa raga yang setengah sadar. Tangannya terulur membuka pintu. Ia sontak memicing saat sinar lampu utama ruang tengah menyilaukan penglihatannya. "Siapa yang nyalain lampu malam-malam begini, sih?" gumam pemuda itu. Ia ingat telah mematikan seluruh lampu sebelum beranjak tidur. Dengan wajah malas, Bayu menuju ruang tengah dan ruang tamu untuk menurunkan sakelar. Lampu kembali padam. Pemuda itu gegas bergerak menuju kamar mandi untuk menunaikan hajatnya yang sudah diujung pintu. Ketika melewati kamar Hafsah, tiba-tiba ia mendengar suara aneh dari dalam sana. Bunyinya terdengar seperti rintihan dan erangan yang saling bersahutan. Rasa ingin tahunya seketika melonjak, mengingat sang kakak sedang tidak bersama suaminya malam itu. Baru saja Bayu hendak membuka pintu, tetapi rasa mulas kembali menyerang hingga ia pun tidak sanggup lagi menahan. Pemuda itu lari terbirit-b***t sambil memegangi perutnya, tanpa mengindahkan suara aneh yang terdengar sangat jelas dari dalam kamar Hafsah. Di dalam kamar mandi, pikiran Bayu terus tertuju pada bunyi-bunyian itu. Ia memang masih perjaka dan belum pernah bercinta dengan seorang wanita, tetapi itu tidak menjadikannya pemuda polos yang tidak tahu sama sekali kegiatan yang biasa dilakukan oleh sepasang suami istri. Bayu adalah pemuda metropolitan yang jauh dari kesan lugu. Meskipun tetap berusaha menjaga nama baik keluarga, tidak serta-merta membuatnya hilang ketertarikan pada sesuatu yang mengundang kenikmatan. Mendengar suara desahan itu membuat otaknya bertamasya keliling dunia. Sebab, baru kali pertama Bayu mendengar suara seperti itu selama tinggal di rumah orang tuanya. Rasa risi tentu ada. Namun, pemuda itu lebih kepada penasaran mengingat bahwa suami Hafsah sedang bekerja ke luar kota sejak dua bulan lalu. Semakin lama Bayu berada di dalam kamar mandi, semakin jiwa ingin tahunya meronta-ronta. Bukan karena otaknya sedang kotor, tetapi karena ia merasakan hal janggal yang harus segera ia ketahui secara pasti kebenarannya. Setelah mulasnya hilang, Bayu cepat-cepat membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi. Baru saja membuka pintu, ia kembali dikejutkan dengan sosok Hafsah yang sudah berdiri di hadapan. "Mbak?" Wajah pemuda itu memerah dan tampak kebingungan. "Lama banget kamu Mbak tungguin." Hafsah menyahut sekilas, kemudian menyerobot masuk dan langsung mengunci pintu kamar mandi. Bayu hanya bisa tertegun dengan sejuta lamunan. Baru saja hendak mencari tahu, tetapi tersangkanya sudah muncul lebih dulu di depan pintu. Meskipun begitu, rasa penasaran belum kunjung hilang dalam benaknya, Bayu kembali mencoba mencari tahu dengan mengunjungi kamar kakaknya diam-diam. Bayu sudah berada di depan pintu kamar Hafsah. Ia melirik ke arah dapur terlebih dahulu sebelum menggerakkan daun pintu untuk mengawasi. Sang kakak masih belum keluar dari kamar mandi, itu adalah kesempatannya untuk masuk dan mengecek kondisi dalam kamar Hafsah yang belum lama terdengar suara-suara tidak mengenakkan. Pintu pun terbuka dengan satu kali tarikan handle. Bayu masuk terburu-buru dan kembali menutup pintu agar tak sampai ada orang yang tahu Suasana kamar Hafsah begitu gelap. Tangan pemuda itu sampai meraba-raba dinding seraya mencari sakelar untuk menyalakan lampu. Belum juga ia menemukan kontak lampu, tiba-tiba tubuhnya bergidik lantaran ada sesuatu lembut yang menyentuh wajahnya. Pemuda itu sontak mengibas-ngibas wajah dan leher. Ia merasa seperti ada sesuatu berbulu lebat, lewat di hadapannya. "Siapa itu?" pekik Bayu dengan mata berkelana di tengah kegelapan. Hal yang mustahil memang mencari keberadaan seseorang atau sesuatu di dalam ruangan tanpa cahaya. Pemuda itu sempat menghentikan gerak sambil mengatur napas. Ia berusaha mengamati siapa tahu ada respons kedua yang kembali ia tangkap. Nihil, pemuda itu tak lagi mendengar atau merasakan apa-apa. Ia pun segera beranjak mencari sakelar dan menyalakannya. Lampu di kamar pun menyala terang. Kondisi seisi ruangan sudah dapat ia tangkap dengan jelas. Bayu melihat seprei yang tergulung serta bantal yang berserakan di lantai. Akan tetapi, ia tak menemukan seseorang pun berada di dalam. "Perasaan tadi ada yang lewat." Bayu mulai waswas. Pemandangan yang cukup mencengangkan bagi pemuda itu, mengingat kebiasaan kakaknya yang sangat mendahulukan kerapian dan tidak suka sesuatu yang berantakan. Melihat kondisi kamar yang acak-acakan seperti kapal pecah, membuat prasangka Bayu meluas semakin menjadi-jadi. Kalau disangkutpautkan dengan suara bising yang beberapa saat ia dengar, itu berarti kayaknya baru saja melakukan hubungan badan dengan seseorang. "Tapi, sama siapa? Apa Mas Jamil sudah pulang? Atau mungkin ...." Bayu tidak sampai hati meneruskan kalimatnya. Ia memukul-mukul kepala sendiri karena telah lancang berpikir yang macam-macam tentang saudara kandungnya itu. Tidak mau berlama-lama terpasung dalam pikiran buruk, pemuda itu segera berbalik setelah mematikan lampu. Ia harus segera keluar sebelum Hafsah datang. Bisa dituduh macam-macam ia kalau sampai ketahuan menyelinap ke kamar kakaknya malam-malam. Bayu kembali ke kamarnya dan merebahkan diri. Meskipun masih ditimpa rasa penasaran, tetapi ia tetap berpikir positif. Mungkin saja kakak iparnya sudah pulang dan sedang menengok Lala di kamarnya, maka dari itu ia tidak sempat melihat. *** Keesokan harinya, benar saja, Hafsah duduk di ruang tamu sembari menyuapi putrinya dengan kondisi rambut basah. Wanita itu tampak begitu semringah berbeda dari biasanya. Senyum lebar menghiasi sudut bibir kemerahannya. Hal yang mencengangkan bagi Bayu karena tak pernah melihat kakaknya berdandan sampai setebal itu. Bayu yang sedari tadi memperhatikan kakaknya mendapatkan deheman keras. "Kenapa kamu liatin Mbak sampai kaya gitu? Ada yang aneh?" tanya Hafsah tanpa menoleh muka. Tentu saja Bayu terkejut kalang kabut. Suara kakaknya berhasil membuyarkan lamunan pemuda itu yang masih saja mengingat kejadian semalam. "A-aku kaget aja. Tumben Mbak dandan. Memang Mas Jamil udah pulang?" Bayu menyahut dengan sedikit gugup. Tentu saja, ketahuan ketika sedang memperhatikan seseorang itu ibarat maling yang tertangkap basah sedang mencuri barang. Rasa malu dan tidak enak, berbaur menjadi satu. Ingin rasanya pemuda itu mengganti wajah dengan wajah lain kalau bisa. "Udah. Semalam Mas Jamil pulang, tapi pergi lagi. Katanya mau ngurus-ngurus berkas," jawab Hafsah, yang masih sibuk menyuapi anaknya. "Pulang, terus pergi lagi? Tengah malam?" tanya pemuda itu dengan nada menekan. Jelas saja, mana ada orang pulang pergi tengah malam seperti itu. Memangnya, tidak ada waktu siang hari untuk melanjutkan pekerjaan? Bayu kembali dihantam ragu mendengar penjelasan kakaknya. "Ya. Penting katanya!" jawab Hafsah singkat, kemudian berlalu membereskan piring kotor sisa makan putrinya. Bayu terdiam di sofa. Ia merasa apa yang dikatakan kakaknya sama sekali tidak masuk akal. Kakak iparnya pulang, lalu pergi lagi tengah malam. Manusia mana yang nekat pulang dan kembali bekerja di jam segitu. Apa tidak ada waktu lain? *** Sementara itu, Haya dan suaminya sedang sibuk memilih-milih buah di pasar. Malam nanti adalah malam ketiga. Ia dan Mas Beno sudah berangkat ke pasar pagi-pagi buta untuk membeli keperluan masak. "Eh, Mbak Haya, lagi belanja?" tanya seorang wanita berperawakan kurus yang sedang memilih buah juga di sampingnya. "Iya, Bu, buat tahlil nanti malam," sahutnya sambil tangan terus memutar-mutar buat jeruk di hadapan. "Oh iya, Mbak. Sebenarnya aku kepengen ngomong ini udah lama, lho. Tapi ... kok, ya, gak enak!" Tiba-tiba wanita itu merapatkan wajahnya ke wajah Haya sambil berbisik-bisik. Haya melongok, kemudian menghentikan aktivitasnya detik itu juga. Ia melepaskan buah jeruk lalu menoleh ke arah lawan bicara. "Gak enak kenapa? Ngomong aja, Bu! Kaya sama siapa aja." Haya berusaha bersikap tenang meskipun ucapan wanita di sampingnya berhasil mengacaukan pikiran. "Anu, tapi Mbak jangan bilang siapa-siapa, ya?" Wanita bertubuh kurus itu semakin mendekatkan bibirnya ke telinga Haya. Haya mengangguk dan refleks ikut-ikutan mendekat. "Ini, lho, Mbak. Maaf-maaf, nih! Kata orang kampung, orang tua Mbak itu meninggalnya gak wajar. Kaya kena santet atau guna-guna gitu. Dan katanya nih, ya, Bang Bonan tukang ikan, pernah ngeliat dua bola api yang terbang-terbangan di atas genteng rumah Mbak Haya sebelum orang tua Mbak meninggal dunia. Ih, aku merinding, lho, dengernya," ucap wanita itu sambil bergidik ngeri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN