Di atas motor yang dikendarai suaminya, pikiran Haya terus melalang buana. Ucapan salah satu tetangga yang sering membantunya memasak di acara tahlilan, membuat wanita itu ingin segera pulang dan membahas topik mencengangkan pada kedua adiknya itu.
"Assalamualaikum!" ucap Haya sesampainya di rumah. Ia menenteng dua keranjang besar berisi potongan ayam, sayur mayur, dan bumbu, sementara Mas Beno memanggul dua karung berisi kue dan buah-buahan.
Bayu gegas membantu kakak iparnya memasukkan bahan-bahan masakan ke dapur. Di sana sudah siap dua orang wanita setengah baya yang akan membantu mengolah hidangan untuk acara tahlilan nanti malam.
Sementara itu, Hafsah masih betah di dalam kamar. Entah sedang apa dia di sana, padahal putrinya terus memanggil-manggilnya sambil merengek-rengek minta dibuatkan s**u. Bayu yang juga tidak berhasil membuat kakaknya keluar meski berkali-kali mengetuk pintu, akhirnya terpaksa memenuhi permintaan keponakannya dengan membuatkan s**u kedelai. Lala pun akhirnya tertidur setelah menghabiskan segelas s**u.
"Hafsah mana?" tanya Mbak Haya di sela mencuci potongan ayam di keran samping rumah.
Bayu yang kebetulan sedang mengupas kelapa di sana, hanya mengedikkan bahu sembari menggeleng-geleng.
"Mbak mau ngomong, penting!" ucap wanita berjilbab hitam itu sejenak menghentikan gerak.
Sama halnya dengan sang kakak, Bayu pun lekas berhenti mengayunkan golok dan meletakkannya kembali di tanah. Wajah penuh keringat itu tampak begitu serius. Bayu tahu betul kalau kakaknya itu sudah bicara, pasti ada hal yang sangat penting yang sangat mendesak.
"Ada apa, Mbak?" Alis pemuda itu mengerut.
"Mbak mau ngomong soal mendiang Bapak sama Ibu." Jaya berkata dengan wajah yang sangat serius.
"Soal Bapak sama Ibu?" tekan Bayu.
Haya mengangguk, ia lalu menceritakan perihal kecurigaannya terhadap penyakit yang dialami kedua orang mereka. Haya merasa penyakit itu tidak wajar, apalagi datang di saat yang bersamaan dan membuat ibu dan bapak mereka meninggal secara tiba-tiba.
Bayu yang mendengar hal itu cuma merespons dengan mencebik bibir. Pemuda metropolitan yang hobinya bermain games itu tidak serta merta percaya dengan ucapan kakaknya. Namun, ia tetap berusaha menanggapi wanita di depannya dengan kalimat menenangkan agar wanita itu tidak tersinggung.
"Udah, lah, Mbak. Jangan dengar apa kata orang! Bapak sama Ibu insyaallah sudah tenang di sana. Mbak jangan berpikiran yang macam-macam yang nantinya akan ngerusak iman kita," terang Bayu dengan merendahkan intonasi suara.
Bayu memang sudah menjadi pemuda kota yang hidupnya jauh dari kesan tradisional. Akan tetapi, pemikirannya sudah lumayan matang dibandingkan dengan usianya. Hal itu membuatnya tampak lebih dewasa dan lebih seperti sosok Abang di antara dua kakaknya.
Akan tetapi, satu hal yang menjadi momok buruk bagi kehidupan pemuda itu. Ia sempat pernah terjerat obat-obatan terlarang dan masuk ke panti rehabilitasi selama enam bulan. Hal itulah yang membuat Bayu kurang diterima di kampungnya. Dua tahun setelah terbebas dari jerat narkoba, Bayu memilih merantau ke Jakarta untuk mencari peruntungan di sana.
"Tapi Mbak juga merasa ada yang beda sama Hafsah, Bay." sambung Haya. Nada suaranya makin terdengar meyakinkan.
Bayu pun tak bisa mengelak mendengar penuturan Haya yang menyebut nama Hafsah. Pasalnya, ia pun merasa beberapa hari ini, kakak keduanya itu berperilaku sangat aneh. Mulai dari jerit-jerit di kamar Lala, menceburkan diri ke dalam sumur, sampai mengaku suaminya telah pulang, padahal Bayu tidak melihat kehadiran Mas Jamil sama sekali kemarin malam.
Terlebih siang ini, Hafsah terus saja mengurung diri di kamar setelah sempat menyuapi anaknya sarapan. Entah apa yang dilakukan wanita itu selama berjam-jam di sana, sampai tidak mengindahkan anaknya yang terus menangis meminta agar ibunya membuatkan s**u.
"Kalau menurut Mbak Haya, gimana?" Bayu mendekatkan wajahnya ke arah sang kakak.
"Gak tau, deh, Bay. Mbak juga bingung. Hafsah jadi kaya orang stres gitu. Kamu ngerasa, nggak, sih?" Haya menatap wajah adiknya lekat.
Bayu hanya mengangguk merespons sang kakak.
"Bayu juga merasa aneh sebenarnya. Mbak Hafsah mendadak berubah semenjak Ibu sama Bapak meninggal. Apa kita bawa dia berobat saja ke psikiater, Mbak? Mungkin Mbak Hafsah mengalami traumatis atau bisa juga depresi?" imbuh pemuda itu, berusaha mencari jalan keluar untuk masalah yang sedang keluarganya hadapi.
"Ke mana katamu? Mbak gak ngerti!" Haya menimpali.
"Ke psikiater, Mbak. Ke ahli psikologi yang sering menangani orang-orang yang terkena gangguan mental. Mungkin saja Mbak Hafsah mengalami berbagai tekanan dan trauma yang kita tidak tahu. Bisa saja, kan! Mbak Hafsah memendam masalah terlalu lama sampai-sampai sikapnya berubah seperti itu," terang Bayu, berusaha membuat kakaknya mengerti.
Haya yang memang tidak mengerti sama sekali perihal tindakan medis, apalagi persoalan gangguan mental, menjadi sedikit ambigu dan merasa tidak nyambung sama sekali berbicara dengan adik bungsunya.
"Gak tau, ah. Mbak gak ngerti masalah gitu-gituan." Haya mengibas tangannya. "Tapi kalau menurut Mbak, nih, ya. Kenapa Hafsah gak kita bawa ke orang pinter aja, biar kita tau apa yang menyebabkan dia seperti itu. Kalau dibiarin terus-terusan kaya gini, kasihan dia, Bay." Wajah Haya mendadak lesu dengan sudut bibir yang ditekuk ke bawah.
Bayu mengernyit. Ia tahu betul ke mana arah bicara kakak sulungnya. Ia merasa sudah terbiasa berlawanan arah ketika berbicara dengan Mbak Haya. Bayu tidak kaget lagi. Sebab Haya dan suaminya memang masih kuat memegang teguh tradisi perdukunan sejak zaman dahulu, termasuk yang ayah dan ibunya sering lakukan, yakni meminta sesuatu kepada orang pintar yang mereka anggap memiliki kesaktian.
"Memangnya Mbak Hafsah mau di bawa ke mana? Dukun?" Bayu tersenyum sinis.
"Bukan, Bay. Ke orang pintar, buat dibaca-bacain," kilah Haya, berusaha meyakinkan adik bungsunya.
"Sama aja dukun!"
Haya menarik napas panjang. Ia tahu betul tabiat Bayu yang sulit sekali mempercayai hal-hal mistis di luar nalar manusia. Mungkin akibat dari pergaulannya di kota yang berdampingan dengan kaum hedonisme, juga karena sifatnya yang selalu berusaha mengedepankan akal dan teori-teori kelogisan dalam menanggapi suatu masalah.
Sulit bagi dua orang beda pemahaman itu menemukan titik temu yang bisa dijadikan jalan keluar. Namun, mereka tetap melanjutkan diskusi dengan mengubah topik pembicaraan agar ketegangan tidak lagi tergambar.
"Menu nasi kotak buat acara malam ini apa, Mbak?" tanya Bayu.
"Ayam serundeng, sama bihun goreng, sama perkedel," jawab Haya sambil menyelesaikan pekerjaannya.
Keduanya pun kembali bertukar cerita hangat meski permasalahan menyangkut Hafsah masih tertanam di dalam pikiran masing-masing tanpa adanya penyelesaian yang pasti.
***
[Mas Jamil, kapan pulang lagi. Aku udah kangen lagi tau, Mas. Padahal baru semalam sama Mas]
Pesan terkirim ke salah satu nomor yang bertuliskan nama 'Mas Jamil'.
Hafsah terus merekahkan senyum sembari memeluk ponselnya. Wajahnya berseri-seri seperti orang yang sedang jatuh cinta untuk yang ke sekian kali.
Kantung mata wanita itu sedikit menghitam, mungkin karena ia kurang tidur setelah menghabiskan waktu semalaman bersama suaminya. Dua bulan tidak bersua, membuat benih-benih rindu tidak dapat lagi terbendung. Tercurah sudah luapan cinta yang telah lama ia tunggu dengan penuh kasih mesra. Hafsah merasa dirinya bahagia luar biasa. Perlakuan suaminya terhadapnya semalam, masih terngiang-ngiang selalu di dalam pikirannya.
Bayangan malam itu masih teringat jelas oleh Hafsah. Bayangan di mana suaminya menyentuhnya dengan lembut hingga membuatnya seperti melayang di udara. Sungguh malam indah yang tidak pernah Hafsah rasakan sebelumnya. Suaminya tampak sangat agresif, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang sedikit kaku dan terkesan menjemukan.
Hafsah memejamkan mata sejenak. Siang itu, ia seperti tidak memikirkan apa-apa lagi selain suaminya sendiri. Wajah maskulin Jamil yang tak hilang dalam pikirannya, membuat wanita itu sulit mengatup bibir, terus-terusan cengar-cengir.
Karena terlalu hanyut dalam bayang-bayang cinta, Hafsah sampai tak sadar ketiduran dengan tangan masih menggenggam ponsel yang menyala. Panggilan masuk dari Mas Jamil tidak sama sekali digubris oleh Hafsah yang sudah tertidur pulas. Hingga tiga panggilan terabaikan, akhirnya muncul notifikasi pesan masuk yang bisa terbaca pada sisi atas ponsel tanpa perlu membukanya.
[Kamu ngomong apa? Mas gak pulang semalam. Mas masih di Kalimantan]
Beberapa detik setelah pesan itu masuk, layar ponsel Hafsah tiba-tiba bergeser dengan sendirinya. Seperti ada yang memainkan ponsel tersebut padahal tidak ada seseorang di kamar itu kecuali Hafsah yang ketiduran.
Menu berlogo amplop putih dan item kontak masuk pun terbuka. Pesan yang dikirim Mas Jamil tiba-tiba terhapus dengan sendirinya. Ponsel di atas tangan Hafsah kembali meredup, lalu mati sendiri.