Suara-suara Tak Kasat Mata

1307 Kata
Pukul 04.00 sore. Haya bersama suaminya diam-diam mengunjungi Ki Mutar untuk mengundang ke acara tahlil ketiga malam nanti. keduanya tidak hanya berniat mengundang, tetapi juga meminta bantuan pada Ki Mutar untuk mengobati adik mereka, Hafsah. "Bagaimana, Ki?" tanya Beno memastikan. Lelaki tiga puluh enam tahun itu begitu berharap sosok yang dikenal sakti itu bersedia menerima undangannya. Begitu juga Haya, ia ingin lekas mengobati Hafsah sebelum Bayu kembali ke Jakarta. Kalau Bayu sudah pulang, siapa yang akan membayar biaya pengobatan nantinya. Haya dan suaminya tidak punya cukup uang. Lagi pun, agenda pembagian warisan masih belum ditangguhkan. Toko beras yang kelak suaminya akan kelola belum dibuka karena masih dalam suasana duka. Padahal, uang di dompetnya hanya tersisa dua lembar, paling bisa ia dan suaminya bertahan kurang dari tiga hari. "Baiklah, saya akan datang. Tapi mohon maaf, saya hanya bisa hadir di atas jam sembilan malam. Sebab ada urusan penting yang harus saya dahulukan," tegas lelaki paruh baya itu sambil memilin tembakau di tangannya. Haya dan Beno bernapas lega. Tak apa jika Ki Mutar tidak menghadiri acara tahlilan, asalkan ia bisa datang untuk melihat kondisi Hafsah dan mengobatinya. "Terima kasih, Ki, kami tunggu kedatangan Aki di rumah," Beno berdeku sembari menangkupkan tangan di atas kepala. Sepasang suami-istri itu pun pamit. Beno sempat menyelipkan amplop ke tangan Ki Mutar saat mereka berjabat tangan. *** Malam setelah acara tahlilan selesai, Bayu tampak sibuk memasukkan baju dan beberapa barang ke dalam koper. Besok, sehabis subuh, ia berniat bertolak ke Jakarta lantaran masa cutinya telah selesai. Sebagai pegawai swasta, Bayu hanya diberi izin selama tiga hari selama masa duka. Jika Bayu menginginkan libur lebih dari itu, otomatis perusahaan akan memotong gajinya karena dianggap tidak hadir tanpa keterangan atau izin. Hafsah yang sejak kemarin malam menjadi buah bibir saudaranya, telah berada dalam kamar menemani Lala tidur. Seharian tadi pun, ia hanya keluar untuk makan dan menyuapi anaknya saja, sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam kamar sementara yang lain sedang sibuk mengolah dan mempersiapkan bingkisan untuk acara tahlilan. Haya dan suaminya masih mengobrol di teras rumah. Mata mereka jauh memandang ke arah jalan dengan perasaan waswas. Mereka takut bila Ki Mutar tidak menepati janji untuk datang malam ini. Haya beranjak sejenak untuk mengintip jam dinding di ruang tamu. Jarum pendeknya sudah hampir menyentuh angka sepuluh, tetapi masih belum juga ada tanda-tanda kedatangan orang pintar itu. Raut wajah sepasang suami istri itu mendadak lesu, merasa usaha mereka akan sia-sia jika Ki Mutar sampai tidak datang memenuhi undangan mereka. Merasa bosan menunggu di luar, Beno pun mengajak istrinya masuk sebab angin malam sudah mulai terasa dingin menusuk pori-pori. Namun, baru saja lelaki itu hendak menutup pintu, tiba-tiba deru motor tua terdengar dari arah pagar depan rumah mereka. Beno dan Haya gegas pun segera lari ke luar. Mereka menyambut kedatangan Ki Mutar bersama seorang laki-laki setengah baya yang merupakan salah satu anak buah kepercayaannya. *** "Mbak Haya apa-apaan, sih? Udah aku bilang, aku gak senang berurusan dengan orang pintar, atau dukun, atau apalah itu!" protes Bayu pada kakaknya. Pemuda bertubuh tegap itu terus mengekor di belakang Haya yang sedang menyiapkan beberapa persyaratan yang akan digunakan sebagai sarana pengobatan Hafsah malam ini. "Lihat, ini!" Bayu menunjuk ke arah tampah yang sudah terisi berbagai jenis persembahan yang sudah ditaburi kembang tujuh rupa. Di atas tampah kecil berdiameter 24 senti meter itu, terdapat berbagai jenis minuman. Di antaranya ada kopi pahit, kopi manis, teh pahit, teh manis, juga air putih berisi bunga dan tiga puntung rokok beserta asbaknya. Bayu menggeleng berkali-kali, lalu meremas rambut dengan kuat karena merasa telah gagal menasihati kakak sulungnya. Sejak zaman Ayah dan ibunya masih hidup hingga saat ini, pemuda itu tidak pernah sama sekali mempercayai praktik perdukunan. Menurutnya, para dukun yang dipercayai sebagai orang sakti itu tidak lebih dari seorang penipu. Mereka menggunakan benda-benda bertuah sebagai alat untuk mengikat kepercayaan orang-orang yang datang meminta bantuan kepada mereka. Hidup di lingkungan kampung yang masih sangat kental dengan nuansa mistik adalah salah satu alasan Bayu keluar dari kampung halaman dan merantau ke kota. Selain ingin mencoba peruntungan, rupanya pemuda lulusan SMK jurusan otomotif itu juga sengaja menjauhkan diri dari pengaruh stigma masyarakat di kampungnya yang rata-rata masih berpikiran kolot. Di antara tradisi mistis yang sering kali Bayu lihat di kampung halamannya antara lain adalah, adanya sesajen di setiap acara hajatan, baik pernikahan ataupun khitanan. Biasanya si pemilik hajat menyiapkan beberapa menu makanan dan juga buah-buahan yang di taruh di kamar yang tertutup, yang artinya tidak boleh ada seorang pun masuk ke sana. Alasannya agar acara berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala seperti hujan, dan juga gangguan makhluk halus yang sering merasuki salah satu keluarga jika mereka lupa menaruh persembahan. Tak hanya itu, menyediakan persembahan pun dilangsir bisa mengundang banyak orang yang datang ke rumah si pemilik hajat dan melipatgandakan rezeki mereka. Yang tadinya tetangga malas hadir, menjadi hadir. Yang tadinya para tamu mau isi amplop dua puluh ribu, menjadi lima puluh ribu. Sungguh tradisi yang mencolok sekali bagi Bayu yang sedikit paham ilmu. Menurutnya, segala sesuatu yang datang, baik rezeki maupun bala, semua tak lepas dari ketentuan Allah SWT, bukan dari hasil menyiapkan sesajen yang dipersembahkan entah untuk siapa. Ada pula tradisi menabur rambut mayat di atas makam. Bayu sering kali merasa risi setiap menyaksikan hal itu. Konon, menurut warga kampung, orang yang meninggal setelah melahirkan atau akibat kecelakaan itu arwahnya akan gentayangan. Warga pun inisiatif menggunting rambut si mayat lalu menaburinya di atas kuburan. Mereka melakukan hal itu agar arwah si mayat tidak gentayangan ke rumah-rumah warga karena sudah sibuk memunguti rambutnya yang tertinggal. Sungguh miris sekali. Pemuda itu pernah sekali protes, tetapi kalah suara oleh banyaknya orang yang mencecarnya. "Alah, pernah pake narkoba aja, pake gaya-gayaan nasehatin orang segala. Urus aja dirimu sendiri, udah benar, belum?" Kira-kira seperti itu respons warga terhadap sikap protesnya. Bayu hanya bisa menghela napas ketika dihantam ribuan caci. Ia tidak sama sekali merasa menasihati, ia hanya kasihan terhadap jenazah yang terus menjadi bahan gunjingan warga tersebab cara kematian yang menurut mereka tak wajar. Tidak wajar kenapa? Justru orang yang meninggal setelah melahirkan itu dimasukkan ke dalam golongan mati syahid. Begitu pun orang yang meninggal karena kecelakaan, tidak serta-merta diartikan sebagai akhir hidup yang buruk selama orang tersebut memiliki timbangan amal ibadah yang penuh kebajikan selama hidupnya. Berbagai stigma kuno yang bersifat negatif tidak seharusnya masih dilestarikan di zaman yang sudah serba modern. Sebab hal itu tidak patut dicontoh untuk anak cucu mereka nantinya. *** Di ruang tengah, Ki Mutar bersama anak buahnya duduk bersila menghadap ke arah timur. Di hadapan mereka, Hafsah bersimpuh seraya menundukkan kepala mengikuti arahan kakaknya. Mbak Haya duduk di belakang Hafsah. Kedua tangannya menahan bahu adiknya agar tetap tegap selama menjalani proses pengobatan. Berbagai macam sesajen telah diletakkan di tengah-tengah mereka. Aroma bakaran kemenyan yang begitu kuat, membuat Bayu tidak melepaskan tangannya dari hidung. "Matikan lampunya!" perintah Ki Mutar yang dibalas anggukan Beno. Beno gegas menuju sakelar kemudian menurunkannya. Kegelapan sontak menyerang seisi rumah. Hanya cahaya lilin di sekitar sesajen yang menyumbang sedikit cahaya, meskipun temaram dan mengerjap-ngerjap saat tertampar angin. "Kenapa dimatikan?" Bayu bertanya dari kejauhan. Pemuda itu memilih berdiri di sudut lain meskipun matanya tidak lepas memandangi gerak gerik dua dukun yang sedang memainkan perannya. Mulut Ki Mutar bergerak-gerak sambil memejamkan mata. Ia tidak sama sekali mengindahkan pertanyaan pemuda yang terus memasang wajah masam semenjak ia tiba di sana. "Oke, aku nyalahin lagi," ujar Bayu seraya berjalan menuju sakelar. "Tunggu!" Suara Ki Mutar berhasil menginterupsi langkah pemuda itu. "Jangan dinyalakan lampunya! Pasukanku tidak akan mau datang ke tempat yang terang benderang," sambung dukun itu lalu melanjutkan membaca mantra. Seketika itu juga angin bertiup kencang. Entah dari mana datangnya angin tersebut yang embusannya hampir menjatuhkan gelas-gelas kopi dan memadamkan lilin yang hanya satu-satunya penerangan di sana. Suara gemuruh yang membuat bulu kuduk merinding, seolah-olah tidak mau pergi. Rumah yang awalnya terasa hening, berubah menjadi berisik dengan suara-suara tak kasat mata yang terus tertawa saling bersahutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN