Paku dan Jarum dari Kepala

1074 Kata
Bab 9 “Barangsiapa mendatangi ‘arraaf (dukun dan sejenisnya) lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim) *** Bayu mundur beberapa langkah. Alasan yang Ki Mutar utarakan membuatnya menarik salah satu sudut bibir ke samping. 'Pasukan katanya? Pasukan siapa yang mau datang malam-malam begini?' gumam pemuda itu di dalam hati. Seperti ada sesuatu yang menggelitik di hatinya. Bayu, yang tidak sedikit pun percaya ilmu perdukunan, merasa seperti menonton pertunjukan komedi yang hampir membuatnya tertawa terbahak-bahak. Kalau saja ia tidak memandang kedua kakaknya, mungkin Bayu akan langsung tertawa tanpa henti. Bayu lantas meremas jari, berusaha menahan diri agar tidak sampai berbuat kurang sopan di rumah sendiri. Mata bulatnya kembali fokus pada Hafsah yang tertunduk lesu. Ia berharap tidak ada sesuatu yang terjadi pada wanita yang merupakan ibu dari keponakannya bernama Lala. Di hadapan Ki Mutar, Hafsah sudah mulai menunjukkan reaksi yang tidak biasa. Tubuh wanita itu gemetar hebat seperti sedang menahan dingin yang teramat sangat. Mulut ibu satu anak itu terus mengeluarkan suara erangan, disertai gemeletuk gigi yang saling beradu kuat. "Pegang dia kuat-kuat!" perintah Ki Mutar pada istri Beno. Haya mengangguk. Ia semakin menguatkan kuda-kuda demi menahan tubuh adiknya yang acap kali merebah ke belakang. Entah kekuatan apa yang ada dalam tubuh Hafsah, sehingga membuat Gaya yang duduk di belakangnya merasa kewalahan, sampai kehabisan tenaga. Ki Mutar bersama anak buahnya, terus melantunkan mantra. Angin semakin bertiup kencang. Api pada lilin ikut bergoyang-goyang. Ki Mutar semakin kencang melafalkan mantra-mantra sambil memejamkan mata. Gelas-gelas berisi sesajen pun bererak-gerak dengan sendirinya hingga sebagian isinya tumpah ke lantai. Bayu mulai merasakan ada energi aneh yang menerpanya. Ia sontak berpegangan pada tiang pintu. Ia merasakan ada energi kuat menyatu dengan atmosfer di dalam ruangan itu. Sementara lilin hampir padam, pemuda itu berinisiatif menyalakan lampu senter pada ponsel miliknya sebagai cahaya emergency. Embusan angin yang tidak dapat diprediksi, berhasil memadamkan lilin yang hanya satu-satunya di tengah-tengah mereka. Bayu gegas menyalakan ponsel, tetapi kakak iparnya justru lebih dulu merampas benda itu. "Jangan berbuat macam-macam, ikuti saja perintah Ki Mutar! Dia tahu betul caranya mengusir setan-setan yang bergentayangan di rumah ini," ujar Beno seraya mengembalikan ponsel milik adik iparnya. Kondisi ruangan kini gelap total. Bayu tercekat bisu, geraknya terbatas lantaran penglihatan yang tak berfungsi tanpa adanya cahaya yang menyinari. Di dalam pikirannya, ia sama sekali tidak menerima ritual pengobatan semacam itu. Bagaimana bisa seseorang mengobati pasien dalam keadaan gelap gulita. Jangankan untuk mencari tahu apa penyakit yang diderita si pasien, melihat dirinya sendiri saja, pasti tidak bisa. Meski dua kubu di hatinya terus bertentangan, Bayu tetap diam di tempat sesuai yang saudara iparnya instruksikan. Bayu mengalah bukan karena ia sudah kalah, tetapi ia merasa harus menghargai anggota keluarga yang lain yang sudah kepalang tanggung mengundang dukun itu tanpa sepengetahuannya. 'Dasar kolot! Sedikit-sedikit ke dukun, apa-apa minta ke dukun,' batin pemuda itu menggerutu. Jelas saja sikap Bayu tidak pernah sejalan dengan kakak iparnya. Ia selalu merasa kakak sulungnya menjadi ikut-ikutan berpikiran kolot sejak menikah dengan lelaki itu. Di tengah kegelapan yang pekat mencekam, suara-suara asing tiba-tiba muncul dari berbagai arah. Bayu dan yang lainnya sampai menutup telinga kuat-kuat. Mereka tak tahan mendengar suara jeritan dan tangisan yang menggema saling bersahutan. "Jangan ada yang pergi dari sini! Saya sedang mengundang seluruh penghuni yang sudah mengganggu wanita ini. Saya ingin tahu apa tujuan mereka," ucap Ki Mutar dengan suara tersengal-sengal. Bayu dan Beno masih terus membekap telinga. Sementara Haya, ia kewalahan karena Hafsah terus saja mengerang seperti orang kesurupan. Sejurus kemudian, lilin kembali menyala. Rupanya anak buah Ki Mutar yang telah menyalakannya. Suara-suara aneh itu pun perlahan-lahan menjauh, lalu menghilang dibarengi dengan tubuh Hafsah yang terkapar di lantai. "Mbak Hafsah!" Bayu lari mendekati kakaknya. Diraihnya kepala berbalut kerudung abu-abu itu, kemudian meletakkannya di atas pangkuan. "Mbak, bangun, Mbak!" Bayu menepuk pelan pipi, tetapi Hafsah tidak juga membuka mata. "Adik saya kenapa, Ki?" pekik Haya sambil tangannya menggoyang-goyangkan kaki sang adik. Tak hanya mereka, Beno pun turut mendekat. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saudara iparnya itu. Ki Mutar yang awalnya sedang bersila sembari menangkupkan kedua tangan, tiba-tiba berdiri lalu berjalan menuju pintu kamar Hafsah. "Buka pintunya! Makhluk yang sudah mengganggu adikmu, ada di kamar ini!" ucapnya mantap. Lelaki paruh baya itu terus meletakkan telapak tangannya di depan pintu kamar. Mulutnya tidak berhenti komat-kamit, seperti sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang gaib yang ada di balik pintu kamar tersebut. Beno yang merasa terpanggil, gegas menghampiri Ki Mutar. Ia pun segera membuka pintu kamar Hafsah lebar-lebar. Dua orang itu lantas masuk dan mereka langsung menutup pintu. Bayu dan Haya saling melirik satu sama lain. Dua bahu Haya yang terangkat, mengisyaratkan bahwa ia tidak tahu sama sekali apa yang akan dukun itu dan suaminya lakukan di dalam sana. Tak sampai sepuluh detik, terdengar suara gaduh yang dibarengi teriakan keras sang dukun, "Tunduklah padaku, dan jangan ganggu mereka!" Bayu tidak laki fokus dengan apa yang dilakukan dukun itu. Ia justru sangat khawatir dengan kakaknya yang tak kunjung sadarkan diri, meskipun ia sudah menaruh wewangian di hidung Hafsah berkali-kali. "Mbak, ayo bangun, Mbak!" Keringat sebesar biji jagung mulai menumpuk di dahi pemuda itu. Bayu tidak berhenti menepuk wajah Hafsah sambil sesekali membisikkan kalimat istigfar ke telinganya. "Bayu!" Suara pelan yang berasal dari mulut Hafsah, sontak membuat mata Bayu terbelalak. Pemuda itu akhirnya bisa bernapas lega. Kakaknya berangsur-angsur sadar, meskipun belum bisa membuka mata dengan sempurna. "Mbak di mana? Kalian pada ngapain di sini?" Pertanyaan langsung terlontar ketika Hafsah mulai membuka mata. "Loh, kamu lagi diobatin, Sah. Kamu gak inget?" sahut Haya sembari mengerutkan kening. Hafsah menggeleng. Tangannya terus bertumpu di atas kepala dengan ekspresi wajah mengejan seperti orang kesakitan "Mbak gak kenapa-kenapa?" Bayu tampak semakin khawatir dengan gelagat kakaknya. "Kepala Mbak sakit, Bay. Kaya ada yang tusuk-tusuk pakek jarum," sahut Hafsah. Tangannya masih terus meremas-remas kepalanya. Mendengar hal itu, Bayu semakin dibuat kebingungan. Pasalnya, ia tidak menyimpan obat-obatan sama sekali karena belum sempat berbelanja ke apotek. Ia sempat melihat kotak obat di kamar mendiang ibunya. Melihat banyak obat-obatan yang tanggal kadaluwarsa yang sudah terlewat, pemuda itu lantas membuang begitu saja dan belum sempat membelinya lagi. Sementara itu, Hafsah terus meraba-raba kepalanya, ia merasakan seperti ada sesuatu yang menyakitinya dari dalam jilbab yang ia pakai. Demi menguatkan dugaan, tangan Hafsah pun langsung menyelusup ke dalam kerudung. Ia berusaha mencari sesuatu yang ia rasa seperti menempel pada rambutnya. "Ini apa?" tanya wanita itu sambil menarik sesuatu dari dalam kerudungnya. Betapa terkejutnya Bayu dan Haya. Hafsah ternyata mengeluarkan jarum dan paku dari kepalanya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN