Allah berfirman :
قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ
Yang artinya:
“Katakanlah! Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.” [QS. An Naml : 65]
***
Mata Hafsah membeliak dengan mulut menganga lebar. Bayu dan Haya langsung mengambil benda-benda tajam itu lalu mengamatinya dengan saksama. Ada noda darah di beberapa bagian paku yang sudah karatan. Jarum-jarum berukuran besar yang biasa digunakan untuk menyulam pun tak kalah mencengangkan.
"Kenapa bisa ada benda-benda ini di kepala Mbak?" Bayu menoleh ke kakaknya yang masih kelihatan syok.
Sementara ketiga saudara itu sedang dirajam rasa cemas, seorang pria yang memakai penutup kepala hitam yang merupakan anak buah Ki Mutar tiba-tiba berujar, "Ada orang yang ngirim sesuatu ke rumah kalian, sehingga kakakmu ini terus menerus mendapat gangguan," kata pria setengah baya yang sedang duduk bersila di hadapan mereka.
"Ki-kiriman, Ki?" Haya menyahut. Wajahnya terlihat begitu penasaran sekaligus takut.
"Ya, kiriman, kiriman santet. Kami sudah bersusah payah mengeluarkannya dari kepala si mbak tadi. Saat ini, Ki Mutar sedang berusaha menangkap makhluk gaib yang telah dikirim seseorang yang rupanya bersembunyi di dalam kamar." Anak buah Ki Mutar berucap dengan santainya, seolah-olah tahu betul, bahwa apa yang telah terjadi pada Hafsah itu adalah benar ulah makhluk tak kasat mata.
Tak hanya itu, lelaki berperawakan kurus itu pun menjelaskannya secara gamblang, bahwa apa yang menyebabkan Hafsah jatuh ke sumur beberapa hari lalu juga adalah ulah si makhluk kiriman.
Hafsah mengiyakan apa yang dikatakan dukun tersebut. Ia kemudian bercerita bahwa putrinya pun tak kalah mendapat gangguan. Wanita itu merasa, apa yang terjadi padanya beberapa hari terakhir sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat.
"Ya, sudah pasti putrimu kena juga. Kalian sama-sama lahir tengah malam, 'kan?" tanya dukun itu seraya mencondongkan wajah.
"Ya, benar, Ki." Haya menyahut dengan antusias pertanyaan Ki dukun. Sementara Hafsah, hanya terperangah saat mendapati laki-laki itu tahu waktu lahirnya dan putrinya.
"Ya, jelas. Biasanya orang yang lahir tengah malam itu suka dikasih liat yang begituan. Kamu waktu masih gadis sering kesurupan, ya?" Ki dukun kembali menanyai Hafsah.
Hafsah mengangguk cepat. Ia masih belum percaya kenapa orang tua di hadapannya itu bisa mengetahui banyak hal tentangnya. Padahal, ia sama sekali tidak pernah menceritakan hal itu, apalagi ini adalah kali pertama Hafsah bertemu dengan dukun itu.
"Yo, pantes. Orang igamu jarang, makanya setan suka gangguin dan masuk ke dalam tubuhmu. Kamu harusnya tiap malam Jumat Kliwon, mandi kembang tujuh rupa, biar setan-setan pada kabur dan gak mau deketin kamu," terang lelaki itu sambil menyalakan rokok linting yang ia ambil dari wadah sesajen. Matanya sempat memicing ke arah Hafsah, menelisik tiap inci tubuh berbalut gamis putih yang dikenakannya.
Mendengar hal itu, Bayu menjadi sedikit terpancing. Ia mulai memercayai kesaktian dua orang dukun paruh baya itu. Bayu mengira, mereka benar-benar tahu semua yang dialami oleh Hafsah. Padahal sejak datang, ia maupun kakak sulungnya belum sama sekali menceritakan perihal kondisi Hafsah yang sebenarnya, apalagi bercerita tentang hal yang bersifat pribadi dari kakaknya itu.
Hafsah menggeleng. Ia masih belum percaya mengapa ada orang yang tega mengirimkan makhluk gaib untuk mengganggunya dan anaknya. Padahal selama ini, ia merasa tidak pernah punya masalah dengan orang lain. Jangankan untuk membuat masalah dengan orang, dalam hal berucap pun, wanita itu selalu menjaganya benar-benar agar tidak sampai menyakiti hati orang lain.
Hafsah kemudian memeluk Haya dan menangis meraung-raung menumpahkan segala beban yang ada dalam pikirannya. Wanita itu merengek-rengek, meminta pada kakaknya agar tetap tinggal lebih lama. Hafsah ketakutan. Ia tidak mau jika hanya tinggal berdua saja dengan putrinya di rumah peninggalan orang tuanya.
Di tengah deru tangis Hafsah dan wajah cemas dua saudaranya, Ki Mutar dan Beno keluar dari kamar dengan wajah penuh keringat dan napas yang tersengal-sengal.
"Bagaimana, Ki?" Haya langsung menyambut mereka dengan pertanyaan.
"Berat ini, berat!" Ki Mutar mendekat, lalu meletakkan sebuah botol bening ke tengah-tengah mereka.
Berpasang-pasang mata langsung tertuju pada benda yang terbuat dari lapisan kaca seukuran genggaman tangan manusia itu. Di dalamnya, terdapat sesuatu berwarna hitam yang bentuknya seperti boneka kecil berambut panjang dengan mata yang menyala merah, juga taring panjang sampai hampir menyentuh kakinya.
"Apa ini?" Bayu mengambilnya dari lantai. Ia mengangkat botol itu, lalu mengocok-ngocoknya seperti sedang berusaha mengeluarkan sesuatu yang ada di dalamnya.
"Hey, jangan dibuka!" seru Ki Mutar dan langsung mengambil alih botol itu dari tangan Bayu. "Di dalam ini ada makhluk penunggu rumah kamu. Saya susah payah tangkap dia, kamu malah mau ngeluarin seenaknya," dengkus dukun itu, kesal.
Bayu mengangkat salah satu alisnya ke atas. Ia belum sepenuhnya percaya bahwa dukun itu mampu menangkap makhluk halus kemudian memasukkannya ke dalam botol. Adegan itu, membuat Bayu teringat pada film-film di televisi yang biasa ia tonton semasa kecil.
Lucu sekali. Dua orang masuk ke kamar dan keluar dengan sebotol berisi boneka di dalamnya. Bayu sudah sangat menebak kalau apa yang dilakukan kedua dukun tersebut hanya sekadar trik untuk mengelabuhi. Namun, Bayu tidak punya bukti sama sekali untuk menunjukkan kelicikan dua dukun itu.
Beno yang juga tampak begitu kelelahan, lantas merapatkan barisan dan duduk di sebelah istrinya. Lelaki itu bercerita dengan ekspresi menggebu-gebu, perihal aksi Ki Mutar yang seperti seorang pendekar dalam melawan makhluk mengerikan di dalam kamar Hafsah.
Beno berkata dengan yakinnya, bahwa makhluk kiriman itu sangatlah kuat sampai Ki Mutar sempat kewalahan dan hampir menyerah.
"Untung aja kesakitan Aki lebih tinggi, jadi itu setan akhirnya bisa ketangkep juga dan dimasukin ke dalam botol." Beno berucap dengan lantang, kemudian meneguk air minum yang telah Haya persiapkan di wadah lain.
Mendengar hal itu, Hafsah makin erat memeluk kakaknya dengan wajah memucat. Sementara Haya dan suaminya, semakin antusias mendengar tiap-tiap kalimat yang keluar dari dua dukun itu.
Ki Mutar berkata, kalau Hafsah adalah korban santet yang dilakukan oleh seseorang yang iri kepadanya. Entah itu teman kerja, atau seseorang yang ingin mengganggu keutuhan rumah tangganya. Namun yang pasti, orang itu tidak memiliki niat membunuh. Ia hanya ingin Hafsah menderita karena ketakutan setiap harinya.
Oleh sebab itu, untuk mencegah datangnya kiriman santet susulan, Ki Mutar meminta Hafsah untuk menyiapkan sesajen tiap malam di pojok belakang rumahnya. Sesajen itu nantinya akan diberi tetesan air mantra yang sudah dipersiapkan oleh sang dukun untuk menghalau masuknya makhluk lain ke rumah Hafsah.
"Kasih air ini limat tetes di atas sesajen. Kalau sewaktu-waktu ada kiriman santet lagi, kiriman itu akan hancur lebur menjadi api," ucap Ki Mutar sambil menyodorkan sebotol air pada Hafsah.
Hafsah yang ketakutan, langsung saja mengambil botol itu tanpa berpikir panjang. Bayu melirik kakaknya dengan sorot tajam. Ia bahkan tidak percaya wanita taat agama seperti Hafsah, bisa termakan omongan dukun yang baru saja dikenalnya.
"Ini, berapa harganya, Ki?" Haya yang duduk di samping Hafsah, langsung menanyakan harga yang harus mereka bayar untuk sebotol air mantra di tangan adiknya.
Menanggapi pertanyaan Haya, dua dukun itu sontak saling melempar pandang. Sejurus kemudian, anak buah Ki Mutar langsung menegakkan badan dan mengambil kesempatan membicarakan soal pembayaran.
"Sebenarnya, kami berdua hanya berniat menolong kalian sebagai sesama saudara satu desa. Kita sesama manusia memang diwajibkan untuk saling tolong menolong, bukannya seperti itu?" Lelaki itu malah melempar tanya yang hanya dijawab anggukan yang lainnya.
"Semua proses pengeluaran benda-benda tajam dari kepala Hafsah, juga penangkapan makhluk kiriman yang bersemayam di rumah ini, itu semua kami gratiskan," sambung dukun itu.
Mendengar hal itu, Bayu dan kakaknya sedikit merasa lega. Sebab, mereka tidak harus mengeluarkan uang banyak untuk pengobatan Hafsah.
"Akan tetapi, karena air mantra dan botol ini kami dapatkan jauh dari luar pulau, Mas sama mbaknya cukup bayar ongkos ganti saja," celetuk Ki Mutar, memangkas obrolan.
Bayu lekas beranjak mengeluarkan dompetnya. Ia sudah bersiap-siap akan membayar ongkos ganti yang diminta dukun itu.
"Berapa ongkosnya, Ki?" tanya Bayu.
Dua dukun itu kembali beradu mata. Setelah saling melempar isyarat, anak buahnya pun gegas buka suara perihal biaya yang harus mereka bayar, "Ongkos gantinya dua setengah juta."