Rasulullah SAW bersabda, ''Siapa yang mendatangi para dukun, peramal nasib, lalu ia membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah kafir terhadap apa yang turun kepada Nabi Muhammad (Al-Qu'ran).'' (HR Ahmad dari Abu Hurairah).
***
Bayu duduk di sisi ranjang di dalam kamarnya yang sedikit berantakan. Rambut dua senti yang acak-acakan itu menjadi gambaran betapa besarnya masalah yang sedang ia hadapi. Uang 2,5 juta bukanlah perkara kecil yang bisa diberikan begitu saja kepada dukun yang sama sekali tidak ia percaya. Namun, ia terpaksa harus menyingkirkan ego demi kesembuhan sang kakak tercinta.
Barang-barang yang awalnya berada dalam lemari pakaian dan nakas, telah tercecer semua di atas lantai. Bayu berusaha mencari simpanan yang mungkin ia tinggalkan di dalam sana. Ia pun berhasil menemukan beberapa lembar uang, tetapi tetap tak cukup untuk menggenapkan nominal yang Ki Mutar pinta.
'Gila, kali, mereka! Buat ongkos kirim aja sampai semahal itu? Memangnya tuh barang dikirim lewat apa? Lewat jet pribadi?' Bayu menggerutu di dalam hati.
Uang satu juta di tangannya masih dalam genggaman. Pemuda itu bingung harus mencari sisanya ke mana. Dua kakaknya tidak bisa diandalkan. Hafsah belum punya uang lantaran suaminya belum pulang. Sementara Haya, berdalih bahwa uang takziah yang ia pegang, telah habis untuk keperluan belanja dan membayar juru masak.
Dengan berat hati, pemuda itu pun mencoba menghubungi Jamil, kakak ipar yang teramat ia segani karena pernah mengurungnya di panti rehabilitasi. Bayu sudah sangat kebingungan. Ia harus meminta bantuan pada siapa jika tidak menghubungi kakak iparnya tersebut.
[Halo, Mas!]
Bayu langsung bersuara ketika panggilannya terangkat.
[Ya, Bayu, ada apa? Mas lagi di jalan]
[Mohon maaf, Mas. Bisa berhenti sebentar? Aku mau ngomong hal penting]
Sesaat kemudian, suara dari seberang telepon pun terdengar lebih hening, tidak berisik seperti sebelumnya.
[Ya, ada apa, Bay? Gimana kabar kalian? Semua baik-baik aja, kan!]
Setelah menepikan kendaraan di sisi jalan, Jamil langsung saja mengacungkan pertanyaan. Suami Hafsah itu seperti sudah punya firasat tak enak. Ia merasa sedang ada masalah yang terjadi di rumah sampai adik iparnya itu nekat meneleponnya malam-malam. Namun, lelaki lulusan pesantren itu merasa sedikit lega ketika Bayu mulai mau mengajaknya bicara setelah selama bertahun-tahun lamanya tidak mau diajak mengobrol.
Dengan raut wajah kebingungan, Bayu lantas menceritakan tentang kondisi Hafsah yang mengalami gangguan dan sedang di obati oleh orang pintar. Pemuda itu juga memberitahukan perihal benda-benda asing yang tiba-tiba keluar dari kepala kakaknya.
[Cukup Bayu!]
pangkas Jamil sebelum Bayu mengakhiri cerita.
[Mereka minta bayaran berapa?]
Seperti tahu apa yang sedang dibutuhkan oleh adik iparnya, Jamil langsung saja menanyakan soal bayaran.
[Dua koma lima juta, Mas!]
Bayu menyahut dengan wajah sedikit rileks dari sebelumnya. Ia berpikir kakak iparnya itu punya kepekaan tinggi tentang maksud dan tujuannya menelepon.
[Kalian ditipu!]
Di luar dugaan, ternyata Jamil malah merespon dengan kalimat menohok.
[Ditipu! Maksud Mas, apa? Jelas-jelas istri Mas lagi kesakitan karena dapat kiriman dari orang. Dan juga makhluk di dalam botol itu. Mereka bilang makhluk itu adalah penunggu kamar Mbak Hafsah. Apa Mas gak khawatir?]
Bayu sedikit menekan nada bicaranya.
[Makhluk apa?]
Jamil kembali bertanya.
[Entah, tapi bentuknya mirip jenglot]
[Dan kamu percaya?]
Terdengar Jamil sedikit tertawa.
Bayu terdiam dan bingung harus jawab apa. Di dalam lubuk hatinya, ia memang sama sekali tidak memercayai apa pun yang dua dukun itu katakan. Akan tetapi, melihat kenyataan yang terpampang jelas di depan mata, membuatnya seakan-akan dipaksa untuk yakin dan percaya bahwa sang kakak telah menjadi korban santet dan guna-guna.
'Bisa saja semua itu terjadi lantaran Hafsah mengalami halusinasi. Namun, benda-benda asing itu?’
“Argh!” Bayu kembali mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan.
[Bay, sekarang kamu dengerin Mas!]
Suara dari seberang telepon berhasil menarik kembali konsentrasi pemuda itu.
[Kamu bilang pada mereka untuk kembali lima hari lagi. Bilang saja kalian tidak punya uang. Tidak mungkin juga dua dukun itu memaksa sampai berbuat macam-macam. Mereka tidak akan berani melakukan hal itu. Percaya sama Mas!]
Bayu berdeham sekali, merespons saran yang diberikan oleh kakak iparnya.
[Oke kalau begitu. Mas mau lanjutkan perjalanan dulu. Kalau Mas sudah tiba di mes, mas akan telepon kamu lagi. Masih banyak yang perlu kita bicarakan soal mbakmu]
Panggilan pun terputus setelah mereka saling mengucap salam. Bayu mengantongi kembali ponselnya, lalu gegas keluar sesuai arahan yang diberikan oleh kakak iparnya.
Dua pria paruh baya yang sama-sama menggunakan pengikat kepala, tampak semringah melihat Bayu datang menghampiri mereka dengan menenteng sesuatu di tangan.
Haya dan Beno pun merasa lega karena akhirnya Bayu kembali tidak dengan tangan kosong. Mereka sudah ketakutan setengah mati, takut bila ternyata Bayu menolak memenuhi permintaan dua orang yang telah mereka undang untuk mengobati Hafsah. Jika dua dukun itu sampai pulang tanpa bayaran, mau ditaruh di mana wajah mereka.
Sementara itu, Hafsah yang keadaannya terlihat lebih baik, menyambut adik bungsunya dengan wajah memelas. Ia tidak sampai hati jika sampai merepotkan saudaranya. Karena penyakit yang dideritanya, sang adik sampai kewalahan mencari biaya.
"Maafin Mbak, ya, Bayu!" ucap Hafsah sambil menitikkan air mata.
Bayu tak sampai hati melihat kakaknya menangis, direngkuhnya tubuh wanita itu sambil mendekatkan bibir seraya membisikkan sesuatu, "Bayu udah telepon Mas Jamil tadi. Dia bilang, kita harus pura-pura percaya pada mereka malam ini. Kalau nanti Mas Jamil pulang, dia janji bakal bongkar semuanya. Mbak harus tenang, ya!"
Hafsah semakin bingung mendengar hal itu. Namun, ia tetap menuruti apa yang telah adiknya serukan meskipun masih meraba-raba maksud dan tujuannya.
Selepas memeluk kakaknya, Bayu pun kembali menghadap Ki Mutar seraya menyodorkan beberapa lembar uang.
"Ini saya ada satu juta dulu, Ki. Minggu depan, Aki bisa datang lagi ke sini untuk mengambil sisanya. Kami sudah benar-benar tidak punya uang. Aki tahu sendiri kami baru saja kehilangan dua orang tua. Uang takziah dan beberapa tabungan kami sudah habis untuk acara tahlilan." Bayu melirik ke arah Haya dan suaminya yang sedang menunduk tak berani mengangkat wajah.
Ekspresi datar sempat menghiasi wajah Ki Mutar dan anak buahnya. Sejurus kemudian, dua tangan Ki Mutar dengan cepat mengambil uang itu dari lantai, lalu memasukkannya ke dalam saku baju.
"Baik, uang ini saya terima. Tapi tolong, minggu depan sisanya harus sudah ada. Kalau tidak, makhluk yang ada di dalam botol ini akan saya lepaskan kembali. Dan takutnya nanti akan datang ke rumah ini dan mengganggu kakakmu lagi," tegas Ki Mutar sambil melempar seringai.
Bayu mengangguk, senyum sinis tampak jelas tergambar di wajah maskulin itu. Kalimat yang dilontarkan oleh Ki Mutar terdengar seperti ancaman, dan itu membuat Bayu semakin yakin, bahwa semua yang telah dukun itu perbuat tidak lebih dari sekadar tipu daya menyesatkan. Sebab, orang yang memang benar-benar berniat untuk menolong sesama, tidak akan memiliki ambisi sebesar itu sampai tak ragu-ragu melayangkan ancaman.
Setelah menghabiskan kopi dan camilan yang disuguhkan Mba Haya, dua dukun ikut pun akhirnya pergi. Beno sempat ingin mengantar Ki Mutar pulang, tetapi Bayu dengan sigap mencegahnya.
"Gak usah diantar lah, Bang, udah malam. Lagi pula, Ki Mutar datang berdua, pasti mereka mampu jaga diri masing-masing." Ucapan Bayu berhasil menginterupsi gerak Beno yang hendak mengeluarkan seperti motor.
"Tapi, Bay. Jalan alun-alun pasti sepi jam segini. Abang takut mereka ketemu begal," kilah Beno. Lelaki itu masih sejuk memakai jaketnya.
Mendengar jawaban kakak iparnya, Bayu tertawa terbahak-bahak. "Begal? Abang lucu. Mereka itu sama setan aja berani. Masa iya takut sama begal? Mereka katanya dukun sakti mandraguna. Bisa saja, kan, sekali sembur, mulutnya keluar paku dan gunting?" Bayu terpingkal-pingkal memegangi perutnya.
Haya yang mendengar itu, hanya bisa diam berdiri di samping sang suami.Tidak dapat dipungkiri bagaimana tersiksanya ia setiap malam. Selama beberapa hari terakhir, Beno sering kali keluar dan pulang subuh.
Suaminya selalu berdalih sedang ada urusan. Namun, Haya sedikit curiga lantaran suaminya selalu keluar dalam keadaan wangi dan rapi. Haya takut Beno berbuat macam-macam di luar sana.
"Iya, Mas, lebih baik Mas gak usah antar. Kasihan nanti Mas pulangnya sendirian." Haya akhirnya mulai berbicara.
Merasa terpojok dengan dua kakak beradik itu, Beno pun akhirnya mengendurkan suara dan memilih mengikuti saran keduanya. Dengan berat hati, akhirnya Beno masuk kembali dan menggantung jaket yang sempat ia pakai.
Rasa malas sontak menyergap diri laki-laki bertubuh tambun itu. Beno yang sudah sejak sore sangat menggebu-gebu ingin bertemu dengan Wirna selingkuhannya, ternyata gagal lantaran harus menemani pengobatan adik iparnya terlebih dahulu.
Beno yang sudah kepalang janji akan menemani Wirna malam ini, segera mengambil ponsel dan mengirim pesan ke janda satu anak tersebut, agar tidak menunggunya datang.
[Sayang. Maafin Abang, ya! Malam ini, Abang gak bisa datang ke rumah. Abang habis menemani adik ipar berobat dan baru saja selesai. Abang tidak enak dengan yang lain kalau keluar jam segini m Abang takut mereka curiga.]
Sebuah pesan terkirim dan Beno segera menyimpan ponselnya kembali di dalam saku celana.
Karena sudah kepalang basah, Beno pun beranjak ke kamar untuk mengistirahatkan diri. Ia ingin tidur lebih awal untuk melupakan hasratnya yang sudah sampai di ujung leher.
Beno tidak bisa meluapkan libidonya kepada sang istri. Semenjak lelaki itu mengenal Wirna, ketertarikannya terhadap Haya menjadi sirna. Tubuh Haya yang kurus tanpa lekuk, sangat kontras dengan tubuh Wirna yang seksi dan enak dipeluk.
Beno pun merasakan sensasi yang berbeda tiap kali ia menghabiskan waktu dengan Wirna. Perempuan itu sangat ahli dalam urusan ranjang, sehingga Beno merasa selalu terpuaskan ketika bercinta dengannya.
Tidak seperti saat ia bersama Haya yang terkesan kaku dan tidak memiliki agresivitas. Beno selalu merasa seperti meniduri batang pohon pisang ketika ia bercinta dengan istrinya. Tak hanya itu, sudah bertahun-tahun mereka menikah, Haya nyatanya belum.juga memberinya keturunan. Hal tersebut semakin membuat Beno ingin sekali berpisah. Namun, laki-laki itu tetap bertahan demi bisa tetap menghasilkan uang dari warisan yang ayah mertuanya berikan.
Jika Beno menceraikan Haya saat ini, ia tidak akan mendapatkan sepeser pun jatah warisan yang telah dibagi-bagi. Oleh sebab itu, ia memilih bertahan meskipun berat. Sampai waktunya tiba, Beno akan segera menceraikan Haya dan menikahi wanita idamannya, Wirna.