Setelah treatment pengobatan malam itu, Hafsah dan dua saudaranya mulai menjalani rutinitas masing-masing. Hafsah sudah menghadiri kelas di sebuah sekolah swasta di dekat rumahnya setelah menitipkan Lala terlebih dahulu pada Bu Ningrum, tetangga sebelah yang sudah seperti nenek bagi anaknya.
Lala yang belum genap tujuh tahun, harus menunggu beberapa bulan lagi untuk bisa masuk sekolah dasar. Hafsah memang terlalu terburu-buru saat memutuskan untuk menyekolahkan Lala di taman kanak-kanak ketika usianya belum genap lima tahun. Oleh sebab itu, Lala harus menunggu sampai tahun ajaran berikutnya untuk bisa kembali bersekolah di tingkat sekolah dasar.
Haya dan suaminya pun sudah mulai membuka toko beras di pasar. Tampak sedikit canggung bagi keduanya karena mereka belum sama sekali mengerti tata cara dan aturan dalam berdagang. Beno memang sudah bekerja selama bertahun-tahun dengan mertuanya, terapi ia hanya ditugaskan sebagai kuli panggul yang tidak sama sekali mengetahui teknik perhitungan untung dan rugi.
Merasa tidak yakin dengan kemampuannya, akhirnya Beno memutuskan untuk merangkul Rodih, saudara sepupunya yang sudah punya berpengalaman di bidang perdagangan, untuk membantu-bantunya di toko. Haya pun mendukung, yang terpenting baginya adalah Beno bisa memanfaatkan harta warisan yang telah orang tuanya titipkan dengan baik. Perihal sistem bagi hasil, ia telah mempercayakan semua pada suaminya.
Sementara itu, Bayu telah kembali ke Jakarta dan langsung mulai bekerja. Ia berangkat pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit. Profesi sebagai karyawan swasta membuatnya tidak bisa bebas meminta jatah libur kapan saja. Ada banyak konsekuensi yang harus ia penuhi terlebih dahulu agar tidak sampai menerima surat peringatan dari atasan jika dengan semena-mena ia absen tanpa izin.
Sebelum berangkat, Bayu berulang-ulang berpesan pada kakaknya. Ia meminta Hafsah harus lebih giat beribadah dan tidak lupa berwudu sebelum naik ke tempat tidur. Pemuda itu sungguh sangat mengkhawatirkan kondisi sang kakak di rumah, terlebih setelah dua dukun itu datang dan melakukan ritual-ritual yang menurutnya tidak masuk akal.
Bayu terbelit dalam kebimbangan yang hebat. Di satu sisi, ia harus tetap profesional sebagai pegawai. Namun di sisi lain, ia harus menanggung kegelisahan terhadap kondisi keluarganya yang tiba-tiba punya banyak masalah sepeninggal orang tua mereka.
Bukan ingin Bayu untuk melakukan pembagian harta warisan itu. Jika saja boleh ditukar, Bayu lebih baik tidak mendapatkan apa-apa asalkan kedua orang tuanya tetap ada di dunia.
Sungguh suatu hal yang sangat berat bagi pemuda dua puluh empat tahun itu, ditinggal mati oleh dua orang tua saat ia belum sempat membahagiakan mereka.
Bayu berkali-kali menyesali kehidupannya di masa lalu yang pernah menjadi aib keluarga. Dan di saat ia sedang berjuang keras untuk membangkitkan kembali kepercayaan orang tua, Allah justru mengambil mereka untuk selamanya.
***
Azan zuhur berkumandang, sudah waktunya Hafsah menyelesaikan sisa pekerjaan lalu pulang dan salat di rumah. Jarak sekolah menengah pertama tempatnya mengajar hanya berjarak sekitar lima ratus meter. Hafsah berangkat dan pulang setiap hari hanya dengan berjalan kaki tanpa membawa sepeda yang biasa ia gunakan untuk mengantar Lala sekolah.
Wanita itu berjalan santai sambil mengirim pesan ke suaminya untuk mengabarkan kalau dirinya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Hafsah memang seperti itu, meskipun Mas Jamil sedang berada jauh, ia tetap meminta izin saat ingin berangkat mengajar ataupun pergi ke luar. Karena menurutnya, meminta izin kepada suami jika ingin melakukan sesuatu adalah sesuatu yang wajib bagi seorang istri.
Hafsah selalu ingat hadis Nabi yang berbunyi, "Hak suami atas istrinya adalah seorang istri tidak diperbolehkan keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suami. Apabila ia melakukannya, maka ia dilaknat oleh malaikat rahmat dan malaikat ghodob (marah) sampai ia bertobat." (HR Abu Daud)
Maka dari itu ia sangat takut jika melakukan sesuatu tanpa izin dari suaminya
Setalah melewati beberapa rumah dan kebun kosong, Hafsah pun sampai di depan pagar rumahnya. Bukannya berhenti dan membuka kunci pagar, ia malah melewatinya begitu saja.
Ternyata Hafsah memutuskan untuk mengambil Lala terlebih dahulu dari tempat Bu Ningrum, padahal biasanya wanita itu tak pernah menjemput Lala sampai Bu Ningrum yang mengantar sendiri ke rumahnya.
Entah, tetapi sepertinya Hafsah enggan berada sendirian di rumahnya. Setelah rentetan gangguan gaib yang ia alami, ia menjadi paranoid dan selalu merasa seperti diawasi ketika sedang sendiri di rumah itu.
Tidak ingin terjebak dalam ketakutan, Hafsah memutuskan untuk membawa anaknya pulang terlebih dahulu agar bisa menemaninya di rumah. Meskipun Lala hanya seorang anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa jika ada bahaya, tetapi setidaknya Hafsah punya teman untuk diajak mengobrol dan bersenda gurau.
Setelah sampai di rumah Bu Ningrum, Hafsah melongok-longok sebentar ke halaman samping rumah yang tampak begitu luas ditanami berbagai jenis tanaman sayur mayur dan buah. Hal yang biasa dilakukan wanita itu ketika menyambangi rumah tetangganya lantaran senang dengan dengan keasrian rumah tersebut.
Hafsah merasa sangat senang ketika melihat buah warna-warni yang masih menggantung pada ranting, juga sayuran-sayuran hijau yang tampak segar yang daunnya ikut bergoyang-goyang bila tertiup angin. Sungguh suasana yang menenangkan bagi Hafsah yang tidak memiliki banyak waktu untuk bercocok tanam di halaman rumahnya. Perannya sebagai seorang guru sekaligus ibu, membuat waktunya terpangkas lebih banyak untuk mengurus tugas di sekolah maupun pekerja rumah.
Baru saja Hafsah berjongkok hendak mengambil buah tomat yang jatuh, suara putrinya telah lebih dulu membuatnya kaget. Hafsah sontak berdiri dan menoleh ke arah rumah Bu Ningrum. Ia mendengar Lala berteriak-teriak seperti orang ketakutan.
Hafsah pun berlari menuju dalam rumah. Kondisi pintu yang terbuka membuatnya tidak sungkan untuk langsung masuk ke dalam. Sesampainya di ruang tamu, Hafsah dikejutkan dengan kondisi putrinya yang sedang duduk di pangkuan si pengasuh sambil berteriak-teriak menutup kedua mata dengan tangan .
Hafsah gegas mendekati Lala. Ia berusaha untuk merengkuh putrinya, tetapi bocah itu malah menepis tangannya dengan kasar. Lala terus saja merapatkan mata, seakan-akan ada sesuatu yang tidak ingin ia lihat di dekatnya.
“Lala kenapa, Bu? Kenapa kayak gini?” tanyanya pada Bu Ningrum yang hanya dibalas dengan gelengan kepala.
“Ibu ... Lala takut, Bu. Lala takut!” Lala kembali berteriak. Bocah itu langsung mau berpindah pada ibunya setelah ibunya bersuara.
Hafsah dan Bu Ningrum saling melempar pandangan. Wajah Bu Ningrum tampak seperti orang ketakutan sampai dahinya penuh keringat.
Hafsah pun berdiri seraya menggendong Lala. Ia bergerak-gerak ke sana kemari berusaha untuk menenangkan putrinya. Mulutnya tak berhenti melafalkan doa. Ia ingat pesan Bayu untuk jangan lupa membaca ayat-ayat Al-Qur’an ketika sedang mengalami gangguan.
Tak sampai lima menit, akhirnya Lala bisa tenang dan tidak lagi menangis. Bocah yang awalnya meronta-ronta, kini tertidur di gendongan ibunya. Setelah yakin bocah itu pulas, dengan hati-hati Hafsah meletakkan kembali putrinya di atas kasur depan televisi. Hafsah sangat pelan melepaskan tangannya. Ia takut Lala kembali terbangun dan mengamuk seperti tadi.
Lala sempat menggeliat ketika ibunya membereskan bantal boneka yang menyanggah kepalanya, dan kembali pulas saat Hafsah mengusap-usap rambutnya pelan.
Di samping kanan-kiri bocah itu, dua wanita tengah duduk di lantai saling berhadapan. Hafsah yang masih belum mendapatkan jawaban tentang bagaimana putrinya bisa ketakutan seperti itu, kembali mengeluarkan pertanyaan yang langsung disambut dengan ekspresi terkejut Bu Ningrum.
“Memangnya Lala kenapa, Bu? Diganggu Soleh lagi?” tanya Hafsah sedikit berasumsi. Ia menganggap kalau anaknya itu dijahili oleh Soleh, keponakan Bu Ningrum yang sering main ke rumahnya. Anak lelaki itu memang dikenal tantrum dan sedikit usil. Lala selalu takut jika Soleh main ke rumah dan mendekatinya karena bocah itu suka sekali mengganggu dan meledek Lala.
“Bu-bukan, Bu. Lala gak diledek sama Soleh. Dari pagi, Soleh gak main ke sini. Dia pergi sama bapaknya ke rumah neneknya.” Bu Ningrum menjawab dengan terbata-bata.
Dahi Hafsah mengernyit. Jika bukan Soleh yang membuat putrinya menangis ketakutan, lalu siapa?
“Terus, ini Lala kenapa bisa jerit-jerit kayak gini, Bu?” Hafsah kembali menekan.
Bu Ningrum menelan ludah. Seperti ada yang menjerat lehernya ketika ia ing5 buka suara. “A-anu, Bu Hafsah. La-Lala tadi bilang ada nenek-nenek rambutnya panjang, yang mau bawa dia pulang, tapi saya gak liat ada siapa-siapa sama sekali, Bu, sumpah!" Bu Ningrum celingukan seperti sedang mengawasi keadaan sekitar.
"Lala ketakutan, terus teriak-teriak dan bilang kalau nenek-nenek itu maksa dia buat ikut," sambung Bu Ningrum sambil mengelap keringat di dahinya.
Mendengar hal itu, tubuh Hafsah sontak gemetaran. Baru saja perasaanya sedikit lega setelah selesai diobati oleh Ki Mutar. Kini, hatinya kembali waswas menyaksikan anak semata wayangnya itu terus saja berhalusinasi tak tentu.
Hafsah takut putrinya kenapa-kenapa. Ia takut kalau orang yang mengirimkan santet padanya, justru ikut mengganggu Lala. Hafsah takut Lala terkena imbasnya. Hafsah takut sesuatu terjadi pada putrinya yang belum mengerti apa-apa itu.
Hafsah bingung. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengirimkan pesan ke Bayu agar adik laki-lakinya itu segera kembali ke rumah secepatnya.