Hafsah duduk di ruang tengah dengan mata yang terus mengedar ke sekeliling. Ia telah gagal membujuk Lala untuk pulang ke rumah. Putrinya itu tidak mau pulang lantaran takut bertemu dengan sosok tua menyeramkan yang terus mengikuti bocah kecil itu semenjak ia keluar rumah.
Wanita itu dengan terpaksa pulang seorang diri. Tidak mungkin juga memaksa putrinya yang masih tampak sangat ketakutan untuk pulang bersama. Suasana hati Hafsah kembali diterkam ketakutan. Baru saja ia bisa bernapas lega setelah diobati oleh Ki Mutar, kini putrinya malah semakin berhalusinasi.
Beberapa malam lalu, Lala memang sempat melihat sosok neneknya yang sudah meninggal dunia. Saat itu, Hafsah tidak terlalu mengindahkan. Menurutnya, mungkin saja hal itu disebabkan karena anaknya sedang ingin dimanja oleh almarhumah. Bocah perempuan itu memang sangat dekat bahkan sering minta ditemani tidur oleh sang nenek ketika masih hidup.
Namun hari ini, sesuatu yang keluar dari mulut putrinya membuat Hafsah tercengang. Lala masih tidak ingin membuka mata ketika ia terjaga. Bocah itu terus berkata kalau ia takut dengan wajah seram sang nenek tua yang terus mengeluarkan darah dari mulutnya. Ketika Hafsah bertanya apa putrinya itu mengenal sosok tersebut, Lala dengan tegas menjawab 'tidak'. Itu berarti, yg datang dan sengaja ingin menakut-nakuti Lala, bukanlah sosok almarhumah ibunya yang sempat Lala lihat malam lalu.
Waktu Zuhur sudah terlewat hampir dua jam, Hafsah gegas menyucikan diri lalu salat meski perasaannya waswas. Kalimat-kalimat tauhid terus terucap di hatinya. Ia berusaha untuk tidak mengosongkan hati dengan terus berzikir, meminta perlindungan kepada Allah Yang Maha mengetahui.
Rasa lelah setelah seharian mengajar, membuat mata wanita itu semakin sayu dan tak kuat lagi menahan kantuk. Hafsah merebahkan tubuhnya di sofa lalu menyalakan TV. Suara bising yang dihasilkan benda elektronik itu, membuat rasa takutnya terkikis sedikit demi sedikit.
Siaran TV sedang menayangkan berita teraktual. Mata Hafsah kini bisa fokus menatap layar cembung 21 inci di hadapan. Sebuah berita tentang pembunuhan tragis antar saudara kandung perihal perebutan warisan, membuat wanita itu penasaran dan langsung membesarkan volume suara.
"Sadis banget, Ya Allah! Antar saudara kandung bisa saling bunuh hanya karena warisan," pelik Hafsah, mengomentari isi berita.
"Tentu saja bisa!"
Suara seorang laki-laki yang tiba-tiba saja muncul dan berhasil membuat Hafsah terkejut setengah mati. Ia merasa hanya sendirian di rumah, lalu kenapa bisa ada suara orang selain dirinya.
Hafsah sontak bangun dan langsung menoleh ke sisi kanan yang ia yakini sebagai sumber suara. Betapa terkejutnya wanita itu ketika mendapati Mas Beno sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan yang tak biasa. Ia sama sekali tidak mengetahui kapan suami kakaknya itu masuk ke dalam rumah karena terlalu asyik mendengarkan penuturan salah satu saksi dalam berita yang begitu menggebu-gebu.
Hafsah hanya mengangguk sekali sebagai bentuk sapaan. Ia merasa canggung dengan kakak iparnya itu, sekaligus heran kenapa tiba-tiba sudah ada di dalam, padahal seingatnya, pintu sudah ia kunci dari dalam.
Hafsah segera berdiri, berniat untuk pindah menonton TV di kamarnya saja. Ia berharap bisa langsung tertidur tanpa perlu takut karena sudah ada orang rumah yang sudah pulang.
Beno masih betah berdiri menatap Hafsah sampai wanita itu menghilang di balik pintu. Senyum mengembang tiba-tiba tersirat di wajah penuh peluh itu. Bibir bawahnya ia basahi dengan lidah, kemudian berjalan menuju dapur sambil sesekali menatap pintu kamar adik iparnya yang sudah tertutup rapat.
***
Di tempat kerjanya, Bayu sedang bersandar di teras musala setelah selesai melaksanakan salat berjamaah. Tatapan matanya menuju ke satu titik, tetapi hanya kekosongan yang tersirat di pupil hitamnya.
Pemuda itu tidak bisa mengelak. Tubuhnya memang sudah pergi jauh dari rumah, tetapi pikiran dan hatinya masih tertinggal di sana. Wajah sang Kakak yang tampak sangat menderita ketika menjalani pengobatan malam itu, membuatnya semakin dirajam kekhawatiran. Bayu ingin cepat-cepat sampai ke akhir pekan agar bisa pulang demi melihat perkembangan kesehatan kakaknya.
Keinginannya untuk cepat-cepat kembali ke rumah bukan menyangkut persoalan kakaknya saja. Akan tetapi, ada yang perlu pemuda itu selidiki perihal berkas-berkas yang hilang sebelum ia pergi.
Malam itu, ketika Bayu hendak kembali ke kamar untuk beristirahat setelah proses pengobatan Hafsah selesai, ia mendapati kondisi kamarnya sudah sedikit tertata rapi. Barang-barang yang tadinya berserakan di lantai, berpindah ke atas tempat tidur dan sudah tersusun.
Bayu sangat terkejut kala itu. Pemuda itu sangat yakin bahwa dirinya belum sama sekali membereskan kamar setelah selesai menelepon Mas Jamil. Lagi pula, ia langsung keluar untuk memberikan uang kepada Ki Mutar. Tidak ada banyak waktu untuknya membereskan barang-barang sebanyak itu.
Pikirannya terus menerka-nerka tentang siapa orang yang diam-diam telah membereskan kamarnya. Karena menurutnya, sangat tidak mungkin bila benda-benda miliknya itu bisa bergerak sendiri. Terlebih lagi ada berkas yang hilang, hal itu membuat Bayu semakin curiga. Ia merasa ada seseorang yang sengaja masuk ke kamarnya dan mengambil berkas itu, entah siapa.
Namun, ada satu sosok yang menjadi target kecurigaannya. Salah satu anggota keluarga ada yang tidak tampak saat Bayu mengantarkan Ki Mutar sampai ke depan pagar. Bayu memang sempat berbincang lama dengan Ki Mutar kala itu, tentang begitu lebarnya halaman rumah Bayu yang sangat cocok untuk dijadikan lahan perkebunan. Meskipun tidak sampai satu hektar, tetapi jika ditanami kangkung atau bayam, hasilnya lumayan jika dijual di pasar. Begitu yang Ki Mutar bilang.
Meski begitu, Bayu tidak serta-merta langsung menuduh orang yang dicurigainya itu tanpa bukti. Ia justru ingin menyelidiki terlebih dahulu dan tidak mau terburu-buru. Perihal berkas yang hilang itu, Bayu sama sekali tidak merasa khawatir karena itu bukan berkas miliknya. Namun, jika berkas itu ada di tangan orang yang salah, bisa fatal akibatnya.
Berkas yang hilang itu adalah sertifikat tanah dan akta jual beli rumah yang sekarang Hafsah tempati. Bayu sempat berpikir kalau benda itu telah diambil oleh Hafsah yang memang mempunyai hak atas surat tersebut. Namun, Bayu menjadi sedikit khawatir bila ternyata dugaannya itu salah. Kalau ternyata berkas itu bukan diambil oleh Hafsah, lalu berkas itu ada di tangan siapa?
***
Di kamarnya, Hafsah telah tertidur dengan kondisi TV yang masih menyala. Saat di dalam kamar, wanita itu terbiasa melepas jilbab. Menurut Hafsah, kamar adalah tempat teraman untuk membuka aurat karena tidak boleh ada orang yang keluar masuk tanpa seizinnya.
Hafsah tampak begitu pulas dengan masih menggenggam remote di tangan. Posisi tidur yang telentang membuat lekukan tubuhnya begitu kentara meskipun masih terbalut seragam ASN berwarna cokelat muda.
Daun pintu kamar wanita itu tiba-tiba bergerak, tanda ada seseorang yang memutarnya dari luar. Sejurus kemudian, pintu pun terbuka, lalu sosok laki-laki muncul dan masuk ke dalam kamar Hafsah mengendap-endap.
Laki-laki itu berjalan dengan hati-hati menuju lemari pakaian Hafsah. Dengan cepat ia membuka lemari itu lalu meletakkan sesuatu di dalamnya.
***
Dering alarm ponsel membuat Hafsah terbangun dari tidur. Matanya memicing ke arah televisi dan langsung menyunggingkan senyum. “Kebiasaan banget kalau nonton TV di kamar. Bukannya aku yang nonton TV, malah TV yang tonton aku,” ujarnya sembari memencet tombol power pada remot.
Hafsah menggeliat merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Ketika Hafsah melihat ke arah kaki, betapa terkejutnya ia saat mendapati roknya sudah tanggal dan memperlihatkan bentuk mulus dan jenjangnya kaki wanita itu.