Hafsah Sekarat

1080 Kata
Hafsah bangkit dan terkejut ketika melihat rok yang sebelumnya ia kenakan sudah tergeletak di lantai. Ia terburu-buru mengambil rok lalu memakainya lagi. Napasnya naik turun dengan mata yang tertuju pada pintu. Gegas wanita itu melangkah ke luar untuk memastikan. Dan ternyata, pintu kamar memang tidak terkunci dengan benar. "Kalau pintunya tidak terkunci, itu berarti ...." Hafsah berhenti bicara dan langsung menuju ruang tengah. Amarahnya semakin meledak-ledak. Ia terus memikirkan hal yang bukan-bukan setelah terjaga tanpa mengenakan rok dan celana dalam. Sesampainya di ruang tengah, Hafsah langsung menghampiri dua orang pria yang sedang duduk dengan dua kopi hitam di atas meja. Mas Beno bersama saudara sepupunya menoleh ke arah Hafsah secara bersamaan. Mereka sedikit terkejut dengan raut wajah Hafsah yang tidak seperti biasanya. "Siapa di antara kalian yang masuk ke kamarku?" Hafsah langsung saja melempar tanya. Wajah dan mata wanita itu sontak memerah menggambarkan amarah dan rasa malu yang tak terhitung jumlahnya. Pria bernama Rodih menggeleng cepat. Ia kebingungan karena baru saja tiba dan langsung dicecar pertanyaan yang mengarah ke tuduhan tanpa dasar. Sementara itu, Beno dengan tegas mengelak. Ia menatap Hafsah dengan wajah kesal karena merasa dituduh yang bukan-bukan. "Kita dari tadi ngobrol di sini, ngapain masuk-masuk ke kamarmu?" Beno menjawab pelan sembari mencebik bibir. "Iya, Mbak. Jangan asal nuduh kalau gak ada bukti. Bisa jadi fitnah nanti," sahut pria berkumis tipis di samping Beno. Dua pria itu lantas melanjutkan obrolan tanpa memedulikan Hafsah yang masih berdiri di belakang mereka. Pertanyaan aneh wanita itu seolah-olah dianggap sebagai angin lalu dan bukan sesuatu yang penting yang harus mereka bahas. Hafsah yang amarahnya sempat menggebu-gebu, mendadak reda dengan rasa tak enak yang tidak terhingga saat menerima respons tak mengenakan dari mereka. Wanita itu perlahan-lahan melangkah mundur dan kembali ke kamarnya lalu menutup pintu. Setelah bersikap tidak sopan seperti itu, Hafsah merasa seperti menelanjangi diri sendiri. "Astagfirullah! Kenapa aku bisa nuduh mereka kayak gitu? Aku malu banget Ya Allah, gak tau harus ditaruh di mana mukaku ini kalau ketemu Mas Beno nanti." Hafsah memukul dahinya. Wajahnya terus ditekuk, menyesali kekhilafannya karena tidak bisa menahan emosi. "Bagaimana tanggapan mereka tentangku nanti. Wanita yang sudah bersuami, malah menuduh laki-laki lain masuk ke kamarnya. Arrgh!" pekik wanita itu sembari mengacak-acak pucuk kerudung di kepalanya. Hafsah meletakkan b****g di atas kasur, lalu tangannya tak sengaja memegang bagian seprei yang sedikit basah. Aroma anyir darah seketika menguar di indra penciumannya, membuat bulu kuduknya sontak meremang dan otaknya berpikiran yang macam-macam. Wanita itu menarik napas dalam-dalam. Ia ingin sekali menoleh ke belakang tetapi lehernya mendadak kaku, sulit digerakkan. Tangan kirinya yang masih terasa lembap, ia dekatkan ke hidung untuk memastikan cairan apa yang ia pegang barusan. Belum juga tangannya sampai ke hidung, Hafsah sudah terlebih dahulu terkejut saat melihat ujung jari-jarinya penuh dengan cairan kental berwarna merah. Hafsah memaksakan diri menoleh ke belakang meskipun gemetaran. Benar saja, seprei merah jambunya sudah penuh dengan noda darah. Wanita itu tidak sama sekali mengindahkan kondisi tempat tidurnya ketika terbangun. Ia sudah kalap terlebih dahulu melihat tubuhnya yang setengah telanjang seperti ada orang yang menanggalkannya di saat ia sedang tidak sadar. Hafsah yang kaget, cepat-cepat berdiri demi bisa melihat dari mana asalnya cairan merah tersebut. Belum juga Hafsah sempat membalikkan badan, tiba-tiba saja darah mengalir di betisnya hingga menetes ke lantai. Hafsah kebingungan sekaligus takut, mengapa tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan banyak darah? Padahal, belum lama wanita itu mengalami menstruasi. Jika dihitung dari siklusnya, seharusnya ia baru datang bulan sekitar lima sampai tujuh belas hari lagi. Wanita itu kebingungan karena tidak punya stok pembalut di kamar. Ia lantas beranjak mengambil kain yang tidak terpakai sebagai pengganti pembalut, lalu mengambil celana untuk mengganti roknya yang basah. Baru saja Hafsah melangkah dua kali, darah yang keluar dari organ kewanitaanya, mengalir terus menerus tak mau henti. Perut Hafsah mendadak keram dan mulas. Rasa mulas yang ia rasakan tidak sama seperti saat ia datang bulan. Sakitnya itu justru hampir sama seperti saat ia melahirkan Lala. Wanita itu sampai membungkuk sambil menyeret kaki karena tak tahan dengan keram perut yang semakin menjadi-jadi. Dengan susah payah Hafsah membuka pintu lemari ketika berhasil mencapainya. Desahan kesakitan lolos begitu saja dari bibirnya yang memucat. Mata wanita itu tampak redup seperti tak lagi sanggup menatap ke sekitaran. Belum sempat wanita itu mengambil kain, tangannya sudah keburu lemas dan sudah tak mampu lagi diangkat. Kaki-kaki jenjangnya sudah tidak kuat menopang beban tubuh yang sempoyongan. Dua detik kemudian, Hafsah pun jatuh, menggelepar, tak sadarkan diri di lantai dengan keadaan bersimbah darah. *** Di halaman parkir khusus karyawan, Bayu tampak sedang memanaskan motor 4 tak 250 CC miliknya. Hampir seluruh karyawan sudah bertolak menuju rumah masing-masing, tetapi pemuda itu masih betah memainkan suara knalpot dengan menarik pedal gas tanpa menaikkan persneling. Ada keraguan yang tersirat di wajah pemuda dua puluh empat tahun itu. Sebab, pikirannya tak bisa terfokus pada satu titik dan selalu ingat dengan kakaknya di kampung, apalagi malam itu Mas Jamil terus-terusan memintanya untuk menjaga Hafsah selama ia belum pulang. Kakak iparnya itu merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Haya dan suaminya. Ia takut anak dan istrinya mengalami hal yang tidak diinginkan karena dibiarkan tinggal dengan sepasang suami-istri itu. Bayu merasa sedikit ragu. Ia ingin sekali pulang ke rumah barunya untuk mengistirahatkan diri. Jarak perumahan tempatnya tinggal cukup dekat, tidak memakan banyak waktu perjalanan untuk sampai ke sana. Maka dari itulah Bayu memilih untuk membeli rumah di dekat tempat kerjanya agar bisa mempersingkat waktu perjalanan dan bisa beristirahat lebih lama. Jika ia harus kembali ke kampung, itu sama saja pekerjaan dua kali dan dia harus membawa kembali kopernya yang sudah ia bawa-bawa sejak pagi. Entah kenapa seperti ada yang menuntun hati pemuda itu agar ia lekas kembali ke kampung. Pikirannya mendadak resah, gelisah, seolah-olah akan ada hal buruk yang akan terjadi pada anggota keluarganya jika ia tidak kembali ke sana. Bayu mengangkat jam di pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.15 sore. Otaknya berputar menghitung waktu perjalanan. Jika ia memutuskan untuk pulang ke rumah kakaknya, itu berarti ia akan sampai di sana tepat di waktu magrib. Tanpa berpikir panjang, pemuda itu pun gegas melajukan motornya dengan kencang. Ia tidak ingin membuang waktu yang semakin terulur jika ia masih terus-terusan duduk termenung tanpa menuai keputusan. Bayu membelok setang ke arah timur ketika keluar dari gerbang, yang berarti mengarahkan kendaraannya menuju rumahnya di kampung. "Bismillah. Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan saudara-saudara saya di rumah, aamiin," ucap pemuda itu di sela konsentrasinya berkendara. Bayu mengesampingkan rasa lelah demi menuruti kata hatinya. Ia berharap tidak ada hal buruk yang terjadi sesampainya ia di rumah nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN