Kepulangan Suami Hafsah

1124 Kata
Di sebuah pendopo rumah sederhana, di wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia, Jamil, suami Hafsah, tampak sedang berdiskusi dengan seseorang berpenampilan alim dengan sarung tenun dan kopiah hitam di kepalanya. Wajah Jamil tampak kusut seperti sedang dihadapkan dengan masalah yang begitu berat. Sesekali lelaki itu mengusap wajahnya kasar, selama menceritakan bagaimana kondisi keluarganya di kampung sepeninggal kedua mertuanya dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. Jamil pun menceritakan perihal terapi pengobatan terhadap sang istri yang dilakukan oleh salah satu saudara iparnya di kampung, yang tanpa persetujuannya menggunakan jasa seorang dukun yang bahkan berani meminta bayaran tinggi. "Semua jenis penyakit yang ada di muka bumi ini datangnya dari Gusti Allah. Allah maha berkuasa atas segalanya, Mil. Semua yang ada di langit dan di bumi, tidak luput dari pengawasan-Nya," ujar lelaki di hadapan Jamil. "Tapi, Abi. Kenapa bisa di kepala istri saya sampai keluar paku dan jarum? Jujur, saja saya sangat khawatir dengan keadaan istri dan anak saya di kampung, apalagi setelah rumah kami didatangi dua dukun itu, saya jadi kepikiran terus, Abi." Jamil meluapkan kegundahannya pada sosok teduh yang masih memiliki ikatan saudara dengannya. Laki-laki paruh baya yang biasa Jamil panggil dengan sebutan 'Abi' itu adalah kakak sepupu dari almarhum ayahnya. Beliau asli orang Jawa Timur dan sudah hampir lima belas tahun menetap di Kalimantan dan membangun pesantren di sana. Ketakutannya akan kondisi Hafsah membuat Jamil berpikiran untuk menghubungi Abi Ghofur demi meminta saran kepada beliau. Ia sempat merasa malu pada sepupu ayahnya itu lantaran belum sempat meluangkan waktu untuk mampir bersilaturahmi selama ia bekerja di kabupaten yang sama dengan tempat tinggal beliau. Meskipun sungkan, Jamil tetap datang ke rumah Abi Gofur dengan menenteng beberapa kantong plastik berisi makanan untuk dibagikan kepada para santri. Sungguh bahagianya hati Jamil kala mendapat sambutan hangat dari paman dan istrinya. Senyum ceria para santri yang kebanyakan adalah seorang anak yatim juga membuat air matanya luruh, mengharu biru. Setelah sempat melepas rindu setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Jamil pun lantas menyatakan pada pamannya tentang maksud kedatangannya selain untuk bersilaturahmi. Seperti sudah tahu apa yang ingin disampaikan Jamil, Abi Ghofur pun mengajaknya mengobrol di pendopo belakang rumah. Abi Ghofur memegang dagu seraya mengangguk-angguk menanggapi keluh kesah keponakannya. Ia menatap Jamil sekilas, kemudian kembali menunduk, memutar kalung tasbih di tangan kanannya. "Jamil, manusia itu adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Kita diberi akal, tenaga, dan juga hawa nafsu, agar senantiasa dapat memanfaatkannya dengan baik. Salah satunya untuk beribadah, berbuat baik kepada sesama, mencari nafkah, menuntut ilmu, dan lain sebagainya. Sementara Jin dan sebangsanya, mereka hanya diberi akal dan nafsu oleh Allah, tetapi mereka tidak diberi kekuatan fisik seperti manusia." "Tapi Abi, kalau ada orang yang terkena guna-guna, santet, dan semacamnya, bukankah itu perbuat setan, Abi? Karena kalau kita pikirkan lewat logika, hal-hal tersebut tidak masuk akal rasanya. Jika tiba-tiba ada orang yang sakit, lalu keluar benda-benda asing dari dalam tubuhnya, itu sudah di luar jangkauan manusia, bukan?" Jamil memotong pembicaraan. "Tapi kamu harus ingat satu hal, Mil. Ilmu santet, sihir, atau semacamnya, itu sudah termasuk persekutuan antara manusia dengan setan. Setan tidak akan punya kekuatan jika tidak difasilitasi oleh manusia itu sendiri. Lihatlah para dukun itu, mereka membuat sesajen, untuk siapa? Kemudian mantra-mantra yang mereka baca, itu untuk memanggil siapa? Meminta sesuatu kepada selain Allah itu musyrik. Dosa musyrik tidak akan diampuni sampai hari kiamat nanti. Nauzubillah min dzalik!" seru Abi Malik dengan begitu antusias. “Memintalah hanya kepada Allah. Baik saat kamu dalam keadaan susah, maupun senang. Kaya, ataupun miskin, sehat, ataupun sakit. Jangan sekali-kali meminta pada selain Allah. Setan itu penuh dengan tipu daya. Sampai hari kiamat nanti, mereka tidak akan berhenti menggoda umat manusia agar melenceng dari jalan Allah,” sambungnya lagi. Kini, giliran Jamil yang mengangguk-angguk mendengar penuturan dari pamannya. Lelaki itu sampai mengucap istigfar berkali-kali lantaran takut terbawa ke dalam kesesatan yang bersumber dari tipu daya setan. "Kamu sepertinya harus pulang secepatnya. Saya melihat, keluargamu di kampung sedang sangat membutuhkanmu," ucap Abi Ghofur bernada yakin. "Saya juga berpikir seperti itu, Abi. Tapi, saya masih harus bekerja tiga hari lagi baru bisa kembali ke kampung. Jujur, saya sangat dilema saat ini. Badan saya ada di tempat kerja, tetapi pikiran saya melayang entah ke mana." Jamil mengendurkan posisi duduknya, lalu menyibak rambut yang sedikit basah. "Gak usah nunggu tiga hari. Kalau bisa hari ini, kamu harus pulang hari ini juga!" Abi Ghofur kembali berseru. Melihat ekspresi tidak biasa dari lelaki paruh baya itu, membuatnya semakin bingung memikirkan tentang bagaimana cara untuk pulang. Jika Jamil nekat pulang tanpa seizin atasan, pekerjaannya bisa tergadaikan. Jika sampai dipecat, bagaimana ia bisa menafkahi anak istrinya nanti. Sangat sulit mencari pekerjaan di zaman sekarang, apalagi mengingat usianya yang tidak lagi muda. "Jangan risaukan pekerjaanmu, Jamil. Saya yakin, atasanmu pasti mengizinkanmu untuk pulang." Pesan yang terucap dari mulut Abi Gofur, sejalan dengan apa yang sedang Hamil pikirkan. Melihat keyakinan pamannya itu, membuat kerisauan hati Jamil menjadi sedikit teratasi. Jamil pun mengiakan saran sang paman. Setelah ia kembali ke mes, ia akan langsung menemui kepala mandor untuk meminta izin pulang lebih cepat. Enak tak enak, diizinkan atau tidak, lelaki itu tetap berniat kembali ke rumah secepatnya. *** Bayu begitu cepat melajukan kendaraannya seperti sedang mengejar waktu. Pemuda itu tidak ingin ketinggalan salat magrib berjamaah karena terlalu lama di jalan. Selama berkendara, pemuda itu berulang kali menengok arloji di pergelangan kiri, merasa petang sudah hampir menghilang, Bayu lantas menarik gas dalam-dalam. Lampu merah di persimpangan pasar, membuat pemuda berjaket hitam itu terpaksa menarik rem. Sungguh momen yang menyebalkan bagi Bayu, terjebak di lampu merah saat dirinya sedang terburu-buru. Setelah satu menit menunggu, akhirnya warna lampu lalu lintas berganti. Bayu segera melaju setelah memastikan tidak ada kendaraan yang masih melintas dari arah lain. Pemuda itu tidak lagi memacu sepeda motornya dengan cepat. Sebab, jalan yang ia lewati setelah persimpangan adalah jalanan pasar yang banyak dilewati para pejalan kaki. Badan jalan pun sedikit terkikis oleh lapak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya tanpa mengindahkan pengguna jalan. Kondisi itu membuat Bayu bisa berkendara sambil mencuci mata, melihat berbagai jenis jajanan sontak membuat produksi air liurnya bertambah. Bayu pun menepikan motornya di sisi penjual donat. Semua keluarga pasti senang saat melihatnya pulang dengan membawa oleh-oleh di tangan. Bayu memesan dua puluh donat dan onde-onde kacang hijau kesukaannya. Ketika ia baru saja duduk di bangku, matanya tidak sengaja menangkap dua orang lelaki yang sangat ia kenal. Pemuda itu lantas memicing, berusaha menegaskan penglihatan agar tak sampai salah terka. Ternyata Bayu benar, dua orang lelaki yang ia lihat sedang duduk di depan toko material adalah kakak iparnya, Beno, yang sedang mengobrol dengan Ki Mutar. Dahi pemuda itu sontak mengerut, menyaksikan kedekatan dua orang itu yang terkesan mencurigakan. "Apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan di sana? Mas Beno dan Ki Murat, mereka tampak akrab seperti sudah mengenal lama," ujar Bayu yang masih belum beranjak dari persembunyiannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN