Melihat gelagat mencurigakan yang tampak dari Mas, Bayu lantas mendekat dan bersembunyi di balik gerobak usang tepat di sebelah kiri toko material. Bayu sengaja bersembunyi di sana demi bisa mendengar percakapan antara Ki Mutar dengan kakak iparnya.
Nihil, usaha Bayu ternyata tidak sama sekali membuahkan hasil. Riuh rendah suara orang-orang yang melintas, ditambah bising kendaraan yang tidak berhenti berlalu-lalang, membuat fokus pendengarannya terbagi. Alhasil, Bayu pun tidak dapat menangkap sama sekali topik yang sedang mereka perbincangkan sampai keduanya pergi.
"Argh, sial!" pekik Bayu, lalu melayangkan bogem mentah pada rolling door di sampingnya.
Meskipun tidak berhasil menguping, Bayu tetap berusaha menggali informasi lewat pemilik toko tersebut. Bayu menyempatkan diri menelisik ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya keluar dari tempat persembunyian. Setelah dirasa aman, dengan santai pemuda itu menghampiri lelaki paruh baya berwajah oriental yang sedang duduk di balik etalase.
"Koh, boleh tanya sebentar!" Bayu langsung saja menodong pertanyaan tanpa basa basi lagi.
"Oh, boleh-boleh. Mau tanya apa?" sahut lelaki itu dengan wajah antusias.
"Dua orang laki-laki yang barusan dari sini, apa Kokoh kenal?" Bayu lagi-lagi menoleh ke belakang, takut bila tiba-tiba Ki Mutar dan Beno kembali datang dan menangkap basah dirinya sedang memata-matai mereka.
"Oh, si Mutar? Tapi kalau laki-laki yang satunya, oe gak kenal," sahut si pemilik toko, sambil merapikan bon belanja yang tercecer di atas etalase.
"Ki Mutar sering ke sini, Koh?" tanya Bayu lagi.
"Oh, lumayan, lah. Bisa seminggu sekali."
"Kalau saya boleh tau, orang itu ke sini mau apa, atau mau cari apa, Koh?"
Melihat gelagat pemuda di depannya yang sangat ingin tahu, si pemilik toko mulai merasa tidak nyaman. Ia hanya menatap Bayu sembari mengangkat kedua alisnya, lalu kembali menunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Bayu mulai merasa tak enak karena banyak bertanya. Ia pun mencari cara agar sikap keingintahuannya tidak terkesan seperti sedang memata-matai.
"Maaf, Koh. Begini, saya sebenarnya punya rencana untuk renovasi rumah. Kebetulan, saya pernah direkomendasiin sama seseorang untuk beli bahan-bahan bangunan di sini, murah-murah katanya," kilah pemuda itu berusaha memancing.
"Oh alah, begitu! Di sini memang harga-harganya oe kasih miring sedikit, terutama buat yang sering belanja di sini, pasti oe kasih diskon. Kaya orang yang kamu tanyain barusan, dia sering banget beli papan sama paku. Ya ... pasti oe kasih korting, lah, karena langganan." Si pemilik toko mulai menanggapi Bayu kembali dengan antusias.
"Papan sama paku? Buat apa, Koh?"
"Ya ... mana oe tau? Oe enggak ada waktu buat tanya-tanya ke tiap pembeli yang datang."
Bayu lantas mengangguk. 'Kalau begitu, aku harus selidiki ini sendiri', gumamnya dalam hati.
Merasa sudah terlalu lama berbincang, Bayu akhirnya memutuskan untuk meminta nomor telepon toko agar lebih mudah bertanya-tanya jika ingin memesan barang. Si pemilik toko pun menyerahkan kartu namanya, lalu Bayu berpamitan dengan ribuan terima kasih karena sudah diberi informasi.
Bayu kembali melajukan kendaraannya setelah membayar kue yang ia pesan. Ada hal yang masih melekat di pikiran pemuda itu saat mendengar kata 'paku'. Bagaimana tidak, benda itu mengingatkannya dengan Hafsah atas kejadian malam itu.
Bayu sempat merasa aneh ketika Hafsah tiba-tiba mengeluarkan paku dari kepalanya. Entah itu sebuah kebetulan atau bukan, tetapi Bayu yakin, Ki Mutar bisa saja sudah mempersiapkan benda itu terlebih dahulu, kemudian ia taruh di kepala Hafsah tanpa sepengetahuan semua orang. Atau bisa jadi, dukun itulah yang sengaja mengirimkan santet pada kakaknya, kemudian datang dengan alasan untuk mengobati.
Seperti kata pepatah, melempar batu sembunyi tangan. Jika memang benar Ki Mutar adalah pelaku santet yang sesungguhnya, kemudian datang dengan berpura-pura sebagai pahlawan yang akan menyembuhkan korbannya, itu sungguh sangat licik. Bayu berharap bisa membongkar kedok dukun tersebut sebelum ia kembali datang meminta uang. Jika pemuda itu bisa mengumpulkan cukup banyak bukti, ia mungkin akan melaporkannya kepada polisi.
Setelah hampir lima belas menit berkendara, Bayu pun tiba di rumahnya yang tampak begitu gelap tanpa ada satu pun lampu yang menyala. Pemuda itu kemudian memarkirkan motornya, lalu berjalan ke arah samping rumah untuk mengecek sekring listrik apakah ada yang korselet atau tidak. Bayu menyuluh senter pada ponselnya, dan mendapati sekering dalam keadaan normal.
Ia kembali berjalan ke depan pintu, lalu menyalakan lampu halaman dengan menekan tombol sakelar yang terletak di sisi kanan dekat jendela. Lampu taman menyala, itu berarti lampu-lampu di rumahnya memang belum ada yang menyalakan, bukan karena listrik padam. Bayu lantas mengetuk pintu seraya mengucap salam. Namun, tidak ada jawaban dari dalam.
Bayu mengangkat ponselnya, berusaha melakukan panggilan ke nomor Hafsah. Saat telepon tersambung, tiba-tiba Bayu mendengar suara ponsel berdering dari dalam rumah, tetapi ia tunggu-tunggu, tidak ada seseorang pun yang menjawab.
Pemuda itu mulai panik. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada kakaknya, apalagi melihat kondisi rumah yang sepi dan gelap. Itu berarti, tidak ada seseorang pun yang sedang berada di dalam.
Tanpa berpikir panjang, Bayu segera mundur dan mengambil ancang-ancang. Ia berniat untuk membuka pintu dengan cara mendobraknya. Setelah dua kali tarikan napas, pemuda itu pun berlari dan menghantamkan tubuhnya ke pintu berbahan kayu jati.
Satu kali hantaman keras, berhasil membuat engsel rusak dan pintu pun terbuka lebar. Bayu mengernyit kala melihat patahan engsel yang jatuh ke lantai, yang menegaskan bahwa kondisi pintu hanya dikunci asal dari dalam, bukan sengaja dikunci dari luar.
Kejanggalan itu membuat Bayu semakin terburu-buru mengecek kondisi rumahnya. Dinyalakannya lampu-lampu dengan cepat sehingga suasana di dalam rumah menjadi terang benderang.
"Mbak, Lala, kalian di mana?" Pemuda itu berteriak, berharap salah satu dari mereka mendengar jika memang ada di dalam.
"Mbak Hafsah, Mbak Haya!" Sampai dua kali Bayu berteriak, ia tetap tidak juga mendapat jawaban.
Bayu yang semakin khawatir, gegas berlari menuju kamar keponakannya. Ia berharap Hafsah dan anaknya ketiduran sampai lupa menyalakan lampu. Namun, saat Bayu membuka pintu, kamar Lala tampak begitu sepi dan rapi. Itu berarti, Baik Hafsah maupun Lala, belum sempat menempati kamar itu seharian tadi.
Wajah Bayu tampak semakin kusut. Ia begitu lelah setelah seharian bekerja dan mengarungi perjalanan jauh. Ia sudah membayangkan akan disambut oleh keponakannya setelah sampai di rumah, tetapi ia justru pulang dalam keadaan rumah yang sepi seperti tak berpenghuni.
Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang. Baru saja Bayu hendak meluruskan pinggang, tiba-tiba ia mendengar suara rintihan yang berasal dari kamar kakaknya.