Kondisi Buruk Hafsah

1211 Kata
Bayu tersentak dan gegas bangkit dari tidurnya. Ia memasang telinga kuat-kuat untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar bukanlah imajinasi belaka. Setelah beberapa detik merekam sunyi, tiba-tiba suara rintihan itu terdengar lagi. Tanpa ragu Bayu berlari ke arah kamar kakaknya dengan perasaan khawatir . Ketika berhasil membuka pintu dan menyalakan lampu, pemuda itu melihat Hafsah sudah tergeletak di lantai bersimbah darah. "Mbak!" pekik Bayu yang langsung meraih tubuh Hafsah. Wajah Hafsah sudah tampak pucat dengan bibir yang terus bergetar hebat. Ketika ditanya apa yang terjadi padanya hingga sampai tergeletak di lantai seperti itu, Hafsah hanya menggeleng pelan, ia begitu lemas dan sulit diinterogasi. Tanpa menunggu waktu lama, Bayu segera menggendong tubuh kakaknya ke luar rumah. Pemuda itu berteriak-teriak meminta pertolongan warga. Beruntung, sebuah mobil pickup yang kebetulan melintas, berhenti. Sang sopir menawarkan diri untuk membantu Bayu membawa kakaknya ke klinik terdekat. Sesampainya di klinik bersalin yang hanya berjarak sekitar 700 meter dari rumah Hafsah, Bayu semakin ditimpa ketakutan lantaran bidan di klinik angkat tangan. Kondisi Hafsah sudah sangat kritis, sudah banyak darah yang keluar dan kebetulan di klinik tersebut stok kantong darah sedang kosong. Bidan pun menyarankan untuk segera membawa Hafsah ke rumah sakit terdekat memakai ambulans miliknya. Melihat kondisi Hafsah yang sudah sangat lemah, Bidan pun membantu memasang alat bantu pernafasan dan juga memasang selang infus. Dengan kerja cepat, Bayu dan Hafsah pun segera berangkat menuju rumah sakit ditemani oleh salah satu petugas kesehatan dari klinik, sebagai pendamping yang akan menyampaikan surat rujukan agar Hafsah segera ditangani sesampainya di sana. Sirene ambulans sengaja disetel dengan tempo cepat oleh pengemudi agar pengguna jalan lain tahu bahwa ambulans yang ia kendarai sedang membawa pasien dalam keadaan kritis. Kendaraan-kendaraan roda dua maupun roda empat, segera menepi membiarkan ambulans yang membawa mereka melaju terlebih dahulu. Dengan begitu, mereka bisa cepat sampai dan Hafsah pun segera mendapatkan penanganan. Sepanjang perjalanan, Bayu terus menggosok-gosok telapak tangan kakaknya yang dingin. Pemuda itu tidak berhenti mengajak kakaknya mengobrol agar mata Hafsah terus terjaga. Sebab, salah satu petugas medis bilang, akan sulit membuat Hafsah sadar jika ia sudah memejamkan mata. Bisa jadi wanita itu akan jatuh koma atau bahkan meninggal dunia. Tak ayal, Bayu sampai menampar-nampar pelan pipi kakaknya ketika Hafsah sudah mulai memejamkan mata. Bayu terus mengajak Hafsah berselawat dan mengucap istigfar agar kakaknya terus terjaga sampai tiba. Setelah hampir setengah jam mengarungi perjalanan dengan perasaan kalut, akhirnya mereka berhasil sampai di rumah sakit dengan kondisi Hafsah masih dalam keadaan sadar. Beberapa petugas rumah sakit keluar membawa brankar, tubuh Hafsah akhirnya dipindahkan, lalu dibawa ke unit gawat darurat untuk diberikan tindakan. Salah satu petugas medis dari klinik ikut menemani Hafsah di dalam, sementara Bayu yang begitu cemas, hanya diizinkan menunggu di luar sendirian. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berjalan mondar-mandir di depan pintu UGD. Tangannya sibuk mengutak-atik ponsel, mencoba menghubungi Haya yang tidak diketahui di mana keberadaannya. Panggilan tersambung, tetapi tidak diangkat oleh si pemilik nomor. Saat Bayu mencoba menelepon lagi, ternyata nomor tujuan sudah tidak aktif. "Arrgh!" pekik Bayu, hampir saja membanting ponselnya. Pemuda itu semakin geram lantaran kakak sulungnya tidak menepati janji, yang bilang akan menemani Hafsah di rumah sampai suaminya kembali, apalagi di saat kondisi Hafsah yang belum sepenuhnya pulih, harusnya Haya dan suaminya tidak meninggalkan Hafsah di rumah seorang diri. "Lala!" Tiba-tiba Bayu ingat dengan keponakannya. Ia pun kembali melakukan panggilan ke nomor tetangga sebelah, yang biasa menjaga Lala ketika ibunya sedang mengajar. "Halo, Om. Assalamualaikum!" Suara bocah perempuan dari seberang telepon, membuat kekhawatiran Bayu luntur seketika. "Waalaikumsalam, Lala. Lala lagi ngapain? Udah makan?" tanya pemuda itu. Ia berusaha menahan intonasi suara agar tak terdengar seperti orang yang sedang panik. "Lala belum makan, Om. Tunggu Ibu jemput." Deg! Jawaban dari keponakannya justru membuat Bayu semakin kebingungan mencari alasan. Ia tidak ingin Lala tahu bahwa ibunya sedang sekarat di rumah sakit. Namun, ia tidak sampai hati jika harus membohongi bocah enam tahun itu. Bayu pun langsung merespons cepat ucapan keponakannya dengan meminta Lala memberikan ponsel pada Bu Ningrum. Ia beralasan ingin bicara penting dengan tetangganya itu. Setelah ponsel diambil alih oleh Bu Ningrum, Bayu segera memberitahukan tentang kondisi Hafsah yang sedang tidak baik-baik saja. Ia meminta Bu Ningrum agar membujuk Lala menginap di rumahnya sementara waktu sampai Hafsah benar-benar pulih. Wanita yang tidak memiliki anak itu pun mengiyakan. Namun, satu hal yang membuat Bayu kembali dibebani pikiran, yakni saat Bu Ningrum menceritakan tentang kondisi Lala yang juga sempat mengalami ketakutan. Siang tadi Lala menangis dan bilang, kalau ia dipaksa pulang oleh sesosok nenek tua menyeramkan. Bu Ningrum yang tidak bisa melihat sama sekali sosok yang diceritakan Lala, menjadi kebingungan dan sedikit ketakutan, apalagi suaminya yang bekerja sebagai sopir angkutan kota, sudah izin tidak pulang malam ini karena harus mengantar sewa ke luar kota. Alhasil, Bu Ningrum hanya tinggal berdua saja dengan Lala di rumah. Bukannya tak senang Lala menginap di rumahnya, ia hanya khawatir kalau bocah itu menangis lagi malam-malam sementara di rumahnya sedang tidak ada orang. Mendengar hal itu, Bayu semakin dilema dan bingung harus mengatasi yang mana lebih dulu. Kakaknya sedang kritis di rumah sakit. Sementara keponakannya, juga sedang mengalami gangguan mistis. Bayu takut jika Lala juga jadi incaran teror makhluk gaib di rumahnya. Bocah sekecil itu belum mengerti apa-apa. Ia takut Lala mengalami hal buruk seperti yang dialami ibunya. Di tengah Dilema batin yang dirasakan pemuda itu, tiba-tiba seorang petugas medis keluar dari ruang UGD dan memanggil namanya. “Ya, saya sendiri!” dengan tegas Bayu mengangkat tangan dan berjalan menghampirinya. “Anda suami pasien bernama Hafsah?” tanya pria berseragam putih dengan masker di wajahnya. “Bukan, Pak. Saya adiknya.” “Kalau begitu, saya ingin bicara dengan suami pasien.” “Haduh, bagaimana, ya? Suami kakak saya kerja di luar kota dan baru akan pulang tiga hari lagi.” Bayu menjawab dengan wajah kusut. “Memangnya ada apa dengan kakak saya?” sambung pemuda itu lagi. Merasa tidak mungkin bertemu dengan suami pasien dalam waktu cepat, perawat itu pun meminta Bayu untuk menandatangani sebuah surat. Bayu dengan sigap mengambil selembar kertas putih yang disodorkan oleh pria di hadapannya. Dengan saksama pemuda itu membaca kata demi kata yang tertera dalam surat tersebut, kemudian bertanya karena ia tidak mengerti apa maksudnya. “Prosedur histerektomi. Ini maksudnya apa ya?” telunjuk Bayu mengarah tepat ke satu kata yang membuatnya berpikir lama. “Itu adalah prosedur pengangkatan rahim. Pasien Hafsah mengalami pendarahan hebat yang diduga terjadi akibat fibroid yang semakin membesar,” tutur perawat singkat. “Fibroid itu, apa?” Bayu kembali bertanya. “Fibroid itu semacam tumor yang tumbuh di sekitar rahim. Ukuran tumor di rahim Hafsah sudah membesar, menyebabkan ia mengalami pendarahan dan tidak akan berhenti sebelum rahimnya diangkat.” “Apa kalian tidak bisa mengusahakan dengan prosedur lain? Kalau sampai ....” “Maaf, kami sudah melakukan berbagai cara untuk menghentikan pendarahannya, tapi tetap tidak berhasil. Sementara itu, kondisi pasien semakin lama semakin tidak stabil karena kehilangan banyak darah. Kami harus segera melakukan tindakan operasi terhadap pasien.” Hati Bayu semakin teriris mendengar sang kakak akan segera diangkat rahimnya. Ia tahu betul bagaimana Hafsah bercita-cita ingin memiliki banyak anak agar ia tidak kesepian di masa tua nanti. Setelah rahimnya diangkat, wanita itu pasti akan sangat terpuruk dan mengutuk tindakan Bayu. Namun, pemuda itu memilih tetap menandatangani surat persetujuan. Ia lebih khawatir dengan keselamatan kakaknya meskipun nantinya akan disalahkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN