Hasrat Dua Lelaki

1535 Kata
Bayu berjalan hilir mudik dengan wajah cemas di ruang tunggu lantai tiga gedung rawat inap. Lampu indikator di atas pintu ruang operasi masih menyala, menandakan operasi yang dijalani Hafsah masih belum selesai. Bayu sudah sangat tidak sabar. Ia ingin sekali lekas masuk dan memeluk kakaknya yang sedang bertaruh nyawa. Operasi pengangkatan rahim tidaklah mudah. Ada banyak tahapan-tahapan yang harus dilakukan sesuai prosedur. Belum lagi masa recovery setelahnya, yang mungkin akan memakan waktu yang tidak sebentar untuk Hafsah bisa pulih seperti semula. Namun, bukan hal itu yang sedang menjadi beban pikiran Bayu, lelaki itu masih belum mendapat jawaban tentang penyebab kakaknya bisa tergeletak tanpa ada seorang pun di dalam rumah. "Ke mana perginya Mbak Haya dan Mas Beno? Apa sudah pulang ke rumah mereka?" Bayu masih sibuk menerka-nerka. Namun, yang membuat Bayu curiga adalah, keduanya tidak bisa dihubungi sejak tadi, seolah-olah ada yang sedang mereka sembunyikan atau bahkan sengaja membiarkan Haya di rumah sendirian. Bayu belum puas mencoba, ia masih terus melakukan panggilan pada Haya. Ia berharap kakak sulungnya itu segera menjawab demi menghilangkan keresahannya. Sampai pemuda itu memutuskan untuk duduk di kursi tunggu untuk meregangkan otot-otot yang kaku, tiba-tiba Nomor Haya memanggilnya balik. "Assalamualaikum, Mbak!" seru Bayu setelah menjawab panggilan. "Waalaikumsalam, iya. Ada apa, Bay? Ponsel Mbak seharian ada di kamar dan gak dipasang nada dering, jadi gak tau kamu telepon," sanggah wanita itu. Bayu sudah tidak memedulikan alasan apa yang diucapkan oleh kakaknya. Ia gegas memberitahu tentang kondisi Hafsah yang sedang menjalani operasi pengangkatan rahim di sebuah rumah sakit di wilayah kabupaten tempatnya tinggal. Bayu pun menceritakan awal mula ia menemukan Hafsah di rumah. Kondisinya begitu mengkhawatirkan sampai Bayu bercerita dengan suara sediki gemetar. "Ya ampun! Hafsah?" Terdengar pekikan dari seberang. Sejurus kemudian, isak tangis pun terdengar menderu-deru mengiringi suara pilu yang keluar dari mulut wanita itu. "Mbak tolong ke sini, ya, temani Mbak Hafsah! Bayu mau ke Lala dulu, kasihan Lala cuma berdua sama Bu Ningrum." Bayu memohon dengan suara berat. Tanpa banyak alasan, Haya pun mengiyakan permintaan adik bungsunya. Ia meminta Bayu untuk menunggu karena harus menghubungi Beno terlebih dahulu. Bayu tidak menolak. Biar bagaimanapun, Beno adalah suami kakaknya. Tidak mungkin ia melarang Haya datang bersama suaminya meskipun sebenarnya Bayu sangat mencurigai lelaki itu. Keduanya sepakat untuk bertemu di rumah sakit satu jam lagi, membuat kekhawatiran Bayu sedikit terobati. *** Bayu sedang duduk di sisi Hafsah yang masih belum hilang bius. Pemuda itu terus menatap wajah kakaknya yang masih pucat, seraya berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar wanita di depannya segera sadar dan membuka mata. "Kami masih harus melakukan proses observasi terhadap pasien selama dua jam ke depan ya, Pak, untuk memastikan tidak ada komplikasi yang terjadi setelah selesai operasi," ucap salah satu perawat yang mengantarnya ke ruang transisi. Hati pemuda itu seperti teriris-iris, membayangkan bagaimana respons Hafsah saat sadar dan mendapati sudah tidak ada rahim di dalam tubuhnya lagi. Bayu takut kakaknya justru akan mengalami depresi. Oleh sebab itu, ia mencoba untuk menyembunyikan tindakan medis yang dilakukan dokter sampai wanita itu benar-benar sembuh. Bayu takut kenyataan yang Hafsah alami malah akan semakin memperburuk kesehatannya nanti. Bayu tidak berhenti menengok jam dinding yang sudah hampir menunjukkan pukul 09.00 malam. Sudah hampir satu jam ia menunggu tetapi Hanya dan suaminya belum juga datang. Otaknya masih terbagi antara Hafsah dengan Lala. Keduanya sama-sama sedang membutuhkan kehadirannya, sementara Bayu hanya seorang diri dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bayu berharap kakak sulungnya segera datang. Dengan demikian, ia bisa lekas pergi untuk bertemu dengan keponakannya. *** Di tempat lain, Beno bersama saudara sepupunya tengah berada di rumah Wirna, janda muda yang sudah beberapa bulan terakhir menjadi simpanan Beno. Keduanya tampak begitu santai melahap beberapa kudapan yang disediakan oleh wanita bertubuh aduhai itu. Tak lupa pula dua cangkir kopi hitam yang sudah hampir tandas di atas meja. Wirna tampak begitu sumringah menyambut kedatangan laki-laki yang telah memberinya gelang emas lima gram sebagai hadiah, lebih tepatnya sebagai bayaran untuk memuaskan keinginan Beno malam ini. "Aduh. Mas Beno, ini kebanyakan. Emas 24 karat pula. Aku jadi gak enak terima ini," ucap Wirna dengan terus mengulum senyum dan mengedipkan mata. "Sudah, ambil saja! mumpung saudaraku ini habis jual banyak gabah. Kalau besok-besok, belum tentu dikasih segini. Ha ha," sambut sepupu Beno sambil tertawa terbahak-bahak. "Sembarangan!" Beno menoyor kepala Rodih. "Aku, kan, sekarang sudah jadi bos beras. Jadi, aku bakal terus kasih kamu uang biar kamu seneng, Sayang." Beno menjawil dagu runcing Wirna begitu gemas. Wirna tak kalah agresif. Janda satu anak itu pun membalas godaan dengan mencubit pinggang Beno kuat-kuat. Beno memekik menahan sakit. Sejurus kemudian, bibir yang banyak ditumbuhi kumis itu pun mendarat di pipi gembil Wirna. "Mas ini, main sosor aja!" Wirna berusaha menghindar dengan menggeser posisi duduknya. Melihat kemesraan si wanita dengan sepupunya, Rodih menjadi sedikit risih. Terlebih, dia sudah satu tahun ditinggal mati sang istri. Melakukan hubungan intens di atas ranjang, sudah sangat ia rindukan selama beberapa bulan terakhir ini. "Woy, jangan main di depan gue, dong. Ah, gak sopan," gertak lelaki empat puluh tahun yang memiliki perawakan tinggi besar itu. Meskipun saudara satu nenek, Rodih dan Beno memilih postur tubuh yang sangat berbeda. Postur tubuh Beno terkesan pendek dan sedikit berisi. Sedangkan Rodih, punya tubuh tinggi kekar dan memiliki otot-otot d**a yang terbentuk. Rodih yang dulunya bekerja sebagai kuli panggul sekaligus preman pasar, memang sangat cocok memiliki tubuh seperti itu. Otot-ototnya sudah terlatih mengangkat sesuatu yang berat. Jangankan beras satu karung, mengangkat dua orang sekaligus saja, ia kuat. Tak ayal, mata Wirna terus saja memperhatikan ke arah Rodih yang masih tampak malu-malu menatapnya. Hal yang lumrah bagi seorang wanita ingin merasakan sesuatu yang lebih. Tak dapat dipungkiri, Wirna memiliki ketertarikan kepada sosok laki-laki yang memiliki tampilan fisik kuat. Wanita itu mulai berkhayal jika tubuh Risih yang kekar, mungkin saja akan lebih memuaskannya secara naluriah. "Berisik, Lo, ah, ganggu gue aja yang lagi enak-enak. Sudah sana pulang!" seru Beno tanpa melepas pelukan pada wanita di sampingnya. "Enak aja, Lo. Gue disuruh pulang naik apaan? Gue kan bonceng sama Lo." Rodih mengelak tak kalah geram. "Ya udah. Lo tunggu di sini, ya! Gue mau ke kamar dulu, mumpung masih sore, biar bisa ngabisin lima ronde." Beno tertawa terbahak-bahak. "Ih, Mas Beno ngomongnya gitu. Aku kan, malu." Wirna memalingkan wajahnya dengan begitu manja. "Gak usah malu dong, Sayang. Ayo, kita ke kamar sekarang, mumpung anakmu nginep di rumah neneknya." Beno berdiri, lalu menggendong tubuh Wirna dengan susah payah. Dua orang yang sedang dimabuk asmara itu akhirnya beranjak menuju sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari ruang tamu tempat Rodih duduk. Kamar yang hanya satu-satunya di rumah berdinding anyaman bambu itu, tidak memiliki pintu dan hanya dipasang gorden panjang untuk menghalau pandangan. Risih seketika berdecak kesal, melihat langkah Beno yang sempoyongan saat menggendong Wirna, membuat batinnya tercabik-cabik dan ingin sekali mengumpat saudara sepupunya itu. "Cih! Gaya-gayaan mau bersenang-senang, gendong cewek aja sempoyongan." Rodih menarik salah satu sudut bibir ke samping. Satu batang rokok dinyalakan Rodih untuk bisa mengikis sedikit kebosanannya. Sampai pada akhirnya suara-suara desahan eksotis Wirna terdengar di telinga, Rodih pun mulai gelisah dan tidak berhenti menatap ke arah gorden pintu kamar yang melambai-lambai tertiup angin. "Arrrgh, sial! Asem banget gue kena jebakan di sini. Awas aja Lu, Ben." Rodih begitu risih menahan gejolak sampai keringat bercucuran di dahinya. Tak hanya desahan Wirna, suara erangan Beno pun mulai terdengar samar-samar. Hal itu membuat Rodih semakin tersiksa dan sudah tidak kuat lagi menahan dirinya. Tak mampu lagi menjaga libido, Rodih pun berdiri lalu berjalan ke arah luar agar telinganya tidak lagi mendengar suara-suara menggelikan itu. Akan tetapi, baru saja Rodih hendak membuka pintu, tiba-tiba Beno keluar dari kamar sambil tergesa-gesa memakai celana. "Lah, cepet amat Lu?" Risih menatap saudaranya heran. "Bini gue telepon. Gue disuruh ke rumah sakit sekarang. Si Hafsah lagi dioperasi," terang Beno sambil tangannya sibuk mengancing baju. "Loh. Hafsah masih hidup?" Rodih mencondongkan wajahnya, heran. "Sssst!" Beno menaruh jari telunjuknya ke depan bibir. "Jangan ngomong keras-keras, nanti Wirna denger." Mendengar perkataan Beno, Rodih sontak menutup mulut rapat-rapat. Ia hampir saja keceplosan membuka rencana jahat mereka yang ingin melenyapkan Hafsah. "Gue ke sana dulu, ya! Bini gue bilang, ada Bayu sama Mas Jamil sebentar lagi sampe. Kalau gue gak ke sana,.nanti mereka curiga," ungkap Bayu seraya berlalu, mengambil kunci motor dan pergi begitu saja. "Eh ... woy, tunggu! Gue pulang sama siapa?" Beno berteriak memanggil Beno. Namun, laki-laki itu sudah lebih dulu tancap gas dan pergi meninggalkannya. "Asem, asem, asem! Kenapa gue jadi sial begini, si? Udah habis dengerin orang enak-enak, ditinggal sendirian pula. Gue pulang naik apa Beno?" Risih terus saja menggerutu di ambang pintu. Sampai satu sentuhan lembut mendarat di pundaknya, laki-laki itu pun kembali merasakan ketegangan yang sudah hampir satu tahun tidak ia rasakan. "Gak usah pulang, Bang Rodih. Abang Nginep di sini aja semalam. Besok subuh, baru pulang." Bisikan lembut yang mendayu-dayu, berembus di telinga Rodih hingga lelaki itu tidak bisa menahan hasratnya. Napas laki-laki berstatus duda itu pun mulai memburu. Matanya yang bulat, tampak sedikit memerah dengan buliran-buliran bening yang menetes di dahinya. Rindu yang sudah tak tahan dengan sentuhan-sentuhan lembut yang menjalar di areal d**a hingga ke perutnya, lantas membalikkan badan demi bisa membalas membalas Wirna dengan memuaskannya. Dengan begitu bersemangat Rodih pun menoleh ke belakang. Di depan matanya, tampak Wirna sedang berdiri tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mulusnya yang seksi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN