Hukuman Pezina

1260 Kata
Mata Rodih tidak mampu berpaling dari setiap lekuk indah mempesona yang terpampang jelas di hadapannya. Hamparan samudera dan bukit menghijau yang tercipta sempurna, semakin membuat angan-angan yang sempat direngkuh keraguan, kembali melonjak begitu saja. Tangan berhias gelang emas itu, mulai bergerak manja dari wajah hingga ke bawah perut pria bertubuh kekar. Kedua mata Rodih terus mengerjap-ngerjap. Tangan kanannya tidak berhenti menepuk-nepuk pipi karena masih menganggap semua ini hanyalah mimpi. "Jangan ditepuk pipinya, Bang, nanti sakit." Dengan manja Wirna mengusap pelan pipi Rodih yang memerah. Sentuhan lembut itu seakan-akan penuh dengan aliran listrik. Seluruh tubuh Rodih mendadak ngilu hingga laki-laki itu pasrah dengan lonjakan gairah yang menyerangnya secara tiba-tiba. Dengan penuh semangat menggebu-gebu, Rodih akhirnya merengkuh tubuh tanpa sehelai benang di depannya dengan sangat erat. Bibir tipis Rodih terus menjelajah ke areal wajah dan leher Wirna hingga desahan nikmat lolos dari bibir merah wanita itu yang sedikit basah. Tubuh Wirna menggelinjang. Sementara Rodih makin erat mendekapnya seperti tidak ingat melepaskan kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Seperti seekor kucing yang diberi ikan, Rodih begitu puas menjajakan setiap inci tanpa celah tubuh wanita yang tengah menjadi simpanan saudaranya itu. Dua insan yang sedang hanyut dalam adegan panas, begitu sibuk melampiaskan hasrat satu sama lain hingga tak ada satu pun yang ingat bahwa pintu di belakang mereka belum tertutup sempurna. Apa saja yang mereka lakukan terlihat sangat jelas dari luar. Desiran angin malam pun tanpa sengaja merambat masuk, menambah kesan dingin rumah beranyaman bambu yang hanya seluas 5x6 meter itu. Rodih yang sudah sedikit berkeringat, lantas menggendong tubuh Wirna dan membawanya menuju kamar. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka yang sudah menunggunya di depan mata. Di atas ranjang besi yang dialasi dua kasur kapuk berbalut sprei merah jambu, Rodih merebahkan tubuh Wirna perlahan-lahan. Senyum semringah terpancar jelas di bibir laki-laki itu. Pemandangan indah yang sudah tak lagi ia lihat sejak lama, kini kembali bisa ia nikmati kembali. Rodih sudah tak sabar ingin segera melampiaskan keinginannya sekaligus memberi kepuasan pada wanita yang tampak sangat haus kasih sayang. Wirna berbaring pasrah di atas tempat tidur. Dengan sigap, laki-laki itu pun segera menanggalkan seluruh pakaian, tanpa peduli dosa besar yang akan ia dapat jika nekat melakukan hal tidak senonoh. Dua insan yang tak ingat dosa itu akhirnya saling merapatkan tubuh. mereka bergerak liar satu sama lain, hingga tiba waktunya hubungan terlarang itu kembali terjadi dan keduanya hanya tunduk pada hawa nafsu sendiri. "Hey, Wirna. Keluar kamu!" Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari luar. Rodih yang baru saja merasakan kenikmatan yang dahsyat, lantas menarik diri dan mengambil kembali pakaiannya dengan terburu-buru. "Sial! Kita digrebek." Rodih bergumam di sela kesibukannya memakai celana. Sama seperti Rodih, Wirna yang baru saja menahan lonjakan birahi yang tidak pernah ia rasakan dari laki-laki mana pun, sigap mengambil pakaian yang tercecer di lantai dengan wajah ditekuk menahan takut. "Aduh, gawat, Bang. Bagaimana ini?" Wirna memelas dengan tubuh gemetar. Dua insan yang sebelumnya sempat dimabuk cinta itu, sama-sama terkejut dan tidak bisa berpikir dengan tenang. Sementara di luar, beberapa warga mulai merangsek masuk dengan masing-masing membawa senjata tajam dan obor untuk penerangan. "Bakar saja mereka berdua, bakar!" Teriakan salah seorang dari luar, semakin menyulut hawa takut dua insan yang masih gelagapan itu. Belum juga keduanya memakai pakaian dengan benar, beberapa orang berbondong-bondong masuk ke dalam kamar. Rodih dan Wirna tidak bisa lagi mengelak. Keduanya tertangkap basah melakukan perbuatan maksiat dan harus mendapatkan hukuman adat yang sudah sejak lama dianut oleh penduduk sekitar. Dengan masih memakai separuh pakaian, sepasang manusia tanpa ikatan itu pun kembali ditelanjangi kemudian diikat dan diarak berjalan keliling kampung oleh sekumpulan warga. Sungguh ramai keadaan kampung tempat tinggal Wirna yang hanya berjarak satu kilometer dari rumah Bayu. Jika biasanya warga telah tertidur nyenyak di jam segitu, mereka berangsur-angsur keluar demi menyaksikan seorang orang laki-laki dan perempuan yang dibiarkan tanpa pakaian, mengitari kampung. Tidak terbilang betapa malunya wajah Wirna dan Rodih pada saat itu. Terlebih lagi, Rodih sempat dihadiahi bogem mentah dari beberapa pemuda yang gemas dengan tingkah biadabnya, meniduri seorang wanita yang sudah tidak bersuami tanpa ikata6peekawi lagi. Ibu Wirna yang pada saat itu diberitahu tentang kasus sang anak, tampak berlutut memohon kepada warga agar putrinya dilepaskan dan diberi maaf. Wanita paruh baya yang hanya memiliki satu anak itu terus menangis sampai bersujud di tengah jalan. Namun, tidak ada satu pun warga yang mengindahkannya. "Ini bukan sekali dua kali terjadi. Mereka sudah sering mekaku hal biadab ini," teriak salah satu warga sambil mengangkat obor di tangannya. "Ya, benar. Jangan sampai kampung kita terkena malapetaka jika membiarkan orang-orang seperti mereka melakukan zina. Lebih baik, kita hukum mereka seberat-beratnya," seru seorang pemuda dengan sangat gemas. "Ya,ya, kita bakar saja mereka, biar tahu rasa!" Seluruh warga pun kompak berseru. Mereka sama sekali tidak mengindahkan ucapan wanita tua yang terus saja memohon agar putrinya tidak dihukum karena ia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain putrinya. *** Beno dan Haya baru saja tiba di rumah sakit ketika Jamil, saudara ipar mereka, tiba di sana. Wajah Beno tampak sedikit terkejut dengan kepulangan Jamil yang secara tiba-tiba. Sebab sepengetahuannya, suami dari Hafsah itu baru akan pulang satu bulan mendatang. "Kenapa ini orang tiba-tiba pulang? Ah, bisa gagal semua rencanaku," batin Beno berkecamuk. Ia lantas berpura-pura menyambut kedatangan saudara iparnya itu dengan jabatan tangan. "Mas, gimana keadaannya, sehat?" tanya Jamil seraya menyunggingkan senyum. "Ya. Baik," jawab Beno singkat. "Mbak Haya, bagaimana kabar Mbak?" Kali ini, Jamil beralih menanyakan kabar kakak sang istri. Mata Haya tampak sembap dan memerah. Sejak Bayu mengabarkan tentang kondisi Hafsah satu jam lalu, wanita itu tidak berhenti menangis dan begitu khawatir dengan keadaan adiknya. "Jamil ...." Haya langsung saja memeluk adik iparnya itu sambil meraung-raung. Ia merasa sangat bersyukur suami sang adik bisa pulang lebih cepat Hafsah sedang dalam keadaan buruk. "Hafsah bagaimana, Mbak?" tanya Jamil sembari berusaha menenangkan kakak iparnya. "Hafsah belum siuman, Jamil. Dia masih ada di ruang operasi untuk tahap observasi. Mbak gak kuat lihat keadaannya. Mbak nyesel pulang dan ninggalin dia sendirian di rumah," ucap Haya sambil terisak-isak. "Bayu mana?" Sambil mengedarkan pandangan, Jamil menanyakan adik iparnya. "Bayu langsung pulang ke rumah buat nengok keadaan Lala. Lala sekarang ada di rumah Bu Ningrum. Sejak pagi, Lala tidak mau pulang katanya," jawab Hafsah seraya melepas pelukannya dari sang adik ipar. Melihat keakraban antar saudara ipar itu, Beno semakin geram dan ingin sekali cepat pulang untuk melanjutkan kegiatan bersama janda muda kampung sebelah yang sempat tertunda. Setelah saling menanyakan kabar, ketiganya pun segera beranjak menuju lantai dua ruang operasi untuk mengecek keadaan Hafsah dan memastikan perkembangannya. Namun, baru saja mereka sampai di areal tangga, dering ponsel Beno terdengar. Beno dengan sigap mengambil ponselnya dari saku celana. Sebuah panggilan dari nomor asing, membuatnya enggan menjawab dan langsung memutuskan panggilan. "Siapa, Mas?" tanya Jamil tanpa menolehkan badan. "Gak tau, nomor baru. Paling-paling cuma iseng," jawab Beno tegas. Laki-laki itu tetap melanjutkan langkah meskipun enggan. Setibanya di lantai dua, ponsel Beno kembali berdering. "Angkat saja, Mas. Siapa tahu ada berita penting." Jamil kembali berucap. Mendengar perkataan Jamil, pikiran Beno pun langsung tertuju pada Rodih yang telah ia tinggalkan seorang diri di rumah. Beno seketika merasa waswas. Ia takut sesuatu terjadi pada saudara sepupu dan wanita yang sedang ia idam-idamkan saat ini. Setelah sempat ragu, Beno akhirnya memutuskan untuk menjauh dari Haya dan Jamil sejenak untuk mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenalnya. Namun, setelah menjawab panggilan dari nomor tersebut, wajah Beno langsung berubah pucat dengan rahang yang sedikit mengeras. "Bang Ben, gawat, Bang. Rodih sama Wirna diarak keliling kampung sama warga. Kabarnya mereka mau di bakar hidup-hidup di dekat lapangan kuburan," ucap seseorang dari seberang telepon. "Kurang ajar Rodih!" Beno mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN