Benda Mencurigakan

1105 Kata
Beno meradang. Ia merasa telah dikhianati oleh dua orang terdekatnya. Kepercayaan penuh yang telah Beno berikan kepada dua orang itu, nyatanya berbalas sikap memalukan yang tidak seharusnya mereka perbuat. "Lalu, kondisi mereka bagaimana?" dengan suara bergetar, Beno tetap memantapkan diri bertanya lebih jauh tentang keadaan sepupu dan selingkuhnya. "Mereka lagi dijalan, Bang. Kasihan Rodih dan Wirna, dua-duanya ditonton orang satu kampung." Seseorang dari seberang kembali memberikan penjelasan. "Mampus!" pekik Beno yang sudah tak lagi kuat menahan emosi. "Biar mereka dibakar saja daripada bikin malu," sambungnya. Setelah sempat berbincang beberapa saat, Beno pun memutuskan mengakhiri panggilan. Ia melihat Jamil sedang berjalan ke arahnya. Laki-laki itu tidak ingin saudara iparnya tahu tentang masalah yang sedang ia hadapi. "Telepon dari siapa, Mas?" tanya Jamil sesampainya ia di hadapan kakak ipar. "Oh, bukan dari siapa-siapa. Cuma tetangga yang nanyain aku ada di rumah, atau nggak," jawab Beno seraya memalingkan wajah. Ia tidak ingin jawaban bohongnya terlihat oleh sang adik ipar. "Oh ... aku kira dari Bayu. Aku dari tadi hubungi dia gak dijawab-jawab. Aku ingin tahu dia sudah sampai di rumah atau belum," ungkap Jamil yang lekas menepuk bahu Beno dua kali sebelum pergi. Beno menghela napas panjang. Setelah sempat diterjang kegugupan, akhirnya Jamil meninggalkannya juga. Bukan tanpa alasan mengapa Beno begitu segan dengan Jamil yang usianya terpaut lebih muda darinya. Tingkat pendidikan Jamil yang tinggi, pekerjaan yang mapan, juga pergaulan yang luas, membuat Beno tidak berani bertindak macam-macam ketika laki-laki itu berada di rumah. Tak hanya itu, keluarga Jamil pun bukan orang sembarangan. Seluruh keluarganya berpendidikan tinggi, bahkan ada salah satu adiknya yang berprofesi sebagai Lawyer. Tak sulit bagi Jamil untuk membawa kasus Hafsah ke ranah pengadilan. Hal itulah yang membuat Beno semakin ketar-ketir dan kebingungan harus berbuat apa lagi. Sementara itu di rumah Hafsah, Bayu tengah sibuk membersihkan noda darah di lantai dan kasur kamar kakaknya. Ia sudah sempat mengunjungi rumah Bu Ningrum untuk menengok keadaan Lala. Beruntung Lala sudah tertidur pulas pada saat itu, Bayu jadi tidak perlu susah-susah memberikan pengertian tentang keadaan ibunya yang sedang tidak baik-baik saja di rumah sakit. Bu Ningrum juga sempat bercerita mengenai Lala yang menangis terus sejak siang tadi. Hal itu membuat Bayu kembali ditimpa khawatir. Ia merasa seperti ada yang sengaja membuat kegaduhan dengan mengirimkan makhluk-makhluk halus untuk menggangu ketentraman keluarganya, terutama Hafsah. Seluruh lantai yang sempat dikerubuti semut, sudah kembali bersih dan wangi karena Bayu telah menyemprotkan cairan karbol begitu banyak untuk mengurangi bau amis yang ditimbulkan dari noda darah itu. Seprei dan sarung bantal pun telah ia singkirkan ke kamar mandi. Laki-laki itu kemudian merendamnya dengan pemutih agar warna merahnya lebih mudah hilang dibanding harus menyikatnya terus menerus. Bayu membanting tubuhnya ke atas sofa. Lelah tubuh serta pikiran yang sedang ia rasakan, sungguh sangat menguras tenaganya. Bayu menyandarkan kepala sejenak di sandaran sofa hitam di ruang TV. Baru saja pemuda itu hendak memejamkan mata, tiba-tiba hidungnya mencium bau tak asing yang menempel pada sofa di belakangnya. "Kaya ada bau rokok," ucap Bayu sambil hidungnya tidak berhenti mengendus Benda yang sedang ia duduki. "Wah, bener. Ini emang bau rokok." Bayu berdiri sambil mengedarkan pandangan. Rasa curiganya semakin kental setelah mencium aroma tembakau yang sudah dibakar tersebut. Ia curiga ada orang lain berkunjung ke rumah ini sebelum Hafsah mengalami pendarahan. Namun, dari p****g rokok yang didapatnya dari bawah meja, Bayu menjadi lebih yakin bahwa yang telah berani datang adalah seorang laki-laki. "Siapa orang yang datang ke sini?" Bayu kembali duduk sambil memperhatikan potongan rokok di tangannya. "Kalau memang benar ada yang datang, sudah dipastikan orang itu tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Mbak Hafsah. Atau jangan-jangan ... orang tersebut malah sengaja ingin mencelakainya." Dahi pemuda itu semakin mengerut membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada diri sang kakak sebelum ia datang. Bayu tampak begitu penasaran. Ia ingin sekali secepatnya bertanya kepada dua orang yang sedang ia curigai terlibat dalam kejadian buruk yang dialami oleh kakaknya tersebut. Beno dan Ki Mutar. Bayu begitu menaruh curiga pada dua orang itu lantaran gerak-geriknya yang tak biasa. Namun, Bayu tidak lantas bertindak gegabah. Ia hanya bisa berharap sang kakak lekas sadar agar bisa memberikan penjelasan perihal kemalangan yang ia alami. Meskipun merasa yakin dengan firasatnya, Bayu tetap berharap kejadian yang Hafsah alami adalah murni karena penyakit yang dideritanya. Namun, jika terbukti bahwa yang dialami oleh Hafsah adalah hasil kejahatan orang lain, dapat dipastikan orang tersebut akan benar-benar menyesal dan menanggung akibatnya. Banyaknya pekerjaan yang dilakukan membuatnya lupa mengabari Mas Jamil. Ia yakin kakak iparnya itu telah tiba di rumah sakit karena saat terakhir kali ia menghubungi, Jamil sudah sampai di terminal yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tersebut. Tanpa berpikir lama, Bayu segera mengambil ponsel yang sedang terhubung dengan pengisi daya di samping televisi. Benar saja, ada tiga panggilan tak terjawab dari Mas Jamil. Bayu pun lekas melakukan panggilan balik meskipun baterai ponselnya baru terisi sedikit. "Halo, assalamualaikum," ucap Bayu sesaat setelah panggilan terhubung. "Waalaikumsalam warohmatulloh. Bagaimana kamu, udah sampai rumah belum? Terus, Lala bagaimana?" jawab Jamil yang langsung melempar serentetan pertanyaan. "Aku sudah sampai rumah, Mas. Lala juga sudah tidur di rumah Bu Ningrum. Aku sengaja biarin dia tidur di sana karena takut ngamuk-ngamuk lagi kalau dibawa ke rumah," ungkap Bayu tegas. "Ngamuk-ngamuk? Memangnya Lala sempat ngamuk-ngamuk tadi?" tekan Jamil lagi. Dari nada suaranya, ayah atau anak itu terdengar sangat khawatir. "Iya, Mas. Kata Bu Ningrum, seharian Lala nangis dan ngamuk-ngamuk. Lala ketakutan karena melihat sosok nenek-nenek yang terus saja memaksa Lala untuk ikut bersamanya." Bayu merasa ada sesuatu yang mengganjal ketika membeberkan hal itu. "Apa, nenek-nenek?" Jamil terdengar terkejut seperti tak percaya. "Iya. Aku juga masih gak ngerti kenapa Lala sampai seperti itu," pungkas Bayu sembari tangannya terus mengusap-usap tengkuk. Bayu merasa merinding secara tiba-tiba. Entah kenapa pemuda itu merasa ada orang lain di belakangnya. Namun, ia tidak mengindahkan dan tetap mengobrol dengan Jamil melalui sambungan telepon. "Yasudah kalau begitu. Besok pagi, tolong bawa Lala ke sini. Biar aku yang bicara pelan-pelan sama dia. Kamu hati-hati di rumah, ya. Jangan lupa salat dan doakan kakakmu agar lekas membaik," pungkas Jamil. "Baik, Kak." Telepon pun terputus sesaat setelah keduanya saling melayangkan salam. Bayu kembali memasang pengisi daya pada ponselnya yang sudah hampir Low. Hawa dingin masih saja terasa di bagain tengkuknya meskipun Bayu sudah berusaha menepis hal itu. Sebelum meninggalkan ponselnya, Bayu sempat melihat jam digital yang tertera di layar depan. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Bayu ingat belum melaksanakan salat isya dan hampir saja terlupa. "Aduh. Hampir aja lupa. Untung Mas Jamil ngingetin tadi." Bayu menepuk dahi sambil menggeleng. Dengan gerak cepat, Bayu meletakkan kembali ponselnya lalu memutar badan. Namun, Bayu harus mengucap istigfar begitu kencang saat melihat sesosok nenek tua berbaju hitam tengah berdiri di belakangnya dengan wajah dipenuhi belatung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN