Bayu mundur beberapa langkah sambil tangannya meraba-raba benda apa saja yang bisa ia raih dengan tangannya. Sosok wanita tua dengan gigi bertaring itu terus saja menyeringai. Kuku-kukunya yang panjang, sengaja ia tampakkan. Bau busuk yang berasal dari kulit sosok tersebut sontak menyeruak. Bayu yang tak tahan, sampai berulang kali ingin muntah. Namun, ia berusaha keras untuk menahannya.
“Si-siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke sini?” Bayu berteriak. Tangan di belakang tubuhnya kini telah berhasil meraih gagang sapu yang selalu didirikan di dekat pintu.
Bukannya menjawab, sosok tua berambut panjang itu justru tertawa cekikikan seperti ada sesuatu yang menggelikan. Jarak di antara keduanya semakin terpangkas meskipun sang nenek tidak sama sekali melangkah ke depan.
Melihat gelagat aneh sosok di hadapan, Bayu akhirnya terpaksa mengayunkan sapu demi bisa mengusir sosok asing menyeramkan itu. Nihil. Sapu bergagang kayu itu justru melewati tubuh tua renta sang nenek begitu saja.
Di tengah-tengah kekhawatiran, Bayu ingat sebuah pesan yang sering Jamil ucapkan. Kakak ipar Bayu itu pernah berkata untuk jangan lupa melantunkan ayat suci Al-Qur’an doa-doa kita dalam keadaan apa pun, terlebih ketika kita dalam keadaan bahaya atau terpojok.
Berbekal ilmu agama yang tidak terlalu kental, Bayu akhirnya menengadah tangan seraya membuka mulut lebar-lebar. Ia mulai melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an yang ia hafal sembari terpejam. Hanya atas dasar keyakinan, pemuda itu terus memohon doa tanpa peduli sosok yang di dekatnya itu pergi atau belum.
Setelah beberapa saat terpejam, akhirnya Bayu memberanikan diri membuka mata. Kali ini, pemuda dua puluh empat tahun itu bisa bernapas lega karena sosok mengerikan yang ada di hadapannya telah pergi entah ke mana.
Bayu yang masih khawatir pun, memutuskan untuk kembali menghubungi Jamil. Ia lantas menceritakan hal yang baru saja ia alami yang menurutnya memiliki keterkaitan dengan masalah yang menimpa keponakannya, Lala.
Boleh jadi gadis enam tahun itu begitu ketakutan dan tidak mau pulang ke rumah. Ternyata sosok yang ia lihat dan mengganggunya selama itu memiliki wajah dan suara yang begitu mengerikan yang akan membuat siapa saja bergidik ketika melihatnya.
***
Keesokan harinya setelah sarapan, Lala yang semalam menginap di rumah Bu Nilam pun, dijemput oleh Bayu untuk sama-sama menengok ibunya di rumah sakit.
Lala begitu antusias dengan kedatangan Bayu. Paman kesayangannya itu memang memiliki kedekatan yang intens terhadapnya. Lala yang sering kali ditinggal sang ayah, melihat sosok Bayu sebagai ayah pengganti baginya.
Bayu pun tidak perlu susah-susah membujuk Lala agar mau ikut dengannya ke rumah sakit. Diberitahukan kepulangan sang ayah tadi malam, Lala seketika excited dan wajahnya tidak lagi ditekuk seperti saat Bayu datang menemuinya.
“Bu, saya dan Lala berangkat dulu, ya! Terima kasih telah menjaga Lala seharian kemarin,” ucap Bayu sesaat sebelum beranjak.
“Sama-sama, Bay. Semoga Hafsah lekas pulih dan bisa segera pulang ke rumah berkumpul dengan keluarganya,” sahut Bu Nilam ubah sedang sibuk mengambil bahan masakan di kebun samping rumahnya.
Setelah berpamitan, Bayu dan Lala pun berjalan menuju rumah mereka untuk mengambil sepeda motor yang masih terparkir di halaman.
Ada hal aneh yang kembali muncul ketika keduanya tiba di depan rumah. Lala begitu kuat memeluk Bayu sambil terus membenamkan wajahnya. Bayu yang menyadari hal itu, terpancing untuk bertanya ke keponakannya. Ia yakin, bocah enam tahun itu pasti melihat sesuatu sampai tak berani mengangkat kepala hingga membuka mata.
“Lala kenapa? Lala takut?” tanya pemuda dua puluh empat tahun itu sambil terus mengusap rambut keponakanmu, berusaha menenangkan.
Lala mengangguk. Namun, belum ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir mungil bocah berbaju putih itu.
“Kamu gak usah, takut. Kan, ada Om di sini yang selalu jagain kamu.” Bayu semakin mengeratkan pelukan. Ia ingin keponakannya merasa aman berada di dekatnya
“Lala takut, Om.” Satu kalimat akhirnya keluar dari mulut bocah itu.
“Takut apa, Sayang. Di sini gak ada apa-apa. Tuh, lihat, gak ada apa5, kan!” Bayu berputar dua kali demi bisa meyakini Lala bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan di rumahnya.
“Itu, ada nenek-nenek jelek di jendela.” Telunjuk Lala mengacung ke arah jendela, tetapi wajah bocah itu masih terbenam di pundaknya.
Mendengar penuturan sang keponakan, Bayu gegas menengok ke arah jendela dekat pintu sesuai yang Lala tujukan. Namun, pemuda itu tidak menangkap apa pun selain sebuah kursi dan pot bunga yang berdiri di sampingnya.
“Gak ada apa-apa, Sayang. Percaya sama Om,” ucap Bayu sembari menaruh tubuh Lala di atas jok motor bagian depan.
Lala masih erat melingkarkan tangannya di leher sang paman. Ia seperti tidak mau pamannya itu meninggalkannya barang sekejap.
Bayu yang merasa kasihan dengan keponakannya, akhirnya memilih menuntun motor sampai beberapa meter sambil menggendong. Ia berharap, Lala mau membuka mata jika sudah berada jauh dari rumahnya.
“Lala. Ini udah sampai rumah Bu RT. Yuk, buka matanya! Kamu duduk di depan Om, ya!” seru Bayu sambil berusaha melepaskan tangan Lala yang mencengkeramnya begitu kuat.
Setelah beberapa kali pemuda itu membujuk, Lala pun akhirnya mau didudukkan di depan. Bayu yang sudah siap menyangkil ransel berisi baju ganti kakaknya, lekas melajukan kendaraannya dengan kecepatan standar, mengingat ada bocah kecil yang sedang ia bawa di depannya.
Bayu sengaja berangkat menggunakan sepeda motor lantaran ia harus kembali menuju Jakarta setelah mengantarkan Lala. Pemuda bertubuh tinggi itu tidak ingin melalaikan kewajibannya sebagai seorang pegawai. Ia rela berangkat pulang pergi melewati pilihan kilometer perjalanan, demi tetap bisa bekerja sekaligus menjaga keluarganya di rumah.
Bayu merasa begitu memiliki tanggung jawab sepeninggal orang tuanya. Sebagai anak laki-laki satu-satunya di antara dua saudara perempuan, Bayu merasa memiliki kesan atas keamanan Haya dan Hafsah.
Setelah ditinggal pergi oleh orang tuanya secara tak lazim, Bayu menjadi begitu protektif terhadap keluarga. Pemuda itu tidak ingin merasakan kehilangan untuk yang ke sekian kalinya. Sebab, hidup tanpa dukungan orang-orang tersayang itu rasanya sangat menyakitkan karena tidak ada yang bisa dituju untuk berbagai suka dan duka.
Setelah beberapa menit berkendara, Bayu dan Lala pun tiba di rumah sakit. Jamil yang sudah lebih dahulu dihubungi, langsung menyambut mereka di areal parkir. Bayu memang sengaja menelepon Jamil untuk menunggu mereka di sana. Waktu yang sudah cukup siang membuat Bayu terburu-buru sampai tidak sempat masuk untuk melihat perkembangan keadaan kakaknya.
Melihat kehadiran sang ayah, Lala pun teriak kegirangan. Kebahagiaan langsung terpancar dari wajah mungil bocah enam tahun itu yang sempat dihalau mendung. Bayu tersenyum melihat keponakannya tak berhenti mencium pipi sang ayah.
Setelah memberikan tas ransel ke kakak iparnya, Bayu pun gegas melaju membelah ramainya jalan ibukota. Ia harus menunaikan pekerjaan terlebih dahulu demi mempertahankan posisinya. Sore nanti, Bayu akan kembali ke keluarganya untuk memantau perkembangan kesehatan Hafsah.
***
“Lala sudah sarapan, Sayang?” tanya Jamil pada putri semata wayangnya yang lekat dalam gendongan.
“Udah. Aku udah sarapan sama nasi goreng tadi,” sahut Lala begitu ceriwis.
“Kalau begitu, kita langsung ke atas, ya, lihat ibu,” ucap lelaki yang belum sempat sarapan itu sambil melangkah menuju tangga.
“Ibu memangnya kenapa, Yah?” Bocah enam tahun itu memegangi pipi ayahnya penasaran.
“Ibu sedang sakit, Nak. Doakan Ibu, ya, agar cepat sehat dan bisa kumpul sama kita lagi di rumah.” Bayu mencium pucuk rambut putrinya.
“Lala gak mau pulang ke rumah.” Lala sedikit merajuk.
“Loh, memangnya kenapa, Sayang?” Mata Jamil menatap lekat ke sang putri. Ia ingin mendapatkan jawaban langsung dari mulut Lala.
“Akun takut sama nenek-nenek jelek yang ada di rumah kita. Dia tarik-tarik tangan aku terus. Katanya, aku suruh ikutin dia dan tinggal sama dia. Aku gak mau. Aku takut.” Lala langsung mendekat ayahnya kuat-kuat.
Helaan napas panjang lolos dari mulut Jamil. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut putrinya itu ternyata sama persis dengan apa yang diceritakan adik iparnya semalam.
Jamil sedikit terganggu dengan keadaan putrinya yang mengalami trauma. Lelaki itu tidak habis pikir, kenapa tiba-tiba rumahnya didiami oleh makhluk halus yang sepertinya sengaja ingin mengganggu keluarganya.
Merasa ada yang tidak beres dengan keadaan rumahnya, Jamil pun sigap menelepon Abi yang tinggal di Kalimantan. Ia ingin meminta solusi kepada beliau agar keluarganya selamat dari gangguan makhluk-makhluk tak kasat mata.
Sesampainya di lantai dua, Lala pun diturunkan dari gendongan. Bocah perempuan berambut panjang itu menurut dan duduk di kursi tunggu selama ayahnya sibuk menelepon.
Mata Lala bergerak ke kiri dan kanan memperhatikan beberapa petugas medis yang berlalu lalang di depannya. Berada di tempat yang asing, membuat rasa penasaran bocah itu melonjak. Lala ingin sekali berlari-lari ke sana ke mari dan memasuki seluruh ruangan rumah sakit tersebut. Namun, tangan kirinya yang masih dalam genggaman sang ayah, membuatnya urung dan memilih menunggu sampai ayahnya selesai bicara.
Setelah beberapa waktu terlibat obrolan serius dengan seseorang dari seberang telepon, Jamil pun kembali menggendong putrinya dan melanjutkan perjalanan menuju kamar Hafsah. Sayang, lelaki itu gagal berbicara dengan Abi, kerabat sang ayah yang sudah ia anggap sebagai orang tua sendiri.
Abi sudah berangkat mengajar ketika Jamil menelepon. Istri Abi yang saat itu menjawab panggilan, lantas menanyakan apa kabar Jamil dan keluarganya. Dengan perasaan berat, Jamil pun menceritakan sedikit permasalahan yang dialami oleh istri dan anaknya ketika pulang.
Setelah itu, istri Abi pun menyarankan agar Jamil membaca ayat kursi 7 kali, surat Al-fatihah 7 kali, Al-Ikhlas 7 kali, Al-falaq 7 kali, dan An-nas 7 kali, kemudian ditiupkan ke air untuk minum anak dan istrinya.
Jamil pun mengiakan. Sesampainya di depan pintu kamar rawat Hafsah, Jamil segera melakukan apa yang istri Abi sarankan sebagai bentuk ruqyah mandiri untuk menghalau energi-energi negatif pada diri dua orang yang ia kasihi.
“Ibu ....” Lala langsung menghambur ke ranjang ibunya yang berada di antara dua ranjang tak bertuan ruang rawat kelas tiga rumah sakit.
Hafsah yang belum bisa leluasa menggerakkan tubuh, hanya menyambut buah hatinya itu dengan mengusap-usap rambut. Kondisi Hafsah terlihat sedikit membaik pagi ini. Wajahnya yang sempat pucat pasi, tampak lebih segar meski sembab di bagian mata tidak bisa ia tutupi.
Hafsah sempat menangis semalaman. Setelah suaminya memberitahukan apa yang sebenarnya ia alami, Hafsah tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri.
Ternyata pada sore itu, Hafsah mengalami keguguran. Hafsah tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung dengan usia kandungan yang sudah hampir sepuluh minggu.
Hafsah merasa bersalah. Ia merasa telah gagal menjaga janin dalam rahimnya. Kesibukannya mengajar dan mengurus kematian kedua orang tuanya satu bulan terakhir ini, membuatnya lalai dengan kondisi kesehatan tubuh sendiri..
Hal yang paling membuat Hafsah terpuruk adalah ketika tahu bahwa ia sudah tidak memiliki rahim lagi. Ia merasa sudah tidak lagi sempurna sebagai wanita. Impiannya yang ingin memiliki anak laki-laki pun sirna karena setelah ini, ia tidak akan bisa hamil lagi.
Hafsah sempat tidak terima dengan takdir yang ia alami. Ia mulai merasa tidak berguna hidup di dunia ini. Hafsah sempat menyalakan Tuhan. Mengapa Tuhan tega memberikan cobaan bertubi-tubi dalam hidupnya sementara selama ini, ia selalu berusaha untuk tetap menjalani ibadah dan terus bertawakal di jalannya.
Beruntung Hafsah memiliki suami setegar Jamil. Laki-laki itu tidak kenal lelah menasihati istrinya yang sedang dalam pergolakan batin. Jamil terus berusaha menuntun Hafsah agar tetap tabah. Ia yakin, tidak ada cobaan yang Allah berikan di luar batas kemampuan hamba-Nya.
"Kamu harus ingat satu hal, Sayang. Tidak ada yang lebih mengerti kita selain Allah. Yakin saja dengan ketetapan yang telah Allah berikan. Boleh jadi, apa yang kita anggap buruk selama ini, justru merupakan kebaikan yang memang sudah dipersiapkan sebagai penyelamat di kemudian hari." Kata-kata Jamil semalam, masih terngiang-ngiang di telinga Hafsah.
"Kita berdoa saja yang terbaik untuk keluarga kita. Sebagai manusia, kita boleh mengeluh, tapi jangan sampai kita menyalahkan atas kemalangan yang menimpa kehidupan kita. Anggap saja ini sebuah ujian untuk Allah mengangkat derajat kita. Ingat, Allah tidak akan memberikan cobaan tanpa jalan keluar."
Hafsah begitu membenamkan ke dalam hati wejangan yang diberikan oleh sang suami. Wanita itu berusaha untuk tetap tegar dan berserah diri. Hafsah terus mengucap istighfar untuk menenangkan hati. Sebab, hanya dengan itu, seluruh gundah di dalam hatinya bisa enyah.
Kehadiran Lala pagi ini, mampu membuat Hafsah kembali berseri-seri. Ia merasa bersyukur dikaruniai seorang putri cantik yang sangat pintar dan berakhlak. Hafsah menjadi sedikit malu karena sempat mengeluh. Nyatanya, ia adalah orang yang sangat beruntung karena dikaruniai seorang putri dan suami, juga saudara-saudara yang begitu menyayanginya.
"Mas, Bayu ke mana?" tanya Hafsah yang belum sempat sama sekali melihat wajah adiknya sejak ia siuman.
Hafsah ingin sekali bertemu dan mengucapkan terima kasih pada Bayu yang telah datang menyelamatkannya di waktu yang tepat. Jika Bayu tidak datang pada petang itu, entah apa yang akan dialami Hafsah. Mungkin Hafsah tidak akan bisa lagi merasakan pelukan hangat suami beserta anaknya jika ia tidak segera dibawa ke rumah sakit.