Sementara itu, Beno yang sudah sejak semalam gelisah tak menentu, bergerak menuju kediaman Wirna untuk mengetahui kabar janda satu anak itu. Sebelumnya, ia sudah memerintahkan kepada salah seorang untuk mencari keberadaan Rodih. Sebab sejak semalam, ponsel laki-laki itu masih aktif, tetapi panggilannya sama sekali tidak dijawab.
Wirna dan Rodih sangat beruntung. Warga tak sampai membakar mereka hidup-hidup atas dasar kemanusiaan. Namun, keduanya tetap mendapatkan hukuman sosial yang membuat mereka harus dinikahkan secepatnya.
Setelah melewati jalanan setapak dengan pohon-pohon pisang di sisi kiri dan kanan, sampailah Beno di rumah berdinding anyaman bambu sederhana di tengah-tengah ladang. Pintu rumah tersebut tampak terbuka, dengan sebuah sepeda terparkir di halaman dan disandarkan di salah satu pohon.
Tanpa rasa ragu, Beno memarkirkan motornya di samping sepeda ontel. Ia lalu berjalan menuju rumah sambil berusaha sekuat tenaga menahan lonjakan amarah yang sejak semalam ia tahan. Seorang wanita tua dan seorang anak laki-laki yang sedang dipakaikan baju itu kompak menoleh bersamaan. Garis kerut yang makin dalam di antara alis wanita tersebut, menandakan ketidaksukaannya dengan kedatangan Beno.
“Mana wanita jalang itu?” tanya Beno sambil menggebrak pintu kayu yang hampir ambruk.
Dua orang di dalam rumah seketika terkejut. Bahkan, putra Wirna yang baru berusia empat tahun, langsung menangis memeluk neneknya.
“Kau mau apalagi, hah! Belum puas juga kamu menghancurkan kehidupan anak saya. Pergi kamu!” Telunjuk wanita enam puluh tahun itu mengarah lurus ke luar. Mata sayunya sudah berkaca-kaca. Sejurus kemudian, tampak buliran bening jatuh membasahi pipinya.
Beno geram. Ditendangnya meja bulat di depan wanita tua itu hingga terbalik ke belakang. Anak Wirna makin keras menangis. Namun, Beno tak sama sekali berempati pada bocah enam tahun itu.
“Anakmu itu yang kegatelan. Sudah menjalin hubungan denganku, ia malah menggoda saudara sepupuku di saat aku pergi. Pantas jika warga memberi hukuman mati saja ke mereka.” Beno mencekik bibir. Tatapan matanya kini mengarah pada gorden kamar Wirna yang tersibak tertiup angin.
“Dia akan seperti itu jika bukan karenamu, Beno. Kamu yang telah merusaknya. Kamu yang telah mengiming-imingi dia harta sampai ia lupa dengan dosa pada Tuhannya,” ungkap ibu Wirna sambil mengeratkan pelukannya ke cucu semata wayangnya.
“Cih ... Alasan!” Beno membuang Saliva ke lantai dalam rumah yang masih berupa tanah. “ Sekarang, di mana wanita jalang itu? Sembunyi di mana dia?” Beno gegas melangkah ke arah kamar Wirna.
“Dia sudah tidak ada di sini. Dia ikut bersama Rodih dan beberapa orang warga untuk dinikahkan hari ini.” Suara parah wanita setengah baya itu mampu menginterupsi langkah Beno.
“Dinikahkan?” Beno menoleh tak percaya.
“Ya. Wirna dan Rodih sedang dalam perjalanan menuju kecamatan. Rodih bersedia menikahkannya secara agama dan negara. Semoga setelah ini tidak akan ada yang berusaha mengusik kebahagiaan anakku.”
Mendengar pernyataan dari wanita tua di belakangnya. Beno langsung naik pitam. Ia tidak terima jika Wirna menikah dengan Rodih begitu saja.
Selama beberapa bulan, semua kebutuhan Wirna telah Beno penuhi. Laki-laki bertubuh gempal itu pun selalu menuruti apa yang Wirna mau, termasuk membelikan sepeda dan baju baru untuk anak Wirna. Beno merasa sudah keluar modal habis-habisan. Ia tidak rela jika perjuangannya selama ini pupus begitu saja di tangan saudara sendiri.
“Aku akan menyusul mereka ke KUA,” terang Beno sambil berlalu pergi meninggalkan dua orang yang masih tergugu di atas kursi kayu.
Laki-laki itu lantas melajukan motornya tanpa memedulikan teriakan wanita tua yang memintanya untuk tidak mengganggu Wirna lagi.
Sepanjang perjalanan, Pikiran Beno terus ditempa amarah yang semakin meledak-ledak. Selama ini, ia sangat menaruh harapan besar pada Wirna dan ingin menikahinya sebagai istri kedua. Beno sudah berjanji pada janda satu anak itu dan Wirna pun mengiakan tanpa merasa keberatan.
Sambil mengendarai sepeda motornya, Rodih sesekali menggebrak-gebrak kepala setang. Ia merasa sangat menyesal meninggalkan Wirna bersama Rodih di rumah. Kalau saja Haya tidak terus-terusan menelepon, pasti ia tidak akan meninggalkan kenikmatan yang seharusnya ia dapatkan tadi malam.
Rasa kesal dan sesal pun mulai mendera menjadi satu. Kini, bukan lagi kenikmatan yang Beno rasakan. Namun, ledakan emosi yang terus menggebu-gebu saat membayangkan bagaimana dua orang terdekatnya menusuknya dari belakang.
Rayuan-rayuan manja Wirna tadi malam, masih terngiang-ngiang jelas di telinga Beno. Bayang-bayang perbuatan tidak senonoh antara Wirna dan saudara sepupunya semalam, susah sekali enyah salam ingatannya.
“Sial! Awas kau, Rodih. Lihat saja!” decakan kesal, lolos begitu saja dari bibir Beno.
Sepanjang perjalanan, laki-laki itu tidak berhenti menggerutu penuh dendam sampai tak sadar, seorang wanita terus membuntutinya dari belakang dengan wajah yang penuh dengan rasa ingin tahu.
Haya, istri Beno yang sejak pagi tidak tahu ke mana suaminya pergi, merasa penasaran. Ia tidak sengaja berpapasan dengan suaminya di jalan. Haya mengira suaminya itu berangkat ke pasar terlebih dahulu untuk membuka kios. Namun, ia justru bertemu dengan Beno yang baru saja keluar dari jalan setapak yang merupakan arah menuju rumah Wirna.
“Kenapa Mas Beno berjalan dari arah sana? Habis ke mana dia?” Batin Haya seketika menduga-duga.
Haya yang penasaran, tidak sama sekali menaruh curiga pada suami yang sudah hampir sepuluh tahun ia nikahi. Haya tidak pernah menaruh curiga apa pun terhadap suaminya. Wanita itu dengan sepenuh hati, meletakkan kepercayaan utuh terhadap Beno yang diam-diam berbuat curang dan berkhianat di belakangnya.
Sejak pulang dari rumah sakit semalam, Haya memang merasa ada sesuatu yang terjadi pada suaminya. Ia bisa merasakan kegelisahan yang Beno rasa. Namun, ia enggan untuk bertanya lantaran posisinya pun sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja karena memikirkan kondisi kesehatan Hafsah yang masih belum stabil.
Semalam, Beno tampak berjalan mondar-mandir di depan rumah kontrakannya sambil terus memperhatikan ponsel. Awalnya, Haya ingin bertanya sesuatu pada suaminya ada apa gerangan. Namun, melihat raut wajah Beno yang ditekuk, Haya langus mengurung niat dan memilih mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu di kamar. Haya tidak mau rasa penasaran itu justru membuat ketegangan di antara keduanya.
Haya sudah hafal betul sifat laki-laki itu. Beno paling tidak suka ditanya saat ia sedang marah. Beno pun tidak suka diganggu saat pikirannya sedang tidak menentu. Oleh sebab itulah, Haya sering kali memilih diam dan tak peduli ketika suaminya sedang ada dalam masalah. Bahkan, komunikasi di antara keduanya terkesan pasif.
Haya dan Beno jarang sekali terlibat dalam obrolan ringan yang biasa sepasang suami istri lakukan di tiap kesempatan. Hubungan pernikahan mereka terkesan hambar, apalagi sudah sejak beberapa bulan lalu, Haya merasa Beno sudah tidak bersemangat lagi menyentuhnya.
Sikap dingin Beno selama ini tidak lantas membuat Haya curiga. Wanita itu tetap berpikir bijak dan mengira kalau suaminya hanya butuh waktu untuk memulihkan kondisi badan yang terlalu kelelahan setelah seharian bekerja keras di ladang. Wanita yang hampir masuk usia kepala empat itu tidak sama sekali mempermasalahkan sikap Beno yang selalu ingin menjauh. Ia malah berusaha keras memperbaiki diri agar suaminya kembali hangat seperti dulu lagi.
Ojek yang ditumpangi Haya mengendur perlahan ketika tiba di jalanan pasar. Haya terpaksa berangkat dengan ojek lantaran Beno sudah pergi meninggalkannya terlebih dahulu. Haya memberanikan diri untuk bertanya ke suaminya setelah sampai di kios. Namun, Haya kembali dibuat resah lantaran motor yang dikendarai oleh suaminya tetap melaju dan melewati kios begitu saja tanpa berhenti terlebih dahulu.
“Loh. Mau ke mana Mas Beno?” tanya Haya di dalam hati.
“Pak, Pak. Saya gak jadi turun di sini. Lanjut saja ikutin motor biru itu!” titah Haya pada si pengendara yang langsung dibalas anggukan.
Dahi Haya mengernyit. Sepanjang perjalanan, pandangannya sama sekali tidak beralih pada motor tua berwarna biru dengan suara knalpot bising di hadapannya. Jantung Haya berdebar tak menentu. Sebab ini adalah pertama kalinya nekat membuntuti ke mana suaminya pergi.
Setelah melewati jalanan pasar yang ramai, Haya pun kembali menginstruksikan pengemudi ojek untuk lebih kencang melajukan kendaraannya. Ia tidak ingin kehilangan jejak Beno. Haya merasa, ada sesuatu yang sedang suaminya sembunyikan dan harus segera ia selidiki sendiri.
Sampai tiba di kantor kecamatan, Haya pun turun dari kendaraan dan melanjutkannya dengan berjalan kaki. Motor Beno sudah lebih dulu berbelok ke gerbang kecamatan dan langsung menuju tempat parkir. Jaya tidak mungkin terus mengikutinya dengan ojek sampai ke dalam.
Dengan perasaan waswas, Haya mengendap-endap. Ia melangkah dengan sangat hati-hati dan berusaha bersembunyi di balik pohon hias yang banyak tumbuh di sekitar lapangan kecamatan.
Dari sela pepohonan, mata Haya terus tertuju pada sosok laki-laki yang baru saja turun dari motor tuanya. Setelah memperhatikan beberapa saat dari jarak yang cukup dekat, Haya pun terkejut mendapati Beno masuk ke dalam kantor KUA yang disesaki banyak orang
“Mas Beno ngapain ke sana?” Perasaan Haya mulai tak enak.