Aksi Protes Beno

1101 Kata
Haya berjalan mengendap-endap menyusuri dinding tembok menuju Kantor Urusan Agama dengan perasaan tak keruan. Isi hatinya mengatakan untuk tidak melanjutkan langkah. Namun, rasa penasaran yang mendominasi pikiran memaksanya untuk tetap lanjut, mencari tahu apa yang sedang suaminya lakukan di sana. Dari kejauhan, dapat ia temukan sekumpulan orang berdiri di depan pintu. Ada lebih dari sepuluh laki-laki di sana. Mereka tampak sedang menyaksikan sesuatu yang terjadi di dalam. Entah apa. Setelah beberapa saat berjalan, Haya pun akhirnya sampai di depan kantor KUA. Ia kini berada di antara kerumunan orang yang berdiri menghalangi pintu. Haya terdiam beberapa saat. Tidak mungkin baginya menerobos sendiri kumpulan laki-laki berbadan kekar itu. Namun, wanita itu merasa tidak akan mendapatkan apa-apa jika hanya berdiam diri. Oleh sebab itu, ia memberanikan diri untuk bertanya ke salah satu dari mereka, ada gerangan apa, di dalam. “Pak, maaf. Ada ribut-ribut apa, ya, di dalam?” tanya Haya ke seorang laki-laki berjaket kulit dengan kacamata hitam di atas kepalanya. “Ini, kami sedang menikahkan dua orang pelaku zina yang terciduk semalam. Gemas sekali saya rasanya. Ingin sekali menghabisi mereka kalau saja Pak Ketua RT tidak turun tangan,”sahut laki-laki itu sembari meninju telapak tangan sendiri. “Pe-pelaku zina?” Dahi Haya mengernyit. “Ya. Semalam, seluruh warga Kampung Bancak, berhasil menggiring dua orang yang diduga sedang melakukan m***m di sebuah rumah milik seorang janda. Kami kemudian menghukum mereka dengan mengarak keliling kampung. Untung saja saat itu, Pak RT keburu datang. Kalau tidak, mungkin tubuh mereka berdua sudah habis dibakar hidup-hidup,” terangnya lagi. Haya sontak menutup mulut. Nama kampung yang laki-laki itu sebutkan adalah kampung yang bersebelahan tempat tinggalnya. Keberadaannya semalaman di rumah sakit, membuatnya tidak mengetahui sama sekali berita besar ini. “Astagfirullah. Kalau begitu, terima kasih atas informasinya, Pak. Saya pamit dulu.” Haya menunduk seraya menarik diri. Setelah mendengar informasi tersebut, Haya secepatnya pergi meninggalkan kerumunan. Rasa penasaran yang sempat tidak bisa ia kendalikan, perahan mereda dan berganti dengan keprihatinan terhadap dua pelaku zina yang sudah sangat menjelekkan nama baik kampung tempat mereka tinggal. Haya sudah tidak memikirkan lagi, apa yang sedang suaminya lakukan di dalam KUA tersebut. Haya berpikir, Beno seperti warga-warga lainnya yang juga geram dan ingin turut menyaksikan pernikahan antar dua pelaku zina tersebut. Sambil menunggu angkot lewat di depan gedung kecamatan, Haya terus saja menepuk-nepuk pelan dahinya. Ia merasa bersalah telah menaruh curiga pada Beno, laki-laki yang selama ini ia anggap saja sebagai suami yang setia dan tidak pernah berbuat macam-macam. Sebuah angkot merah bernomor 09 jurusan pasar, menepi tepat di depan Haya setelah ia melambaikan tangan. Tanpa menunggu lama, angkot pun melaju sesaat setelah Haya menaikinya dan duduk di dekat pintu. Sementara itu di dalam KUA, Rodih dan Wirna kembali ditempa masalah karena kedatangan Beno di pernikahan mereka. Belum juga Rodih menyelesaikan kalimat akad yang diucapkan oleh penghulu, Beno sudah datang lebih dulu dan langsung mengamuk, mengacak-acak meja yang berisi dokumen-dokumen kelengkapan surat nikah. “Saya tidak setuju dengan pernikahan ini. Pernikahan ini tidak boleh dilanjutkan!” ucap Beno sambil mengacungkan telunjuk ke arah dua orang di hadapannya. Wirna dan Rodih tidak bisa berkata apa-apa. Mereka hanya menunduk, menyembunyikan lebam kebiruan di wajah mereka yang dihadiahkan oleh warga semalam. “Lebih baik, seret mereka ke kantor polisi karena sudah bikin malu kampung kita. Setuju!” teriak Beno, berusaha mengambil alih suara warga yang masih berkerumun menyaksikan pernikahan dua orang itu. “Setuju!” beberapa warga pun kompak berseru. Hal tersebut membuat Rodih dan Wirna semakin ketar-ketir. Mereka sangat tidak ingin dijebloskan ke dalam penjara. Namun apa daya, semua warga telah berkeliling mengerumuni mereka yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa. “Tenang-tenang, saudara-saudara sekalian! Jangan seperti itu! Mereka sudah mendapatkan hukuman sosial yang setimpal. Mereka juga manusia. Lebih baik, kita giring mereka ke arah yang lebih baik. Menikahkan mereka adalah satu-satunya cara agar mereka tidak mengulangi kejadian sama,” pangkas ketua RT yang memang sangat disegani oleh warga karena kewibawaannya. “Tapi saya ini saudara salah satu dari mereka, Pak. Sebagai anggota keluarga, saya sama sekali tidak menyetujui pernikahan ini. Kami tidak mau menanggung malu atas perilaku buruk mereka di masyarakat,” ungkap Beno yang ditanggapi lirikan sinis saudara sepupu di sampingnya. Mendengar tingkah Beno yang sok suci, Rodih menjadi gemas sampai meremas tangan sendiri. Rodih merasa, Beno sengaja mengambil kesempatan, padahal ia juga ikut dalam bagian pada malam itu. Decak kesal lolos dari bibir Rodih yang sedikit terluka di bagian ujungnya. Ia merasa sangat menyesal telah mengambil bagian atas kesenangan semalam yang justru berbalik menyerangnya menjadi malapetaka. “Ini semua juga gara-gara sampean, Beno. Kalau saja sampean gak maksa saya buat nemenin kalian berdua enak-enakan, pasti saya gak akan terjebak sampai seperti ini,” ujar Beno di tengah ramai orang menyuarakan pendapat. Kondisi kantor yang sempat ricuh, mendadak hening setelah Rodih bersuara. Beno yang amarahnya sempat meledak-ledak, seketika bisu dan mengedarkan pandangan ke arah sejumlah warga dengan sedikit ragu. “Maksud sampean apa ngomong seperti itu?” Salah satu warga mulai kembali mengajukan pertanyaan pada Rodih. Hal itu membuat Beno semakin ketar-ketir. Ia khawatir perbuatannya dengan Wirna selama ini, terbongkar di tengah-tengah riuh para warga yang terlihat begitu gemas. “Sebenarnya semalam, saya ditinggal oleh orang ini di rumah Wirna. Saya tidak bisa pulang karena tidak bawa motor,” ungkap Rodih. “Bohong! Dia bohong, Bapak-bapak. Saya ada di rumah sakit semalaman. Adik ipar saya sedang dioperasi. Kalau Bapak-bapak tidak percaya, Bapak-bapak boleh tanya ke istri saya dan saudara-saudara saya yang lain.” Beno menanggapi pernyataan Rodih dengan suara lantang. Menyaksikan seluruh warga mengangguk mendengar penjelasannya, Beno pun merasa lega karena berhasil menggiring opini warga. Setelah mendengar jawaban Beno, Rodih semakin tersisih dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia dan Wirna hanya bisa pasrah dengan takdir yang akan mereka terima. Baik atau buruk, senang atau pun tidak, konsekuensi itu harus mereka terima dengan lapang d**a jika ingin selamat dari amukan warga. Pernikahan Rodih dan Wirna sempat ditunda beberapa saat. Sekumpulan warga dan perwakilan aparatur setempat, memutuskan untuk melakukan musyawarah terlebih dahulu untuk mencapai mufakat bersama. Sepasang pelaku zina itu memang harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Namun, keduanya juga tetap harus dinikahkan agar mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama suatu hari nanti. Setelah saling lempar argumen beberapa saat, seluruh warga pun sepakat dengan keputusan yang diambil oleh aparat desa yang menurut mereka cukup adil bagi kedua pelaku. Atas hasil musyawarah dan kesepakatan bersama, Rodih dan Wirna pun akhirnya dinikahkan. Namun setelah ini, proses hukum mereka masih akan berlanjut ke pengadilan. Warga beramai-ramai membuat laporan kasus perzinaan ke kantor kepolisian setempat. Mereka berharap dengan adanya pelaporan ini, tidak akan ada lagi warga yang nekat berbuat hal serupa yang dapat menimbulkan malapetaka bagi seisi desa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN