Sudah hampir pukul delapan pagi, waktu di mana aktivitas pasar mulai ramai dan para pengunjung semakin banyak berdatangan.
Hampir semua kios dan pedagang kaki lima yang menggelar dagangan mereka di pinggir jalan, sudah disesaki banyak pelanggan. Baik yang datang dari sekitar pasar, maupun yang jauh melewati antar desa.
Berbagai macam tipe manusia, keluar-masuk pasar demi mencari sesuatu yang mereka tuju. Dari mulai yang cuek dan tidak neko-neko, sampai yang cerewet dan sadis saat menawar barang. Semuanya bisa dilihat setiap hari dan sudah menjadi makanan sehari-hari para pedagang yang menggantungkan hidupnya dengan berjualan di pasar.
Di tengah ramainya pengunjung kios, Haya dengan susah payah membuka rolling door sendirian. Tugas berat itu seharusnya dikerja oleh Rodih, atau Beno yang seharusnya datang lebih awal. Namun, Haya terpaksa melakukan hal itu lantaran sudah banyaknya pelanggan yang mengantre hendak membeli beras.
"Aduh, cepetan dong, Bu. Saya nanti kesiangan mau dagang." Salah satu pelanggan mulai protes
"Iya, Bu. Kok, tumben bukannya siang banget. Biasanya, jam setengah tujuh sudah buka,". sambung pelanggan lain yang sibuk menggendong anak kecil berusia sekitar satu tahun setengah.
Haya yang pada saat itu sedang kerepotan, tak mampu menjawab satu persatu pertanyaan dari para pelanggan yang sudah berbaris di depan kiosnya. Haya sibuk mempersiapkan nota dan timbangan agar mereka yang sudah datang, bisa langsung melakukan pembelian tanpa perlu menunggu lebih lama.
Tak sampai lima menit mempersiapkan segala keperluan berdagang, Haya langsung diserbu oleh para pembeli yang sudah tidak sabaran. Dengan sedikit kewalahan, Haya melayani satu persatu dari mereka. Sampai tiba waktunya Hanya melayani pelanggan terakhir, Beno pun datang dan langsung memarkir motornya di lahan kecil depan kios mereka.
"Aduh. Rame banget, ya? Maaf, Abang baru sampai," ucap Beno sesampainya di dalam kios.
Tanpa menunggu respons dari sang istri, Beno segera beralih menuju tumpukan karung berisi beras dan langsung menuangkannya ke beberapa wadah kotak yang hampir tandas.
"Bagaimana di KUA tadi, udah beres semuanya?" tanya Haya sambil melayani pembeli.
Beno yang awalnya bersikap santai, mendadak tegang dan langsung menghentikan gerakannya menuang beras. Tatapannya lurus tertuju pada sosok teduh di sebelahnya. Haya masih terlihat biasa seperti tidak mengetahui apa-apa tentang suaminya.
"Kenapa kamu tahu, Mas habis dari kUA?" Beno mencoba melayangkan pertanyaan. Kerongkongannya mendadak kering dan ia harus susah payah menelan ludah.
"Iya. Aku tadi gak sengaja lewat depan kecamatan karena mau cari sarapan dulu. Eh, ternyata aku lihat Mas ada di sana lagi berdiri di depan kantor KUA. Memangnya, ada ribut-ribut apa, sih, Mas?" tanya Haya memasang wajah polos.
Haya sedikit ragu untuk bertanya ke suaminya. Apalagi saat ini, ia sedang berpura-pura tidak sengaja lewat agar Beno tidak mengira Haya membuntutinya.
Ada rasa bersalah yang begitu besar di hatinya. Itu dikarenakan baru pertama kali Haya tidak berkata jujur pada laki-laki yang teramat ia cintai. Namun, harus bagaimana lagi? Jika Haya mengatakan yang sebenarnya kalau ia memang sengaja membuntuti, Beno pasti akan langsung memarahinya setengah mati.
Haya adalah tipikal perempuan yang sensitif. Bila dimarahi sedikit saja, ia akan langsung menangis. Dan ia tidak mau melakukan hal itu di kios yang pasti akan jadi tontonan para pelanggan yang datang.
"Emmm. Anu, tadi itu, ada sedikit masalah di kampung sebelah. Mas penasaran, makanya langsung lihat ke sana." Beno menjawab dengan sedikit gugup.
Meskipun selama ini telah mengkhianati istrinya, Beno tetap tidak ingin Haya curiga dan berpikiran macam-macam terhadapnya. Beno selalu berusaha keras menjaga perasaan Haya, setidaknya setelah ia berhasil menguasai harta warisan milik keluarga Haya.
"Oh, gitu. Emangnya ada masalah apa, sih, Mas? Tadi aku lihat, kok, rame banget, ya!" Haya kembali melayangkan pertanyaan. kali ini, tatapannya lebih fokus mengarah ke sang suami lantaran sudah tidak ada lagi pembeli.
Melihat tatapan intens sang istri, Beno justru mencari celah untuk membuang muka. bola matanya berputar ke atas. Ia berusaha keras mencari jawaban yang tepat agar istrinya tidak bertanya lebih jauh.
"Oh. itu, biasa. Ada tindakan kriminal. Warga desa sebelah berbondong-bondong melaporkan dua warga mereka yang diduga melakukan tindakan tidak senonoh. Udah, ah, gak penting. Aku mau lanjut angkat karung biar gak kewalahan nanti pas pembeli makin banyak," Kilah Beno yang langsung berlalu menuju bagian belakang kios.
Haya mengangkat kedua alisnya bersamaan. Apa yang telah suaminya Katakan, hampir sama dengan apa yang ia dengar dari keterangan warga saat di depan kantor KUA.
Haya menganggap, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari diri suaminya. Toh, itu hanya urusan sepele. Haya tidak ingin kecurigaannya berlarut-larut 8 justru akan menjadi bumerang bagi keutuhan rumah tangannya.
***
Sementara itu di rumah sakit, Jamil dengan telaten menyuapi Hafsah dan Lala secara bergantian. Satu mangkok bubur ayam dan puding yang disediakan oleh rumah sakit, dibagi menjadi dua karena Hafsah tidak bisa menghabiskan semuanya.
Lala makam begitu lahap. Sementara Hafsah, begitu berat mengunyah lantaran masih merasakan nyeri di bagian bawah perutnya.
"Kamu gak, kenapa-kenapa?" tanya Jamil khawatir.
Melihat Hafsah yang terus meringis memegangi perut, Jamil langsung bergegas memanggil petugas jaga agar mereka kembali memeriksa keadaan Hafsah.
Dua orang perawat datang sesaat setelah Jamil menekan tombol emergency yang terletak di atas tempat tidur Hafsah. Mereka dengan sigap mengeluarkan stetoskop dan mengecek perban yang menutupi bekas jahitan pasca operasi di areal bawah pusar Hafsah.
"Bagaimana keadaan istri saya, Suster?" tanya Jamil pada seorang perawat yang baru saja selesai mengecek perut Hafsah.
"Oh, gak apa-apa, Pak. Bekas jahitan aman. Tidak mengeluarkan darah. Detak jantung dan tensi ibu juga normal," jawab perawat tersebut sambil memasukkan kembali tensimeter ke dalam kotak.
"Tapi, istri saya kelihatan kesakitan banget, Suster." Jamil masih belum yakin. Ia takut kondisi Hafsah memburuk.
"Itu hal yang biasa, Pak. Pasien pasca operasi, pasti akan mengalami nyeri di bagian yang luka saat masa pemulihan. Setelah selesai sarapan, istri bapak harus segera meminum obat yang sudah disediakan. Di sana ada obat pereda nyeri yang akan membantu mengurangi rasa sakit di bagian jahitan. Tolong diminum dengan benar, ya, Bu!" terang perawat tersebut dengan sangat santun.
"Alhamdulillah kalau begitu. Terima kasih, Suster," pungkas Jamil yang disambut anggukan dua petugas medis berseragam putih di hadapannya.
Setelah dua perawat keluar dari ruangan, Hafsah pun melanjutkan sarapannya dengan berusaha menyuap sendiri. Ia melihat Jamil sedikit kewalahan menyuapi dua orang sekaligus. Ia ingin suaminya lebih fokus menyuapi Lala agar kesehatan buah hatinya tetap terjaga selama di rumah sakit.
"Bu. Lala gak mau pulang ke rumah lagi. Lala takut," ucap Lala di sela mengunyah.
Suara anak kecil itu sontak membuat kedua orang tuanya saling bertatapan.
'Lala enggak boleh ngomong gitu, Nak. Itu rumah kita. Rumah peninggalan Almarhum kakek dan Nenek Lala. Lala enggak boleh ngomong seperti itu lagi, ya!" pinta Hafsah sembari mengelus rambut putrinya.