Setelah empat hari melalui proses perawatan di rumah sakit, Hafsah akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter. Kondisi Hafsah yang semakin hari semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan, membuat Dokter mengizinkannya kembali ke rumah dengan syarat, pola hidupnya harus berada dalam pengawasan.
Jamil, suami Hafsah, diminta untuk bersedia merawat sang istri sampai kondisinya benar-benar pulih. Dan yang paling penting adalah, Hafsah tidak boleh sama sekali disentuh, atau melakukan hubungan intim selama kurang lebih tiga bulan, sampai luka di dalamnya benar-benar sembuh total.
Betapa senangnya Lala hari itu, setelah selama beberapa hari pulang pergi dari Rumah sakit ke rumah Bu Nilam, akhirnya bocah itu bisa berkumpul bersama keluarganya kembali di rumah. Lala pun tidak lagi menangis, atau membicarakan sosok nenek tua yang sempat mengganggunya waktu lalu. Ia sudah mau diajak pulang asal tidak tidur sendirian.
Bayu pun tak kalah senang. Ia merasa lega melihat kondisi Hafsah yang semakin fit. Sudah selama satu minggu pemuda itu bolak-balik Jakarta-Bekasi demi untuk memelihara keadaan kakaknya dan untuk mengantar jemput Lala. Keponakannya itu selalu tidur di rumah Bu Nilam ketika malam, dan harus kembali ke rumah sakit dan berada di sana seharian.
Setelah Hafsah pulang, Bayu sudah memutuskan untuk pulang dan kembali menempati rumahnya di Jakarta. Bayu tidak ingin memakan banyak waktu perjalanan menuju tempat kerja yang akan menguras tenaga dan biaya juga.
Perasaan Bayu sudah sedikit tenang. Terlebih, ada Mas Jamil yang akan menjaga Hafsah setiap hari selama satu bulan sebelum ia kembali pergi ke luar kota untuk bekerja.
Sore itu, saat Hafsah mempersiapkan kepulangannya, Haya dan Beno tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. Sudah beberapa hari ini mereka tidak berkunjung ke rumah sakit. Dari pesan yang dikirimkan oleh Haya ke ponsel Jamil, mereka sedang sibuk-sibuknya di kios sampai bekerja hingga larut malam untuk menghitung stok beras di lumbung.
Haya mengaku sangat kewalahan mengurus usaha peninggalan orang tua mereka itu. Beno yang seharusnya standby di kios untuk bantu-bantu, lebih sering menghabiskan waktu di luar dengan alasan sedang mengurus proyek besar yang ditawarkan seorang teman terhadapnya.
Haya juga meluapkan kekesalannya kepada sang saudara ipar, Rodih. Sudah selama satu minggu ini, laki-laki itu tidak kunjung datang ke kios. Entah ia sedang ada di mana sekarang.
Beno pun selalu menggeleng ketika Haya bertanya tentang bagaimana kelangsungan kerja saudara sepupunya itu. Haya sudah sangat kewalahan mengurus toko sendirian dengan hanya dibantu satu orang kuli panggul yang tidak bisa diminta untuk mengurusi pembeli atau pencatatan administrasi.
Haya ingin sekali menggandeng karyawan baru. Namun, ia tidak enak jika suatu saat nanti, Rodih tiba-tiba kembali dan komplain karena pekerjaannya telah digantikan oleh orang lain.
Jamil dan Hafsah pun menyayangkan hal itu. Mereka tidak menuntut Haya untuk setiap hari datang ke rumah sakit karena memaklumi pekerjaan berat sang kakak. Keduanya hanya bisa memohon doa pada sang kakak agar Hafsah lekas sehat seperti sedia kala. Tak lupa pula, doa yang sama untuk Haya agar tetap diberikan kesehatan dalam mengurus usaha yang saat ini ia jalani.
“Ayo, Bu. Kita pulang. Lala udah gak sabar mau tidur di rumah bareng Ayah sama Ibu,” ucap bocah ceriwis itu yang langsung mendapat respons tawa dari dua orang suster yang sedang membantu melepas selang infus dari tangan ibunya.
“Sebentar ya, Sayang! Ibu harus bersiap-siap dulu sebelum pulang. Nanti Lala mau dibelikan apa? Donat, martabak keju?” rayu Jamil sambil menggendong Lala yang tampak mengerucutkan bibir.
“Gak mau. Lala udah bosen makan donat. Om Bayu kalau pulang kerja, bawainnya donat terus. Jadi, Lala bosen,” terang bocah enam tahun itu dengan sedikit merajuk.
Seisi ruang rawat inap pun tertawa dengan tingkah lucu Lala. Bocah yang tahun depan akan masuk sekolah dasar itu, memang dikenal pandai bicara dan aktif berlarian ke sana kemari.
Setelah beberapa saat melakukan persiapan dan penyelesaian administrasi, Hafsah pun akhirnya diperbolehkan pulang tepat jam empat sore. Jamil terpaksa menyewa ambulans rumah sakit untuk mengantar mereka pulang.
Bayu masih berada di tempat kerja saat itu. Sementara Beno, ponselnya sulit sekali dihubungi. Oleh sebab itu, tidak ada yang bisa membawa mobil di rumah untuk menjemput mereka. Menyewa ambulans adalah satu-satunya jalan untuk pulang lebih aman, daripada menaiki angkot yang pasti akan berdesak-desakan.
Tepat pukul 16.45, Hafsah, Jamil, dan Lala pun, tiba di depan rumah. Kedatangan mereka yang menggunakan ambulans, disambut riuh warga yang berbondong-bondong datang dengan alasan ingin tahu keadaan Hafsah.
Seluruh warga berkumpul di halaman rumah. Mereka merasa sangat prihatin dengan musibah yang dialami oleh Badan dan keluarganya yang terkesan bertubi-tubi.
Ya, Hafsah baru saja kehilangan orang tuanya dengan cara yang mengherankan. Penyakit kedua orang tua Hafsah terkesan mistis lantaran kedatangannya yang begitu tiba-tiba tanpa muncul gejala-gejala si awal.
Pihak medis memang sempat mendiagnosis ibu Hafsah mengalami tumor ganas di bagian perutnya. Namun, satu hal yang aneh pada penyakit yang diderita sang ibu, saat perut yang sudah membesar sebesar biah semangka itu, kempes begitu saja di napas-napas terakhirnya.
Sungguh hal yang sangat di luar nalar. Ketika Hafsah menceritakan hal tersebut ke suaminya pun, Jamil hanya bisa menggeleng-geleng tak percaya. Jamil bukan tak percaya dengan penyakit aneh yang menimpa kedua mertuanya secara bersamaan, tetapi ia tidak percaya mengapa ada orang yang sangat tega seperti itu sampai menyakiti orang tua yang sudah tidak berdaya.
Jamil sedikit demi sedikit yakin, bahwa apa yang menimpa keluarganya selama ini adalah ulah dari orang-orang yang memiliki niat jahat, atau iri terhadap mereka. Tinggal di daerah perkampungan dengan sebagian besar warganya lebih percaya datang ke dukun ketimbang datang ke dokter, menjadi hal yang biasa terhadap adanya praktik santet dan guna-guna.
Sebuah tikar pandan sudah digelar di teras rumah untuk para tamu yang datang. Beruntungnya tinggal di daerah perkampungan adalah, sikap solidaritas dan gotong royong terhadap sesama warganya yang masih kental.
Jika ada salah satu warga yang sakit atau sedang tertimpa musibah, warga yang lain pun tak segan-segan menjenguk, atau membantu untuk meringankan beban satu sama lain.
Termasuk Bu Nilam yang langsung datang ke rumah Hafsah untuk membantu menyiapkan air minum untuk para tamu yang datang. Wanita usia kepala empat itu memang sudah seperti saudara bagi Hafsah dan keluarganya.
“Masya Allah! Terima kasih, Bu, Nilam, haid ngerepotin,” ucap Hafsah yang masih terbaring di atas kasur lantai di ruang televisi.
Hafsah tidak bisa membantu Bu Nilam menyambut para warga yang datang. Ia masih belum diperbolehkan banyak bergerak dulu oleh dokter dan harus beristirahat dengan merebahkan diri lebih lama demi mempercepat proses recovery.
“Iya. Gak apa-apa, Bu Hafsah. Cuma bantu siapin air minum saja, kok. Bu Hafsah gak usah banyak gerak dulu, biar cepat sehat.” Bu Nilam menjawab sambil sibuk menyusun air mineral ke atas nampan.
Kondisi rumah Hafsah mendadak ramai setelah ia pulang. Hafsah yang khawatir dengan Lala pun, menjadi sedikit tenang karena bocah itu terus bermain boneka tanpa mengeluh takut seperti yang sudah-sudah.
Hafsah juga tidak lagi khawatir berada sendirian di rumah karena Mas Jamil ada bersamanya. Namun, pikirannya masih ragu untuk tetap tinggal di rumah warisan itu jika Jamil sudah pergi ke luar kota untuk menjalani tugasnya nanti.