“Bagaimana keadaannya Mbak?” tanya salah seorang tetangga dekat yang jaraknya hanya selang beberapa meter dari rumah Hafsah.
“Alhamdulillah, Bu, sudah baikan,”jawab Hafsah sambil mengulum senyum.
“Kasihan, ya, rahimnya diangkat. Habis ini, gak bisa punya anak lagi, deh,” celetuk salah seorang kerabat yang disambut cubitan beberapa orang di dekatnya.
Hafsah terdiam seraya menghela napas. Ia masih terus berusaha mengukir senyum di depan banyak orang, meskipun suasana hatinya tidak sedang baik-baik saja saat itu.
Tidak bisa punya anak lagi. Hal itulah yang menjadi beban pikiran Hafsah semenjak siuman pasca menjalani operasi. Ia benar-benar tidak pernah membayangkan kemalangan terbesar bagi seorang wanita, akan terjadi di kehidupannya. Kalau saja ia tidak memiliki suami setegar dan sesabar Mas Jamil, Hafsah mungkin sudah sangat terpuruk dan enggan melanjutkan hidup.
Entah siapa orang yang telah menyebarkan berita di seluruh kampung kalau Hafsah sampai mengalami proses pengangkatan rahim. Padahal, sejak Hafsah siuman dan bisa diajak bicara, ia terus mewanti-wanti kepada Mbak Haya dan Bayu untuk tidak bercerita ke siapa pun perihal kondisi yang ia alami.
Hafsah masih belum siap menerima omongan-omongan tetangga. Karena walau bagaimanapun, ketidaksempurnaan seorang perempuan, akan selalu jadi bahan pembicaraan yang menyenangkan bagi sesamanya, meskipun orang yang dibicarakan telah berbuat banyak kebaikan.
Sebaik-baiknya manusia, pasti akan tetap dinilai buruk di mata orang yang membencinya. Hafsah sadar akan hal itu. Itulah sebabnya ia belum mau membicarakan perihal kondisi yang sebenarnya sampai ia benar-benar siap. Siap untuk dijadikan bahan pembicaraan terutama.
“Maaf, ya, Mbak Hafsah. Bu Marni ini memang suka ceplas-ceplos kalau ngomong. Jangan marah, ya!” ungkap salah seorang tetangga yang duduk bersebelahan dengan Bu Marni.
“Gak apa-apa, kok, Bu. Saya gak marah.” Hafsah menjawab dengan susah payah menahan desakan air mata.
Sore itu di rumah Hafsah, para tetangga silih berganti menengoknya yang baru saja pulang dari rumah sakit. Sampai tiba waktu magrib, suasana rumah pun mulai lengang dan hanya diisi oleh Hafsah sekeluarga dan Bu Nilam.
Bunyi klakson di depan pintu pagar, sontak membuat Lala lari kegirangan. Bayu telah kembali dari pekerjaannya. Pemuda itu biasa membawakan sesuatu sebagai buah tangan yang membuat Lala selalu kegirangan tiap kali ia datang.
“Hore! Om Bayu pulang. Aku mau lihat, Om bawain apa untuk Lala,” celoteh Lala yang begitu antusias menunggu Bayu di ambang pintu.
“Assalamualaikum, Sayangnya Om! Udah mandi belum?” Bayu langsung berjongkok menyalami Lala setelah memarkirkan sepeda motornya.
“Belum. Aku belum mandi.” Lala menggeleng yang langsung disambut cubitan gemas pemuda di hadapannya.
“Kalau kamu belum mandi, Om gak akan kasih hadiah buat kamu,” goda Bayu yang langsung ditanggapi pelukan dari sang keponakan.
“Asyik! Aku mandi dulu, ya, Om.”Lala mengecup pipi Bayu sampai bersuara.
Lala pun akhirnya mau masuk dan mandi bersama Bu Nilam. Sementara Bayu, segera menghampiri kakaknya yang sedang menyandarkan kepala di atas tumpukan bantal.
“Mbak gimana, enakan?”tanya Bayu sesaat setelah meraih tangan sang kakak.
Hafsah mengangguk. Sejurus kemudian, air matanya tumpah an langsung meraung-raung di pundak Bayu.
“Loh, Mbak kenapa nangis? Masih ada yang dirasa? Bayu panggilin Mas Jamil, ya?” Bayu tampak begitu khawatir melihat kakaknya yang sedang menangis. Ia takut Hafsah kembali merasakan sakit di bagian perut.
Hafsah menggeleng. “Jangan, Bayu. Jangan panggil Mas Jamil. Dia sudah berangkat ke masjid untuk salat berjamaah. Mbak enggak kenapa-kenapa. Kamu langsung bersih -bersih saja biar gak ketinggalan salat,” titah Hafsah pada adiknya setelah melepas pelukan.
“Tapi kenapa Mbak nangis? Ada yang ngomong sesuatu sama, Mbak? Apa ada yang bicara gak baik sama Mbak?” Bayu terus mencecar sang Kakak. Pemuda itu paham betul sifat Hafsah yang sedikit sensitif dan gampang sekali down ketika mendengar omongan-omongan yang kurang menyenangkan.
“Enggak, Bayu. Mbak cuma gak habis pikir. Kenapa cobaan ini terus saja datang bertubi-tubi. Mbak mikir, apa kesalahan Mbak sehingga Allah menghukum Mbak seperti ini?” Hafsah kembali tenggelam dalam kesedihan.
Melihat sang kakak yang kembali menangis, Bayu pun merengkuhnya lagi. Meskipun laki-laki, tetapi Bayu sedikit memahami bagaimana perasaan seorang wanita ketika kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupnya.
Bayu terus mengusap-usap pucuk kerudung sang kakak sambil terus mengedar ke setiap sudut ruang. Seluruh bagian yang terdapat dalam rumah peninggalan orang tua mereka itu, selalu memiliki kenangan manis tersendiri yang sulit terhapus dalam memori Bayu.
Kenangan masa silam, tiba-tiba terlintas dalam benak Bayu. Ia ingat saat dulu mereka masih kanak-kanak. Mbak Haya berusia remaja, Mbak Hafsah kelas enam SD, dan Bayu masih seusia Lala.
Ketiga bersaudara itu sering kali terlibat perselisihan jika bermain bersama. Terlebih, Bayu yang masih sangat nakal, sering kali menjadi sasaran kemarahan Haya yang paling tidak suka barangnya dicak-acak oleh Bayu waktu itu. Di tengah keributan di antara dua saudaranya, Hafsah selalu menjadi penengah. Ia selalu membela Bayu yang mulai menangis setelah dimarahi, dan menasihati Baya agar tidak terlalu kasar bicara pada adik bungsunya.
Senyum Bayu merekah mengingat masa-masa indah dahulu. Sekarang, giliran ia yang harus menjadi penengah dan pembela sang kakak, sama seperti yang pernah Hafsah lakukan terhadapnya.
Di tengah tangis Hafsah yang semakin mereda, tiba-tiba terlintas dalam pikiran Bayu tentang sebuah putung rokok yang ia temukan di bawah sofa malam harinya setelah Hafsah dibawa ke rumah sakit.
Bayu sudah membahas hal itu pada Jamil. Namun, ia belum berani bertanya langsung ke Hafsah, mengingat kondisi wanita itu yang belum pulih benar. Bayu takut sang Kakak menjadi banyak pikiran jika terus-terusan diinterogasi. Bayu lebih mementingkan kestabilan Hafsah terlebih dahulu sampai wanita itu sembuh benar.
“Mbak. Bayu boleh tanya sesuatu?” Setelah beberapa saat meyakinkan diri, Bayu pun akhirnya bertanya dengan hati-hati.
Hafsah yang mendengar pertanyaan sang adik, langsung melepaskan diri demi bisa saling bertatapan muka.
“Tanya apa, Bayu? Apa ada berita tentang Ki Mutar? Kapan dia mau ke sini lahi? Ini udah satu minggu lewat.” Di luar dugaan, Hafsah ternyata justru menanyakan kabar Ki Mutar, sang dukun yang sudah berhasil memeras keluarga mereka.
Bayu menggeleng cepat. Pemuda itu pun sebenarnya belum mengetahui kabar terbaru tentang Ki Mutar. Terakhir, ia sempat melihat dukun tersebut sedang berada di toko material bersama Beno. Setelah itu, Bayu sempat ingin menyelidiki keterlibatan kakak iparnya bersama dukun tersebut. Namun, ia tidak punya waktu banyak karena terlalu sibuk bekerja dan mengurus sang kakak di rumah sakit.
Bayu dan Jamil sudah membuat rencana dan kesepakatan tentang apa yang akan mereka lakukan ketika Ki Mutar benar-benar kembali datang meminta uang. Yang pasti, rencana tersebut tidak diketahui oleh siapa pun termasuk Hafsah dan yang lainnya.
“Sebenarnya, aku ingin bertanya sesuatu tentang kejadian waktu itu. Kenapa Mbak Hafsah sampai tergeletak sendirian di kamar, dan apa saja yang terjadi sebenarnya pada waktu itu?” Bayu langsung menuangkan pertanyaan yang ada di pikirannya selama ini.
Dalam benaknya, Bayu masih tidak percaya dengan kemalangan yang menimpa saudaranya itu secara tiba-tiba. Bayu sangat yakin, pasti ada sesuatu di balik itu semua.
Setiap kejadian, baik, ataupun buruk, pasti ada sebab akibat yang membersamainya. Semua yang ada di dunia ini memang terjadi atas izin Allah. Namun, manusia harus tetap membentengi diri dan bersikap waspada demi keselamatan dan kelanjutan hidup.
Tidak ada manusia yang bisa mengalahkan takdir. Namun dengan doa, kita bisa memperoleh pertolongan dan menghindarkan diri dari mara bahaya yang bisa kapan saja hadir di depan mata.