Diam tanpa kata, Hafsah mematung sejenak setelah mendengar sang adik berbicara. Ada rasa takut dan ketidakyakinan bergelayut dalam pikiran wanita tiga puluh dua tahun itu, yang telah lama ia pendam dan enggan mengungkapkannya pada siapa pun.
“Kamu mau tanya apa, Bayu?” Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Hafsah kembal mematik suara yang sempat tercekat di kerongkongan.
Bayu yang mendengar hal itu, semakin yakin bahwa sang kakak selama ini menyimpan sesuatu yang selama ini tidak ada seorang pun yang tahu.
“Aku mau bertanya tentang kondisi Mbak sebelum pingsan di dalam kamar. Apa sebelum itu, ada seseorang yang datang ke rumah?” tanya Bayu dengan sedikit menenggelamkan tatapan.
Bola mata Hafsah berputar ke atas. Ia seperti sedang mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan yang masih tersimpan rapi dalam memori dan tidak pernah ia lupakan.
“Ya, ada. Mas Beno dengan saudara sepupunya. Mereka datang ke sini dan mengobrol sebentar. Setelah itu ....” Hafsah tahu melanjutkan ucapannya.
“Setelah itu, apa?” Bayu kembali menekan.
“Entah. Mbak gak mau suudzon, Bayu. Apalagi sama saudara sendiri.” Hafsah sedikit menurunkan nada bicara ketika Bu Nilam dan Lala lewat dari arah kamar mandi menuju kamar Lala.
“Mbak bisa cerita ke aku apa saja. Mbak tidak usah takut menuduh siapa-siapa. Anggap saja, Mbak sedang dimintai keterangan oleh pihak penyidik di kepolisian. Jika seorang saksi atau korban dimintai keterangan, bukan berarti mereka sedang menuduh atau memfitnah seseorang, bukan!” Bayu mencoba menyemangati sang kakak yang tampak mulai ragu.
Hafsah kembali terdiam. Wajahnya begitu menyiratkan kebimbangan yang entah sampai kapan akan dia pertahankan.
Selama beberapa hari terakhir, semenjak kedua orang tua meninggal dunia, penderitaan seolah-olah tidak ingin berada jauh dari kehidupan Hafsah. Hafsah seperti tidak diberi celah untuk bisa mengobati hatinya setelah kehilangan. Ia bahkan merasa sangat lelah dengan semua ujian di luar nalar yang menimpa keluarganya.
Hafsah yang merupakan ahli waris rumah peninggalan kedua orang tuanya, sampai merasa tidak betah lagi tinggal di tempat itu. Setelah beberapa kali mengalami gangguan gaib sampai membuatnya hampir mati, Hafsah menjadi ketakutan dan tidak mau ditinggal sendirian barang sedetik pun.
Hafsah yang masih bergeming di atas kasur, tiba-tiba menoleh ke arah Bayu yang masih setia menunggunya bicara. Melihat tatapan sendu adik bungsu di sampingnya, Hafsah pun memantapkan hati untuk menceritakan semua yang selama ini menjadi beban pikirannya karena mencurigai seseorang.
“Ceritakan semuanya sama aku, Mbak. Aku janji tidak akan bercerita ke siapa-siapa,” ucap Bayu, berusaha memantapkan hati Hafsah.
“Termasuk Mas Jamil?”
Bayu mengangguk. “Ya. Termasuk Mas Jamil.” Digenggamnya tangan kurus wanita bergamis hitam itu sambil mengusap-usap bahunya pelan.
Setelah menarik napas panjang, Hafsah pun mulai menceritakan semua kejadian yang ia alami sebelum dirawat di rumah sakit.
Dengan suara tertahan, Hafsah menceritakan secara detail apa saja yang dialaminya sebelum mengalami keguguran.
Hafsah mengiakan pertanyaan Bayu tentang adanya seseorang yang datang ke rumah sebelum kejadian itu. Beno dan Rodih. Hafsah bahkan tidak tahu kapan kedua laki-laki itu 12datang lantaran sudah tertidur pulas di kamar.
Hafsah mengakui bahwa dirinya lupa mengunci pintu. Namun, yang ia khawatirkan saat itu adalah, keadaan dirinya ketika bangun dari tidur. Hafsah menceritakan semuanya pada Bayu. Ia juga bercerita bagaimana rok yang menutupi tubuh bagian bawahnya tiba-tiba tanggal saat ia bangun dari tidur.
Mata Bayu terbelalak mendengar hal itu. Namun, ia tetap berusaha menahan diri agar sang Kakak bisa meneruskan ceritanya sampai akhir.
“Mbak panik waktu itu. Mbak sempat marah-marah ke mereka dan nuduh mereka masuk ke kamar saat Mbak sedang tidur. Tapi, yang ada Mbak malah malu sendiri. Mbak bodoh banget karena sudah kelewat batas. Mbak marah ke mereka tanpa adanya bukti. Mbak gak tahu kenapa bisa curiga ke mereka. Mungkin, karena hanya ada mereka di rumah ini. Tidak ada siapa-siapa lagi,” terang Hafsah dengan wajah memerah.
Sebenarnya Hafsah sangat malu menceritakan itu semua pada Bayu. Bahkan, pada Mas jamil pun, ia enggan bercerita. Hafsah takut suaminya berpikiran yang macam-macam. Hafsah takut suaminya justru curiga dan malah menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak senonoh saat dirinya sedang tidak berada di rumah.
Bayu yang masih tercengang, memilih untuk mengambil air minum untuk kakaknya. Ia melihat Hafsah begitu kelelahan saat bercerita. Pemuda itu tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kakaknya saat itu. Menyesal. Bayu justru menyesal telah meninggalkan sang kakak sendirian di saat keadaannya belum sembuh benar. Bayu merasa bersalah dan berandai-andai jika waktu itu ia masih berada di rumah dan menemani Hafsah, pasti kemalangan itu tidak akan pernah terjadi.
Kini, sesal hanya tinggal sesal. Semua yang sudah terjadi hanya mampu pemuda itu ratapi. Hafsah kini sudah kehilangan janin dan rahimnya. Ingin marah pun, tidak akan mengubah apa pun yang sudah terlanjur terjadi saat ini.
“Mbak. Aku mau tanya satu lagi, boleh?” Bayu kembali mendulang pertanyaan sambil tangannya menyodorkan segelas air putih ke mulut Hafsah.
Setelah menghabiskan air hingga tandas, Hafsah mengangguk. Ia merasa sedikit plong setelah menceritakan itu semua pada sang adik. Meskipun tidak mengurangi penderitaan, setidaknya Hafsah bisa berbagi kekhawatiran yang selalu ini mengganggu pikirannya.
“Iya. Kamu mau tanya apa?” sambut Hafsah dengan nada lebih rileks dari sebelumnya.
“Aku mau tanya sama Mbak.” Bayu merenung beberapa saat, kemudian kembali menatap intens wanita di hadapannya.
“Di malam kedua meninggalnya ibu. Apa benar, Mas Jamil pulang? Sebab setahuku, Mas Jamil baru pulang saat Mbak di rumah sakit. Mas Jamil yang bilang sendiri ke aku,” ucap Bayu begitu ingin tahu.
Ia masih ingat betul ucapan Hafsah pada malam itu yang mengatakan kalau Jamil pulang dan kembali lagi karena ada suatu urusan. Bayu pun sempat mendengar suara desahan dan erangan yang saling bersahutan yang berasal dari kamar Hafsah. Suara tak asing itu tersebut membuat Bayu menerka-nerka. Ia yakin, ada dua orang yang sedang melakukan hubungan badan di sana yang menurutnya adalah Hafsah dengan seseorang yang entah siapa.
“Kamu kata siapa, Bayu? Mas Jamil benar pulang, kok, pada malam itu. Mbak juga sempat ....” Hafsah menunduk. Ia malu melanjutkan kalimatnya.
“Mas Jamil sendiri yang ngomong ke aku, Mbak. Memangnya ... mbak tidak bertanya sama Mas Jamil?” Bayu memasang wajah ragu. Ia dapat menangkap ekspresi wajah sang kakak yang tampak begitu terkejut mendengar ucapannya.
“Gak. Ini gak mungkin, Bayu. Ini gak mungkin.” Hafsah berteriak sambil memeras kepalanya.
“Mbak. Mbak istighfar, Mbak. Bayu hanya ingin tahu yang sebenarnya. Mbak jangan bersikap seperti ini.” Bayu meraih pundak sang kakak, berusaha menenangkannya.
“Enggak, Bayu. Ini enggak mungkin bisa terjadi. Kalau Mas Jamil tidak pulang pada malam itu. Lalu, siapa yang meniduri Mbak?” Hafsah meraung sambil menutupi wajahnya.
Prang!
Terdengar suara benda jatuh dari arah pintu. Ternyata Mas Jamil sudah kembali dari masjid dan mendengar kalimat terakhir yang Hafsah ucapkan.