Prasangka Jamil

1404 Kata
“Kenapa kamu gak ngomong sama Mas? Kenapa?” Dengan suara tercekat, Jamil menggoyang-goyangkan pundak Hafsah. Seperti kehilangan pita suara, Hafsah mendadak bisu dengan sorot mata yang tidak beralih pada sebuah tembok pembatas, jauh di hadapannya. Tatapan Hafsah begitu kelam., tetapi terkesan kosong karena tidak bermuara pada satu benda pun. “Mas. Sudah, Mas. Biar Mbak istirahat dulu.” Bayu berusaha meredam emosi sang kakak ipar yang meledak tiba-tiba. “Gak bisa seperti ini, Bayu. Kalau memang ada yang berani macam-macam sama mbakmu ini waktu Mas gak ada. Siapa pun itu, dia harus berurusan denganku,” ucap Jamil lirih. Embusan napas yang keluar dari mulutnya terdengar bergemuruh, dibarengi kalimat istigfar yang samar terucap. Bayu hanya bisa menelan ludah. Ia merasa seperti sedang menaruh api di antara hubungan baik sang kakak dengan suaminya. Pertanyaan dan keingintahuannya kini berujung malapetaka. Niat untuk mendapatkan informasi tentang hal-hal yang ia curigai, malah berujung pertengkaran yang begitu sulit ia redam. “Mas. Aku yakin, Mbak Hafsah tidak sama sekali berniat menyakiti Mas. Saat ia tahu kebenaran ini, pun, aku yakin dia sama terkejutnya dengan Mas Jamil.” Bayu masih berusaha menjelaskan meskipun ia sendiri tidak yakin kakak iparnya mau menerima. Gerakan bahu Jamil yang turun naik dengan cepat, perlahan mengendur dibarengi lantunan kalimat istigfar yang diucapkannya begitu panjang. Kepalan tangannya yang sempat mengeras pun, sedikit demi sedikit terlepas dan bermuara pada usapan lembut di d**a. “Aku mohon, jawab, Dek! Kenapa kamu diam seperti ini? “ Jamil sedikit mengendurkan nada suaranya. Tatapan kosong Hafsah pun mulai terisi buliran bening. Sejurus kemudian, setetes air luruh melewati pipi tirusnya yang putih kemerah-merahan. Jamil yang awalnya sempat tak bisa menahan emosi, akhirnya berdeku, memeluk sang istri dengan perasaan campur aduk. Kesal dan sesal, dua rasa itu tidak bisa dipisahkan di dalam hatinya. Jamil merasakan kekecewaan yang teramat, pun penyesalan terhadap keputusannya meninggalkan Hafsah demi mencari rupiah di perantauan. “Ini salah Mas. Mas seharusnya tidak kerja jauh-jauh dan meninggalkan anak-istri Mas sendirian di rumah. Mas yang tidak berhasil menjadi imam. Mas yang tidak bisa jagain kamu dan Lala. Mas minta maaf.” Gemetar Jamil mengatakan hal itu. Bola matanya yang sempat memerah, ikut berkaca-kaca. Di dalam pelukan Jamil, Hafsah masih betah membisu. Tubuhnya mematung tanpa ada ekspresi sedikit pun. Hanya lelehan air mata yang mampu menggambarkan kondisi hatinya pada saat bibir Hafsah diam terkatup, tak mengeluarkan suara barang secuil. “Sudah, Mas, sudah! Aku yang seharusnya minta maaf ke kalian karena telah lancang mengorek-ngorek hal sensitif seperti ini. Sumpah demi Allah, aku tidak bermaksud membuat kalian bertengkar. Aku hanya ingin menegaskan beberapa hal aku curigai selama ini terhadap Mbak Hafsah. Aku gak bermaksud menyakiti Mas Jamil.” Bayu menangkupkan kedua tangan. Binar penyesalan, tampak jelas pada raut wajah maskulin pemuda dua puluh empat tahun itu. “Jangan merasa bersalah seperti itu, Bayu! Justru Mas ingin mengucapkan terima kasih ke kamu karena berhasil membuat mbakmu ini mengatakan semuanya. Selama kami di rumah sakit, Mbakmu tidak mau bicara apa pun tentang keadaannya selama di rumah. Mas juga menjadi segan bertanya lantaran takut mengganggu kondisi kesehatannya,” sahut Jamil, masih mendekap erat kepala sang istri. “Kalau begitu, lebih baik kita bawa Mbak Hafsah ke kamar saja. Biarkan dia istirahat dulu. Mungkin setelah itu, Mbak akan menjadi rileks dan mau bercerita kembali pada kita,” pinta Bayu seraya memijit pelan betis kurus sang kakak. Jamil mengangguk. Tanpa berpikir lama, ia pun menggendong tubuh istrinya yang masih tak mau bicara. Jamil berjalan menuju pintu kamarnya dengan perasaan terluka. Melihat kondisi Hafsah yang tak merespons sama sekali, membuatnya semakin mengutuk diri sendiri. “Ayah, Ibu mau dibawa ke mana?” celetuk Lala sesaat setelah keluar dari kamarnya. Wajah bocah enam tahun itu tampak kebingungan melihat sang ayah menggendong ibunya. “Lala sayang. Ibu mau istirahat dulu, ya! Lala jangan ganggu ibu, Lala mending main sama Om aja. Om punya oleh-oleh di tas.” Bayu dengan sigap menggendong keponakannya. Ia membawa Lala menuju ransel abu-abu yang masih tergeletak di sudut pintu yang belum sempat ia bereskan. “Asyik! Om Bayu bawain Lala apa? Jangan donat lagi, ya! Lala bosen,” ucap Lala sambil mengerucutkan bibir. “Enggak, kok. Om Bayu enggak bawa donat. Tapi Om bawa ini!” Bayu mengangkat plastik putih berisi tiga kotak berbentuk pipih berwarna merah hati. “Wah, pizza!” Wajah Lala berubah antusias. Bocah berambut sebahu itu lang mengambil alih plastik di tangan Bayu kemudian mendekapnya seperti tak mau lepas. Bayu merasa senang Lala kembali ceria di rumah. Ia sempat merasa khawatir selama beberapa hari, Lala tidak mau diajak pulang dan memilih tinggal di rumah Bu Nilam, pengasuhnya. “Kalau begitu, saya izin pamit pulang dulu ya, Nak Bayu. Kalau Lala rewel dan gak mau tidur di rumah lagi, bawa saja ke rumah saya,” ucap Bu Nilam seraya berlalu. “Terima kasih, ya, Bu!” jawab Bayu dibarengi anggukkan. Setelah berhasil mengambil hati Lala, Bayu pun meminta bocah itu untuk duduk di ruang TV sambil menikmati pizza. Bayu baru sadar kalau dirinya belum salat magrib. Ia harus segera membersihkan diri dan melaksanakan salat sebelum waktunya habis. “Lala sayang, Om tinggal ke kamar mandi sebentar, ya!” ucap Bayu yang dibalas anggukan oleh keponakan. Tidak mau menunda banyak waktu z Bayu pun segera beranjak dari ruang TV menuju kamar mandi yang jaraknya sekitar delapan belas meter karena harus melewati tiga kamar dan dapur yang luas. Sebelum memasuki pintu dapur yang terhubung langsung ke kamar mandi, Bayu sempat menoleh ke arah Lala untuk memastikan bocah itu masih berada di tempat sesuai instruksinya. Melihat Lala masih sibuk memakan pizza, Bayu tersenyum lega. Ia pun lekas menunaikan hajat dan kembali untuk menghadap Rabb-nya. Di dalam kamar, Jamil berusaha membaringkan tubuh Hafsah dengan hati-hati. Diusapnya wajah penuh mendung itu dengan penuh rasa iba. Jejak-jejak basah di pipi Hafsah perlahan-lahan mengering. Namun, luka di hati wanita itu malah semakin menganga, melihat perlakuan baik sang suami terhadapnya. “Maafkan aku, Mas.” Seutas kalimat, keluar dari bibir Hafsah yang masih tampak sedikit pucat. “Sudah, kamu jangan berpikiran macam-macam, ya! Mas yang seharusnya minta maaf karena terbawa emosi tadi. Sekarang, Mas sudah tidak apa-apa. Mas mengerti apa yang kamu rasain. Lebih baik sekarang, kita harus saling menguatkan agar bisa bersama-sama keluar dari masalah ini.” Jamil mengusap kepala Hafsah, lalu mengecupnya lama. “Tapi, aku sudah mengkhianati Menjadi Mas.” Hafsah kembali bersuara dengan sedikit gemetar. “Huust! Jangan bicara seperti itu!” Jamil meletakkan telunjuknya di bibir Hafsah. “Mas yakin, semua yang terjadi sama kamu selama ini hanyalah halusinasi. Mas yakin itu. Kamu juga pernah masuk ke sumur lantaran mengira Lala tercebur, kan! Bayu cerita semuanya ke Mas.” Jamil berusaha menguatkan dengan mengusap-usap bahu sang istri pelan. Hafsah mengangguk. Ia ingat saat itu ia merasa melihat Lala jatuh ke sumur, padahal sebenarnya bocah itu ada di belakangnya. Setelah mengingat kejadian itu, Hafsah menjadi sedikit lega. Perkataan yang dilontarkan oleh Mas Jamil, terdengar masuk akal. Kalau dirinya pernah mengalami halusinasi sampai separah itu, kemungkinan besar, luapan rindu bersama sosok mirip Jamil pada malam itu, pun hasil dari halusinasinya. “Bagaimana kalau besok, kita pergi ke psikiater?” ajak Jamil dengan harap besar Hafsah mau menyetujuinya. “Tidak, Mas. Aku belum siap ke sana. Tapi aku mau ngobrol sama Abi. Aku mau konsultasi ke beliau. Boleh?” pinta Hafsah. Jamil mengangguk cepat. “Boleh-boleh. Itu ide yang bagus. Semoga saja berkat bantuan dari Abi, semua masalah yang menimpa keluarga kita beberapa hari terakhir ini, bisa segera terselesaikan,” ungkap Jamil dengan begitu antusias. “Besok siang, ba'da zuhur, Mas akan coba telepon Abi. Semoga saja beliau sedang tidak sibuk mengajar dan punya waktu banyak untuk berbicara dengan kita,” sambungnya lagi. Hafsah tersenyum mendengar jawaban dari suaminya. Ia merasa sedikit lebih tenang berada dalam dekapan Jamil. Tok Tok Tok Suara ketukan pintu, menjeda kehangatan sepasang suami istri itu. Jamil sontak melepaskan dekapannya dan langsung beranjak untuk membukakan pintu. “Mas Jamil, maaf mengganggu,” ucap Bayu dengan napas yang sedikit memburu. “Iya, Bayu, tidak apa-apa. Ada apa memangnya?” Jamil blok bertanya. “Lala ada di dalam?” Bayu mencuri pandangan ke arah dalam kamar kakaknya yang tampak sepi. “Loh ... Lala sama Bu Nilam, kan?” Wajah Jamil tampak kebingungan. “Enggak, Mas, Bu Nilam sudah pulang. Lala tadi aku tinggal salat sebentar. Tadi Lala sedang makan pizza di ruang TV. Tapi setelah aku keluar kamar, Lala udah gak ada.” Tubuh Bayu bergetar. Hawa panik pun menghiasi wajah kedua laki-laki itu secara bersamaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN