Lala Menghilang Kembali

1063 Kata
Bayu berjalan cepat mengelilingi sekitar pekarangan rumah. Sementara Jamil, tetap mencari Lala di areal dalam rumah sambil menjaga Hafsah agar tidak ikut turun dari tempat tidurnya. Bayu mengira Lala keluar dari rumah setelah melihat pintu utama yang tidak tertutup dengan sempurna. Bayu semakin mengutuk dirinya sendiri karena merasa lalai lupa mengunci pintu. Ia juga seharusnya tidak meninggalkan Lala seorang diri di waktu magrib. Menurut orang-orang sekitar, waktu magrib adalah waktu yang rawan untuk anak-anak seusia Lala. Konon katanya, waktu magrib adalah waktu keluarnya para dedemit atau makhluk halus dari persembunyian mereka. Jika para makhluk halus tersebut melihat keberadaan anak kecil seorang diri tanpa pengawasan, sifat jahil mereka akan muncul dan para makhluk itu tidak segan-segan membawa dan menyembunyikan sang anak di suatu tempat. Hafsah merasa tidak tenang di dalam kamarnya. Wanita tiga puluh dua tahun itu tidak berhenti menangis. Doa-doa dan kalimat tayyibah, terus Hafsah lafalkan demi mendapatkan pertolongan dari Sang Khalik, Maha Pemilik Alam. “Ya Allah, Ya Rabb, tolong selamatkan putriku di mana pun Lala berada. Tolong jaga Lala Ya Allah. Jauhkan dia dari segala macam bahaya dan tindak kejahatan. Kembalikan dia pada kami, keluarganya, Ya Allah.” Deru tangis pun keluar dari bibir tipis Hafsah. Berbagai pikiran negatif, mulai mengisi hatinya. Jamil sudah tiga kali mengecek dapur dan kamar mandi. Nama sang anak terus ia panggil. Berharap, Lala bisa mendengar suaranya di mana pun ia berada. “Lala, Lala, kamu ada di mana, Nak? Sini, sama Ayah.” Sambil terus memanggil nama sang anak, Jamil terus melafalkan doa-doa dari dalam hati agar sang anak bisa lekas ditemui. Dari dalam kamarnya, Hafsah berteriak meminta Mas Jamil melongok ke arah sumur di kamar mandi. Wanita itu masih mengingat kejadian beberapa hari lalu. Ia takut, Lala diam-diam pergi ke sana sendirian. “Tenang, Dek. Mas sudah pastikan Lala tidak ke kamar mandi. Di dalam sumur airnya tidak beriak. Lala pasti tidak ke sini. Percaya sama Mas,” jawab Jamil dengan lantang agar suaranya terdengar sampai ke kamarnya. Hafsah yang belum diperbolehkan banyak bergerak, perlahan-lahan menggeser tubuhnya mendekati tepi tempat tidur. Ia berinisiatif untuk turun dan ikut mencari putri satu-satunya yang tidak keberadaannya bel juga ditemukan setelah dua puluh menit menghilang. Sambil memegangi perut bagian bawahnya, Hafsah menurunkan satu persatu kaki ke lantai. Wanita itu mencoba untuk mengangkat punggungnya untuk duduk, tetapi nyeri di bagian perut, semakin terasa seperti tersayat-sayat. “Auuu!” pekik Hafsah sembari menekan luka jahitan di perutnya. Meski kesakitan, wanita itu tetap berusaha beradaptasi dengan kondisi tubuh sebelum ia memutuskan untuk berdiri dengan bantuan tongkat. “Mas, sudah ketemu belum? Aku takut, Mas. Aku takut terjadi apa-apa sama Lala.” Hafsah kembali berteriak, meskipun rasa sakit di perut semakin menjadi-jadi ketika ia berbicara keras. “Belum, Dek. Kamu jangan khawatir, ya! Mas sama Bayu sedang berusaha. Kamu tetap di kamar sambil mendoakan Lala,” balas Jamil, masih dari arah belakang rumah antara dapur dengan kamar mandi. Hafsah yang tidak puas mendengar jawaban suaminya, memilih untuk tetap keluar kamar demi membantu mencari Lala yang hilang entah ke mana. Ditariknya tongkat kayu peninggalan mendiang sang bapak yang sempat Jamil taruh di samping tempat tidur. Dengan sekuat tenaga Hafsah menjejakkan kaki demi bisa menopang berat tubuhnya sendiri. Sambil meringis menahan sakit, Hafsah akhirnya berhasil menyeimbangkan badan, kemudian melangkah perlahan-lahan. Semakin lama, Hafsah semakin terbiasa dengan rasa sakit yang berasal dari bagian dalam bekas jahitan. Bahkan, wanita itu terkesan tidak memedulikan sakitnya lagi. Yang ada di pikiran Hafsah saat itu adalah, bisa secepat mungkin menemukan Lala sebelum sesuatu hal buruk terjadi pada putrinya tersebut. Bunyi ketukan tongkat, terdengar sampai ke kamar Bayu. Dengan satu tangan, Hafsah memutar handle pintu dan mendorongnya ke dalam. Sepi. Tidak ada siapa-siapa di dalam kamar adik bungsunya itu. Hafsah ingin memanggil Lala, tetapi takut sang suami mendengar dan menyuruhnya kembali ke kamar. Hafsah yang penasaran, akhirnya tetap melaju memasuki kamar Bayu. Wanita itu sempat menutup pintu kamar adiknya kembali agar suaranya tidak terdengar sampai luar. “Lala, ini ibu, Sayang. Kamu di mana? Ayuk, sini, sama Ibu!” panggil Hafsah pada putrinya yang entah ada di kamar tersebut atau tidak. “La, Lala ... ini Ibu, Nak. Kamu bersembunyi di mana? Ayuk, keluar sama Ibu. Kamu jangan takut, ya!” panggil Hafsah sekali lagi. Entah apa yang tersirat dalam benak Hafsah. Wanita itu tiba-tiba beranggapan bahwa putrinya sedang bersembunyi di suatu tempat. Hafsah ingat bagaimana putrinya ketakutan saat menceritakan sosok nenek tua yang terus mengganggu anak itu. Sehingga ia yakin bahwa Lala sedang bersembunyi karena takut dengan sosok seram yang pernah bocah itu ceritakan. Sudah tiga kali Hafsah memanggil-manggil nama Lala di dalam kamar Bayu. Namun, tidak juga ada jawaban dari si pemilik nama. Dengan susah payah, Hafsah berdeku di lantai. Ia mencoba melihat ke arah bawah tempat tidur Bayu karena takut Lala berada di sana. Helaan napas berat, kembali lolos dari bibir merah muda yang memucat. Keringat dingin sebesar biji jagung, sampai mengucur deras dari dahi wanita itu saat ia berusaha kembali berdiri dengan tongkatnya. Tidak terbilang betapa sakitnya bagian tubuh dari perut hingga ke bawah, tetapi Hafsah tetap melawan rasa sakit itu demi bisa menemukan sang buah hati. Dengan langkah tertatih Hafsah menggerakkan kakinya menuju ke luar kamar. Ekor matanya langsung tertuju ke arah kamar Haya yang berada bersebelahan dengan kamar adiknya. Setelah tiba di pintu kamar Haya, Hafsah langsung memutar handle dan mendorongnya. Namun sayang, ternyata kamar tersebut dikunci oleh pemiliknya. Setelah yakin kamar sang kakak benar-benar terkunci, Hafsah pun kembali membalikkan badan dan menuju ke kamar yang lain. Ia tidak menggedor-gedor kamar Haya untuk memanggil anaknya karena yakin, Lala tidak mungkin bisa masuk ke sana saat pintunya terkunci. Sebuah kamar yang pintunya terbuka, menjadi sasaran utama Hafsah. Setelah sempat menengok ke arah dapur dan ruangan depan, wanita itu kembali melanjutkan langkahnya yang sedikit berat karena harus tetap berusaha menjaga keseimbangan tubuh yang belum bisa beradaptasi betul. Suasana di dalam rumah saat itu, sudah mulai hening setelah sebelumnya gaduh dengan langkah terburu-buru suami dan adiknya yang berlarian mencari Lala ke sana kemari. Suara Jamil pun sudah tidak lagi terdengar. Hafsah mengira suaminya itu sudah beranjak ke luar karena tidak berhasil menemukan Lala di dalam rumah. Meskipun tidak begitu yakin, Hafsah tetap berjalan menuju kamar sang putri. Setelah sampai di dalam, matanya langsung tertuju pada gorden kamar yang berkibar-kibar tertiup angin. "Loh, kenapa jendelanya terbuka?" gumam Hafsah sambil terus melanjutkan langkahnya. Hafsah berusaha meraih kain gorden yang tersibak dan berniat untuk menutup jendela kembali. Namun, tiba-tiba ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN