Ketika Hafsah meraih gorden hendak menutup jendela, tiba-tiba terdengar suara tangisan dari arah bawah tempat tidur.
“Siapa itu?” Hafsah menghentikan gerak seraya memasang telinga kuat-kuat.
Bukannya menjawab, suara tangisan itu malah terdengar semakin pekat.
“Lala, apa itu kamu, Nak?” Hafsah mengulang pertanyaannya lagi.
Wanita itu tak lagi mengindahkan gorden yang terus melambai-lambai tertiup angin. Langkahnya kini beralih pada tempat tidur sang putri yang tampak tertata rapi di hadapannya.
“Lala, ibu ada di sini, Nak. Kamu jangan takut!” seru Hafsah. Ia sangat yakin suara tangisan itu berasal dari putrinya yang sedang bersembunyi di bawah tempat tidur.
Lutut Hafsah telah beradu dengan lantai keramik putih. Tangannya dengan kuat menahan keseimbangan tubuh dengan berpegangan pada kayu di sisi dipan. Suara tangisan semakin terdengar jelas oleh telinga, membuat Hafsah semakin yakin, putrinya memang benar-benar ada di sana.
Hafsah baru saja hendak melongok ke bawah tempat tidur ketika tepukan di bah membuatnya kaget bukan kepalang.
“Astagfirulloh!” pekik Hafsah sambil terduduk lemas di sisi tempat tidur.
“Mbak ngapain ke sini? Kan, sudah aku suruh Mas Jamil buat jagain Mbak, jangan sampai Mbak turun dari tempat tidur.” Bayu tiba-tiba muncul dan membuat sang kakak terkejut.
Hafsah masih mengusap-usap dadanya dengan tangan. Napasnya pun masih sedikit tersengal-sengal akibat dikagetkan.
“Lala ada di bawah tempat tidur,” ucap Hafsah dengan suara serak dan sedikit terengah-engah.
“Lala? Di bawah tempat tidur?” Bayu masih mengulang pertanyaan sang kakak dengan wajah bingung.
“Iya. Nih ....” Hafsah yang masih terduduk di lantai, kembali menurunkan kepalanya demi bisa melihat ke arah bawah tempat tidur Lala.
Mata Hafsah memicing tajam. Ia terus memindai setiap celah bawah tempat tidur yang gelap dan berdebu. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hal itu membuat Hafsah heran dan beralih menatap sang adik bungsu tidak percaya.
“Barusan Mbak dengar suara Lala nangis, Bay. Mbak yakin.” Hafsah masih tidak percaya. Ia kembali melongok bawah tempat tidur untuk yang kedua kalinya.
“Mbak, Lala udah ketemu. Lala ternyata pergi sendirian ke rumah Bu Nilam, mau berbagi pizza katanya,” jawab Bayu sembari berusaha memapah kakaknya berdiri.
“Di rumah Bu Nilam?” Hafsah memandang wajah sang adik begitu dalam. Sejurus kemudian, tatapannya beralih pada ruang sempit di kolong tempat tidur Lala yang menjadi sumber suara tangisan itu.
Hafsah masih yakin dengan pendengarannya. Jika Lala benar ditemukan di rumah Bu Nilam. Lalu, suara tangisan siapa yang barusan ia dengar?
Sekujur tubuhnya Hafsah mendadak merinding. Ia menyadari ada sesuatu yang ganjil di bawah tempat tidur Lala. Hafsah merasa semakin tidak betah. Baru saja beberapa jam pulang ke rumah, ia sudah kembali mendapat teror dari makhluk halus penghuni rumah tersebut.
“Untung kamu datang tepat waktu Bayu. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi sama Mbak.” Sambil berjalan, Hafsah berterima kasih pada Bayu yang telah menyelamatkannya dari kejahilan makhluk tak kasat mata.
Setelah tiba di ruang tengah, Hafsah melebarkan senyum melihat Lala sedang di pangku oleh ayahnya. Tak terbendung tangis seorang ibu yang sudah sejak tadi menahan kekhawatiran. Hafsah yang masih belum bisa leluasa bergerak, menghambur memeluk putrinya dengan perasaan haru dan takut yang bergabung menjadi satu.
“Astagfirulloh, Nak. Kamu ke mana saja? Ibu khawatir, Nak,” ucap Hafsah tak berhenti menciumi wajah putrinya.
“Lala cuma main ke rumah Bu Nilam sebentar doang, kok. Lala mau kasih ini ke Bu Nilam,” sahut bocah enam tahun itu sambil menunjukkan potongan pizza di tangannya.
“Iya. Tapi lain kali, kalau mau ke luar rumah, atau mau ke mana-mana, harus izin Ibu atau ayah dulu, ya! Apalagi ini sudah malam. Di luar juga sudah gelap. Jadi, Lala gak boleh ke luar rumah sendirian lagi, ya!” sambung Bayu.
“Oke, Om!” Lala mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi. Suasana rumah yang sempat menegang, akhirnya mencair dengan tingkah lucu bocah enam tahun itu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30. Suasana rumah besar itu tampak semakin sepi karena para penghuninya telah berada di dalam kamar.
Bayu yang sejak beberapa hari pulang-pergi Jakarta-Bekasi, tampak begitu kelelahan hingga tak kuat menahan mata seusai menjalankan salat isya. Pemuda itu sudah terlelap di kamarnya sejam pukul delapan malam. Ia sampai lupa makan karena matanya tidak kuat terjaga.
Di dalam kamarnya, Hafsah masih betah duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil tangannya menepuk-nepuk punggung sang putri yang sudah pulas di sampingnya. Ia sengaja meminta Lala untuk tidur bersama-sama dengannya dan Mas Jamil, lantaran takut bocah itu menghilang kembali.
“Kamu kenapa belum tidur?”
Di tengah pikiran bimbang Hafsah, suara pelan suaminya terdengar memecah keheningan malam.
Hafsah menoleh ke arah Mas Jamil, terlihat wajah teduh yang sedikit layu itu menatapnya penuh kasih.
“Aku belum ngantuk, Mas. Mas tidur duluan saja.” Hafsah menjawab sambil menarik selimut yang menutupi sebagian kakinya.
“Tidak. Mana mungkin Mas bisa tidur kalau kamu belum tidur?” Laki-laki berkaus putih yang masih mengenakan sarung itu bangkit dari pembaringannya. Ia menyandarkan tubuh di sandaran tempat tidur, menyamakan posisi dengan sang istri.
“Kamu lagi mikirin apa, sih? Coba kamu cerita sama Mas.” Jamil kembali bertanya. Ia berusaha membangun komunikasi dengan Hafsah. Jamil berharap bisa menggali apa saja yang selama ini ia tidak ketahui.
Mendengar pertanyaan sang suami, Hafsah mengedikkan bahu tinggi-tinggi.
“Entahlah, Mas. Aku merasa cobaan terus saja datang silih berganti dalam kehidupanku. Aku merasa sangat lelah sekarang. Aku sudah tidak kuat lagi diteror ketakutan terus menerus di rumah ini. Apakah, Allah marah besar kepadaku, Mas? Sampai-sampai, Allah menghukumku dengan cobaan bertubi-tubi ini,” ucap Hafsah dengan pandangan lurus ke depan.
"Hush! Kamu jangan pernah berbicara seperti itu, Dek. Allah Maha Penyayang. Allah Maha Tahu apa yang dibutuhkan oleh hamba-hamba-Nya. Jangan pernah berprasangka buruk, apalagi sama Allah. Allah tidak mungkin memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya." Jamil dengan tega menjawab pertanyaan sang istri yang tampak tidak lagi bersemangat menjalani hidupnya.
"Allah mungkin sedang memberikan ujian bagi keluarga kita. Tapi satu hal, kita harus tetap bersyukur atas semua nikmat dan karunia yang berlimpah di kehidupan kita. Kita masih diberi kesempatan hidup, kita masih memiliki keluarga yang perhatian dan sayang terhadap kita."
" Kita punya Lala yang harus dibesarkan dengan bahagia, kita harus fokus terhadap itu, Dek. Jangan sampai pikiran buruk, justru mengikis rasa syukur kita terhadap-Nya. Jangan sampai dengan diberikan ujian, kita justru menjadi kufur nikmat. Jangan sampai yang kita ingat saat ini, hanyalah penderitaan saja. Sementara kebahagiaan yang kita dapat, tidak kita syukuri sama sekali. Itu salah, Dek!
Ada sedikit sentuhan halus yang menyejukkan hati Hafsah setelah mendengar penjelasan dari suaminya. Hafsah yang sempat ingin menyerah, sedikit demi sedikit mulai menerima apa yang telah menjadi garis takdirnya saat ini.
Mas Jamil benar, tidak seharusnya ia terus mengeluhkan keadaan. Sebab, nikmat yang telah Allah berikan, tidak terhitung nilainya dan patut selalu disyukuri dalam kondisi apa pun.
Karena pada dasarnya, tidak ada yang benar-benar abadi di dunia ini, termasuk ujian hidup. Sedih, tidak akan selamanya sedih. Gembira, juga tidak akan selamanya gembira. Tugas kita sebagai manusia hanyalah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya dan yakin bahwa suatu saat, apa yang telah kita perbuat akan berbalik ke diri kita sendiri.