Nyanyian burung kenari, terdengar begitu riang beterbangan mengitari pepohonan. Aroma embun basah sisa gerimis dini hari tadi, menyisakan kesejukan di indra penciuman.
Bayu sudah kembali ke Jakarta sejak satu jam lalu. Pemuda itu pergi membawa ransel besar berisi pakaian karena sudah berniat tidak kembali untuk sementara waktu.
Keberadaan Jamil di rumah, sedikit membuat perasaan Bayu lega. Ia jadi bisa fokus ke pekerjaannya tanpa bolak-balik memikirkan perkara keluarga yang menyita banyak waktu dan tenaga.
Bayu yakin, dengan adanya Jamil di rumah, segala sesuatunya akan bisa dikendalikan. Terlebih, setelah sempat berdiskusi semalam, Mas Jamil ternyata berniat akan mendatangkan Abi, salah seorang keluarga yang memiliki ilmu tinggi, untuk meruqiyah Hafsah dan Lala, keponakannya.
Bayu merasa tidak ada yang perlu dikawatirkan sekarang. Lagi pula, ia juga pasti akan selalu pulang setiap minggu, mengingat masih ada suatu hal yang perlu ia urus, termasuk kecurigaannya terhadap Mas Beno dan Ki Mutar.
Pemuda bertubuh tinggi besar itu masih belum menghilangkan pikiran negatifnya pada kedua lelaki yang ia yakini memiliki rencana jahat terhadap keluarganya.
Hafsah dengan tongkat di tangannya, berjalan perlahan-lahan di sekitar halaman rumah sembari berolahraga ringan. Dokter memang menyuruhnya untuk tidak banyak melakukan pekerjaan, tetapi Hafsah juga perlu bergerak sedikit demi sedikit demi meregangkan otot-otot perut agar tidak kaku.
Ditemani suami tercinta, Hafsah begitu bersemangat menjejakkan kaki meski perutnya masih terasa nyeri. Mas Jamil tak segan-segan memberikan semangat dan bantuan ketika Hafsah sudah mulai kelelahan.
“Istirahat dulu, yuk! Kita sarapan sama-sama. Kasihan Lala sudah nungguin kepengen disuapi,” pinta Jamil pada sang istri yang masih sangat bersemangat melanjutkan langkah.
“Sebentar lagi, Mas. Satu menit lagi.” Hafsah menjawab sembari melambai-lambaikan tangan ke arah putrinya yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kursi teras rumah.
Setelah satu menit berjalan, Hafsah pun dipapah menuju teras yang telah tersedia berbagai macam menu sarapan di atas meja.
Teras rumah dengan ukuran empat kali sepuluh meter itu, tampak sedikit kotor di bagian lantai karena sudah berhari-hari tidak dibersihkan semenjak Hafsah dirawat di rumah sakit.
Tatapan Hafsah terus menjelajah ke bawah. Dari ujung keramik di sisi kanan sampai sisi Kirinya, tampak banyak debu dan sampah dedaunan bertebaran.
Hafsah menggeleng pelan. Baru satu minggu ia meninggalkan rumah, rasanya sudah seperti bertahun-tahun lamanya. Bayu memang selalu pulang ke rumahnya setiap malam. Akan tetapi, pemuda itu tidak akan sempat memperhatikan kondisi teras yang kotor karena sudah terlalu lelah bekerja siang dan malam
Bayu juga harus sudah kembali berangkat ke Jakarta selepas subuh atau sebelum matahari terbit. Jadi, mana mungkin pemuda itu sempat membereskan rumah sang kakak meskipun sekadar menyapu teras yang memang bukan pekerjaannya.
“Gak usah mikirin lantai, kamu sarapan saja, ya! Biar nanti kita cari orang yang mau diajak bantu-bantu di rumah.” Seperti tahu isi hati Hafsah, Jamil langsung berinisiatif ingin mencarikan seorang asisten rumah tangga untuk membantu mengurus rumah selama Hafsah dalam pemulihan.
“Bu Nilam saja bagaimana, Mas?” Hafsah meminta pendapat pada suaminya.
“Bu Nilam?” Jamil mempertegas.
“Iya. Bu Nilam, kan, sudah dua tahun menjadi pengasuh Lala. Bagaimana kalau dia juga kita minta untuk bantu-bantu di rumah. Jadi, Bu Nilam tidak perlu antar jemput Lala ke rumahnya setiap hari dan kita bisa minta dia tinggal di sini, di rumah kita,” ungkap Hafsah dengan mata berbinar-binar.
Tak hanya Hafsah yang sangat yakin dengan pendapatnya itu. Lala pun sepertinya sangat setuju dengan saran yang dilontarkan ibunya. Hal itu dapat dilihat dari senyum Lala yang melebar. Bocah enam tahun itu tampak sangat senang mendengar Bu Nilam akan diajak tinggal bersama mereka.
“Asyiiik! Mbok mau tinggal di rumah bareng kita, Bu? Asyiiik!” teriak Lalal kegirangan.
“Tuh, kan, Mas. Lala saja setuju. Dari pada kita sekeluarga harus beradaptasi dengan orang baru lagi, lebih baik kita minta bantuan Bu Nilam yang jelas-jelas sudah dekat dengan keluarga kita, terutama dengan Lala.
Mendengar perkataan sang istri, Jamil lantas mengangguk-angguk sembari menimbang-nimbang pikiran. Ada baiknya juga Bu Nilam tinggal di rumah mereka. Toh, Bu Nilam pun tinggal seorang diri di rumahnya.
Suaminya bekerja ke luar kota. Sementara ia, tidak memiliki seorang anak yang harus ia urus. Jika Bu Nilam setuju, ia pasti tidak akan merasakan kesepian lagi.
"Baik, kalau begitu. Nanti, kalau Bu Nilam datang jemput Lala, Mas akan beritahukan ke dia supaya mau tinggal dan ikut bantu-bantu urus rumah ini. Masalah bayaran, Mas insyaallah bisa kasih lebih dari yang biasa orang-orang Terima jika bekerja sebagai pengurus rumah tangga. Mudah-mudahan Bu Nilam setuju," timpal Jamil meyakinkan dia orang di depannya.
"Aamiin!" Kompak ibu dan anak pun berseru.
Lala dan Hafsah merasa sedikit lega kala Mas Jamil menyetujui saran mereka. Jika Bu Nilam mau menerima pekerjaan tambahan ini, merekam tidak perlu susah-susah mencari orang lagi. Karena untuk mencari seseorang yang baik dan bersahabat seperti Bu Nilam, itu sangatlah susah.
***
Sementara itu di rumah kontrakannya, Haya tampak sedang melipat pakaian yang baru ia turunkan dari jemuran setelah semalaman.
Haya terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Tentu saja, pekerjaan di kios dan rumah yang tidak selesai-selesai, sangat banyak menyita waktunya. Terlebih, Beno seperti sengaja tidak mengindahkan. Laki-laki bertubuh gempal itu seringkali pergi dan pulang tengah malam tanpa membantu istrinya yang kerepotan sendirian di pasar.
"Mas sedang banyak urusan. Kamu gak usah tanya-tanya Mas terus, Mas juga capek!" Begitu jawaban Beno tiap kali istrinya bertanya.
tidak mau mencari keributan, Haya pun lebih memilih mengalah dengan diam dari pada urusan sepele menjadi besar. Wanita bertubuh kurus itu menelan rasa lelah dan suntuknya sendirian. Ia enggan bercerita, apalagi mengeluh pada suaminya yang tidak pernah sekali pun mengerti perasaannya selama ini.
***
Setelah memakan sarapannya yang telah tersedia di meja makan, Beno pun kembali bersiap-siap untuk pergi.
Sambil memakai ikat pinggang, mata Beno tak berhenti memperhatikan ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur.
Rupanya laki-laki itu sedang menunggu balasan pesan dari seseorang. Sebelumnya, Beno sudah mengirimkan pesan terlebih dahulu untuk meminta seseorang untuk bertemu di suatu tempat.
Tring!
Bunyi ponsel sontak membuat Beno mempercepat gerakannya. Laki-laki itu pun segera meraih benda pipih yang layarnya menyala dan langsung membuka isi pesan dari nomor kontak bertuliskan nama 'Ki Mutar'
[Aku tunggu kedatanganmu di rumahku. Jangan lupa bawa paku dan silet, juga uang dua juta untuk DP.]