Beno berjalan tergesa-gesa menuju pintu. Matanya melirik sekilas ke arah Haya yang masih sibuk mengangkat sisa pakaian di jemuran depan teras.
“Mas mau ke mana? Gak jadi ke kios lagi?” Pertanyaan Haya sontak membuat Beno menghentikan langkah.
“Enggak. Mas sibuk, ada urusan di luar yang harus diselesaikan sekarang juga.”
“Tapi, Mas. Sudah beberapa hari, Mas tidak bantu-bantu aku di kios. Aku kewalahan, Mas. Apalagi aku juga harus mengerjakan pekerjaan rumah sendirian,” keluh Haya dengan suara tertahan.
Wanita yang belum dikaruniai anak setelah sepuluh tahun menikah itu, rupanya sudah menahan diri cukup lama. Ia sudah merasa lelah bekerja sendirian sementara sang suami hanya sibuk dengan urusannya yang entah itu apa.
“Oh! Jadi kamu gak terima kerja sendirian? Baru beberapa hari aja, loh. Aku, selama sepuluh tahun bekerja banting tulang menafkahimu, tidak pernah mengeluh.” Beno menyeletuk, membuat mulut Haya semakin terkatup.
Haya tidak lagi memiliki kata-kata untuk membalas pernyataan suaminya. Ia merasa apa saja yang keluar dari dalam mulutnya, selalu salah di mata Beno.
Tidak sekali dua kali. Namun, setiap kali Haya melayangkan protes atau usulan, Beno selalu menanggapinya dingin. Padahal selama ini, Haya merasa sudah begitu patuh sebagai istri. Meskipun sampai saat ini ia belum bisa memberikan keturunan, tidak seharusnya Beno bersikap tak baik seperti itu.
Haya menunduk lesu saat suaminya tetap pergi membawa sepeda motor tanpa berpamitan lagi. Haya harus kembali ditempa rasa sakit di dalam hati untuk yang ke sekian kali. Meskipun begitu, Haya tetap berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangganya meskipun kecil harapan, Beno bisa berubah.
“Apa salah aku, Mas? Selama ini, aku sudah berkorban banyak untuk keluarga kita. Aku sudah bertahun-tahun menebalkan muka di hadapan keluargaku, demi bisa memberikanmu pekerjaan di ladang Bapak waktu itu.” Wanita itu menggerutu.
Selama sepuluh tahun menikah, Haya sudah banyak sekali merepotkan keluarganya, terutama kedua orang tuanya. Mendapatkan laki-laki pengangguran sebagai suami, membuat Hafsah berulang kali mendapat sokongan ekonomi demi bisa melanjutkan hidupnya sendiri.
Tingkat pendidikan yang rendah dan keterampilan yang kurang, membuat Haya tidak bisa berbuat banyak untuk membantu suaminya bekerja. Haya yang pada saat itu dilarang orang tuanya bekerja di ladang, terpaksa berdiam di rumah dan hanya mengandalkan uang belanja dari Beno yang nilainya tak seberapa.
Saat masih gadis, Haya merupakan seorang yang giat membantu orang tua di ladang. Namun setelah menikah, orang tua Haya melarangnya bekerja karena menganggap, sudah ada suaminya yang bertanggung jawab memberinya nafkah.
Haya menghela napas panjang. Pakaian di tangannya kembali ia lepit dan tata di lemari. Sambil meraih kerudung di gantungan baju di pintu kamar, Haya melirik ke arah jam dinding sekilas yang sudah menunjukkan pukul 06.55 pagi.
Waktu yang sudah cukup siang bagi Haya yang hendak beranjak menuju pasar. Setelah mengambil tas dan mengunci pintu, Haya pun melangkah cepat menuju rumah tetangga yang biasa mengantarnya ke pasar. Namun, Haya justru dibuat panik lantaran pemuda yang berprofesi sebagai ojek pengkolan itu ternyata sedang tidak bisa mengendarai motor karena kakinya patah.
“Astagfirulloh, Jaka. Kakiku kenapa?” pekik Haya sesampainya di ambang pintu.
Jaka yang sedang terbaring dengan balutan perban di bagian tumit kiri, hanya bisa menyambut kedatangan Haya dengan menangkup kedua tangannya.
“Ini, loh, Bu. Semalam Jaka kecelakaan pas pulang habis antar sewa. Untung cuma kakinya aja yang patah. Padahal dia sempat nabrak pohon gede sampai motornya ringsek gitu,” ucap Bu Arum, ibunda Jaka, sambil menunjuk ke arah motor bebek di sudut ruangan yang kondisinya sangat memprihatinkan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun. Lalu, sudah dibawa berobat?” Haya bertanya dengan wajah iba. Kini Haya harus mempertegas kondisi Jaka terlebih dahulu meskipun ia sendiri sedang diburu waktu.
“Sudah, Bu Haya. Semalam langsung dibawa ke klinik dekat sini. Dan rencananya, nanti siang mau dibawa ke dukun patah biar diurut,” sahut Bu Arum yang sibuk melumuri bagian tubuh Jaka yang lain dengan ramuan beras kencur.
“Syukurlah kalau begitu. Saya sampai kaget lihat kondisi kamu seperti ini, Jaka. Padahal, kemarin masih sehat-sehat aja waktu antar saya ke pasar.” Haya terus memandang tubuh anak muda malang itu.
“Bu Haya nanti ke pasar sama siapa jadinya?” Bu Arum tiba-tiba menyeletuk, membuat Haya tersadar tujuan awalnya datang ke rumah itu.
“Aduh. Iya, nih. Saya sampai lupa kalau sudah kesiangan. Kalau boleh tanya di sekitar sini, ada tidak, ya, yang bisa antar saya ke pasar?” Haya bertanya dengan sedikit memelas.
“Aduh. Siapa, ya? Coba Bu Haya datang ke rumah Pak Kardi. Di belakang rumah saya ini. Dia kan, kerja di ladang milik mendiang orang tua Bu Haya. Siapa tahu, dia mau antar Ibu ke pasar sekalian jalan,” jawab Bu Arum.
“Oh. Begitu, ya? Baiklah. Biar saya coba datang ke rumah Pak Kardi. Terima kasih banyak, ya Bu! Jaka, semoga cepat sembuh, ya!” ucap Haya sambil beranjak dari duduk.
Haya berjalan ke luar setelah memberikan beberapa lembar uang pada ibunda Jaka untuk membantu biaya pengobatan putranya. Bu Arum sangat berterima kasih sekaligus segan sampai berulang kali menolak karena merasa tak enak.
Setelah membalas salam dan memperhatikan bayangan Haya menghilang di balik pintu, Bu Arum yang awalnya tak berani bicara, kini berceloteh sendiri di samping putranya.
“Kasihan banget sama Bu Haya. Selama nikah, dia kelihatan tertekan sekali. Yang tadinya tinggal di rumah besar, jadi ngontrak ikut suaminya yang pengangguran. Kalau saja bukan karena kebaikan mendiang kedua orang tua Haya, mungkin Beno tidak akan bisa hidup senang seperti ini. Ih, Ibu jadi gemes kalau ngomongin soal Beno. Laki-laki itu memang dari dulu sudah gak bener. Sampai sekarang pun, masih gak bener kalau kata Ibu. Ibu yakin, Beno pasti Cuma pura-pura baik di hadapan istrinya. Padahal di belakang ....”
Belum juga Bu Arum mengakhiri ucapan, Jaka sudah lebih dulu menepuk pelan tangannya.
“Hush! Jangan berbicara seperti itu, Bu. Siapa tahu, Mas Beno sekarang sudah berubah, gak kaya dulu lagi. Jangan suudzon gitu. Gak baik, apalagi sama tetangga,” timpal Jaka berusaha menasihati ibunya.
“Habis, Ibu sudah gemas sekali dengan kelakuan Beno di kampung ini. Semua orang sudah tahu, kalau sebenarnya Beno itu sudah lama main perempuan. Dan apesnya, yang ketahuan justru saudaranya, si Rodih. Alhasil, Rodih dipenjara dan Beno bisa lenggang bebas kaya orang yang gak punya salah. Iih, mulut ibu rasanya gemes banget pengen ngomong ini ke Bu Haya,” celetuk Bu Arum dengan ekspresi wajah penuh dengan emosi.
“Jangan, Bu. Jangan bikin rumah tangga orang lain berantakan. Kalau Bu Haya belum mengetahui kelakuan suaminya, biarkan saja. Suatu saat nanti, semua kebohongan dan kejahatan, pasti akan terbongkar dengan sendirinya tanpa kita ikut campur.” Pak Karta, Suami Bu Arum yang baru saja keluar dari dapur, menyanggah pendapat sang istri yang menurutnya sudah keluar batas.
“Ho’oh .... yo wes, gak usah pada nyalahin ibu semua. Ibu cuma geregetan. Sudah-sudah, Ibu mah masak nasi. Laki-laki memang sifatnya begitu. Gak pernah mengerti perasaan perempuan.” Bu Arum menggerutu sembari melangkah ke dapur.
“Awas saja. Kalau Bu Haya datang ke sini lagi, aku akan kasih tahu semua kelakuan suaminya. Sebagai sesama perempuan, aku gak rela ada perempuan lain yang disakiti seperti itu. Aku gak rela!” Bu Arum bergumam sambil tangannya memilah cabai dan bawang.