Dengan langkah tergesa-gesa, Haya berjala menuju rumah Kardi, seorang buruh kebun yang Bu Arum beritahu tadi. Jarak rumah Kardi memang tidak terlalu jauh, hanya terhalang oleh lahan kosong seluas satu hektar yang banyak ditumbuhi tanaman liar tak terawat.
Tidak ada orang yang berlalu lalang di jalan setapak itu, membuat Haya semakin mempercepat langkah. Setelah beberapa menit berjalan tanpa jeda, Haya pun sampai di sebuah rumah sederhana beratap daun rumbia yang hanya satu-satunya di lahan kosong itu.
Sesampainya di rumah Kardi, Haya sempat menelisik ke sekeliling halaman rumah yang tidak ada satu tetangga pun di sana. Lantas Haya bergidik. Ia membayangkan bagaimana suasana rumah tersebut saat malan hari, pasti sepi dan sulit meminta bantuan pada orang lain jika mengalami sakit atau sesuatu yang lain.
“Assalamualaikum,” ucap Haya sembari mengetuk pintu kayu yang sedikit reot.
Tak sampai satu menit, suara jawaban dari seseorang pun terdengar dari dalam.
“Waalaikumsalam,” jawab seorang wanita paruh baya dengan memakai pakaian setelan kebaya zaman dulu yang sudah sangat kusam dan banyak sobekan di mana-mana.
“Siapa, ya?” Wanita tua itu memicingkan mata, seperti baru melihat Haya untuk pertama kalinya.
“Maaf, Bu!” Haya menggamit tangan wanita itu berusaha menyalami. Saya Haya, yang ngontrak di samping rumah Bu Arum,” terang Haya.
“Bu Arum siapa, ya?” Mata wanita paruh baya itu memutar ke atas hendak mengingat-ingat. Maklum, usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Jangankan untuk mengenali seseorang, menaruh makanan saja, ia sudah sering lupa.
“Bu Arum istrinya Pak Karta, Mak.” Tiba-tiba muncul seorang laki-laki berbadan kekar dari dalam rumah. Sosok tinggi dan maskulin itu, begitu tak asing di mata Haya.
“Masya Allah. Wijaya?” Haya menutup mulutnya sambil menunjuk-nunjuk lelaki di samping wanita tua itu. Haya sangat yakin, bahwa yang sedang berdiri di hadapannya adalah Sukardi Wijaya, teman satu sekolah yang pernah bilang akan merantau ke Jakarta selepas lulus SD bersama kedua orang tuanya.
“Haya? Ini Haya, kan?” Laki-laki berparas tampan itu langsung mendekat, memastikan kalau wanita bertubuh mungil dengan tahi lalat di dagu itu adalah benar-benar teman masa kecilnya.
“Ya, ya, saya Haya. Kamu benar Wijaya, kan!” Baya masih tidak percaya. Ia kembali menekan sosok di hadapannya dengan pertanyaan.
“Iya, saya Wijaya. Tapi sekarang, orang-orang sudah lebih sering panggil saya Karta, bukan Wijaya.” Laki-laki itu tersenyum kecil, menunjukkan lesung pipi yang membuat wajahnya tampak semakin manis.
Melihat Wijaya tersenyum, Haya malah menunduk tersipu-sipu. Ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan teman masa kecilnya yang sudah puluhan tahun tidak pernah berjumpa.
Haya mengingat pertemuan terakhirnya dengan Wijaya. Ia sempat bermain layang-layang di tepi sawah bersama Wijaya saat berusia 14 tahun. Setelah itu, Haya sudah tidak pernah bertemu lagi karena Wijaya telah ikut orang tuanya merantau ke Jakarta.
“Ini, loh, Bu. Haya, teman saya waktu SD. Ibu ingat?” tanya Wijaya pada ibunya.
Wanita tua di samping Wijaya sempat mendekatkan wajahnya ke arah Haya. Sejurus kemudian, ia menggeleng dan kembali masuk ke rumah tanpa permisi lagi.
“Mohon maaf, ya, Hay. Ibu saya sudah pikun. Sudah tuah banget soalnya. Makanya, saya ngelarang dia ke luar rumah. Takut kesasar ke mana-mana,” ungkap Wijaya seraya mengambil tempat di atas balai bambu di depan rumahnya.
Haya yang sudah duduk terlebih dahulu, refleks menggeser tubuh, menciptakan jarak. Karena meskipun mereka berdua adalah teman dekat, tetapi Haya sudah memiliki suami yang harus dijaga perasaannya.
“Ngomong-ngomong, kamu kenapa bisa tahu rumah saya? Padahal ada di ujung kebun gini, loh!” seru Wijaya sedikit terkekeh.
“Oh. Saya tadinya mau ke pasar, minta tolong Jaka untuk antarkan. Tapi ... Jaka malah gak bisa bawa motor, habis kecelakaan semalam, kakinya patah,” jawab Haya dengan suara lesu. Haya tampak sedikit gelisah mengingat hari yang sudah semakin siang dan dia belum juga berangkat ke pasar.
Haya masih tidak habis pikir bisa bertemu dengan teman lamanya pagi itu. Ia sangat menyayangkan baru bisa berkunjung ke rumah tersebut meskipun sudah bertahun-tahun tinggal tinggal di kontrakan.
“Innalaillahi wa Inna ilaihi raji’un. Kasihan sekali di Jaka.” Wijaya menggeleng dua kali. “Terus, kamu gak jadi ke pasar?” tanya Wijaya lagi.
“Jadi, sih. Tapi ... tadi Bu Arum yang suruh saya ke sini buat ketemu sama kamu. Memang, kamu kerja di ladang milik almarhum bapak saya? Kok, saya gak pernah tahu. Memang, sejak kapan?” Haya melirik tajam ke arah Wijaya.
“Saya memang bekerja di ladang, tapi baru satu bulan semenjak berhenti kerja di pabrik dan saya tidak kenal betul siapa pemilik ladangnya,” jawab Wijaya tegas.
“Oh ... gitu. Eee tapi, kamu sejak kapan tinggal di sini? Bukannya kamu tinggal di Jakarta?” Haya kembali menelisik kehidupan Wijaya karena penasaran. Sebab selama tinggal di tempat itu, Haya tidak sama sekali bertemu dengan Wijaya walaupun hanya sebatas papasan di jalan.
“Belum lama. Baru sekitar enam bulan semenjak bapak meninggal. Ibu saya jadi ingin tinggal di desa lagi, kepengen tenang katanya. Di kota berisik, banyak suara kendaraan dan musik.” Wijaya kembali tertawa kecil.
“Jadi, saya putuskan untuk menempati rumah ini. Ini sebenarnya rumah milik pengurus tanah. Tapi, berhubung orangnya sudah meninggal dunia, jadi lebih baik saya dan Ibu tempati daripada dibiarkan kosong,” sambung Wijaya.
Haya mengangguk-angguk mendengar penuturan Wijaya. “Jadi ... gimana? Mau antar saya ke pasar?” Haya bertanya dengan ragu-ragu. Kalau boleh jujur, Haya ingin sekali menghabiskan banyak waktu dengan Wijaya untuk sekadar berbagai kabar.
Selama bertahun-tahun tidak bersua, waktu sepagi ini rasanya teramat singkat untuk dilewatkan. Sayangnya, Haya dan Wijaya sama-sama punya hal yang harus segera mereka kerjakan. Jikalau ada waktu luang, Haya ingin sekali kembali berkunjung dan mengobrol lebih lama untuk mengobati kerinduan akan kebahagiaan masa kecilnya.
“Bisa, bisa. Ayo, kira berangkat sekarang, takut kesiangan!” sahut Wijaya yang langsung melenggang masuk ke rumah mengambil beberapa peralatan berkebun.
Haya merasa sangat lega Wijaya mau mengantarnya. Namun, ia sedikit canggung saat hendak duduk di belakang laki-laki itu. Entah kenapa.
“Ayo, naik!” titah Wijaya pada Haya yang masih saja bergeming di sampingnya.
“I-iya, sebentar.” Haya mengangguk. Tangannya lekas menyingsing sedikit bawahan gamisnya demi bisa menaikkan kaki ke standar motor.
“Jangan ngebut, ya!” pesan Haya dengan suara pelan. Ia ragu-ragu untuk berpegangan pada Wijaya dan memilih memegang sesuatu yang lain.
“Siap! Saya gak pernah bawa motor kencang-kencang, apalagi kalau boncengin perempuan.” Wijaya sedikit tertawa. Ia merasa lucu saat melirik ke arah tangan Haya yang begitu mengepal kuat besi yang terdapat di bagian belakang jok.
Keduanya pun gegas melaju menuju pasar yang jaraknya sekitar 3 kilometer. Beberapa waktu mereka lalui dengan keheningan tanpa ada yang memulai pembicaraan.
Kondisi jalan mulai dilalui anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah. Belum ada angkutan umum yang masuk ke wilayah desa mereka, membuat kondisi jalan utama tidak terlalu sesak dan terkesan lengang setiap harinya.
Hanya kicauan burung dan sapaan beberapa tetangga yang kebetulan berpapasan di jalan dengan mereka. Selain itu, tidak ada obrolan lain yang mereka bahas tentang satu sama lain.
Setelah belasan menit berkendara, akhirnya Haya dan Wijaya tiba di depan kios di sisi kanan jalan pasar. Haya turun dari motor, kemudian merogoh tas untuk memberikan Wijaya uang bensin sebagai upah telah mengantarnya.
“Terima kasih, ya! Ini, uang bensinnya!” ucap Haya sambil menyodorkan selembar uang dua puluh ribu pada lelaki di depannya.
“Loh, memangnya saya ojek?” Wijaya terkekeh. Ia menolak uang pemberian Haya dengan mengangkat telapak tangannya.
“Udah, ini buat beli bensin aja, kok. Kalau gak mau terima, nanti saya yang gak enak. Udah diantar jauh-jauh, enggak ganti uang bensin pula.” Haya kekeh dan tetap menyodorkan uang itu ke hadapan Wijaya.
Melihat wajah Haya yang sedikit merah padam, Wijaya pun menarik napas dalam-dalam dan segera mengambil uang dari tangan Haya sebelum wanita itu marah.
“Baik, saya ambil uangnya. Tapi besok-besok, kalau mau minta antar lagi, jangan sungkan-sungkan, ya!”
Haya mengangguk seraya membuang muka.
Wijaya pun kembali menyalakan motornya, hendak kembali menuju ladang.
“Tunggu-tunggu!” Teriakan Haya berhasil menginterupsi gerakan Wijaya yang hendak berbelok.
“Ya, ada apa?” Wijaya kembali mengangkat kaca helm di kepalanya.
“Kamu kerja di ladang, kan! Berarti, selama ini kamu pasti kenal dekat dengan suami saya.” Haya meluncurkan dugaan demi mengetahui sesuatu yang lain yang tidak ia ketahui selama ini tentang suaminya.
“Suami kamu, siapa Haya? Apa sama seperti saya, kuli kebun juga?” tanya Wijaya menegaskan.
“Bukan-bukan. Dulu, suami saya memang kuli kebun. Tapi, semenjak Bapak sakit-sakitan, dia diminta untuk jadi mandor kebun buat mengawasi pekerja di sana. Namanya Beno. Pasti kamu kenal.” Haya kembali bertanya dengan mata berbinar. Ia sangat yakin kalau Wijaya pasti mengetahui tentang suaminya.
“Beno? Beno itu ... suamimu?” Wijaya tampak terkejut. Wajah laki-laki itu terlihat tidak percaya bahwa lelaki hidung belang yang ia kenal selama ini adalah suami sahabatnya.