Pencarian Dokumen Penting

1456 Kata
Sore hari yang mendung. Hafsah dan Lala tampak sedang bercengkerama di teras rumah yang dikelilingi pagar tembok setinggi 60 CM. Sambil mengajari putrinya menggambar, Hafsah meneguk sedikit demi sedikit minuman hangat yang dibuat oleh Bu Ningrum. Beruntung bagi Hafsah karena Bu Ningrum, sang pengasuh putrinya, tidak segan-segan menerima pekerjaan baru. Bu Ningrum mulai bekerja sebagai asisten rumah tangga keluarga Hafsah mulai hari ini. Namun, meskipun Lala lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibu dan ayahnya, Hafsah tetap menggaji Bu Ningrum dua kali lipat. Yakni sebagai pengasuh sekaligus asisten rumah tangga. “Bu Ningrum, bisa ke mari sebentar, duduk bareng sama Lala!” seri Hafsah ketika melihat Bu Ningrum lewat di sampingnya. “Baik, Bu. Saya mau kain pel dan cuci tangan sebentar.” Wanita empat puluh tahun itu gegas ke kamar mandi setelah meletakkan kain pel di sandaran bambu di halaman rumah. Tak menunggu lama, Bu Ningrum pun akhirnya kembali. Ia lekas menghampiri Lala dan Hafsah yang sedang duduk di atas tikar pandan. “Tolong jagain Lala sebentar, ya! Saya mau salat asar,” pinta Hafsah sambil berusaha bangkit dari duduknya. “Iya, Bu. Baik.” Bu Ningrum mengangguk. Tangan kanannya refleks meraih bahu sang majikan yang tampak tergopoh-gopoh berdiri mencari tongkatnya. Setelah berhasil menjejak dengan baik, Hafsah pun mulai melangkah sedikit demi sedikit. Tongkat kayu warisan almarhum ayahnya, seperti sudah menjadi teman sehari-hari Hafsah yang begitu berjasa membantu wanita itu melakukan aktivitas. “Kamu mau ke mana, Dek?” Jamil tiba-tiba keluar dari kamar Bayu dan langsung menghampiri istrinya. “Aku mau salat, Mas. Mas habis ngapain di kamar Bayu?” Dahi Hafsah mengerut. Ia sangat heran suaminya bisa masuk ke kamar sang adik karena biasanya, Bayu selalu mengunci pintu kamar ketika sedang berada di luar. “Aku habis menyelidiki sesuatu, Dek,” jawab Jamil seraya menarik pelan pergelangan tangan sang istri untuk ikut bersamanya masuk ke dalam kamar adik bungsu mereka. Hafsah yang masih kebingungan, hanya melirik ke kiri dan kanan sekilas demi mengawasi keadaan sekitar. Mereka berdua kemudian menutup pintu setelah masuk ke kamar Bayu tanpa ada satu orang pun yang tahu. “Ada apa, sih, Mas? Kenapa Mas bisa masuk ke sini? Ini, kan, dikunci?” Hafsah masih tidak percaya. Ia terus membidik suaminya dengan pertanyaan penuh curiga. “Bayu sudah menitipkan kunci kamarnya sejak semalam. Dia sengaja memberi ini agar Mas bisa mengecek sesuatu yang ia curigai.” Jamil menjawab dengan santai sambil membuka kunci lemari besar di sudut ruang. Lagi-lagi, kunci lemari Bayu pun, Jamil sudah mengantonginya. “Kunci lemarinya juga?” Hafsah berusaha mendekat. Ia mencoba mempertegas benda apa yang suaminya raih di tumpukan paling atas. “Iya. Bayu ingin aku mengecek ini!” Setelah susah payah meraih tumpukan map yang diikat oleh kain merah, Jamil pun membawanya ke atas tempat tidur untuk kemudian dicek satu persatu isi di dalamnya. Tinggi badan Jamil yang tidak begitu proporsional, membuatnya harus bersusah payah berjinjit setinggi mungkin demi bisa meraih tumpukan kertas warna-warni itu. Laki-laki itu juga tidak perlu susah-susah mencari di mana letak penyimpanan berkas-berkas tersebut karena Bayu sudah memberitahukan terlebih dahulu. “Ini, aku diminta Bayu untuk mengecek ini.” Jamil membuka ikatan yang menyatukan tumpukan map itu setelah berhasil menaruhnya di atas tempat tidur. Hafsah yang begitu penasaran, lantas duduk dan membantu sang suami melepaskan ikatan tali agar cepat mengetahui apa sebenarnya yang ingin suaminya sampaikan. Setelah ikatan terlepas, Jamil mulai mengecek dengan membuka satu persatu Map demi membaca sekilas isi di dalamnya. Beberapa map yang sempat tersusun rapi, akhirnya tercecer dan Hafsah berusaha mengaturnya kembali agar tidak ada berkas yang hilang atau terselip. Ada sekitar dua puluh map lebih pada tumpukan itu. Map-map itu sendiri berisi banyak dokumen-dokumen penting yang memang sengaja dikumpulkan oleh kedua orang tuanya semasa hidup dulu. Di antara dokumen-dokumen penting itu, ada surat perjanjian jual-beli lahan, akta tanah dan bangunan, surat-surat pajak, dan yang paling penting, surat wasiat yang dibuat oleh kedua orang tua Hafsah yang ditandatangani oleh notaris langsung. “Mas, Mas sebenarnya cari apa, sih? Jangan diberantakin gini, ini dokumen-dokumen penting milik almarhum dan almarhumah Bapak Ibu, takut tercecer, hilang nanti.” Sambil sibuk merapikan kembali map yang sudah dicek oleh sang suami, Hafsah menggerutu pelan. “Ini, loh, Mas mau cari map yang isinya surat wasiat mendiang Ibu Bapak.” Seperti tak mengindahkan perkataan istrinya, Jamil terus saja merombak tumpukan-tumpukan kertas di bawahnya. “Surat wasiat?” Hafsah melirik suaminya tajam. “Mas ngapain cari-cari surat wasiat itu?” tekan Hafsah semakin merasa curiga terhadap suaminya. Sadar dengan kecurigaan Hafsah, Jamil pun akhirnya berhenti melakukan pencarian dan memilih mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Meskipun terburu-buru karena tak punya banyak waktu, Jamil tetap tak ingin sang istri menaruh pikiran buruk dan mencurigainya ini itu. Karena walau bagaimanapun, masalah warisan dan surat wasi adalah masalah yang sangat sensitif. Terlebih lagi, ia hanya seorang menantu di rumah ini. Tidak etis rasanya sebagai seorang menantu yang sejatinya tidak memiliki hubungan darah, ikut campur perihal surat wasiat tersebut. “Ini. Mas akan menunjukkan sesuatu agar kamu tidak berpikiran macam-macam terhadap Mas.” Jamil mengeku ponselnya, kemudian menunjukkan ke Hafsah isi pesan yang dikirimkan oleh Bayu pagi tadi. Hafsah yang masih menduga-duga, lekas mengambil benda pipih itu, lalu membaca isi pesan yang diketik oleh adiknya dengan saksama. [Mas, tolong Mas cek dokumen berisi surat wasiat Bapak sama Ibu di kamarku. Semoga saja masih ada. Dan jangan sampai ada pihak lain yang tahu kalau dokumen itu hilang. Aku takut Mbak Haya dan Mbak Hafsah panik.] Hafsah sontak menutup mulut dengan tangan setelah selesai membaca pesan yang dikirimkan oleh adiknya itu. Hafsah menggeleng tak percaya. Pasalnya, ia tidak sama sekali pernah menyentuh, apalagi melihat Bayu menyimpan benda itu di mana. Kalau sampai hilang, siapa yang mesti disalahkan? “Bayu? Kenapa dia ceroboh sekali?” Hafsah mengulurkan kembali ponsel sang suami dengan wajah merenggut. Hafsah tidak ingin menyalahkan, tetapi kenyataan memaksanya kecewa terhadap sang adik yang seharusnya bisa menjaga betul-betul apa yang telah diamanahkan oleh orang tuanya. “Sudah, sudah, jangan kesal begitu. Mas yakin, Bayu pun sudah berusaha untuk menjaganya. Namun, ada satu hal yang membuatnya curiga. Oleh sebab itu, Bayu minta bantuan sama Mas,” terang Jamil, berusaha meredam gejolak emosi yang mulai tampak di raut wajah istrinya. “Lalu, kalau memang hilang, kenapa mesti obrak-abrik ini lagi? Kan, jadi berantakan?” Hafsah semakin mengerucutkan bibir melihat keadaan kamar adiknya yang berantakan. “Justru itu, Bayu meminta Mas untuk mengecek apakah ada lagi berkas yang hilang. Karena menurutnya, ada seseorang yang sengaja mengambil surat wasiat. Dan Bayu yakin, orang yang telah mengambil dokumen tersebut pasti akan kembali lagi untuk mengambil dokumen yang lain.” Jamil kembali memberikan penjelasan supaya Hafsah benar-benar mengerti apa tujuannya. Hafsah yang sempat terhalau mendung, kini mengangguk-angguk mendengar keterangan dari suaminya. Hafsah mulai sedikit membuka pikiran dan beralih membantu sang suami mengecek kelengkapan berkas yang ada di hadapan mereka. Mereka pun kembali disibukkan dengan pekerjaan diam-diam di dalam kamar. Satu persatu map yang belum tersentuh, mereka buka dan cek satu persatu. "Kalau boleh tahu, memangnya sejak kapan surat wasiat itu hilang? Kok, Bayu tidak mau bercerita apa-apa sama aku? Biasanya, Bayu selalu mengadu jika ada sesuatu." Sambil membantu suaminya mengecek map yang tersisa, Hafsah kembali melayangkan pertanyaan. Jamil mengedikkan bahu. "Entahlah! Tapi menurut Mas, Bayu tidak ingin bercerita pada kamu dan Mbak Haya, karena takut akan menambah kericuhan. Makanya ia putuskan untuk meminta bantuan Mas secara diam-diam. Mungkin menurutnya, laki-laki akan lebih bisa menyelesaikan masalah tanpa memakai emosi," tukas Jamil. "Ah. Alasan! Bilang saja takut dimarahi." Hafsah kembali menggerutu. "Tuh, kan, belum apa-apa sudah marah." Jamil tak kalah heboh. Ia dengan sengaja mencubit gemas pipi sebelah kanan Hafsah untuk mencairkan suasana. "Ih, Mas. sakit tau!" Wajah Hafsah memerah. Sambil mengusap-usap bekas cubitan di pipi, tangan kiri Hafsah dengan jahil memutar telinga sang suami. "Ih. kamu dendam!" Jamil terkekeh pelan. "Terus, sejak kapan surat wasiat itu hilang, Mas? Kamu belum jawab." Meras belum puas, Hafsah pun kembali mengulang pertanyaan. "Oh. Iya. Kalau menurut informasi yang Mas tangkap dari Bayu, surat wasiat itu hilang saat ia hendak berangkat di hari pertama bekerja setelah selesai menghabiskan cuti." "Oh. gitu. Kalau begitu, bisa jadi suratnya hilang di hari sebelumnya. Karena setahuku, Bayu berangkat pagi-pagi sekali. Setelah salat subuh." Hafsah menyambung jawaban dari suaminya. "Bisa jadi. Kira-kira, kamu ingat, gak, Bayu pergi ke mana saja pada malam sebelum ia berangkat?" Jamil balik bertanya pada Hafsah. Hafsah memutar bola mata ke atas. Wanita itu hendak mengingat-ingat sesuatu yang terjadi sebelum adiknya berangkat kerja keesokan hari. "pada malam itu, Bayu gak ke mana-mana, kok, Mas. Dia di rumah aja semalaman. Malam itu kan, kami kedatangan Ki Mutar yang langsung ngobatin aku waktu itu," jawab Hafsah dengan ekspresi wajah yakin. "Oh ... iya-iya." Jamil menyanggah dagunya dengan satu tangan. Ia tampak seperti sedang menelisik dugaan yang tiba-tiba saja muncul dalam pikirannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN