Pertemuan yang Dinantikan (part 3)

524 Kata
Keesokan harinya, aku menemui Leo lagi. Dengan berbekal data yang diretas Bima dari komputer Leo waktu itu, aku jadi tahu jadwal mengajar Leo, sehingga bisa memperkirakan kapan saja Leo keluar masuk kampus. Dan kali ini, aku menunggu Leo tepat di depan mobilnya. “Sagi? Kamu lagi apa?” Leo bertanya karena melihatku ada di depan mobilnya. Aku tersenyum. “Aku sengaja nunggu kamu. Bisa tolong anterin aku pulang?” Leo tak langsung menjawab. Ia menatapku penuh dengan kecurigaan. Lalu aku segera memberi alasan sebelum Leo mengajukan pertanyaan berikutnya. “Aku habis ketemu Pak Bambang. Aku gak bawa mobil. Jadi, boleh kan aku menumpang?” kataku. Leo kemudian melihat jam di tangannya. Ia seperti sedang mencari alasan untuk menolakku masuk ke mobilnya. “Maaf Sagi, aku sedang buru-buru. Aku harus segera sampai di suatu tempat. Jadi aku gak bisa antar kamu pulang. Aku pergi duluan, ya!” ucap Leo sambil lantas menepuk bahuku, lalu buru-buru pergi dari hadapanku. Membuatku merasa tak percaya bahwa Leo benar-benar menghindariku. Dua hari kemudian, aku datang lagi. Kali ini aku membawakan makan siang dengan menu kesukaan Leo. Akan tetapi, Leo menolak dan malah mengusirku dari tempat kerjanya. Bahkan, ia memintaku untuk tidak menemuinya lagi. Ia memintaku untuk berhenti melakukan hal-hal bodoh yang membuatku terlihat seperti merendahkan diri sendiri. Meski begitu, aku sama sekali tidak berniat untuk mundur dan menyerah pada apa yang kuperjuangkan. Aku tidak akan berhenti hanya karena Leo menolakku berkali-kali. Pertemuan selanjutnya, aku benar-benar membuat Leo tidak bisa menolakku lagi. Aku menggunakan cara yang cukup ekstrim untuk membuat Leo tidak mengabaikanku. Saat itu, aku menyewa anak buah Kevin untuk pura-pura menculikku di depan Leo. Tepat saat aku memanggil Leo di area parkir kampusnya, saat itulah aksi penculikan pura-pura berlangsung. Anak buah Kevin membekapku dan dengan cepat memasukkanku ke dalam mobil, lalu pergi dari tempat itu. Alhasil, Leo masuk dalam jebakanku dan mengejarku di belakang sana. Tapi sesuai rencana, aku menyuruh orang-orang bayaran ini supaya menghilangkan jejak dari jangkauan Leo. Sampai dua puluh empat jam kemudian, Leo sampai di tempat penyekapanku. Leo berkelahi dengan dua anak buah Kevin dan membebaskanku dari tempat penyekapan. Aku yang pura-pura lemah dan ketakutan, lantas dibawa Leo pergi ke tempat yang menurutnya lebih aman. Dan di tempat tersebut, aku merasakan kejujuran hati Leo yang sebenarnya takut kehilanganku. “Maafin aku! Aku benar-benar minta maaf!” ucap Leo yang terisak sambil memelukku erat. Sepertinya, ia benar-benar menyesal telah mengabaikanku belakangan ini. Aku tak menjawab. Aku membiarkan Leo memelukku dan mengatakan apa yang ingin dikatakannya. “Aku ... hampir saja kehilangan kamu. Aku gak bisa bayangin kalo orang-orang itu sampe nekat menghabisi kamu. Pasti ... aku adalah orang pertama yang paling menyesal,” terus Leo dengan suara bergetar. “Maafin aku, Sagi! Kalau aku gak mengabaikan kamu sedari awal, mungkin kamu gak harus datang ke kampus hari itu. Dan kejadian ini gak akan terjadi sama kamu. Maafin aku!” kata Leo lagi. Perlahan, aku mendorong tubuh Leo dari pelukanku. Membuat Leo tertegun menatapku penuh tanda tanya. Sama seperti dia, aku juga balik menatapnya dengan serius. Lalu, kulemparkan sebuah pertanyaan yang membuat Leo semakin masuk ke dalam permainanku. “Bisakah kamu menjagaku mulai dari sekarang?” (*)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN