Leo menatapku dengan serius. “Belum mendapatkanku?” ulangnya dengan pertanyaan.
Sorot mata Leo mengharapkan penjelasan meskipun kelihatannya ia dapat menebak kalau perkataanku sangatlah jujur.
“Iya, aku belum mendapatkanmu,” ulangku sekali lagi.
Aku menyudahi makan siangku. Aku meletakkan sendok dan garpu dengan posisi telungkup di atas piring. Tanpa diminta, Leo juga mengikuti aksiku. Ia meletakkan alat makan, meneguk air minum, lalu siap mendengarkan.
“Leo, aku mau kita bersama lagi!” ungkapku terus terang. Membuat Leo terlihat bingung harus merespon apa.
“Sagi, aku ini kakak iparmu!” Pada akhirnya Leo memilih mengingatkan.
“Aku tau, sampai detik ini, kamu masih jadi kakak iparku. Tapi aku juga tau, kalau kamu masih menyukaiku. Iya kan?”
Leo terdiam. Sepertinya ia mengakui kalau tebakanku tentang hal itu merupakan kebenaran.
Aku lalu bicara lagi, tapi kali ini sembari menggenggam tangan Leo.
“Leo, tolong dengarkan aku! Aku minta tolong, berhentilah bersikap jahat pada dirimu sendiri. Jangan bohongi perasaanmu dan jangan siksa batinmu. Kamu menyukaiku dan kamu tersiksa tidak bersamaku. Aku tau semua itu. Aku melihatnya dengan jelas dari kedua matamu. Jadi aku mohon, kembalilah padaku karena perasaan kita masih sama,” kataku.
Leo melepaskan tangannya dari genggamanku. Tapi aku buru-buru meraihnya lagi. Aku seperti orang yang tak mau ditinggalkan untuk kesekian kalinya. Dan sesungguhnya memang benar, aku tak mau kehilangan Leo lagi. Leo harus benar-benar kembali padaku sekarang. Tidak peduli apakah dia mantanku atau kakak iparku. Aku hanya berusaha mendapatkan sesuatu yang sudah seharusnya jadi milikku.
“Aku masih cinta sama kamu,” ucapku, sekali lagi meyakinkan Leo.
Perlahan, sebelah tangan Leo menggenggamku juga. Ia menggenggam tanganku dengan lembut sembari mengusapnya penuh perasaan.
“Aku minta maaf, udah bikin kamu terluka, bahkan sampai harus nekat menikah dengan Bima. Aku minta maaf karena udah menyebabkan banyak masalah di hidup kamu. Kalau bukan karena aku, kamu mungkin gak akan ada di situasi seperti sekarang ini,” ucap Leo sembari menatap tangan yang digenggamnya. Raut wajahnya terlihat penuh sesal ketika mengatakan hal itu.
“Yang kamu katakan semuanya benar. Selama ini, aku memang gak pernah bisa menggantikan kamu dengan siapapun. Kamu ... satu-satunya yang ada di hati aku. Tapi ....” Ucapan Leo terjeda. Ia menatapku sekarang.
“Tapi apa?” Aku tak sabar menantikan kelanjutan dari kalimat Leo, karena ia hanya diam menatapku.
Leo kemudian menggeleng sembari tersenyum tipis. “Aku gak bisa balik lagi sama kamu,” ucapnya kemudian.
Lagi, aku ditolak Leo. Kali ini bahkan Leo menolakku setelah mengakui seluruh isi hatinya. Ia sudah mengakui sebesar apa perasaannya padaku. Tapi entah kenapa dia sangat bersikeras tidak mau menerimaku lagi. Dia tetap tidak mau kembali padaku.
“Kenapa gak bisa?” tanyaku penasaran. Daya pikirku sungguh tidak bisa memperkirakan apa alasan Leo menolakku. Alasannya jelas bukan karena Venus. Dia tidak mencintai Venus, bahkan akan segera menceraikannya.
“Ada banyak hal yang gak bisa aku ceritakan sekarang. Suatu saat nanti, kamu pasti akan paham,” jawab Leo penuh teka-teki.
“Gak perlu. Kamu gak perlu ceritakan apapun sama aku. Aku hanya mau kamu. Aku cuma butuh kamu,” kataku dengan wajah memelas. Berharap Leo akan mengabulkan permintaanku.
Leo kemudian tersenyum lebih lebar. “Aku minta maaf!” ucapnya lembut. Perlahan, ia lalu melepaskan tangannya dariku. Ia lalu berdiri dan siap pergi meninggalkanku.
“Leo! Kali ini, aku gak akan berhenti sampai di sini.” Aku memperingatkan Leo sebelum ia benar-benar pergi.
***